Islam Melarang Umatnya Menghina Agama Lain

Islam Melarang Umatnya Menghina Agama Lain
ISLAM melarang umatny menghina, mengolok-olok, mencela, menista, atau mencaci-maki agama lain selain Islam. Ini bagian dari toleransi dalam Islam.

Larangan mengina agama lain disebutkan dalam Al-Quran.

QS. al-An’am: 108

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikian Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka…" (QS. al-An’am: 108).

Menurut Tafsir Qur'an Kemenag, sebab turunnya ayat tersebut adalah dahulu ada seorang muslim yang menghina sesembahan kaum musyrik (berhala). Lalu Allah menurunkan ayat ini. 

"Mulanya, sambil menyebarkan Islam, beberapa sabahat Nabi SAW menghina sesembahan kaum musyrik. Merasa terganggu dengan tindakan tersebut, mereka mengancam akan berbalik memaki Allah. Ayat ini lalu turun untuk melarang cara berdakwah yang demikian," demikian penjelasan asbabun nuzul Surat Al An'am ayat 108.

Laranan memaki agama lain diturunkan karena makian akan berbuah makian pula. Ayat tersebut menjelaskan, "karena mereka nanti akan memaki Allah".

Ibnul Qoyyim dalam I’lamul Muwaaqi’in menjelaskan ayat di atas: 

“Allah melarang kita mencela tuhan-tuhan orang musyrik dengan pencelaan yang keras atau sampai merendah-rendahkan (secara terang-terangan) karena hal ini akan membuat mereka akan membalas dengan mencela Allah. Tentu termasuk maslahat besar bila kita tidak mencela tuhan orang kafir agar tidak berdampak celaan bagi Allah (sesembahan kita). Jadi hal ini adalah peringatan tegas agar tidak berbuat seperti itu, supaya tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih parah.”

Tafsir Ibnu Katsir

Berikut ini ringkasan tafsir Ibnu Katsir tentang QS. al-An’aam: 108 yang berisi larangan umat Islam menghina agama lain.

Allah berfirman, melarang terhadap Rasul-Nya, Muhammad saw, dan orang-orang yang beriman dari mencaci ilah-ilah kaum musyrikin, meskipun cacian itu mengandung kemaslahatan, namun hal itu menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan itu sendiri, yaitu balasan orang-orang musyrik dengan cacian terhadap Ilah orang-orang mukmin, padahal Allah adalah “Rabb, yang tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.”

Sebagaimana yang dikatakan `Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu `Abbas, mengenai ayat ini, “Orang-orang musyrik itu berkata: 

`Hai Muhammad, engkau hentikan makianmu itu terhadap ilah-ilah kami, atau kami akan mencaci-maki Rabbmu.’ Lalu Allah melarang Rasulullah dan orang-orang mukmin mencaci patung-patung mereka; fa yasubbullaaHa ‘adwam bighairi ‘ilmi (“Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui baias tanpa pengetahuan.”)

Abdurrazzaq mengatakan dari Ma’mar, dari Qatadah: “Dahulu kaum muslimin mencaci berhala-berhala orang-orang kafir, lalu orang-orang kafir mencaci maki Allah Ta’ala secara berlebihan dan tanpa didasari dengan ilmu pengetahuan, lalu Allah menurunkan:

Laa tasubbulladziina yad’uuna min duunillaahi (“Dan janganlah kamu memaki ilah-ilah yang mereka ibadahi selain Allah.”)

fa yasubbullaaHa ‘adwam bighairi ‘ilmi (“Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui baias tanpa pengetahuan.”) Hal ini menunjukkan bahwa meninggalkan kemaslahatan untuk menghindari kerusakan yang lebih parah adalah lebih diutamakan. 

Hal itu didasarkan pada hadits shahih bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Dilaknat orang yang mencaci-maki orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana seseorang mencaci-maki orang tuanya?” 

Beliau saw. menjawab: “Ia mencaci ayah seseorang, maka orang itu pun mencaci ayahnya. Ia mencaci ibu seseorang, maka orang itu pun mencaci ibunya (atau sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah saw).”

