Keutamaan dan Amalan Khusus Bulan Sya'ban - Adakah Nisfu Sya'ban?

amalan bulan sya'ban
Keutamaan, Amalan Sunah, dan Kedudukan Malam Nishfu Sya'ban.

BULAN Sya’ban (ruwah) termasuk bulan istimewa dalam Islam. Salah satunya karena Syaban adalah “pintu gerbang” memasuki bulan suci Ramadhan.

Pada bulan inilah sebaiknya kita “berlatih puasa” dengan rajin berpuasa sunah, sekaligus memperdalam ilmu puasa.

Dalam mengisi bulan Sya'ban dengan amalan sunah, Rasulullah Saw memberi teladan dengan banyak berpuasa.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a.:

"Terkadang Nabi Saw puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi Saw berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Keutamaan Sya'ban


Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah bulan yang menyucikan dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa” (HR. Imam al-Dailami)

Hadits tersebut menegaskan keutamaan dan posisi Sya'ban sebagai pintu gerbang memasuki Ramadhan. Tingkatannya di bawah Ramadhan sebaiah bulan Allah (Syahrulllah); Sya'ban disebut "Syahrun Nabi" atau bulan Nabi Saw.

Catatan Amal Diangkat

Salah satu alasan Rasul memperbanyak puasa atau ibadah lainnya, karena bulan Sya’ban merupakan diangkatnya catatan amal manusia.


ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

"Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An- Nasa’i).

"Pada bulan itu (Sya’ban) perbuatan dan amal baik diangkat kepada Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa". (HR. Abu Dawud).

Ibnu Rajab mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah” (Lathoif Al Ma’arif).

Puasa Sunah Sya'ban Ibarat Shalat Rawatib

Puasa bulan Sya’ban ibarat ibadah shalat sunat rawatib yang “mengapit” shalat fardhu, sebelum dan sesudahnya.

“Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena ia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan.” (Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab).

Malam Nisfhu Sya’ban

Sebagian umat Islam melakukan “amalan khusus” pada malam pertengahan bulan Sya’ban –dikenal dengan sebutan Malam Nishfu Sya’ban. Salah satu dalil yang digunakan adalah hadits dari Siti Aisyah r.a.

"Suatu malam Rasulullah salat, lalu beliau bersujud panjang sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil (wafat). Karena curiga, maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat, beliau berkata: "Hai A'isyah, engkau tidak dapat bagian?"

“Lalu aku menjawab: "Tidak, ya Rasulallah! Aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah wafat) karena engkau bersujud begitu lama". Lalu beliau bertanya: "Tahukah engkau, malam apa sekarang ini". "Rasulullah yang lebih tahu," jawabku. "Malam ini adalah malam nishfu Sya'ban, Allah mengawasi hamba-Nya pada malam ini, maka Dia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang kepada mereka yang meminta kasih sayang, dan menyingkirkan orang-orang yang dengki" (HR. Baihaqi).

Menurut perawinya, hadits tersebut mursal, yakni ada perawi yang tidak sambung ke sahabat, namun cukup kuat.

Dalam hadits lain yang dinilai lemah (dhoif) oleh kalangan ulama hadits, Rasulullah Saw bersabda:

"Malam nishfu Sya'ban, maka hidupkanlah dengan shalat dan puasalah pada siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: ‘Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rezeki akan Aku beri dia rezeki, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing." (H.R. Ibnu Majah, dengan sanad lemah).

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat, hadits lemah boleh digunakan untuk Fadlail A'mal (keutamaan amal).

Walaupun hadits-hadits kedudukannya tersebut tidak sahih, namun merujuk kepada dari hadits-hadits lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya'ban, dapat diambil kesimpulan: malam Nisfu Sya'ban juga memiliki keutamaan.

Amaliah Sunah Malam Nishfu Sya'ban

Hanya saja, jenis ibadah Nishfu Sya’ban harus seperti dicontohkan Rasulullah, yakni memperbanyak shalat malam dan puasa.

Mengisi malam Nishfu Sya'ban dengan amalan yang berlebih-lebihan, atau diada-adakan, seperti dengan shalat malam berjamaah, dzikir bersama, dan sejenisnya, bisa terjerumus ke perbuatan bid’ah karena Rasulullah tidak pernah melakukan atau mencontohkannya.

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).

