Keutamaan Bulan Muharram dan Puasa Asyura


MUHARAM (Muharram) merupakan bulan pertama dalam sistem penanggalan (kalender) Islam Hijriyah. Bulan Muharram memiliki keutamaan, kemuliaan, dan di dalamnya disunnahkan puasa --puasa sunah bulan Muharram (Asyuro).

Tangga 1 Muharram dikenal dengan Tahun Baru Islam. Dalam kalender nasional Indonesia, tanggal 1 Muharram merupakan hari libur nasional. Tahun ini 1 Muharram 1441 Hijriyah bertepatan dengan hari Ahad 1 September 2019.

Banyak umat Islam menyambut tahun baru Islam 1 Muharram dengan menggelar pengajian, ceramah, lomba-lomba Islami, dan pawai obor untuk mengenang hijrah Nabi Muhammad Saw dan para sahabat dari Makkah ke Madinah, peristiwa yang dijadikan awal penanggalan Hijriyah.

Keutamaan Bulan Muharram

Kemuliaan bulan Muharram disabdakan Rasulullah Saw dalam hadits shahih Muslim:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim dari Dari Abu Hurairah ra).

Allah SWT menamakan bulan ini dengan “Syahrullah“ (bulan Allah) dan termasuk salah satu dari 4 bulan Hijriyah yang dijadikan Allah SWT sebagi bulan haram (suci/dimulikan).

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِن أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram.” (QS. at Taubah :36).

Empat bulan haram tersebut dijelaskan dalam hadits shahih berikut ini:

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ . . . . .

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab".  ( HR.Bukhari  dan Muslim )

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

Pada bulan Muharram Rasulullah Saw dan para sahabat, 14 abad lebih silam, HIJRAH dari Makkah ke Madinah karena peristiwah hijrah dijadikan sebagai awal bulan Tahun Hijriyah, sebagaimana yang telah disepakati oleh para sahabat pada masa khalifah Umar bin Khattab.

Puasa Sunah Bulan Muharram

Umat Islam disunahkan puasa pada bulan Muharram ini, bahkan dinilai sebagai puasa yang paling utama sesudah puasa pada bulan Ramadhan.

Rasulullah Saw menganjurkan kaum muslimin untuk melakukan puasa sebanyak-banyaknya pada bulan Muharram. 

“Saya tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan saya tidak melihat beliau berpuasa paling banyak pada suatu bulan, kecuali bulan Sya’ban.“ (HR. Muslim).

Tanggal 10 Muharram Hari Asyura’

Hari Asyura’ artinya hari kesepuluh (tanggal 10) bulan Muharram. Pada hari itu dianjurkan untuk berpuasa. 

“Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka beliau bertanya : “Hari apa ini?”. Mereka menjawab :“Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, oleh karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ . Maka beliau berpuasa dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa.” (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas ra)

Menurut para ulama dan berdasarkan beberapa hadist, puasa Asyura bisa dilakukan:
  1. Tanggal 9 dan 10 Muharram 
  2. Tanggal 10 dan 11 Muharram 
  3. Tanggal 9,10, dan 11 Muharram
  4. Tanggal 10 Muharram saja
Namun, sebagian ulama memakruhkan puasa sunah tanggal 10 Muharram karena menyerupai puasanya orang-orang Yahudi.

Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah pun bersabda :”Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan. “ (HR. Bukhari dan Muslim).