Firman-Nya: kadzaalika zayyannaa likulli ummatin ‘amalaHum (“Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap balk pekerjaan mereka.”) Maksudnya, sebagaimana kami telah hiasi bagi orang-orang itu cinta kepada berhala-berhala mereka, fanatik terhadapnya, serta mendukungnya. Demikian pula Kami hiasi setiap umat dari umat-umat yang sesat amal perbuatan mereka yang mereka kerjakan.

Allah mempunyai hujjah yang kuat dan hikmah yang sempurna atas semua yang dikehendaki dan dipilih-Nya.

Tsumma ilaa rabbiHim marji’uHum (“Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka.”) Yaitu tempat kembali mereka. Fa yunabbi-uHum bimaa kaanuu ya’maluun (“Lalu Allah memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”) Maksudnya, mereka akan diberikan balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka tersebut, jika baik maka kebaikan pula balasannya, dan jika buruk, maka keburukan pula balasannya.

Toleransi Islam

Islam merupakan agama toleran. Sikap muslim terhadap kaum kafir (nonmuslim) sangat jelas: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS Al-Kafirun: 6).

Manfaat tolerasi dalam Islam adalah terhindar dari permusuhan dan perpecahan, mewujudkan hidup damai dan tenang, meningkatkan kualitas iman, dan mencerminkan kemuliaan agama yang dianut.

Dalam berdakwah, Islam memberikan panduan:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125).

Prinsip Nabi Saw dalam berdakwah adalah dengan lemah lembut dengan madh’u (orang yang didakwahi) walau mereka orang kafir.

Ibnul ‘Arobi pernah berbicara tentang ayat berikut ini, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (QS. Al ‘Ankabut: 46). 

Demikianlah ulasan mengapa Islam melarang umatnya menghina Tuhan agama lain. Selain untuk menjaga kemuliaan Allah SWT, pelarangan ini juga dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kerusakan yang besar antar umat beragama. Wallahu a'lam bish-shawab. (www.risalahislam.com).*

Hukum Memakai Cadar dalam Islam

Ulama berbeda pendapat soal hukum cadar dalam Islam: Wajib, Sunah, Mubah, dan Makruh. Karena Al-Quran "hanya" memerintahkan wanita Muslimah menutup aurat (seluruh tubuh) kecuali wajah dan telapak tangan.

PEMERINTAH Belanda memberlakukan larangan memakai cadar, burqa, niqab, atau penutup wajah lainnya, mulai 1 Agustus 2019.

Jika peraturan ini dilanggar, maka pelakunya akan dilarang memasuki gedung pemerintahan dan didenda 150 Euro atau sekitar Rp 2,3 juta.

Dilansir Straits Times, peraturan larangan penutup wajah itu diberlakukan setelah 14 tahun menjadi perdebatan antara kelompok yang pro dan kontra.

Dalam peraturan itu disebutkan, busana yang menutupi wajah, seperti burqa, niqab atau cadar tidak boleh lagi dikenakan di tempat dan institusi publik, seperti sekolah, rumah sakit, kantor pemerintah, serta transportasi umum bus dan kareta.

Tak hanya burqa dan cadar, penggunaan benda lain yang menutupi wajah, seperti helm full-face atau balaclava (kain penutup kepala dan wajah), juga dilarang.

Laangan cadar atau penutup wajah ini masih ditolak sejumlah pihak. Pelaksanaannya pun belum tentu bisa langsung diterapkan di seluruh wilayah Belanda.

Di beberapa kota, pengelola rumah sakit, transportasi umum dan kepolisian menyatakan belum berencana mematuhinya.

Negara-negara Eropa lain yang menerapkan pelarangan cacar, niqab, dan burqa adalah Prancis. Paris menjadi kota pertama di Eropa yang melarang pemakaian cadar (2011), disusul Denmark dan Jerman.

Umumnya yang mengenakan cadar, niqab, atau burqa adalah wanita Muslimah.

Hukum Memakai Cadar dalam Islam

Cadar adalah kain penutup kepala atau wajah yang menyisakan bagian mata. Dalam bahasa Arab, cadar disebut niqab (نقاب‎‎) yaitu sejenis kain yang digunakan untuk menutupi wajah.

