Pengertian Kepribadian Islami - Syakhsiyah Islamiyah

Pengertian Kepribadian Islami - Syakhsiyah Islamiyah
Kepribadian Islami (as-syakhshiyyah al-Islamiyah) adalah perpaduan antara cara berpikir Islami (aqliyyah Islamiyah) dan sikap Islami (nafsiyyah Islamiyah) dalam diri seorang Muslim. 

Cara berpikir dan bersikap Islami yaitu pola pikir dan sikap yang didasarkan pada ajaran Islam (syariat Islam) yang bersumberkan Al-Quran, Hadits, dan Ijma' Ulama.

Menurut Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam As Syakhshiyyah Al Islamiyyah, kepribadian seseorang dibentuk oleh cara berpikirnya (aqliyah) dan caranya berbuat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginannya (nafsiyah).

Kepribadian dalam Islam terdiri dari hati (kalbu), pikiran (akal), dan sikap (nafsu).
  • Kalbu -- tempat menerima perasaan kasih sayang, pengajaran, pengetahuan, berita, ketakutan, keimanan, keislaman, keihklasan, dan ketauhidan.
  • Akal -- al-Istibsar (melihat dengan mata batin), al-I‟tibar (menginterpretasikan), al-Fafkir (memikirkan), al-Tazakur (mengingat)
  • Nafsu -- bereaksi, berbuat, berusaha, berkemauan dan berkehendak.

Ciri-Ciri Kepribadian Islami

1. Pribadi yang Tunduk pada Islam

Pemikiran dan nafsu seseorang yang berkepribadian Islami akan senantiasa didasarkan pada ajaran Islam. Rasulullah saw. bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidaklah sempurna iman kalian sehingga hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaranku.” (HR Thabrani).

2. Siap Jihad

انَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat, 49: 15).

3. Tunduk pada Ketetapan Allah 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

4. Amar Ma'ruf Nahyi Munkar

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ 

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah" (QS Ali Imran: 110).

5. Tegas & Lembut

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah Dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka” (Q.S. Al-Fath:29).*

Hikmah Peringatan Nuzulul Quran

Hikmah Peringatan Nuzulul Quran - Turunnya Al-Quran


Hikmah Peringatan Nuzulul Quran
Peringatan Nuzulul Quran (turunnya al-Qur'an) diperingati kaum Muslimin Indonesia tiap tanggal 17 Ramadhan. 

Pada tanggal itu, diyakini pertama kali turunnya al-Quran sekaligus sebagai “simbol peresmian” Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT dengan misinya mendakwahkan Risalah Islam. 

Karena itu pula, Ramadhan sering disebut Syahr al-Quran (bulan al-Quran).

Tentu saja, peringatan tersebut diadakan supaya kaum Muslimin, minimal setahun sekali, melakukan pengkajian tentang keimanan terhadap al-Quran dan pengamalan ayat-ayat al-Quran, termasuk menancapkan keyakinan bahwa al-Quran yang merupakan sumber utama ajaran Islam ini benar-benar merupakan kebenaran sejati sebagai pedoman hidup (way of life)

Melalui al-Quranlah Allah SWT Sang Pencipta dan Penguasa Alam ini menyatakan kehendak-Nya. Mengikuti tuntunan dan tuntutan al-Quran berarti mengikuti kehendak-Nya. Itulah sebabnya Dia sendiri yang menjamin keaslian al-Quran sejak pertamakali diturunkan. Firman-Nya,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya” (Q.S. 15:9).

Salah satu indikasi keaslian al-Quran adalah tidak adanya “Quran tandingan” karena manusia yang paling cerdas sekaligus paling membenci al-Quran pun tidak akan sanggup membuatnya. Allah SWT sendiri menantangnya,

“Jika kamu masih ragu-ragu tentang kebenaran apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), silakan kamu membuat satu surat saja yang sama dengannya (al-Quran). Panggilah saksi-saksi (pemuka dan para ahli) kamu (untuk membantumu) selain Allah, sekiranya kamu benar (bisa melakukan hal itu). Jika kamu tidak sanggup membuatnya dan sekali-kali kamu tidak akan sanggup, takutilah api neraka yang kayu bakarnya manusia dan bantu yang disediakan bagi orang-orang kafir (yang menentang kebenaran al-Quran)” (Q.S. 2:23-24).

