Kaum Muslim Tidak Boleh Rayakan Hari Valentine

Hari Valentine (Valentine's Day) atau "Hari Kasih Sayang" 14 Februari bukan ajaran Islam, juga bukan tradisi kaum Muslim. Karenanya, kaum Muslim tidak boleh merayakan atau memperingati Hari Valentine.

Kaum Muslim Tidak Boleh Rayakan Hari Valentine

Hari Valentine adalah ritual kaum non-Muslim, terkait dengan sejarah Santo Valentinus.

Dalilnya jelas, sebuah hadits shahih yang menyatakan larangan bagi umat Islam untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam atau menyerupai (tasyabbuh) perilaku kaum non-Muslim.

Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Ahmad, Abu Dawud).

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

"Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah Saw juga memberikan sinyalemen akan banyaknya umat Islam yang mengikuti tradisi atau budaya non-Muslim.

Dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ


“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319).

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ


“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Dalil-dalil di atas lebih dari cukup untuk menyatakan kaum Muslim tidak boleh merayakan Hari Valentine.

Valentine Ritual kaum non-Muslim

Kita simak catatan sejarah yang menunjukkan Valentine adalah ritual kaum non-Muslim.

Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus”, merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci dalam Katolik) yang berbeda: seorang pastur di Roma, uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa (Wikipedia).

Hubungan antara tiga santo tersebut terhadap perayaan Valentine atau “hari kasih sayang” tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan, Paus Gelasius II tahun 496 M menyatakan, sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga santo itu.

Tanggal 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (Dewa Kesuburan) yang dirayakan tanggal 15 Februari.

Beberapa sumber menyebutkan, jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Churc di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI tahun 1836.

Sejak itu, banyak wisatawan yang berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Literatur lain menyebutkan, tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi, Raja Claudius II (268 – 270 M).

Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai “upacara keagamaan”.

Tetapi sejak abad 16 M, ‘upacara keagamaan’ tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’.

Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.

Setelah orang-orang Romawi itu masuk Kristen, pesta “supercalis” kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine.

Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai ‘hari kasih sayang’ juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu ‘kasih sayang’ itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’ pada tanggal 14 Februari.

Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti ‘galant atau cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya tanggal 14 Februari.

Valentine Hari Kejatuhan Kerajaan Islam Spanyol

Catatan lain menyebutkan, Valentine adalah nama seorang paderi, Pedro St. Valentino. Tanggal 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Spanyol. Jadi, tumbangnya kerajaan Islam di Spanyol dirayakan sebagai Hari Valentine.

Namun, catatan ini belakang diragukan kebenarannya dan cenderung sebagai Hoax tentang Valentine.

Kesimpulan

Bebeberpa hadits shahih dan sejarah Hari Valentine di atas jelas mengarah pada kesimpulan, umat tidak boleh merayakan Hari Valentine karena perayaan hari kasih sayang itu merupakan ritual umat non-Muslim.

Ibnul Qayyim berkata:

"Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan “Selamat hari raya!” dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyembah Salib. Bahkan, perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut.”

Sekali lagi, umat Islam tidak boleh merayakan Valentine karena Valentina adalah “ritual” atau “hari raya” non-Muslim.

Umat Islam cukup menghormati, tanpa harus turut merayakannya, sebagaimana prinsip toleransi dalam Islam: lakum dinukum waliyadin, untukmu agamamu, untukku agamaku.

Wallahu a’lam bish-showab. (www.risalahislam.com).*

Pengertian Hablum Minallah dan Hablum Minannas: Kesalehan Individu dan Sosial

Apa pengertian Hablum Minallah dan Hablum Minannas? Apa hubungannya dengan Kesalehan Individu dan Sosial serta Ubudiyah dan Muamalah?

Pengertian Hablum Minallah dan Hablum Minannas: Kesalehan Individu dan Sosial
DALAM menjalani kehidupan sebagai Muslim, kita harus memperhatikan dua hal, yakni hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia.