Niqab dikenakan oleh sebagian kaum perempuan Muslimah sebagai kesatuan dengan jilbab atau hijab (kerudung atau kain penutup rambut, leher, dan bagian dada).

Cadar/niqab banyak dipakai wanita di negara-negara Arab sekitar Teluk Persia, seperti Arab Saudi, Yaman, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman dan Uni Emirat Arab. 

Cadar tidak hanya menjadi isu di masyarakat Barat, khususnya warga non-Muslim. Cadar juga menjadi isu di kalangan internal umat Islam. Pasalnya, pengguna cadar sulit dikenali, juga sulit ditebak senyum-tidaknya.

Terjadi perbedaan pendapat (khilafiyah) di kalangan ulama, apakah menggunakan cadar hukumnya wajib.

Mengenakan cadar merupakan keutamaan menutup aurat, namun harus dipertimbangkan dari aspek sosial karena memakain cadar membuatnya tidak bisa dikenali.

1. Tidak Wajib

Pendapat pertama dan terbanyak, cadar tidak wajib dikenakan Muslimah. Pasalnya, tidak ada satu pun dalil dalam syariat Islam yang mewajibkan Muslimah memakai cadar.

Islam menganjurkan umat untuk berpakaian dengan memenuhi tiga hal utama:

1. Menutup Aurat
2. Mudah dikenali
3. Indah namun tidak mengundang nafsu.

Jika ketiga hal itu terpenuhi dalam adab berpakaian, maka ia sudah sesuai dengan syariat Islam.

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Asma binti Abu Bakar pernah menghadap Nabi Muhammad Saw dengan mengenakan pakaian yang tipis, lalu Nabi Saw berpaling seraya bersabda:

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata,

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Saw dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah Saw pun berpaling darinya dan bersabda,:“Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud).

Asy Syarbini berkata, “Aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Termasuk telapak tangan adalah bagian punggung dan dalam telapak tangan, dari ujung jari hingga pergelangan tangan.

Firman Allah SWT:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 31).

Yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan, inilah tafsiran dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah.” (Mughnil Muhtaj, 1: 286).

Allah SWT memerintahkan kaum Muslimah mengulurkan kerudung ke dada, menutipi bagian dada.

"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” (QS. An-Nur: 31 ).

2. Mubah (Boleh)

Memakai cadar tidak dilarang alias mubah (boleh). Tetapi jika berada di tempat tempat tertentu yang mengharuskan untuk membukanya, maka wajib membukanya, seperti untuk alasan keamanan atau kepentingan identifikasi.

Wajah adalah identitas manusia yang dengan itu kita bisa mengenali dan membedakan yang mana wanita dan yang mana pria, maka jika manusia menutup wajahnya rapat rapat dengan cadarnya sehingga tidak bisa dikenali maka ini melawan fitrah manusia dan melawan syariat juga.

Jumhur ulama sepakat, mengenakan cadar tidak dilarang, bahkan keutamaan, khususnya wanita yang berwajah sangat cantik dan dikhawatirkan dapat mengundang fitnah orang yang melihatnya.

3. Sunah

Pendapat madzhab Hanafi: wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

Mazhab Maliki berpendapat: wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

4. Wajib

Pendapat madzhab Syafi’i: aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh, sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil dalam Zaadul Masiir, 6/31). (Sumber)

Sebagian istri Rasulullah Saw dan sebagian wanita sahabat juga pernah mengenakannya sehingga cadar dinilai keutamaan dalam berbusana Muslimah.

5. Makruh

Ada juga pendapat makruh hukumnya wanita menutupi wajah, baik ketika dalam shalat maupun di luar shalat, karena termasuk perbuatan berlebih-lebihan (al-ghuluw) dan menyulitkan identifikasi.

Jilbab: Wajib!

Jilbab


Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli sunnah tentang wajibnya wanita muslimah mengenakan jilbab atau hijab, yaitu menutup seluruh tubuh, kecuali bagian wajah dan dua telapak tangan.

Wanita wajib menutup aurat, yakni seluruh tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Jumhur ulama bersepakat, wajah dan telapak tangan bukan aurat, jadi boleh tidak ditutup.