“Puasalah pada hari Asyura’, dan berbuatlah sesuatu yang berbeda dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah) Dalam riwayat Ibnu Abbas lainnya disebutkan : “Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.“

Keutamaan Puasa Asyura’ 

Keutamaan puasa Asyura’ yaitu akan menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Abu Qatadah ra, bahwasanya seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang puasa ‘Asyura’, maka Rasulullah saw menjawab: 

“Saya berharap dari Allah Subhanahu Wata’ala agar menghapus dosa-dosa selama satu tahun sebelumnya. “ (HR. Muslim)

Dosa-dosa yang dihapus disini adalah dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar, maka seorang muslim harus bertaubat dengan taubat nasuha, jika ingin diampuni oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Puasa Asyura’ merupakan bentuk kesyukuran atas selamatnya Nabi Musa as dan pengikutnya serta tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya, sebagaimana yang tersebut dalam hadist Ibnu Abbas. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com, dari berbagai sumber).*

Islam Melarang Umatnya Menghina Agama Lain

Islam Melarang Umatnya Menghina Agama Lain
ISLAM melarang umatny menghina, mengolok-olok, mencela, menista, atau mencaci-maki agama lain selain Islam. Ini bagian dari toleransi dalam Islam.

Larangan mengina agama lain disebutkan dalam Al-Quran.

QS. al-An’am: 108

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikian Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka…" (QS. al-An’am: 108).

Menurut Tafsir Qur'an Kemenag, sebab turunnya ayat tersebut adalah dahulu ada seorang muslim yang menghina sesembahan kaum musyrik (berhala). Lalu Allah menurunkan ayat ini. 

"Mulanya, sambil menyebarkan Islam, beberapa sabahat Nabi SAW menghina sesembahan kaum musyrik. Merasa terganggu dengan tindakan tersebut, mereka mengancam akan berbalik memaki Allah. Ayat ini lalu turun untuk melarang cara berdakwah yang demikian," demikian penjelasan asbabun nuzul Surat Al An'am ayat 108.

Laranan memaki agama lain diturunkan karena makian akan berbuah makian pula. Ayat tersebut menjelaskan, "karena mereka nanti akan memaki Allah".

Ibnul Qoyyim dalam I’lamul Muwaaqi’in menjelaskan ayat di atas: 

“Allah melarang kita mencela tuhan-tuhan orang musyrik dengan pencelaan yang keras atau sampai merendah-rendahkan (secara terang-terangan) karena hal ini akan membuat mereka akan membalas dengan mencela Allah. Tentu termasuk maslahat besar bila kita tidak mencela tuhan orang kafir agar tidak berdampak celaan bagi Allah (sesembahan kita). Jadi hal ini adalah peringatan tegas agar tidak berbuat seperti itu, supaya tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih parah.”

Tafsir Ibnu Katsir

Berikut ini ringkasan tafsir Ibnu Katsir tentang QS. al-An’aam: 108 yang berisi larangan umat Islam menghina agama lain.

Allah berfirman, melarang terhadap Rasul-Nya, Muhammad saw, dan orang-orang yang beriman dari mencaci ilah-ilah kaum musyrikin, meskipun cacian itu mengandung kemaslahatan, namun hal itu menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan itu sendiri, yaitu balasan orang-orang musyrik dengan cacian terhadap Ilah orang-orang mukmin, padahal Allah adalah “Rabb, yang tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.”

Sebagaimana yang dikatakan `Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu `Abbas, mengenai ayat ini, “Orang-orang musyrik itu berkata: 

`Hai Muhammad, engkau hentikan makianmu itu terhadap ilah-ilah kami, atau kami akan mencaci-maki Rabbmu.’ Lalu Allah melarang Rasulullah dan orang-orang mukmin mencaci patung-patung mereka; fa yasubbullaaHa ‘adwam bighairi ‘ilmi (“Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui baias tanpa pengetahuan.”)

Abdurrazzaq mengatakan dari Ma’mar, dari Qatadah: “Dahulu kaum muslimin mencaci berhala-berhala orang-orang kafir, lalu orang-orang kafir mencaci maki Allah Ta’ala secara berlebihan dan tanpa didasari dengan ilmu pengetahuan, lalu Allah menurunkan:

Laa tasubbulladziina yad’uuna min duunillaahi (“Dan janganlah kamu memaki ilah-ilah yang mereka ibadahi selain Allah.”)

fa yasubbullaaHa ‘adwam bighairi ‘ilmi (“Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui baias tanpa pengetahuan.”) Hal ini menunjukkan bahwa meninggalkan kemaslahatan untuk menghindari kerusakan yang lebih parah adalah lebih diutamakan. 