Arti Al-Quran

Secara harfiyah, al-Quran berarti bacaan. Sebagaimana terdapat dalam Q.S. 75:17-18),

“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya dan ‘membacanya’. Jika Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah ‘bacaan’ itu”.
Ayat pertama pun yang diturnkan adalah Iqra’ (bacalah!) yang mengindikasikan kewajiban pertama manusia adalah membaca, baik dengan pancaindera maupun mata hati. 

Dari ayat pertama itu saja, al-Quran sudah menunjukkan bahwa ia rahmat dan bimbingan bagi manusia. Membaca adalah jalan untuk memperoleh ilmu. 

QS Al-Alaq

Dengan ilmu itu manusia bisa mengenal baik dan buruk menurut Allah SWT, mengenal dirinya, juga mengenal Tuhannya. Rahasia alam akan tersingkap denan membaca, juga pembentukan kebudayaan termasuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk “menaklukkan” alam.

Quran sebagai Ruh

Dalam QS. al-Anfal (8): 2 disebutkan, salah satu sifat atau ciri orang yang beriman (mukmin) adalah waidza tuliat 'alahim aayaatuhuu zaadathum iimaana, jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah bertambahlah keimanan mereka. Ayat tersebut menunjukkan, bagi seorang mukmin al-Quran merupakan ruh yang dapat menggerakkan hati-sanubarinya. 

Sebuah gerakan hati menuju keimanan yang lebih kuat lagi kepada Allah SWT. Keimanan yang kuat merupakan energi untuk beramal-Islami yang lebih kuat pula, menambah semangat jihad fi sabilillah, dan menambah keberanian untuk tampil membela kebenaran atas motif li i'laai kalimatillah (menegakkan firman-firman Allah SWT).

Maka, ketika ruh al-Quran bisa menyentuh sanubari umat Islam, mereka pun dapat menjadi benar-benar umat yang terbaik (khairu ummah). 

Sebaliknya, ketika ruh al-Quran tidak lagi menyentuh atau berpengaruh terhadap hati-sanubari umat Islam, mereka pun menjadi umat yang hina, terbelakang, dan menjadi "buih" (ghutsa) yang mudah diombang-ambing ombak, selalu mengikuti arus ke mana saja ia mengarah, tidak punyai ketetapan dan pendirian tegas. Itulah yang diperingatkan Nabi Muhammad SAW dengan sabdanya,

"Sesungguhnya Allah dengan kalam ini (al-Quran) mengangkat beberapa kaum dan dengannya pula merendahkan yang lain."
Tepat pula apa yang dikemukakan Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh: “Bangsa Barat maju karena meninggalkan kitab suci mereka (Bible, Injil), sementara umat Islam justru mengalami kemunduran ketika meninggalkan kitab sucinya (al-Quran)”.

Sesungguhnya, ruh al-Quran hanya akan merasuk sukma seseorang jika ia betul-betul menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidupnya, menjadikan kalam Allah ini sebagai sumber motivasi dan referensi (acuan) dalam beramal. Padahal, Allah sendiri menyebut al-Quran sebagai ruh yang dapat menggerakkan hati manusia dengan firman-Nya,

"Dan begitulah Kami wahyukan padamu berupa ruh" (QS 42:52).

Allah SWT mewahyukan al-Quran tidak lain agar menjadi pedoman bagi hidup umat manusia. Dengan pedoman itu, manusia akan menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar, sehingga tercipta ketentraman, keharmonisan, dan kebahagiaan hidup (Q.S. 35:29-31). 

Maka, adalah kewajiban kita untuk mengimani, membaca, menelaah, menghayati, dan mengamalkan ajaran al-Quran secara keseluruhan, serta mendakwahkannya (Q.S. al-'Ashr:1-3). 