Allah Swt memerintahkan para wanita menutupi seluruh tubuhnya yang merupakan perhiasannya, kecuali yang biasa ditampakkan dengan mengenakan jilbab hingga ke dada:

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.’ (QS. An Nuur:31).

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” (QS. Al Ahzab:59).

Demikian Hukum Memakai Cadar dalam Islam. 

Perbedaan Cadar/Niqab, Jilbab/Hijab, Khimar,  Burqa, Chador

Khimar Burqa Hijab Cadar Chador Kerudung Jilbab

Cadar atau niqab bukan satu-satunya kain penutup kepala atau muka (bagi perempuan). Ada juga burqa dan chador.

1. HIJAB

Hijab (حجاب) berarti “penghalang” atau "pembatas". Dalam konteks busana, hijab merujuk pada pakaian penutup aurat wanita yang dikenal dengan jilbab.

2. JILBAB

Jilbab adalah gamis longgar yang dijulurkan ke seluruh badan hingga mendekati tanah sehingga tidak membentuk lekuk tubuh seperti tertuang dalam. Jilbab biasanya menutupi seluruh tubuh, kecuali tangan, kaki dan wajah.

3. KERUDUNG

Mirip Khimar, namun kerudung kerudung hanya menutup kepala  atau rambut bagian atas saja, dan tidak cukup panjang untuk menutupi dada, leher, serta lekuk-tubuh pemakainya.

4. KHIMAR

Khimar, atau dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah Khumur, adalah kain yang menutupi kepala, leher, dan menjulur hingga menutupi dada wanita dari belakang maupun dari depan (termasuk menutupi tulang selangka). 

5. NIQAB

Niqab adalah nama lain cadar, yaitu hijab yang menutupi kepala dan hampir seluruh bagian wajah, kecuali mata. Niqab cukup panjang untuk menutupi leher, muka dan dada.

6. BURQA

Burqa mirip dengan Niqab, namun nyaris menutupi seluruh bagian wajah termasuk mata. Biasanya pada bagian mata terdapat kain yang memiliki lubang kecil untuk melihat.*

Pengertian NKRI Syariah: Rekomendasi Ijtima' Ulama IV

NKRI Syariah: Rekomendasi Ijtima' Ulama IV di Bogor Agustus 2019
Sejumlah ulama dan aktivis gerakan Islam yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GBPFU), Front Pembela Islam (FPI), dan Persaudaraan Alumni (PA) 212 mengadakan Ijtima' Ulama IV di Bogor, Senin 5 Agustus 2019.

Ijtima' Ulama ke-4 berlangsung tertutup di Hotel Lor In, Sentul, Bogor, milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto (putra bungsu Presiden ke-2 RI Soeharto). Ijtimak Ulama IV dibuka pemimpin FPI, Rizieq Syihab, melalui siaran langsung channel Front TV di YouTube.

Ijtima' Ulama IV menghasilkan 8 poin rekomendasi, salah satunya tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Syariah berdasarkan Pancasila.

"Mewujudkan NKRI syariah yang berdasarkan pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan, dan batang tubuh UU 1945 dengan prinsip ayat suci, di atas ayat konstitusi, agar diimplementasikan dalam kehidupan beragama berbangsa dan bernegara," demikian salah satu rekomendasi.

Ijtima' Ulama IV juga menganggap Pemilu 2019 penuh dengan kecurangan terstruktur, sistematis, masif, dan brutal.

Peserta Ijtima' Ulama IV bersepakat menerapkan sistem syariah dan penegakan khilafah. Mereka juga mengajak ulama dan umat Islam untuk sama-sama berjuang mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Syariah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Di bidang ekonomi, para ulama menyerukan kepada umat Islam untuk mengkonversi simpanan dalam bentuk logam mulia.

8 Rekomendasi Ijtima' Ulama IV

Berikut ini isi lengkap 8 rekomendasi Ijtima' Ulama IV di Bogor, 5 Agustus 2019.