Hal itu didasarkan pada hadits shahih bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Dilaknat orang yang mencaci-maki orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana seseorang mencaci-maki orang tuanya?” 

Beliau saw. menjawab: “Ia mencaci ayah seseorang, maka orang itu pun mencaci ayahnya. Ia mencaci ibu seseorang, maka orang itu pun mencaci ibunya (atau sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah saw).”

Firman-Nya: kadzaalika zayyannaa likulli ummatin ‘amalaHum (“Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap balk pekerjaan mereka.”) Maksudnya, sebagaimana kami telah hiasi bagi orang-orang itu cinta kepada berhala-berhala mereka, fanatik terhadapnya, serta mendukungnya. Demikian pula Kami hiasi setiap umat dari umat-umat yang sesat amal perbuatan mereka yang mereka kerjakan.

Allah mempunyai hujjah yang kuat dan hikmah yang sempurna atas semua yang dikehendaki dan dipilih-Nya.

Tsumma ilaa rabbiHim marji’uHum (“Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka.”) Yaitu tempat kembali mereka. Fa yunabbi-uHum bimaa kaanuu ya’maluun (“Lalu Allah memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”) Maksudnya, mereka akan diberikan balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka tersebut, jika baik maka kebaikan pula balasannya, dan jika buruk, maka keburukan pula balasannya.

Toleransi Islam

Islam merupakan agama toleran. Sikap muslim terhadap kaum kafir (nonmuslim) sangat jelas: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS Al-Kafirun: 6).

Manfaat tolerasi dalam Islam adalah terhindar dari permusuhan dan perpecahan, mewujudkan hidup damai dan tenang, meningkatkan kualitas iman, dan mencerminkan kemuliaan agama yang dianut.

Dalam berdakwah, Islam memberikan panduan:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125).

Prinsip Nabi Saw dalam berdakwah adalah dengan lemah lembut dengan madh’u (orang yang didakwahi) walau mereka orang kafir.

Ibnul ‘Arobi pernah berbicara tentang ayat berikut ini, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (QS. Al ‘Ankabut: 46). 

Demikianlah ulasan mengapa Islam melarang umatnya menghina Tuhan agama lain. Selain untuk menjaga kemuliaan Allah SWT, pelarangan ini juga dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kerusakan yang besar antar umat beragama. Wallahu a'lam bish-shawab. (www.risalahislam.com).*

Hukum Memakai Cadar dalam Islam

Ulama berbeda pendapat soal hukum cadar dalam Islam: Wajib, Sunah, Mubah, dan Makruh. Karena Al-Quran "hanya" memerintahkan wanita Muslimah menutup aurat (seluruh tubuh) kecuali wajah dan telapak tangan.

PEMERINTAH Belanda memberlakukan larangan memakai cadar, burqa, niqab, atau penutup wajah lainnya, mulai 1 Agustus 2019.

Jika peraturan ini dilanggar, maka pelakunya akan dilarang memasuki gedung pemerintahan dan didenda 150 Euro atau sekitar Rp 2,3 juta.

Dilansir Straits Times, peraturan larangan penutup wajah itu diberlakukan setelah 14 tahun menjadi perdebatan antara kelompok yang pro dan kontra.

Dalam peraturan itu disebutkan, busana yang menutupi wajah, seperti burqa, niqab atau cadar tidak boleh lagi dikenakan di tempat dan institusi publik, seperti sekolah, rumah sakit, kantor pemerintah, serta transportasi umum bus dan kareta.

Tak hanya burqa dan cadar, penggunaan benda lain yang menutupi wajah, seperti helm full-face atau balaclava (kain penutup kepala dan wajah), juga dilarang.

