Zakat Fitrah: Pengertian, Hikmah, Tata Cara, Mustahik

Zakat Fitrah: Pengertian, Hikmah, Tata Cara, Mustahik
Pengertian, Hikmah, dan Tata Cara Zakat Fitrah.

Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan karena tidak berpuasanya lagi orang yang berpuasa. Zakat fitrah ditunaikan Sebelum Shalat Id.

MENJELANG Idul Fitri, atau di akhir bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk membayar zakat fitrah (zakat fitri).

“Rasulullah Saw mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi hamba dan yang merdeka, bagi laki-laki dan perempuan, bagi anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum manusia berangkat menuju shalat ‘id.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pengertian Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang harus ditunaikan bagi seorang muzakki yang telah memiliki kemampuan untuk menunaikannya. Zakat fitrah adalah zakat wajib yang harus dikeluarkan sekali setahun yaitu saat bulan ramadhan menjelang idul fitri. 

Pada prinsipnya, zakat fitrah haruslah dikeluarkan sebelum sholat idul fitri dilangsungkan. Hal tersebut yang menjadi pembeda zakat fitrah dengan zakat lainnya.
Fitri berarti tidak berpuasanya orang berpuasa. Fitrah artinya khilqoh atau sifat pembawaan dari lahir.

Zakat Fitrah disandarkan pada kata fithri karena kewajiban tersebut berkaitan dengan idul fitri, yang penunaiannya dekat dengan idul fitri bukan di awal atau pertengah bulan.

Zakat Fitrah dibayarkan oleh kaum Muslim yang memiliki kelebihan makanan bagi diri dan keluarganya pada hari terakhir Ramadhan dan malamnya.

Zakat tersebut ditunaikan oleh penanggung nafkah untuk dirinya sendiri serta orang-orang yang ia tanggung nafkahnya.

Bentuk zakat fitrah berupa makanan pokok dari negeri masing-masing sebanyak satu sha, yang diperkirakan sekira 2,157-3,0 kg. Umumnya, yang diterapkan di Indonesia adalah 2.5 kilogram beras.

Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan karena tidak berpuasanya lagi orang yang berpuasa. Zakat fitrah ditunaikan Sebelum Shalat Id.

Tata Cara Zakat Fitrah

Zakat fitrah dapat disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat. Zakat fitrah dapat dikeluarkan sebelum waktu sholat idul fitri di hari-hari terakhir bulan suci ramadhan. 

“Barangsiapa yang menunaikan zakat fitri sebelum shalat Id maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat Id maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud).

Mustahik Zakat Fitrah

Yang berhak menerima zakat fitrah adalah kaum miskin. Selain fakir miskin, tidak berhak menerimanya. Ini adalah pendapat Malikiyah, Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri … sebagai makanan bagi orang miskin” (HR. Abu Daud).

Namun, mayoritas ulama berpendapat, yang berhak menerima zakat fitrah adalah enam golongan sebagaimana disebutkan dalam QS At-Taubah:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  (التوبة: 60

“Sesungguhnya, zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah.” (Qs. At-Taubah:60).

An-Nawawi mengatakan, “Pendapat yang terkenal dalam mazhab kami (Syafi’iyah) adalah zakat fitri wajib diberikan kepada delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat harta.” (Al-Majmu’).

Hikmah Zakat Fitrah

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan kata-kata kotor, juga untuk memberi makan pada orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (‘ied), zakat tersebut diterima. Barangsiapa menunaikannya sesudah shalat, itu hanyalah dicatat sebagai sedekah biasa.” (HR. Ibnu Majah dan  Abu Daud).

Beberapa hikmah zakat fitrah:
  1. Untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor serta catat (kekurangan) saat puasa. Jadilah kebaikan di hari raya menjadi sempurna.
  2. Untuk memberi makan kepada orang iskin dan mencukupi mereka sehingga tidak perlu meminta-minta di hari raya, sekaligus membahagiakan mereka di hari raya. Jadilah hari raya itu menjadi hari kebahagiaan.
  3. Bentuk saling berbuat memberi kebaikan antara orang kaya dan orang miskin di hari raya.
  4. Mendapat pahala karena telah menunaikan zakat pada yang berhak menerima di waktu yang telah ditentukan.
  5. Zakat fitrah adalah zakat untuk badan yang Allah tetapkan setiap tahunnya di hari raya Idul Fitri.
  6. Zakat fitrah adalah bentuk syukur setelah puasa itu sempurna.
Demikian Pengertian, Hikmah, Tata Cara, dan Mustahik Zakat Fitrah. Semoga kita mampu melaksanakannya dengan baik. Amin...! (http://www.risalahislam.com).*

You're reading Zakat Fitrah: Pengertian, Hikmah, Tata Cara, Mustahik. Mari sebarkan kebaikan. Please share...!

Previous
« Prev Post

0 Response to "Zakat Fitrah: Pengertian, Hikmah, Tata Cara, Mustahik"

Komentar SPAM dan mengandung LINK AKTIF tidak akan muncul.

Contact Form

Name

Email *

Message *