Bilal Mimpi Bertemu Nabi Saw (Cinta Rasul)

Ada dua bentuk cinta kepada Rasulullah Saw: Athfiyah & Minhajiyah. Bilal menunjukkan kedua jenis cinta itu: bergelora, dan penuh kehangatan, dan kesiapan membela atau melindungi, serta menjalankan sunnah Rasul.

cinta rasulullah nabi muhammad
SUATU ketika Bilal bin Rabbah mimpi bertemu dengan Rasulullah Saw yang telah lama wafat. "Apakah arti ketidakramahan ini, hai Bilal? Tidakkah engkau hendak mengunjungiku sekarang?" tanya Rasulullah. 

Belum sempat menjawab, muadzin kondang masa Rasulullah Saw itu terbangun dalam keadaan kaget dan cemas. Lalu ia berkemas dan bergegas pergi ke Madinah untuk mengunjungi makam Rasulullah. Setibanya di sana, ia menangis dan mengguling-gulingkan mukanya di atas pusara orang yang sangat dicintainya itu.

Tidak lama kemudian, datanglah Hasan dan Husain, dua cucu Rasulullah. Bilal pun menyambut mereka dengan merangkul dan menciumi kedua putra Ali bin Abi Thalib itu. 

Kepada Bilal, Hasan dan Husain berucap, "Kami ingin sekali mendengar adzanmu lagi, seperti dulu kau adzan untuk Rasulullah di masjid". Kedua cucu Rasulullah itu kemudian menaikkan Bilal yang sudah tua itu ke menara mesjid, tempatnya dulu, semasa Rasulullah masih hidup, biasa mengumandangkan adzan.

Ketika Bilal mengumandangkan takbir, penduduk Kota Madinah pun tersentak. Ketika lafadz “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” dikumandangkan, orang-orang pun berduyun-duyun keluar rumah sambil bertanya-tanya, "Apakah Rasulullah kembali dibangkitkan? Apakah Rasulullah kembali dibangkitkan?" 

Banyak di antara mereka menangis sedu-sedan, karena rindu mendalam mereka kepada Rasulullah Saw. Suara merdu Bilal mengingatkan mereka pada masa Rasulullah ketika beliau masih bersama mereka di kota itu.

Penggalan kisah di atas menunjukkan suatu hubungan cinta yang dalam antara seorang sahabat (Bilal) dan Muslimin Madinah dengan Rasulullah Muhammad Saw. 

Mencintai Rasulullah memang suatu keharusan. Bahkan, dalam sebuah haditsnya beliau menyatakan, "Tidak beriman salah seorang dari kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya, atau seluruh manusia" (H.R. Bukhari).

WUJUD CINTA RASUL
Ada dua macam ekspresi cinta kepada Rasulullah. 

Pertama, Athfiyah. 
Cinta ini bersifat emosional, bergelora, dan penuh kehangatan yang melahirkan ghirah dan kesiapan untuk membela atau melindungi. 

Dengan cinta athfiyah umat Islam tidak akan membiarkan pribadi Rasulullah dihina, dilecehkan, atau dihujat orang. 

Kedua, Minhajiyah. 
Cinta jenis ini bukan semata-mata perasaan, tetapi lebih dari itu ditunjukkan dalam bentuk perbuatan menaati aturan Islam dan menjalankan Sunah Rasulullah Saw.

Umat Islam sering "diuji coba" kecintaannya kepada Rasulullah oleh mereka yang menghujat beliau. Padahal, sebagaimana umumnya cinta, ia dapat menjadi sebuah kekuatan dahsyat bak badai yang bergelombang siap menghempas kapal besar sekalipun. 

Sebagai umat Islam yang mencintai Rasulullah, kita hendaknya selalu waspada akan adanya pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan kekuatan cinta itu untuk kepentingan mereka.

Cinta mendorong seseorang untuk siap membela, melindungi, dan menuruti apa saja kemauan orang yang dicintai itu. Kekuatan cinta (power of love) dapat menghilangkan rasa takut, menimbulkan kekuatan dahsyat, motivasi, dan kesiapan mengerahkan segala daya. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post