1. Menolak kekuasaan yang berdiri atas dasar kecurangan dan kezaliman serta mengambil jarak dengan kekuasaan tersebut

2. Menolak segala putusan hukum yang tidak memenuhi prinsip keadilan.

3. Mengajak seluruh ulama dan umat untuk terus berjuang dan memperjuangkan

-3.1. Penegakan hukum terhadap penodaan agama apapun, oleh siapapun sesuai amanat undang-undang anti penodaan agama, dan tertuang dalam MPRS Nomor 1 tahun 1995 juncto UU Nomor 5 tahun 1999, juncto pasal 156 a

-3.2. Mencegah bangkitnya ideologi marxisme, leninisme, komunisme, maoisme, dalam bentuk apapun dan cara apapun. Sesuai amanat TAP MPRS Nomor 28 Tahun 1966, UU Nomor 27 Tahun 1999 juncto KUHP Pasal 1,107 a, 107 b, 107 c, 107 d, dan 107 e.

-3.3. Menolak segala bentuk perwujudan tatanan ekonomi kapitalisme, dan liberalisme, di segala bidang termasuk penjualan aset negara kepada asing maupun aseng. Dan memberikan kesempatan pada semua pribumi, tanpa memandang suku maupun agama untuk menjadi tuan di negeri sendiri.

-3.4. Pembentukan tim investigasi dan advokasi untuk mengusut tuntas tragedi 2019, yang terkait kematian lebih dari 500 petugas pemilu, tanpa otopsi dan lebih dari 11 ribu petugas pemilu, yang jatuh sakit serta ratusan rakyat yang terluka, ditangkap, dan disiksa bahkan 10 orang dibunuh secara keji dan 4 di antaranya adalah anak-anak.

-3.5. Menghentikan agenda pembubaran ormas islam serta stop kriminalisasi ulama, maupun persekusi, dan serta membebaskan semua ulama dan aktivis 212 beserta simpatisan yang ditahan, dipenjara pasca aksi 212 tahun 2016 hingga kini, dari segala tuntutan, serta memulangkan imam besar umat Islam Indonesia Habib Muhammad Rizieq bin Husain Shihab ke Indonesia tanpa syarat apa pun.

-3.6 Mewujudkan NKRI syariah yang berdasarkan pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan, dan batang tubuh UU 1945 dengan prinsip ayat suci, di atas ayat konstitusi, agar diimplementasikan dalam kehidupan beragama berbangsa dan bernegara.

4. Perlunya ijtimak ulama dilembagakan sebagai wadah musyawarah antara habaib dan ulama, serta tokoh istiqomah untuk terus menjaga kemaslahatan agama bangsa dan negara.

5. Perlunya dibangun kerja sama dari pusat hingga daerah, antar ormas Islam dan parpol yang selama ini istiqomah berjuang bersama habaib dan ulama, serta umat islam dalam membela agama bangsa dan negara.

6. Menyerukan kepada umat Islam untuk mengkonversi simpanan dalam bentuk logam mulia

7. Membangun sistem kaderisasi yang sistematis, dan terencana, sebagai upaya melahirkan generasi islam yang tangguh dan berkualitas.

8. Memberikan perhatian secara khusus terhadap isu dan masalah substansial, tentang perempuan anak dan keluarga melalui berbagai kebijakan dan regulasi yang tidak bertentangan dengan agama, dan budaya. Hasbunallah nimal wakil, nimal maula wanimal nasir.

Apa itu NKRI Syariah?

Istilah NKRI Syariah bukan hal baru muncul di Ijtima' Ulama. Sebelumnya, dalam Reuni Alumni 212 tahun 2017, pemimpin FPI Habib Rizieq Shihab (HRS) menyampaikan pidatonya dari Arab Saudi kepada peserta reuni lewat telepon.

Dalam seruannya, HRS mendorong terbentuknya NKRI Bersyariah, yaitu hukum syariat yang sesuai dengan Al-Quran diterapkan di Indonesia.

HRS menyebut syariat Islam dapat berdampingan dengan Pancasila. Ia juga menegaskan, cita-cita tersebut tidak berarti ingin menggantikan Pancasila.

Ditegaskan, NKRI bersyariah adalah NKRI yang beragama, bukan ateis atau komunis yang tanpa agama. Ia juga menjelaskan, NKRI bersyariah adalah NKRI yang menjamin semua umat beragama untuk menjalankan ibadah dan syariat agamanya masing-masing.