Laangan cadar atau penutup wajah ini masih ditolak sejumlah pihak. Pelaksanaannya pun belum tentu bisa langsung diterapkan di seluruh wilayah Belanda.

Di beberapa kota, pengelola rumah sakit, transportasi umum dan kepolisian menyatakan belum berencana mematuhinya.

Negara-negara Eropa lain yang menerapkan pelarangan cacar, niqab, dan burqa adalah Prancis. Paris menjadi kota pertama di Eropa yang melarang pemakaian cadar (2011), disusul Denmark dan Jerman.

Umumnya yang mengenakan cadar, niqab, atau burqa adalah wanita Muslimah.

Hukum Memakai Cadar dalam Islam

Cadar adalah kain penutup kepala atau wajah yang menyisakan bagian mata. Dalam bahasa Arab, cadar disebut niqab (نقاب‎‎) yaitu sejenis kain yang digunakan untuk menutupi wajah.

Niqab dikenakan oleh sebagian kaum perempuan Muslimah sebagai kesatuan dengan jilbab atau hijab (kerudung atau kain penutup rambut, leher, dan bagian dada).

Cadar/niqab banyak dipakai wanita di negara-negara Arab sekitar Teluk Persia, seperti Arab Saudi, Yaman, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman dan Uni Emirat Arab. 

Cadar tidak hanya menjadi isu di masyarakat Barat, khususnya warga non-Muslim. Cadar juga menjadi isu di kalangan internal umat Islam. Pasalnya, pengguna cadar sulit dikenali, juga sulit ditebak senyum-tidaknya.

Terjadi perbedaan pendapat (khilafiyah) di kalangan ulama, apakah menggunakan cadar hukumnya wajib.

Mengenakan cadar merupakan keutamaan menutup aurat, namun harus dipertimbangkan dari aspek sosial karena memakain cadar membuatnya tidak bisa dikenali.

1. Tidak Wajib

Pendapat pertama dan terbanyak, cadar tidak wajib dikenakan Muslimah. Pasalnya, tidak ada satu pun dalil dalam syariat Islam yang mewajibkan Muslimah memakai cadar.

Islam menganjurkan umat untuk berpakaian dengan memenuhi tiga hal utama:

1. Menutup Aurat
2. Mudah dikenali
3. Indah namun tidak mengundang nafsu.

Jika ketiga hal itu terpenuhi dalam adab berpakaian, maka ia sudah sesuai dengan syariat Islam.

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Asma binti Abu Bakar pernah menghadap Nabi Muhammad Saw dengan mengenakan pakaian yang tipis, lalu Nabi Saw berpaling seraya bersabda:

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata,

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Saw dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah Saw pun berpaling darinya dan bersabda,:“Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud).

Asy Syarbini berkata, “Aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Termasuk telapak tangan adalah bagian punggung dan dalam telapak tangan, dari ujung jari hingga pergelangan tangan.

Firman Allah SWT:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 31).

Yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan, inilah tafsiran dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah.” (Mughnil Muhtaj, 1: 286).

Allah SWT memerintahkan kaum Muslimah mengulurkan kerudung ke dada, menutipi bagian dada.

"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” (QS. An-Nur: 31 ).

2. Mubah (Boleh)

Memakai cadar tidak dilarang alias mubah (boleh). Tetapi jika berada di tempat tempat tertentu yang mengharuskan untuk membukanya, maka wajib membukanya, seperti untuk alasan keamanan atau kepentingan identifikasi.

Wajah adalah identitas manusia yang dengan itu kita bisa mengenali dan membedakan yang mana wanita dan yang mana pria, maka jika manusia menutup wajahnya rapat rapat dengan cadarnya sehingga tidak bisa dikenali maka ini melawan fitrah manusia dan melawan syariat juga.