Mayoritas ulama melihat tidak ada satu dalil pun yang shahih yang menjelaskan keutamaan apalagi “ibadah khusus” malam Nishfu Sya’ban. Bahkan, Ibnu Rajab mengatakan:

“Tidak ada satu dalil pun yang shahih dari Nabi Saw dan para sahabat. Dalil yang ada hanyalah dari beberapa tabi’in yang merupakan fuqoha’ negeri Syam.” (Lathoif Al Ma’arif).

Seorang ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia) yaitu Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan:

“Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (At Tahdzir minal Bida’).

Syeikh Ibnu Baz juga menegaskan: “Hadits tentang menghidupkan malam nishfu Sya’ban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.” (At Tahdzir minal Bida’).

Semoga kita mampu menyikapi permasalahan Nishfu Sya’ban dengan bijak dan demi niat mencapai ridha Allah SWT semata. Amin. Wallahu a’lam bish-shawab. (www.risalahislam.com).*

Kemenag Imbau Umat Islam Shalat Tarawih di Rumah, Tak Ada Shalat Idul Fitri

Surat Edaran Kemenag RI Nomor 6 Tahun 2020 tentang Ibadah Ramadhan Saat Pendemi Covid-19: Shalat Tarawih di Rumah, Idul Fitri Tidak Ada, dan Pelaksanaan Zakat. 

Kemenag: Shalat Tarawih di Rumah, Tak Ada Shalat Idul Fitri

Kementerian Agama (Kemenag) RI mengimbau umat Islam melaksanakan ibadah Ramadhan tahun ini di rumah, di tengah pandemi Virus Corona atau Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Kaum Muslim diimbau shalat tarawih di rumah dan tidak melaksanakan shalat 'id. Imbauan ini senada dengan imbauan MUI, PBNU, dan Muhammadiyah.  

Ibadah Ramadhan dipusatkan di rumah masing-masing dan tidak di masjid dimaksudkan untuk mencegah meluasnya penyebaran covid-19. 

Imbauan Kemenag ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2020 yang ditandatangani maka Menteri Agama Fachrul Razi, Senin (6/4/2020).

“Salat Tarawih cukup dilakukan secara individual atau berjemaah bersama keluarga inti di rumah,” ujar Menag saat menyampaikan surat edaran di Kantor Kemenag RI di Jakarta.

Menag menjelaskan, Surat Edaran ini dimaksudkan untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan Syariat Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19.

Sama halnya dengan tarawih, ibadah seperti tilawah dan tadarus Al-Qur’an juga diharapkan Menag dapat dilaksanakan di rumah masing-masing saja. 

“Tilawah atau tadarus Al-Qur’an dilakukan di rumah masing-masing berdasarkan perintah Rasulullah SAW untuk menyinari rumah dengan tilawah Al-Qur’an,” imbuhnya.

Menag juga mengimbau agar umat muslim tidak melakukan tradisi sahur on the road dan ifthar jama’i (buka puasa bersama) yang biasanya melibatkan banyak orang. 

“Sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu atau keluarga inti, tidak perlu sahur on the road atau ifthar jama’i (buka puasa bersama),” ujarnya.

Imbauan ini juga berlaku untuk buka puasa bersama yang dilaksanakan oleh lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala. 

“Buka puasa bersama baik dilaksanakan di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala ditiadakan,” tandas Menag.

Isi Surat Edaran Kemenag RI No 6 tahun 2020

Berikut ini panduan yang tertuang dalam Surat Edaran No 6 tahun 2020:

1. Umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dengan baik berdasarkan ketentuan fikih ibadah. 

2. Sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu atau keluarga inti, tidak perlu sahur _on the road_ atau _ifthar jama’i_ (buka puasa bersama).

3. Salat Tarawih dilakukan secara individual atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah;

4. Tilawah atau tadarus Al-Qur’an dilakukan di rumah masing-masing berdasarkan perintah Rasulullah SAW untuk menyinari rumah dengan tilawah Al-Qur’an; 

5. Buka puasa bersama baik dilaksanakan di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala ditiadakan;

6. Peringatan Nuzulul Qur’an dalam bentuk tablig dengan menghadirkan penceramah dan massa dalam jumlah besar, baik di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala ditiadakan;

7. Tidak melakukan iktikaf di 10 (sepuluh) malam terakhir bulan Ramadan di masjid/musala; 

8. Pelaksanaan Salat Idul Fitri yang lazimnya dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid atau di lapangan ditiadakan, untuk itu diharapkan terbitnya Fatwa MUI menjelang waktunya.