Hubungan dengan Allah SWT terkait kesalehan individu sebagai hamba Allah. Hubungan dengan sesama mansia terkait dengan kesalehan sosial sebagai makhluk sosial yang bermasyarakat.

Perilaku kita terhadap Allah dan manusia adalah amal perbuatan yang akan dicatat oleh malaikat Kiraman Katibin, sekecil apa pun perbuatan kita, baik atau buruk.

Pengertian Hablum Minallah dan Hablum Minannas

Hubungan dengan Allah sering disebut Hablum Minallah (حَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ). Hubungan dengan sesama manusia sering disebut Hablum Minannas (حَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ).

Secara bahasa, hablum minallah artinya adalah hubungan dengan Allah dan hablum minan-nas adalah hubungan dengan manusia. 

Kedua istilah ini tercantum dalam Al-Qur'an surat Ali Imron: 112

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas."

Dalam ayat di atas, hablum minallah maknanya perjanjian dari Allah, yaitu masuk Islam atau beriman-Islam dan siap melaksanakan rukun iman dan Islam. 

Hablum minan-nas bermakna erjanjian dari kaum Mukminin dalam bentuk jaminan keamanan bagi orang kafir dzimmi dengan membayar upeti bagi kaum Mukminin melalui pemerintahnya untuk hidup sebagai warga negara Islam dari kalangan minoritas non-Muslim. (Tafsir At-Thabari , Tafsir Al-Baghawi , dan Tafsir Ibnu Katsir).

Pengertian Hablum Minallah: 'Ubudiyah

Hablum minallah menurut bahasa berarti hubungan dengan Allah. 

Namun, dalam pengertian syariah, makna hablum minallah sebagaimana yang dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir adalah "Perjanjian dari Allah, maksudnya adalah masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat" 

Hablum minallah dilaksanakan dengan ibadah. Dengan kata lain, hablum minallah adalah aspek 'ubudiyah (عبودية) atau ritual ibadah kita kepada Allah SWT.

"Ibadah" atau "ubudiyah" sering diartikan sebagai "penghambaan" dengan melaksanakan perintah Allah SWT, menghambakan diri kepada-Nya, atau menyembah Allah SWT.

Ibadah/Ubudiyah berasa dari kata 'abada yang artinya hamba. (Baca: Pengertian Hamba Allah).

Imam Ghazali pernah ditanya mengenai 'ubudiyah. Ia menjawab: ubudiyah adalah kumpulan dari tiga hal:
  1. Menunaikan perintah syariat.
  2. Rela dengan ketentuan dan takdir serta pembagian rezeki dari Allah SWT. 
  3. Meninggalkan kehendak nafsunya untuk mencari keridhoan Allah SWT.”
Ibadah adalah tujuan penciptaan manusia oleh Allah SWT.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat : 56).

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus” (QS Al-Bayyinah :5).

Pengertian Hablum Minannas: Mu'amalah

Pengertian populernya, hablum minannas yaitu hubungan dengan sesama manusia dalam bentuk mu'amalah.

Dari segi bahasa, muamalah berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat  yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap orang lain.

Jadi, Muamalah adalah hubungan manusia dalam interaksi sosial, termasuk masalah harta, waris, dan jual-beli.

Muamalah mempunyai banyak cabang, di antaranya politik, ekonomi, dan sosial. Secara umum muamalah mencakup dua aspek, yakni aspek adabiyah dan madaniyah.
  1. Aspek adabiyah yakni kegiatan muamalah yang berhubungan dengan akhlak, seperti kejujuran, sopan-santun, dan sebagainya. 
  2. Aspek madaniyah adalah aspek yang berhubungan dengan kebendaan, seperti halal haram, syubhat, madaratan, dan lainnya

Pengertian Kesalehan Individu dan Sosial

Hablum minallah dikenal juga dengan istilah kesalehan individu atau ibadah mahdhah. Hablum minannas dikenal dengan istilah kesalehan sosial atau ibadah ghair mahdhah.