Jumhur ulama sepakat, mengenakan cadar tidak dilarang, bahkan keutamaan, khususnya wanita yang berwajah sangat cantik dan dikhawatirkan dapat mengundang fitnah orang yang melihatnya.

3. Sunah

Pendapat madzhab Hanafi: wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

Mazhab Maliki berpendapat: wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

4. Wajib

Pendapat madzhab Syafi’i: aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh, sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil dalam Zaadul Masiir, 6/31). (Sumber)

Sebagian istri Rasulullah Saw dan sebagian wanita sahabat juga pernah mengenakannya sehingga cadar dinilai keutamaan dalam berbusana Muslimah.

5. Makruh

Ada juga pendapat makruh hukumnya wanita menutupi wajah, baik ketika dalam shalat maupun di luar shalat, karena termasuk perbuatan berlebih-lebihan (al-ghuluw) dan menyulitkan identifikasi.

Jilbab: Wajib!

Jilbab


Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli sunnah tentang wajibnya wanita muslimah mengenakan jilbab atau hijab, yaitu menutup seluruh tubuh, kecuali bagian wajah dan dua telapak tangan.

Wanita wajib menutup aurat, yakni seluruh tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Jumhur ulama bersepakat, wajah dan telapak tangan bukan aurat, jadi boleh tidak ditutup.

Allah Swt memerintahkan para wanita menutupi seluruh tubuhnya yang merupakan perhiasannya, kecuali yang biasa ditampakkan dengan mengenakan jilbab hingga ke dada:

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.’ (QS. An Nuur:31).

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” (QS. Al Ahzab:59).

Demikian Hukum Memakai Cadar dalam Islam. 

Perbedaan Cadar/Niqab, Jilbab/Hijab, Khimar,  Burqa, Chador

Khimar Burqa Hijab Cadar Chador Kerudung Jilbab

Cadar atau niqab bukan satu-satunya kain penutup kepala atau muka (bagi perempuan). Ada juga burqa dan chador.

1. HIJAB

Hijab (حجاب) berarti “penghalang” atau "pembatas". Dalam konteks busana, hijab merujuk pada pakaian penutup aurat wanita yang dikenal dengan jilbab.

2. JILBAB

Jilbab adalah gamis longgar yang dijulurkan ke seluruh badan hingga mendekati tanah sehingga tidak membentuk lekuk tubuh seperti tertuang dalam. Jilbab biasanya menutupi seluruh tubuh, kecuali tangan, kaki dan wajah.

3. KERUDUNG

Mirip Khimar, namun kerudung kerudung hanya menutup kepala  atau rambut bagian atas saja, dan tidak cukup panjang untuk menutupi dada, leher, serta lekuk-tubuh pemakainya.

4. KHIMAR

Khimar, atau dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah Khumur, adalah kain yang menutupi kepala, leher, dan menjulur hingga menutupi dada wanita dari belakang maupun dari depan (termasuk menutupi tulang selangka). 

5. NIQAB

Niqab adalah nama lain cadar, yaitu hijab yang menutupi kepala dan hampir seluruh bagian wajah, kecuali mata. Niqab cukup panjang untuk menutupi leher, muka dan dada.

6. BURQA

Burqa mirip dengan Niqab, namun nyaris menutupi seluruh bagian wajah termasuk mata. Biasanya pada bagian mata terdapat kain yang memiliki lubang kecil untuk melihat.*

Pengertian NKRI Syariah: Rekomendasi Ijtima' Ulama IV

NKRI Syariah: Rekomendasi Ijtima' Ulama IV di Bogor Agustus 2019
Sejumlah ulama dan aktivis gerakan Islam yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GBPFU), Front Pembela Islam (FPI), dan Persaudaraan Alumni (PA) 212 mengadakan Ijtima' Ulama IV di Bogor, Senin 5 Agustus 2019.