Jika kita memang benar-benar beriman kepada Allah SWT atau mengaku Muslim. Membacanya saja sudah berpahala, bahkan kata Nabi Saw satu huruf mengandung 10 pahala, apalagi jika mengamalkannya.

Tiga Kelompok Menyikapi Al-Quran

Allah SWT mengingatkan dalam al-Quran tentang terbaginya umat Islam kedalam tiga golongan dalam menyikapi al-Quran (Q.S. Faathir [35]:32). 
  1. Zhalimu linafsih (menganiaya diri sendiri).
  2. Sabiqun bil-khairi (cepat berbuat kebajikan). 
  3. Muqtashid (pertengahan). 

QS Al-Fathir:32 Pewaris Al-Quran

Dewan Penerjemah Al-Quran Depag RI (Al-Quran dan Terjemahannya, Depag RI) memaknai ketiga golongan tersebut sebagai berikut: golongan pertama adalah "orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya"; golongan kedua adalah "orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan; dan golongan "pertengahan" adalah mereka yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya.

Dapat dikatakan, golongan zhalimu linafsih adalah orang yang mengabaikan al-Quran sebagai pedoman dalam hidupnya. Disebut "menganiaya diri sendiri" karena dengan mengabaikan ajaran Allah ia sesat dalam hidupnya, dunia dan akhirat. Ia menolak untuk mengikuti aturan yang sudah jelas akan menyelamatkannya dunia-akhirat.

Golongan sabiqun bil-khair adalah mereka yang cepat mengamalkan al-Quran begitu mereka baca dan pahami. Persis sebagaimana dicontohkan Nabi Saw dan para sahabat. Para sahabat bahkan berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan (fastabiqul khairat) sebagai pengamalan ajaran al-Quran (Islam).

Sedangkan golongan muqtashid dapat dikatakan parsial dalam pengamalan al-Quran. Mereka mencampuradukkan antara ibadah dan maksiat, hak dan batil, ajaran al-Quran dan ajaran di luar al-Quran. Mereka tentu termasuk orang yang merugi karena Allah SWT memerintahkan agar kita berislam secara total (kaffah). Wallahu a’lam. (www.risalahislam.com).*

Nuzulul Quran: Kontroversi Malam Turunnya Al-Quran 17 Ramadhan

Nuzulul Quran: Kontroversi Malam Turunnya Al-Quran 17 Ramadhan

Nuzulul Quran: Kontroversi Malam Turunnya Al-Quran 17 Ramadhan

Peringatan Malam Nuzulul Qur’an 17 Ramadan yang biasa dilakukan kaum Muslim Indonesia menimbulkan kontroversi.

Masalahnya, dalam QS Al-Qadr 1-5 disebutan, Al-Quran diturunkan pada malam qadar (lailatul qodr), sedangkan malam qadar menurut hadits shahih terjadi di 10 malam terakhir Ramadhan, yakni di malam-malam ganjil antara malam 21, 23, 25, 27, atau malam 29 Ramadhan.

Lalu, mengapa bisa muncul tanggal 17 Ramadhan sebagai malam turunnya Al-Quran (Nuzulul Quran)?

Nuzulul Quran --secara harfiah berarti turunnya Al-Quran-- adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penurunan wahyu pertama dari Allah SWT melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surah al-Alaq ayat 1-5. Saat wahyu ini diturunkan, Nabi Muhammad sedang ber-tahannus (menyendiri) di Gua Hira. Ketika itu, Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut.

Alasan Nuzulul Quran 17 Ramadhan

Gua Hira Nuzulul QuranMengenai tanggal 17 Ramadhan dijadikan peringatan Nuzulul Qur’an, yang menjadi dasarnya adalah karena pada tanggal itu diturunkannya ayat pertama dari surat al-'Alaq kepada Nabi Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril di Gua Hira, Jabal Nur, Makkah.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS Al-A’laq: 1 – 5).