Keduanya harus seimbang. Kesalehan individu harus sama baiknya dengan kesalehan sosial. Jika rajin sholat, zakat, puasa, dzikir, doa, alias hubungan dengan Allah baik, namun hubungan dengan sesama manusia buruk, maka bisa-bisa jadi "orang bangkrut" di akhirat nanti.

Pada suatu kesempatan, baginda Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabatnya. "Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu (al-muflis)?'' Mereka menjawab, "Menurut kami, yang bangkrut itu adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.''

Lalu Beliau bersabda, "Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, memakan harta, membunuh, dan menyakiti orang lain.

Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang yang dianiayanya sampai habis, sementara tuntutan masih banyak yang belum terpenuhi. Lalu, sebagian dosa mereka dibebankan kepadanya hingga ia dilemparkan ke neraka.'' (HR Muslim).

Manusia itu ada empat macam:
  1. Orang yang beramal ritual dan tidak berdosa sosial. Ia disebut orang yang beruntung (QS 28:67). 
  2. Orang yang tidak beramal ritual dan tidak pula berdosa sosial, ia disebut orang merugi (QS 18:103-104).
  3. Orang yang tidak beramal ritual, tetapi beramal sosial, ia disebut orang yang tertipu (QS 4:142). 
  4. Orang yang beramal ritual, tapi banyak mela ku kan dosa sosial, ia disebut orang yang bangkrut secara ha kiki (49:11-12). 
Demikian ulasan tentang Pengertian Hablum Minallah, Hablum Minannas, Kesalehan Individu, Kesalahen Sosial, ibadah mahdhoh, ibadah ghoir mahdhah, ibadan dan mu'amalah yang harus kita lakukan seimbang, sama-sama baiknya.

Semoga kita diberi hidayah, taufik, dan kekuatan serta keikhlasan untuk mengamalkannya. Amin! Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Mengenal Malaikat Pencatat Amal: Kiroman Katibin - Rakib Atid

Like, Share, dan Malaikat Pencatat Amal Kiroman Katibin (Rakib & Atid)
Malaikat pencatat amal perbuatan manusia disebut "Kiroman Katibin" dan "Rokib Atid".

Klik like & share di media sosial juga akan tetap dicatat oleh malaikat.

Netizen atau warganet biasa klik suka atau klik bagikan berita atau informasi di akun medsosnya.

Tampaknya hal sepele, tapi aktivitas online di internet itu tetap merupakan sebuah amal yang akan dicatat malaikat pencatat amal. Amalan itu akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Pahala dan dosanya pun akan berlaku.

Meski menggunakan akun bodong, akun palsu, atau nama palsu dan anonim, malaikat Allah bernama Kiroman Katibin atau Rakib Atid tidak akan "terpedaya". Catatan amal tetap masuk ke "akun amal" pelaku dalam buku catatan malaikat.

Jika yang disuka dan dibagikan itu hal baik, positif, apalagi Islami atau tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka perbuatan "jari" berupa klik & share itu dicatat sebagai amal kebaikan.

Sebaliknya, jika yang disuka dan dibagikan itu negatif, hoax, ujaran kebencian, pornografi, menyesatkan, atau bertentangan dengan syariat Islam, maka klik like & share itu akan dicatat sebagai amal keburukan.

Amal perbuatan sekecil apun dicatat, baik amal baik maupun amal buru.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهٗ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهٗ

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS Az Zalzalah:7-8)

Malaikat Pencatat Amal: Kiroman Katibin - Rokib Atid

Malaikat yang mencatat perbuatan manusia itu dikenal dengan sebutan Kirâman Kâtibîn (كِرَامًا كَاتِبِينَ) yakni dua malaikat yang terletak di bahu kanan dan kiri setiap makhluk-Nya.

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Infithar: 10-12).

Kiraman Katibin dipahami pula sebagai Rokib Atid (رَقِيبٌ عَتِيدٌ). Kata Raqib  ‘Atid terdapat dalam ayat Al-Quran,

ِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 17-18)

Sebagian ulama lantas menafsirkan, malaikat pencatat itu benama Raqib dan Atid. Jumlahnya sebanding dengan jumlah manusia sepanjang zaman.