Ijtima' Ulama ke-4 berlangsung tertutup di Hotel Lor In, Sentul, Bogor, milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto (putra bungsu Presiden ke-2 RI Soeharto). Ijtimak Ulama IV dibuka pemimpin FPI, Rizieq Syihab, melalui siaran langsung channel Front TV di YouTube.

Ijtima' Ulama IV menghasilkan 8 poin rekomendasi, salah satunya tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Syariah berdasarkan Pancasila.

"Mewujudkan NKRI syariah yang berdasarkan pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan, dan batang tubuh UU 1945 dengan prinsip ayat suci, di atas ayat konstitusi, agar diimplementasikan dalam kehidupan beragama berbangsa dan bernegara," demikian salah satu rekomendasi.

Ijtima' Ulama IV juga menganggap Pemilu 2019 penuh dengan kecurangan terstruktur, sistematis, masif, dan brutal.

Peserta Ijtima' Ulama IV bersepakat menerapkan sistem syariah dan penegakan khilafah. Mereka juga mengajak ulama dan umat Islam untuk sama-sama berjuang mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Syariah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Di bidang ekonomi, para ulama menyerukan kepada umat Islam untuk mengkonversi simpanan dalam bentuk logam mulia.

8 Rekomendasi Ijtima' Ulama IV

Berikut ini isi lengkap 8 rekomendasi Ijtima' Ulama IV di Bogor, 5 Agustus 2019.

1. Menolak kekuasaan yang berdiri atas dasar kecurangan dan kezaliman serta mengambil jarak dengan kekuasaan tersebut

2. Menolak segala putusan hukum yang tidak memenuhi prinsip keadilan.

3. Mengajak seluruh ulama dan umat untuk terus berjuang dan memperjuangkan

-3.1. Penegakan hukum terhadap penodaan agama apapun, oleh siapapun sesuai amanat undang-undang anti penodaan agama, dan tertuang dalam MPRS Nomor 1 tahun 1995 juncto UU Nomor 5 tahun 1999, juncto pasal 156 a

-3.2. Mencegah bangkitnya ideologi marxisme, leninisme, komunisme, maoisme, dalam bentuk apapun dan cara apapun. Sesuai amanat TAP MPRS Nomor 28 Tahun 1966, UU Nomor 27 Tahun 1999 juncto KUHP Pasal 1,107 a, 107 b, 107 c, 107 d, dan 107 e.

-3.3. Menolak segala bentuk perwujudan tatanan ekonomi kapitalisme, dan liberalisme, di segala bidang termasuk penjualan aset negara kepada asing maupun aseng. Dan memberikan kesempatan pada semua pribumi, tanpa memandang suku maupun agama untuk menjadi tuan di negeri sendiri.

-3.4. Pembentukan tim investigasi dan advokasi untuk mengusut tuntas tragedi 2019, yang terkait kematian lebih dari 500 petugas pemilu, tanpa otopsi dan lebih dari 11 ribu petugas pemilu, yang jatuh sakit serta ratusan rakyat yang terluka, ditangkap, dan disiksa bahkan 10 orang dibunuh secara keji dan 4 di antaranya adalah anak-anak.

-3.5. Menghentikan agenda pembubaran ormas islam serta stop kriminalisasi ulama, maupun persekusi, dan serta membebaskan semua ulama dan aktivis 212 beserta simpatisan yang ditahan, dipenjara pasca aksi 212 tahun 2016 hingga kini, dari segala tuntutan, serta memulangkan imam besar umat Islam Indonesia Habib Muhammad Rizieq bin Husain Shihab ke Indonesia tanpa syarat apa pun.

-3.6 Mewujudkan NKRI syariah yang berdasarkan pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan, dan batang tubuh UU 1945 dengan prinsip ayat suci, di atas ayat konstitusi, agar diimplementasikan dalam kehidupan beragama berbangsa dan bernegara.