Masih soal agama, ada poin lain yang ia sebutkan. Menurutnya NKRI yang sesuai syariah adalah NKRI yang melindungi semua agama dari penistaan dan penodaan serta pelecehan.

Ia juga menjelaskan upaya mewujudkan NKRI yang sesuai dengan syariat Islam adalah upaya untuk mengganti Pancasila.

Rizieq menyebut bahwa untuk mewujudkan NKRI bersyariah justru harus berpegang teguh pada Pancasila. Meski begitu Pancasila ini harus berdasarkan Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Menurutnya hal ini sesuai dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Ekonomi & Bank Syariah

Benih NKRI Syariah sebenarnya sudah ada, yaitu dengan muncul dan berkembangnya ekonomi syariah di bidang keuangan, seperti Bank Syariah, Asuransi Syariah, BPR Syariah, Koperasi Syariah, dan sejenisnya. Lembaga-lembaga keuangan ini menerapkan prinsip syariat Islam di bidang ekonomi, dan terbukti berkah dan tanpa masalah.

Itulah sebabnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) misalnya meminta masyarakat tak alergi dengan penggunaan kata syariah.

"Kita jangan alergi dengan kata syariah. Syariah itu mudah sekali. Salat, puasa, itu syariah. Mengajar juga syariah," ujar JK dikutip cnnindonesia.com. Selasa (6/8).

Menurut JK, penggunaan kata syariah juga berlaku pada penggunaan baju sehari-hari. Selama baju itu menutup aurat, maka hal itu memenuhi syariah.

"Saya berpakaian seperti ini syar'i juga," kata JK sambil menunjuk ke kemeja batik lengan panjang dan celana panjang yang ia kenakan.

Ia meminta agar masyarakat tak menganggap bahwa penggunaan kata syariah itu berbahaya. "Jangan merasa syar'i itu bahaya. Itu sesuatu yang sangat simpel," tuturnya. (detik/cnnindonesia).*

Ayat Al-Quran tentang Gempa

Gempa bumi kerap terjadi, termasuk di Indonesia. Gempa sering diiringi gelombang tsunami. Gempa tidak bisa diprediksi oleh ilmu dan teknologi paling canggih sekalipun. Ini rahasia sekaligus kemahakuasaan Allah SWT. Gempa tidak luput dari cakupan ajaran Islam. Berikut ini ulasannya.

Ayat Al-Quran tentang Gempa

Ayat Al-Quran tentang Gempa

Ayat Al-Quran tentang gempa atau guncangan antara lain tercantum dalam QS Al Zalzalah yang bertema hari kiamat.

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)

Dalam surat ini, Allah mengabarkan apa yang terjadi pada hari kiamat di mana saat itu bumi bergoncang begitu dahsyatnya dan meruntuhkan segala yang ada di atasnya.

Dalm ayat lain Allah SWT menegaskan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).” (QS. Al Hajj: 1).

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan)

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “idzaa zulzilati ardlu zilzaalaHaa (“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya.”)  yakni bergerak dari bawahnya.

Wa akhrajatil ardlu atsqaalaHaa (“Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya.”) yakni bumi akan melemparkan isi perutnya  yang terdiri dari mayat-mayat.

Demikian yang dikatakan oleh lebih dari satu orang ulama salaf. Di dalam kitab shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda:

“Bumi akan memuntahkan bagian-bagian yang terdapat di dalam perutnya yang besar, seperti tiang-tiang yang terbuat dari emas dan perak. Lalu seorang pembunuh akan datang seraya  mengatakan hal ini, ‘Aku telah membunuh.’ Kemudian seorang pemutus silaturahim datang dan berkata dalam kesempatan ini, ‘Aku telah memutuskan hubungan kekerabatanku.’ Selanjutnya, seorang pencuri datang dan berkata mengenai hal ini, ‘Aku telah memotong tanganku,’ kemudian dia meninggalkannya dan tidak mengambil sesuatu pun darinya.’”