9. Agar tidak melakukan kegiatan sebagai berikut: a) Salat Tarawih keliling (tarling); b) Takbiran keliling. Kegiatan takbiran cukup dilakukan di masjid/musala dengan menggunakan pengeras suara; c) Pesantren Kilat, kecuali melalui media elektronik.

10. Silaturahim atau halal bihalal yang lazim dilaksanakan ketika hari raya Idul Fitri, bisa dilakukan melalui media sosial dan video call/conference.

11. Pengumpulan Zakat Fitrah dan/atau ZIS (Zakat, Infak, dan Shadaqah):

a) Mengimbau kepada segenap umat muslim agar membayarkan zakat hartanya segera sebelum puasa Ramadan sehingga bisa terdistribusi kepada Mustahik lebih cepat.

b) Bagi Organisasi Pengelola Zakat untuk sebisa mungkin meminimalkan pengumpulan zakat melalui kontak fisik, tatap muka secara langsung dan membuka gerai di tempat keramaian. Hal tersebut diganti menjadi sosialisasi pembayaran zakat melalui layanan jemput zakat dan transfer layanan perbankan. 

c) Organisasi Pengelola Zakat berkomunikasi melalui unit pengumpul zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah yang berada di lingkungan masjid, musala, dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat untuk menyediakan sarana untuk cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan alat pembersih sekali pakai (tissue) di lingkungan sekitar. 

d) Memastikan satuan pada Organisasi Pengelola Zakat, lingkungan masjid, musala dan tempat lainnya untuk  melakukan pembersihan ruangan dan lingkungan penerimaan zakat secara rutin, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer, papan tik (keyboard), alat pencatatan, tempat penyimpanan dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan. Gunakan petugas yang terampil menjalankan tugas pembersihan dan gunakan bahan pembersih yang sesuai untuk keperluan tersebut. 

e) Mengingatkan para panitia Pengumpul Zakat Fitrah dan/atau ZIS  untuk meminimalkan kontak fisik langsung, seperti berjabat tangan ketika melakukan penyerahan zakat.

12. Penyaluran Zakat Fitrah dan/atau ZIS (Zakat, Infak, dan Shadaqah):

a) Organisasi Pengelola Zakat, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah dan/atau ZIS  yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat untuk menghindari penyaluran zakat fitrah kepada Mustahik melalui tukar kupon dan mengadakan pengumpulan orang. 

b) Organisasi Pengelola Zakat Fitrah dan/atau ZIS  yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat untuk menghindari penyaluran zakat fitrah kepada Mustahik melalui tukar kupon dan mengumpulkan para penerima zakat fitrah.

c) Organisasi Pengelola Zakat, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah dan/atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat untuk melakukan penyaluran dengan memberikan secara langsung kepada Mustahik. 

d) Organisasi Pengelola Zakat, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat untuk pro aktif dalam melakukan pendataan Mustahik dengan berkoordinasi kepada tokoh Masyarakat maupun Ketua RT dan RW setempat.

13. Petugas yang melakukan penyaluran zakat fitrah dan/atau ZIS  agar dilengkapi dengan alat pelindung kesehatan seperti masker, sarung tangan dan alat pembersih sekali pakai (tissue).

14. Dalam menjalankan ibadah Ramadan dan Syawal, seyogyanya masing-masing pihak turut mendorong, menciptakan, dan menjaga kondusifitas kehidupan keberagamaan dengan tetap mengedepankan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. 

15. Senantiasa memperhatikan instruksi Pemerintah Pusat dan Daerah setempat, terkait pencegahan dan penanganan Covid-19.

Sumber: Kemenag

Ramadhan Corona: MUI, NU, dan Muhammadiyah Serukan Shalat Tarawih di Rumah

UMAT Islam akan menjalani Ramadhan tahun ini di tengah pandemi Virus Corona atau Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Ramadhan Saat Pandemi Corona: MUI, NU, dan Muhammadiyah Serukan Shalat Tarawih di Rumah

MUI sudah mengeluarkan Fatwa No. 12 Tahun 2020 tentang Ibadah di Rumah selama Pandemi Covid-19, termasuk jika wabah belum reda di bulan Ramadhan.