Malaikat Raqib adalah malaikat pencatat amal baik manusia. Tugas malaikat Atid adalah mencatat amalan jahat manusia.

"Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahsia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. (QS Az-Zukhruf 80) ”

"Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah." (QS Ar-Ra’du 10-11).

Catatan perbuatan atau buku amal juga disebutkan dalam ayat lain.

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَكَبِيْرٍ مُسْتَطَرٌ (53)

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Qomar: 52-53)

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (28)

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jaatsiyaat: 28).

Kita sudah "mengenal" nama malaikat pencatat amal, yaitu Kiroman Katibin dan Rakib & Atid. Semua amal perbuatan kita akan dicatat, bahkan like & share di medsos sekalipun. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Pengertian Walimah dan Macam-Macamnya dalam Islam

Pengertian Walimah dan Macam-Macamnya dalam Islam
Pengertian Walimah

Walimah (وليمة) secara bahasa artinya "perjamuan", yaitu jamuan makan. Biasanya jamuan dalam pesta pernikahan yang dikenal dengan istilah walimah al-'urs atau walimatul 'urs (jamuan pernikahan).

Jadi, walimah adalah sebutan untuk undangan makan khususnya saat pernikahan.

Sebagian ulama’ fikih berpendapat walimah itu untuk acara makan-makan untuk segala kejadian yang menggembirakan dan lebih banyak pada acara makan-makan untuk pernikahan (Al-Mughni).

Menurut Ibnul A’robiy, secara bahasa walimah adalah berkumpulnya orang-orang untuk makanan yang dihidangkan dalam suasana kegembiraan, misalnya pesta pernikahan dan syukuran kelahiran anak.

Umat Islam yang melakukan walimah wajib memperhatikan peringatan Rasulullah Saw berikut ini:

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الْأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

"Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, yang diundang padanya adalah para orang kaya dan ditinggalkan orang-orang fakirnya" (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Maknanya, walimah jangan sampai melupakan kaum fakir-miskin.

Macam-Macam Walimah dalam Islam

Dalam Islam dikenal berberapa jenis walimah. Terpopuler adalah walimah al-'urs, walimah al-safar, dan walimah al-aqiqah.

1. Walimah al-'Urs

Walimatul ‘Urs (وليمة العرس) adalah jamuan makan yang diselenggarakan berkenaan dengan pernikahan alias resepsi pernikahan. ‘Urs (اَلْعُرْسُ) artinya pernikahan (wedding).

"Walimahan" biasanya digelar usai akad nikah. Walimah ini disebut juga walimatun nikah (وليمة النكاح).

Mengadakan pesta pernikahan (walimah al-'urs) hukumnya sunah muakkadah. Pembiayaan pesta pernikahan biasanya ditanggung pihak suami. 

Tujuan pesta pernikahan adalah untuk mengembirakan hati kedua pengantin sekaligus "deklarasi" atau pengumuman bahwa pasangan sudah sah sebagai suami-istri.

Nabi Saw memerintahkan kepada Abdurrohman bin 'Auf untuk menyelenggarakan walimah setelah menikah:

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

"Adakan walimah meski dengan seekor kambing" (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Rasulullah Saw juga menganjurkan walimah untuk syukuran kelahiran anak.

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

"Anak (yang baru lahir) tergadaikan dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan (kambing) pada hari ketujuh (kelahiran), diberi nama, dan dipotong rambutnya" (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah)

2. Walimah al-Safar

Secara harfiah walimatus safar artinya "jamuan perjalanan", yaitu jamuan sebelum atau sesudah perjalanan penting terutama ibadah haji.

Safar (سفر) artinya bepergian atau perjalanan.
Walimatus safar tidak dikenal dalam manasik haji. Rasulullah SAW dan para sahabat juga tidak mencontohkan adanya walimah al-safar.

Jumhur ulama menyatakan hukum walimah al-safar itu mubah (boleh). Namun, jika didasarkan atas motivasi "pamer" atau "riya", hukumnya menjadi haram (terlarang).