Dan firman Allah: Wa qaalal insaanu maa laHaa (“Dan manusia bertanya: ‘Mengapa bumi menjadi begini?’ yakni dia menolak kejadian  yang dialami bumi setelah sebelumnya dalam keadaan bulat, tenang dan permanen. Dimana bumi ini bergerak tegak di atas punggungnya.

Artinya, keadaannya berbalik total, dimana bumi ini menjadi bergerak dan berguncang keras. Sebab, telah datang perintah dari Allah Ta’ala untuk menimpakan goncangan yang telah disiapkan baginya, yang tidak ada tempat berlindung baginya dari goncangan tersebut.

Kemudian bumi akan mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya, yang terdiri dari mayat-mayat dari orang-orang terdahulu dan orang-orang yang hidup terakhir. Dan pada saat itulah ada orang-orang yang mengingkari kejadian itu dan menukar bumi selain bumi dan langit yang ada dan merekapun menampakkan diri kepada Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.

Firman Allah Ta’ala: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) masudnya membicarakan apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang berada di atasnya.

Imam Ahmad meriwayatkan, Ibrahim memberitahu kami, Ibnul Mubarak memberitahu kami, at –Tirmidzi, Abu ‘Abdirrahman an-Nasa-i dan lafazh ini miliknya dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah membaca ayat ini: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) beliau bertanya: ‘Apakah kalian mengetahui apa berita yang disampaikannya?’ mereka menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’

Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya beritanya adalah dia bersaksi bagi setiap hamba, laki-laki maupun perempuan atas apa yang telah mereka lakukan di atasnya.  Dia akan mengatakan: ‘Dia mengerjakan ini dan itu,  pada hari ini dan itu.’ Demikian itulah beritanya.’” Kemudian at-Tirmidzi  mengatakan: “Ini merupakan hadits hasan  shahih gharib.”

Firman Allah: bi anna rabbaka awhaa laHaa (“Karena sesungguhnya Rabb-mu telah memerintahkan [yang demikian itu] kepadanya.” Imam al-Bukhari mengatakan: “Kata auhaa  laHaa, auhaa ilaiHaa, wahaa laHaa, dan wahaa ilaiHaa adalah satu [yaitu mewahyukan kepadanya].” Demikian pula Ibnu ‘Abbas mengatakan, auhaa laHaa adalah sama dengan auhaa ilaHaa.” Secara lahiriah kandungan ini bermakna memberi izin kepada bumi. Syabib bin Bisryr meriwayatkan dari ‘Ikrimah  dari Ibnu ‘Abbas, yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) dia mengatakan: “Rabb-nya berkata kepadanya: ‘Katakanlah,’ maka bumi itupun berkata.” Mujahid mengatakan, ‘Auhaa laHaa maksudnya, Allah memerintahkannya.’ Al-Qurazhi mengatakan: “Allah memerintahkan untuk membelah diri.”

Dan firman Allah Ta’ala: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) maksudnya mereka menentang terhadap keberadaan hisab dalam wujud  yang beragam, yakni macam dan golongan dalam hal mendapatkan kesengsaraan dan kebahagiaan. Ada yang diperintahkan supaya masuk surga. Dan apa pula yang diperintahkkan masuk neraka.

Firman Allah Ta’ala: liyuraw a’maalaHum (“Supaya diperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka.”) maksudnya supaya mereka mengetahui dan diberi balasan atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia, baik dalam  bentuk kebaikan maupun keburukan.

Oleh karena itu Dia berfirman: famay ya’mal mitsqaala dzarratin khairay yaraH. Wamay ya’mal mitsqaala dzarrating syarray yaraH (“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun niscaya ia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat balasannya pula.”)

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kuda itu untuk tiga orang. Bagi seseorang kuda itu akan menjadi pahala, bagi seseorang lagi akan menjadi satar [penutup], dan bagi seorang lainnya akan menjadi dosa.

Adapun orang yang mendapatkan pahala adalah orang yang mengikat kuda itu di jalan Allah, lalu ia membiarkannya di tempat penggembalaan atau taman dalam waktu yang lama, maka apa yang terjadi selama masa penggembalaannya di tempat penggembalaan dan taman itu, maka ia akan menjadi kebaikan baginya.