Hal itu dipertegas Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Abdullah Jaidi, yang meminta umat Islam melaksanakan ibadah shalat tarawih di rumah bila wabah Covid-19 belum berakhir pada Ramadhan.

"Sesuai arahan MUI bahwa kita menghindari tempat berkumpul yang membuat menularnya wabah itu sendiri. Sesuai imbauan itu sebaiknya kita tetap tarawih di rumah,” kata Abdullah dalam keterangannya melalui telekonferensi di Jakarta (02/04/2020).

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusah (PP) Muhammadiyah juga mengeluarkan maklumat dan imbauan agar selama Ramadan nanti, umat Islam tetap di rumah (stay at home) dan shalat tarawih di rumah, bukan berjamaah di masjid.

Dalam surat edaran Nomor 3953/C.I.034/04/2020, PBNU juga meminta umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tahun ini di rumah masing-masing, demi menekan laju penularan virus corona. Salat tarawih juga sebaiknya dilaksanakan di rumah selama bulan Ramadan.

"Memanjatkan doa untuk para leluhur serta berbagai amaliyah dan ibadah lain termasuk menjalankan salat tarawih selama bulan Ramadan dan salat Idul Fitri selama pandemi Covid-19 di rumah masing-masing atau sesuai protokol pencegahan Covid-19 yang ditetapkan pemerintah pusat dan daerah," demikian kutipan dalam surat tersebut.

Saat Idul Fitri, PBNU mengimbau umat Islam tetap harus menaati kebijakan pembatasan sosial (social distancing) dan menjaga jarak fisik (physical distancing).

Surat Edaran PBNU tersebut ditandatangani Ketua Umum Said Aqil Siroj, Sekjen Helmy Faishal Zaini, Pejabat Rais Aam Miftachul Akhyar dan Katib Aam Yahya Cholil Staquf.

Sebelumnya, PP Muhammadiyah juga menyempurnakan maklumat mengenai tuntunan ibadah bagi umat Muslim dalam menghadapi wabah corona.

Dalam maklumat nomor 02/MLM/I.0/H/2020 tentang wabah covid-19 dan surat bernomor 03/I.0/B/2020 tentang penyelenggaraan shalat Jumat dan fardhu berjamaah saat wabah Covid-19, PP Muhammadiyah menetapkan beberapa keputusan sebagai berikut.

Apabila kondisi mewabahnya Covid-19 hingga bulan Ramadhan dan Syawal mendatang tidak mengalami penurunan, terdapat beberapa tuntunan berikut yang perlu diperhatikan.

a. Shalat Tarawih dilakukan di rumah masing-masing. Takmir tidak perlu mengadakan shalat berjamaah di masjid, mushala, dan sejenisnya, termasuk kegiatan Ramadhan yang lain seperti ceramah-ceramah, tadarus berjamaah, iktikaf, dan kegiatan berjamaah lainnya. 

b. Puasa Ramadan tetap dilakukan kecuali bagi orang yang sakit dan yang kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik. Orang tersebut wajib menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat.

c. Untuk menjaga kekebalan tubuh, puasa Ramadhan dapat ditinggalkan oleh tenaga kesehatan yang sedang bertugas. Tenaga kesehatan dapat menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat.

d. Shalat Idul Fitri adalah sunah muakadah dan merupakan syiar agama yang amat penting. Namun, apabila pada awal Syawal 1441 H mendatang tersebarnya Covid-19 belum mereda, shalat Idul Fitri dan seluruh rangkaiannya (mudik, pawai takbir, halal bihalal, dan lain sebagainya) tidak perlu diselenggarakan.

Namun, apabila berdasarkan ketentuan pihak berwenang bahwa Covid-19 sudah mereda dan dapat dilakukan konsentrasi banyak orang, shalat Idul Fitri dan rangkaiannya dapat dilaksanakan dengan tetap memperhatikan petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan pihak berwenang mengenai hal itu. Adapun kumandang takbir Idul Fitri dapat dilakukan di rumah masing-masing selama darurat Covid-19.

Saat ini masjid-masjid meniadakan shalat berjamaah dan shalat Jumat, demi ikhtiar memutus penyebaran virus corona. Sejumlah prediksi pakar menyebutkan, pandemi Covid-19 kemungkinan berakhir Juni atau Juli 2020.