4. Perlunya ijtimak ulama dilembagakan sebagai wadah musyawarah antara habaib dan ulama, serta tokoh istiqomah untuk terus menjaga kemaslahatan agama bangsa dan negara.

5. Perlunya dibangun kerja sama dari pusat hingga daerah, antar ormas Islam dan parpol yang selama ini istiqomah berjuang bersama habaib dan ulama, serta umat islam dalam membela agama bangsa dan negara.

6. Menyerukan kepada umat Islam untuk mengkonversi simpanan dalam bentuk logam mulia

7. Membangun sistem kaderisasi yang sistematis, dan terencana, sebagai upaya melahirkan generasi islam yang tangguh dan berkualitas.

8. Memberikan perhatian secara khusus terhadap isu dan masalah substansial, tentang perempuan anak dan keluarga melalui berbagai kebijakan dan regulasi yang tidak bertentangan dengan agama, dan budaya. Hasbunallah nimal wakil, nimal maula wanimal nasir.

Apa itu NKRI Syariah?

Istilah NKRI Syariah bukan hal baru muncul di Ijtima' Ulama. Sebelumnya, dalam Reuni Alumni 212 tahun 2017, pemimpin FPI Habib Rizieq Shihab (HRS) menyampaikan pidatonya dari Arab Saudi kepada peserta reuni lewat telepon.

Dalam seruannya, HRS mendorong terbentuknya NKRI Bersyariah, yaitu hukum syariat yang sesuai dengan Al-Quran diterapkan di Indonesia.

HRS menyebut syariat Islam dapat berdampingan dengan Pancasila. Ia juga menegaskan, cita-cita tersebut tidak berarti ingin menggantikan Pancasila.

Ditegaskan, NKRI bersyariah adalah NKRI yang beragama, bukan ateis atau komunis yang tanpa agama. Ia juga menjelaskan, NKRI bersyariah adalah NKRI yang menjamin semua umat beragama untuk menjalankan ibadah dan syariat agamanya masing-masing.

Masih soal agama, ada poin lain yang ia sebutkan. Menurutnya NKRI yang sesuai syariah adalah NKRI yang melindungi semua agama dari penistaan dan penodaan serta pelecehan.

Ia juga menjelaskan upaya mewujudkan NKRI yang sesuai dengan syariat Islam adalah upaya untuk mengganti Pancasila.

Rizieq menyebut bahwa untuk mewujudkan NKRI bersyariah justru harus berpegang teguh pada Pancasila. Meski begitu Pancasila ini harus berdasarkan Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Menurutnya hal ini sesuai dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Ekonomi & Bank Syariah

Benih NKRI Syariah sebenarnya sudah ada, yaitu dengan muncul dan berkembangnya ekonomi syariah di bidang keuangan, seperti Bank Syariah, Asuransi Syariah, BPR Syariah, Koperasi Syariah, dan sejenisnya. Lembaga-lembaga keuangan ini menerapkan prinsip syariat Islam di bidang ekonomi, dan terbukti berkah dan tanpa masalah.

Itulah sebabnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) misalnya meminta masyarakat tak alergi dengan penggunaan kata syariah.

"Kita jangan alergi dengan kata syariah. Syariah itu mudah sekali. Salat, puasa, itu syariah. Mengajar juga syariah," ujar JK dikutip cnnindonesia.com. Selasa (6/8).

Menurut JK, penggunaan kata syariah juga berlaku pada penggunaan baju sehari-hari. Selama baju itu menutup aurat, maka hal itu memenuhi syariah.

"Saya berpakaian seperti ini syar'i juga," kata JK sambil menunjuk ke kemeja batik lengan panjang dan celana panjang yang ia kenakan.

Ia meminta agar masyarakat tak menganggap bahwa penggunaan kata syariah itu berbahaya. "Jangan merasa syar'i itu bahaya. Itu sesuatu yang sangat simpel," tuturnya. (detik/cnnindonesia).*

Contact Form

Name

Email *

Message *