Dan jika ia menghentikan masa penggembalaannya lalu kuda itu melangkah satu atau dua langkah, maka jejak kaki dan juga kotorannya akan menjadi kebaikan baginya. Dan jika kuda itu menyeberang sungai lalu ia minum air dari sungai tersebut, maka yang demikian itu  menjadi kebaikan baginya, dan kuda itupun bagi orang tersebut adalah pahala. Dan orang yang mengikat kuda itu karena untuk memperkaya diri dan demi kehormatan diri tetapi dia tidak lupa hak Allah dalam pemeliharaannya, maka kuda itu akan menjadi satar baginya. Serta orang yang mengikatnya karena perasaan bangga dan riya’, maka ia hanya akan menjadi dosa baginya.”

Kemudian Rasulullah saw ditanya tentang keledai, maka beliau bersabda: “Allah tidak menurunkan sedikitpun mengenainya melainkan ayat yang mantap yang mencakup ini: ‘Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun niscaya ia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat balasannya pula.’” (HR Muslim).

Demikian kutipan tafsir Ibnu Katsir atas QS Al-Zalzalah.

Gempa Bumi Menurut Islam 

Mengutip beberapa pemikiran ilmuwan Yunani, Ibnu Sina mengatakan, gempa bumi yang terjadi akibat dorongan gas untuk kelaur dari dalam bumi.

Namun, lambat laun ia menjelaskan pendapatnya sendiri bahwa gempa dikaitkan dengan adanya tekanan besar pada rongga udara di dalam bumi. Tekanan ini bisa berupa air yang masuk dalam rongga bumi.

Setelah abad ke-10, para ilmjuwan Muslim mulai menegaskan gempa bumi bukan hanya semata-mata fenomena alam, tapi juga terkait sisi religius, yakni perilaku manusia.

Ketika gempa bumi terjadi, ada beberapa analisis yang dikaitkan dalam mencari penyebab terjadinya, yakni karena adzab dari Allah akibat dosa yang dilakukan dan/atau ujian dari Allah.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Isra’ : 17 yaitu

“Jika Kami berkehendak untuk mengncurkn negeri, Kami memerintah orang-orang yang hidup mewah, namun mereka berdurhaka dalam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Berikut ini ayat-ayat dalam Al-Quran terkait gempa dan benca alam lainnya:

"Dan musibah apapun yang kalian terima adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, Allah memaafkan sebagian dari kesalahan-kesalahanmu." (QS Asy-Syuura : 30)

"Nikmat apapun itu adalah berasal dari Allah, dan bencana ap saja yang datang adalah karena kesalahan dirimu sendiri. (QS. An-Nisaa : 79).

"Katakanlah : Dia yang berhak mengirim azab dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mengelompokkan kamu dalam golongan agar sebagian kamu merasakan keganasan. Perhatikanlah, Kami mendatangkan kebesaran agar kamu memahami" (QS Al- An’aam : 65)

"Mereka mendustakan Syu’aib hingga ditimpa gempa dahsyat dan mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggalnya." (QS. Al’Ankabuut : 37).

"Dan Kami memberi tanda-tanda itu untuk menakut-nakuti" (QS. Al-Israa : 59)

"Kami menunjukkan tanda-tanda (kekuasaan) kepada mereka, sehingga jelaslah bahwa Al Quran adalah benar. Dan Rabb mu adalah cukup bagimu sebab Dia menyaksikan segala sesuatu" (QS. Fushilah : 53).

Doa Ketika Terjadi Gempa/Musibah

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢّ ﺇِﻧّﻲْ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﻓِﻴْﻬَﺎ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﺃَﺭْﺳَﻠْﺖَ ﺑِﻪِ؛ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻫَﺎ، ﻭَﺷَﺮِّﻣَﺎﻓِﻴْﻬَﺎ ﻭَﺷَﺮِّﻣَﺎ ﺃَﺭْﺳَﻠْﺖَ ﺑِﻪِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu tentang kebaikan yang terjadi, kebaikan di dalamnya, kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan bersamaan dengan kejadian ini, Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan di dalamnya serta aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engaku kirimkan.

doa musibah

Contact Form

Name

Email *

Message *