Disebutkan oleh Ibnu Katsir didalam kitabnya Al Bidayah wa an Nihayah, menukil dari al Waqidiy dari Abu Ja’far al Baqir, yang mengatakan bahwa awal diturunkannya wahyu kepada Rasulullah saw adalah pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan, meski ada juga yang mengatakan tanggal 24 Ramadhan.

Tidak semua kaum Muslim sependapat dengan 17 Ramadhan sebagai malam turunnya Al-Quran mengingat Al-Qur’an secara keseluruhan itu diturunkan di bulan Ramadhan pada malam qodar (Lailatul Qadar) yang terjadi di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. 

Pada malam qadar Al-Quran diturunkan Allah SWT dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia. Dari langit dunia lalu diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad Saw selama sekitar 23 tahun.

Dalam buku Ramadan di Jawa, André Möller menyebutkan beberapa pendapat tentang tanggal Nuzulul Quran.

1. Pendapat pertama: Nuzulul Quran jatuh pada 17 Ramadan. Bagi yang mempercayai Nuzulul Quran jatuh pada 17 Ramadan, dasarnya adalah Surah Al-Anfaal ayat 41.

“…jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan (Al-Quran), yaitu di hari bertemunya dua pasukan….”

Menurut catatan kaki dalam Al Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitkan Departemen Agama Indonesia, hari Furqaan adalah “hari jelasnya kemenangan orang Islam dan kekalahan orang kafir, yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar, pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadan tahun kedua Hijrah. Sebagian mufassirin berpendapat, ayat ini mengisyaratkan kepada hari permulaan turunnya Al Quraanul Kariem pada malam 17 Ramadan.”

2. Nuzulul Quran jatuh pada Lailatul Qadar (‘malam kemuliaan’). Pendapat ini berdasar pada Surah Al-Qadr ayat 1,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadr).”

Menurut Nurcholish Madjid, pendapat di Indonesia bahwa Quran turun pada 17 Ramadan adalah hasil ijtihad K.H. Agus Salim. Ia mengawinkan Surah Al-Anfaal:41 dan Surah Al-Qadr:1 yang ia anggap membicarakan peristiwa yang sama.

Yang menjadi dasar kebanyakan kaum muslim dalam memperingati nuzulul Qur’an pada malam tanggal 17 Ramadhan, mungkin apa yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir (W. 774 H) dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah, Al-Waqidi meriwayatkan dari Abu Ja’far Al-Baqir yang mengatakan bahwa “wahyu pertama kali turun pada Rasul SAW pada hari senin 17 Ramadhan .”

Terlepas dari tanggal pasti, yang jelas Al-Quran diturunkan Allah SWT pada bulan Ramadhan. Tidak perselisihan mengenai hal ini karana tiga ayat berikut ini menegaskannya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)…” (QS. Sl-Baqarah/2: 185).

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr 1-5).

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Qur`an) pada malam yang diberkahi" (QS Ad-Dukhan:3).

Ibn Abbas dan jumhur ulama berpendapat, yang dimaksud dengan turunnya Qur’an dalam ketiga ayat di atas adalah turunnya Qur’an sekaligus di Baitul `Izzah di langit dunia agar para malaikat menghormati kebesarannya. 

Kemudian sesudah itu Qur’an diturunkan kepada rasul kita Muhammad saw. Secara bertahap selama dua puluh tiga tahun.

أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العِزّة من السماء الدنيا، ثم نزل مفصلا بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Al Qura’n secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun”. (HR. At-Thabari, An Nasai, Al Hakim dan dishahihkan Adz Dzahabi dan Al Hakim).

Ibn Abbas berkata, "Qur’an sekaligus diturunkan ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian setelah itu ia diturunkan selama dua puluh tahun.` Lalu ia membacakan:

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (QS Al-Furqan: 33 ).

Dan Al-Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS Al-Isra`: 106 ).

Al-Quran merupakan sumber utama syariat Islam sekaligus petunjuk bagi kaum Muslim.

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Itulah Kitab (Al-Quran) yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Baqarah/2: 2).

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ﴿١٥﴾يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari keadaan gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS al-Maidah/5: 15-16).

