Islam Nusantara dan Sinkretisme

Islam Nusantara dan Sinkretisme
ISLAM Nusantara adalah gagasan menampilkan "wajah" Islam dalam kemasan budaya nusantara (Indonesia).

Tidak salah, selama budaya nusantara itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Jangan sampai, budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam mengalahkan ajaran Islam itu sendiri.

Sumber ajaran Islam itu AL-Quran dan Al-Hadits, bukan budaya atau tradisi. Dahulu Walisongo "mengislamankan nusantara", sedangkan saat ini, dengan konsep atau wacana Islam Nusantara, sebagian kalangan ingin "menusantarakan Islam", seperti kasus baca Al-Quran dengan langgam Jawa yang menghebohkan itu.

Dengan demikian, yang dimaksud Islam Nusantara itu identik dengan sinkretisme, yaitu pencampuran antara Islam dan budaya. Sayangnya, jika terjadi benturan antara Islam dan budaya (tradisi), budaya-lah yang "dimenangkan", bukan Islam.

Sebelum kedatangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, masyarakat telah menganut dan memiliki berbagai kepercayaan dan agama, seperti animisme, dinamisme, Hindu, dan Budha. Pada masa itu, kepercayan dan agama tersebut melekat dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat.

Karena kurangnya keseriusan dalam memahami dan mengamalkan agama, maka sebagian masyarakat Jawa mudah tergiur dalam mengadopsi kepercayaan, ritual, dan tradisi dari agama lain, terutama tradisi asli pra Hindu-Budha yang dianggap sesuai dengan alur pemikiran mereka. Itulah pula salah satu dari beberapa penyebab adanya sinkretisme agama di Jawa.

Islam = Agama, Nusantara = Budaya
Kalau “Islam Nusantara” itu Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat.

Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber agama Islam itu Alquran dan Hadis

Demikian dijelaskan Rais Syuriah PBNU Ali Musthafa Yakub, Rabu, (1/7/2015), di Jakarta, seperti dikutip Antara.

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta itu, segala yang datang dari Nabi Saw itu hanya dua, yakni agama dan budaya.

"Yang wajib kita ikuti adalah agama, akidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi. Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti,” ungkapnya.

"Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka itu juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya,” tandasnya.

Islam Toleran atau Liberal?

Jika yang dimaksud Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran, maka memang sejak kelahirannya Islam itu demikian --ramah, damai, terbuka, toleran, tanpa harus diberi embel-embel "nusantara" sekalipun. (Baca: Islam menurut Al-Quran).

Karenanya, banyak pihak mempertanyakan konsep Islam nusantara ini, bahkan menyebutnya sebagai kedok baru kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan berlindung di balik nama besar Nahdlatul Ulama (NU).

Dilansir Hidayatullah, setidaknya, ada lima kejanggalan dari gagasan wacana ‘Islam Nusantara’.

Pertama, adanya klaim ‘Islam Nusantara’ milik satu golongan dan kelompok. Padahal Nusantara bukan hanya milik satu golongan; bukan hanya milik NU, Muhammadiyah atau ormas mana pun. Ia lahir adalah bagian dari heterogenitas kelompok yang ada di dalamnya.

Kedua, kelompok yang setuju istilah ‘Islam Nusantara’ seolah-olah ingin berupaya mempertentangkan antara Islam Nusantara dengan Islam Timur-Tengah (Arab).

Para wali dan ulama-ulama besar yang lahir di Nusantara (seperti Imam Nawawi Al-Bantani, KH. Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy`ari dll), apakah steril dari pengaruh kebudayaan Arab? Faktanya tidak.

Secara pakaian, di antara mereka masih menggunakan sorban dan gaya ala orang Arab. Belum lagi guru-gurunya yang banyak berasal dari Arab. Bukankah Wali Songo yang terkenal itu kebanyakan berasal dari Timur-Tengah?

Ketiga, ada pula klaim, seolah-olah mereka yang setuju gagasan ‘Islam Nusantara’ paling kokoh dan istiqamah menjaga kebinekaan negeri ini. Kalau satu mengklaim sebagai pihak paling kokoh.

Indonesia dimerdekakan dan dibangun oleh banyak darah syuhada. Mereka ada NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah, dan lainnya. Nusantara tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak, apalagi hanya salah satu yang mengaku-ngaku sebagai benteng kokoh pengawal NKRI.

Keempat, gagasan ‘Islam Nusantara’ lahir secara emosional karena harus dibenturkan Arab atau Timur-Tengah, yang seolah-olah apa yang dating dari Arab selalu mengkafirkan, intoleran, suka membid`ahkan, menyesatkan, anti budaya dan lain sebagainya.

Sekedar contoh, oranganisasi Nahdhatul Ulama (NU) secara geneologi keilmuan tak bisa dipisahkan dengan ulama-ulama yang notabene berasal dari Timur-Tengah.

Padahal dalam sejarah NU yang dikenal dengan bermadzhab Syafi`i dan berakidah Asy`ari, keduanya ulama besar ini bukan asli Nusantara. Mereka justru lahir dari Timur Tengah!

Kelima, klaim “Islam Nusantara’ akan menjadi referensi bagi dunia internasional menurut penulis adalah gagasan yang ke-pedean (terlalu percaya diri, red).

Sebagai Muslim, yang seharusnya kita tanam dalam keyakinan kita adalah Islam berlandaskan al-Qur`an dan Hadits, itulah referensi umat Islam seluruh dunia.

Bukankah sejak awal Islam yang dibawa nabi adalah Islam rahmatan lil `alamin? Mana yang lebih menyeluruh dan universal: Islam rahmat bagi seantero alam atau sebatas Islam Nusantara?

Kita berharap, jangan terus-terusan memunculkan islam ini islam itu dengan embel-embel. Islam adalah Islam. Islam, tanpa embel-embel apa pun, yang sumbernya sangat jelas: Al-Quran dan Hadits. (Baca juga: Sumber Ajaran Islam). (http://www.risalahislam.com).*

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post