Itu artinya, Ramadhan yang insya Allah dimulai Jumat, 24 April 2020, hingga 24 Mei 2020 ( Idul Fitri 1441 H) akan berlangsung di tengah pandemi Covid-19.

Para ulama juga menegaskan bahwa shalat tarawih boleh dikerjakan sendiri, karena bukan syarat sahnya shalat tarawih untuk dikerjakan secara berjamaah. Pendapat dari An-Nawawi juga mengatakan,

“Shalat tarawih adalah sunah dengan sepakat ulama… boleh dikerjakan sendirian atau berjamaah.” (al-Majmu, 4/31).

Semoga berkah dan kemuliaan Ramadhan meredakan bahkan menghentikan penyebaran Virus Corona. Amin...! (www.risalahislam.com).*

Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Terus-Menerus dalam Situasi Pandemi Covid-19

Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Terus-Menerus dalam Situasi Pandemi Covid-19

Shalat Jumat wajib dilaksanakan sebagaimana halnya shalat wajib lima waktu. Shalat Jumat dilakukan hari Jumat pada waktu Zhuhur.

Bagaimana, dalam situasi pandemi Virus Corona (Covid-19), sebagaimana Fatwa MUI No. 14 Tahun 2020, shalat Jumat tidak wajib dilakukan.

Disebutkan dalam Fatwa MUI:
  • Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. 
  • Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/ rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.
  • Dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jumat.
Fatwa ulama menjadi pedoman bagi umat Islam dalam beribadah. Ulama adalah pewaris nabi. Mereka mengeluarkan fatwa berdasarkan pertimbangan syariat Islam juga.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, menjelaskan, pandemi Covid-19 termasuk uzur syar'i  atau halangan yang berdasarkan syariat Islam. 

Menurut pandangan para ulama fikih, uzur syar'i tidak sholat Jumat antara lain sakit dan kekhawatiran terjadinya sakit.
Dalam  kitab Asna al-Mathalib disebutkan:

وَقَدْ نَقَلَ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَن الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْمَجْذُومَ وَالْأَبْرَصَ يُمْنَعَانِ مِنْ الْمَسْجِدِ وَمِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ، وَمِنْ اخْتِلَاطِهِمَا بِالنَّاسِ

"Orang yang terjangkit penyakit menular dicegah untuk ke masjid dan sholat Jumat, juga bercampur dengan orang-orang (yang sehat)."

Dalam Kitab al-Inshaf juga disebutkan:

وَيُعْذَرُ فِي تَرْكِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ الْمَرِيضُ بِلَا نِزَاعٍ، وَيُعْذَرُ أَيْضًا فِي تَرْكِهِمَا لِخَوْفِ حُدُوثِ الْمَرَض

"Uzur yang dibolehkan meninggalkan shalat Jumat dan jamaah adalah orang yang sakit tanpa ada perbedaan di kalangan Ulama. Termasuk udzur juga yang dibolehkan meninggalkan sholat Jumat dan jamaah adalah karena takut terjadinya sakit," terang Asrorun dikutip detik.

Terkait hadits soal meninggalkan sholat Jumat 3 kali berturut-turut dikategorikan kafir, kata Asrorun, adalah yang meninggalkannya tanpa uzur.

"Atau dalam redaksi hadis yang lain, meninggalkan Jumat dengan menggampangkan atau malas," kata dia.

Penyebaran virus corona atau Covid-19 akan kian meluas tatkala terjadi kerumunan manusia dan salah satunya adalah ketika sholat Jumat.

Kekhawatiran terjadinya sakit atau tertular virus corona menjadi uzur untuk tidak sholat JUmat dan menggantinya dengan sholat Zuhur.

Peniadaan shalat berjamaah dan shalat Jumat di masjid-masjid merupakan bagian dari menjaga jarak (social distancing) sebagai baian dari ikhtiar mencegah penularan Covid-19 sekaligus memutus penyebaran virus mematikan ini.

Social Distancing
Social Distancing (Mashable)

Dirilis Mashable, sebuah laporan menyebutkan, social distancing bisa menyelamatkan hingga 40 juta jiwa. Tanpa menjaga jarak, Covid-19 bisa membunuh 40 juta orang di dunia.

Semoga Virus Corona segera dilenyapkan Allah SWT berkat doa dan ikhtiar kita. Allah Mahakuasa, juga Maha Pengasih dan Penyayang.*

Contact Form

Name

Email *

Message *