Sangat pentingnya kedudukan Al-Quran, sehingga dalam sebuah hadits disebutkan, sebaik-baik kaum Muslim adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Quran.

“خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ…”

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur-an dan mengajarkannya…” (HR Bukhari).

Demikian sejarah sekaligus Kontroversi Malam Turunnya Al-Quran (Nuzulul Quran) 17 Ramadhan. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Referensi: Majalah al-Furqon Edisi 84, th ke-8 1429/ 2008; Abu Musa al-Atsari. Lailatul Qadar Malam Kemulian. Majalah adz-Dzakiroh Edisi 43, Edisi Khusus Ramadhan-Syawal, Vol 8, No.1 1429 H; Al-Quran dan Terjemahnya; Sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarokfury; Shahihain.*

Bacaan Wajib dalam Sholat

SHALAT (sholat, salat) adalah ibadah wajib utama umat Islam. Secara harfiyah, kata shalat (صلاة) artinya doa (pray).

Bacaan Wajib dalam Sholat


Dalam Fiqih Sholat, shalat diterjemahkan sebagai serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram (ucapan "Allahu Akbar") dan diakhiri dengan salam (ucapan "Assalamu'alaikum warohmatullah").

Shalat wajib atau shalat fardhu terdiri dari:
  1. Subuh
  2. Zhuhur
  3. Ashar
  4. Magrib
  5. Isya

Bacaan Wajib dalam Sholat: Rukun Shalat

Shalat adalah ibadah yang terdiri dari dua unsur utama, yaitu gerakan dan bacaan.
  1. Gerakan: berdiri, ruku', sujud, dan duduk
  2. Bacaan: Takbir, Al-Fatihah, Tahiyat, Shalawat, Salam
Bacaan yang wajib diucapkan dalam shalat yang termasuk rukun shalat yaitu:
  1. Takbiratul Ihram,
  2. Al-Fatihah,
  3. Tasyahhud Akhir
  4. Shalawat,
  5. Salam pertama. 
Selain kelima bacaan tersebut hukunya sunah, tidak termasuk rukun, misalnya doa iftitah, bacaan rukuk dan sujud, dan doa duduk di antara dua sujud (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihâyah al-Zain (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah).

Demikian pula baca Surat atau ayat Al-Quran setelah bacaan Al-Fatihah hukumnya sunah.

1. Bacaan Takbiratul Ihram

أَللهُ أَكْبَر

Allâhu Akbar
(“Allah Maha Besar”)

2. Bacaan Surat al-Fatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Bismillâhirrahmânirrahîm (1) Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn (2) Ar-Rahmânir Rahîm (3) Mâliki yaumiddîn (4) Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în (5) Ihdinash shirâthal mustaqîm (6) Shirâthal ladzîna an’amta ‘alaihim ghoiril maghdzûbi ‘alaihim waladldlâllîn (7)

"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

3. Bacaan tahiyat

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

Attahiyyâtul mubârakâtush shalawâtut thoyyibâtu liLlâh, assalâmu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warahmatuLlâhi wabarakâtuh, assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhish shâlihîn, asyhadu al-lâ ilâha illa-Llah, wa asyhadu anna muhammadar rasûlullah

“Segala penghormatan yang penuh berkah, segenap salawat yang penuh kesucian, (semuanya) adalah milik Allah. Salam padamu wahai para Nabi, beserta rahmat dan berkah Allah. Salam bagi kami, dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”

4. Bacaan shalawat Nabi sesudah tasyahhud akhir

اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي مُحَمّدْ

Allahumma shalli ‘alâ Muhammad
(“Semoga Allah memberikan shalawat bagi Muhammad”).

5. Salam pertama

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Assalâmu ‘alaikum warohmatullâh
(“Salam dan rahmat Allah (semoga tercurahkan) bagi kalian semua”)

Demikian bacaan wajib dalam shalat. Wallahu a’lam bi shawab. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Pedoman Sholat, Sifat Shalat Nabi Saw

Contact Form

Name

Email *

Message *