Walimatus Safar dianalogikan dengan Walimah Naqi’ah.

3. Walimah Naqi’ah

Walimah Naqi’ah adalah jamuan sebelum dan sesudah melakukan perjalan jauh dengan tujuan meminta doa kebaikan dan keselamatan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ إلَى سَفَرٍ فَلْيُوَدِّعْ إخْوَانَهُ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي دُعَائِهِمْ خَيْرًا .

"Dari Abu Hurairah semoga Allah memberikan keridhaan kepadanya dari Rasulullah bersabda: Apabila salah seorang kalian ingin melakukan perjalanan, maka hendaknya ia berpamitan kepada saudara-saudaranya karena sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan pada doa mereka.” 

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :”إذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ إلَى سَفَرٍ فَلْيُوَدِّعْ إخْوَانَهُ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي لَدَى دُعَائِهِمْ الْبَرَكَةَ .

"Dari Zaid Ibn Arqam berkata: Rasulullah bersabda: Apabila salah seorang kalian ingin melakukan perjalanan, maka hendaknya ia berpamitan kepada saudara-saudaranya karena sesungguhnya Allah menjadikan keberkahan pada doa mereka"

4. Walimah Al- ‘Aqiqah

Walimah al-aqidah --lebih dikenal dengan sebutan akikah (aqiqah) saja-- yaitu jamuan yang dilakukan sebagai syukuran kelahiran anak (bayi).

Hukum akikah adalah sunnah muakkadah.

"Anak (yang baru lahir) tergadaikan dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan (kambing) pada hari ketujuh (kelahiran), diberi nama, dan dipotong rambutnya" (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah)

5. Walimah al-I'dzar

Walimah Al-I’dzar atau walimah al ‘udzrah yaitu walimah karena khitan. Hukum walimah khitan adalah mubah (boleh) dengan niat doa kebaikan bagi sang anak yang dikhitan.

Hukum walimah akikah dan khitan didasarkan pada hadits:

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُجِبْ عُرْسًا كَانَ أَوْ نَحْوَهُ

“Jika seseorang dari kalian mengundang saudaranya, maka hendaknya ia mendatangi undangan itu. Baik itu acara pernikahan atau selainnya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dari Ibnu Umar)

Abdur Rauf al-Munawi asy-Syafi’i berkata:

قوله (أو نحوه) كختان وعقيقة

“Maksud sabda beliau “atau selainnya” adalah seperti acara jamuan khitan atau aqiqah.” (Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ish Shaghir).

6. Walimah al-Hidzaaq

Walimah Al-Hidzaaq adalah undangan makan yang dibuat karena khatm (penutupan), yaitu tamat membaca Al-Qur’an seorang anak. Hukumnya mubah sebagai ungkapan syukur dan doa kebaikan bagi sang anak.

7. Walimah al-Wadhimah

Walimah Al-Wadhiimah yaitu walimah saat tertimpa musibah, misalnya kematian.

Hukum walimah jenis ini terlarang dilakukan karena bertentangan dengan makna walimah sendiri, yaitu jamuan makan dalam suasana gembira, sedangkan kematian adalah suasana duka.

Walimah karena kematian dinilai sama dengan meratap.

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ (بَعْدَ دَفْنِهِ) مِنْ النِّيَاحَةِ

“Dari Jarir bin Abdullah Al Bajali, dia berkata : “Kami -yakni para sahabat- memandang, berkumpul di tempat keluarga mayit dan pembuatan makanan (setelah penguburan mayit) termasuk meratap”. [HR Ibnu Maja].

Demikian Pengertian Walimah dan Macam-Macamnya dalam Islam. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Fiqh al-Lughah Wa Sirr al-Arabiyyah (Beirut: Sar al-Kutub 1980); Imam al-Nawawiy dalam kitab al-Adzkar; Ibnu Hajar Fat-hul Bari Syarh Shahih Bukhari.

Contact Form

Name

Email *

Message *