Sidang Isbat Idul Fitri 2019 Senin, Sejumlah Umat Islam Sudah Lebaran

Sidang Isbat Idul Fitri 2019 Senin, Sejumlah Umat Islam Sudah Lebaran
Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat penetapan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah, Senin (3//6/2019).

Sidang penentuan Idul Fitri 2019 itu akan diikuti Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sejumlah ulama, tokoh ormas Islam, pakar astronomi, delegasi negara sahabat, dan unsur terkait.

Sidang isbat akan diawali paparan mengenai posisi bulan sabit baru (hilal) berdasarkan data astronomi (falak) oleh pakar astronomi. Kegiatan dilanjutkan dengan Salat Magrib kemudian dilakukan sidang tertutup. Setelah itu, hasil sidang isbat akan diumumkan dalam jumpa pers.

Kemenag menyebar para pemantau hilal di 105 titik di seluruh Indonesia. Apabila bulan baru (hilal) terlihat perukyat beberapa saat setelah Magrib tiba (qobla ghurub), maka pada petang ini ditetapkan sudah memasuki 1 Syawal. Artinya, umat Islam Indonesia akan merayakan Lebaran atau idu fitri pada Selasa (4/6/2019) dan puasa Ramadhan berlangsung selama 29 hari.

Jika hilal tidak disaksikan para perukyat, maka pada Senin petang ditetapkan sebagai malam 30 Ramadan dan 1 Syawal jatuh pada Rabu (5/6/2019). Dengan begitu, jumlah hari puasa 30 hari.

Sejumlah Umat Islam Sudah Lebaran

Meski Sidang Isbat baru akan dilakukan Senin sore, namun sebagian umat Islam sudah berlebaran Senin 3 Juni 2019.

Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Pauh, Kota Padang, melaksanakan salat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah di Musala Baitul Makmur, Pauh, Padang, Senin, (3/6/2019).

Salat dimulai pukul 08:00 WIB yang sebelumnya diawali dengan takbiran. Salat Idul Fitri diimami pimpinan Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Buya Syafri Malin Mudo. Sedangkan Afrizal Tanjung bertindak sebagai khatib yang memberikan kutbah dalam bahasa Arab.

Usai salat, sesama jemaah berkumpul di musala sambil menikmati hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan sebagai bentuk menjaga silaturahmi. Setelah selesai masing-masing jemaah kembali pulang.

Shalat Id atau lebaran Senin juga dilakukan Jemaah An-Nadzir di Gowa, Sulawesi Selatan.

Jemaah yang identik dengan pakaian serba hitam dan rambut pirang ini melaksanakan salat Idul Fitri di halaman Masjid baitul Muqaddis, perkampungan Jemaah An Nadzir, Romang Lompoa, Kecamatan Bonto Marannu, Gowa.

Jamaah An-Nadzir menentukan 1 Syawal 1440 Hijriah dengan cara memantau bulan. Pemantuan itu dilakukan oleh Tim Sembilan yang dibentuk secara khusus oleh seluruh pengikut jemaah An Nadzir.

Masyarakat Desa Lek-Lek, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, juga melaksanakan Shalat Id dan memulai perayaan Idul Fitri lebih dulu.

Warga yang mengikuti Tarekat Syattariyah, Habib Muda Peulukung dan anak habib yakni Abu Habib Qudrat Seunagan, Kabupaten Nagan Raya itu, juga melaksanakan ibadah puasa lebih awal daripada yang ditetapkan pemerintah yakni pada 4 April 2019.

Selain di Kecamatan Panton Reu, hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, sebagian besar masyarakat juga melaksanakan shalat Ied pada hari ini (Senin).

Sidang Isbat Idul Fitri 2019 Senin, Sejumlah Umat Islam Sudah Lebaran

Sumber:
https://www.inews.id/news/nasional/kemenag-gelar-sidang-isbat-penentuan-hari-raya-idul-fitri-siang-ini/561437
https://www.tagar.id/pengikut-thariqat-syattariyah-hari-ini-idul-fitri
http://modusaceh.co/news/hari-ini-warga-panton-rhe-sudah-lebaran-idul-fitri/index.html
https://langgam.id/jemaah-tarekat-naqsabandiyah-di-padang-sudah-rayakan-idul-fitri/
https://www.beritaterkini.co/2019/06/jemaah-nadzir-di-sulsel-sudah-selesai.html


Makna Mudik: Tidak Sekadar Pulang ke Udik

Makna Mudik: Tak Sekadar Pulang ke Udik
MUDIK menjadi tradisi tahunan kita setiap kali akhir Ramadhan menjelang lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

Secara bahasa, mudik artinya (1) (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman); (2) pulang ke kampung halaman (KBBI).

Mudik seolah menjadi sesuatu yang wajib. Tradisi mudik merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia.

Demi mudik, kita rela meluangkan waktu berjam-jam, berhari-hari, mungkin juga berminggu-minggu, untuk menempuh perjalanan jauh agar dapat menemui orangtua dan kerabat di kampung halaman atau tanah kelahiran.

Demi mudik, kita rela menempuh jerih-payah perjuangan dalam antrean panjang berjam-jam, bahkan berhari-hari, demi tiket Kereta Api atau bus. Pemudik rela pula –atau terpaksa— berdesakan dalam kendaraan, tersiksa dalam perjalanan, bersabar –atau berkeluh-kesah— dalam kemacetan arus lalu lintas, bahkan terkesan kurang mempedulikan keselamatan.

Seolah-olah semuanya tidak berarti dibandingkan dengan kegembiraan merayakan “hari kemenangan” setelah berpuasa Ramadhan, keriangan akan berjumpa dengan sanak keluarga dan teman masa kecil, menikmati kembali suasana damai masa kecil dan suasana “alami” kampung halaman.

Mudik Tak Ada dalam Islam

Dalam ajaran Islam, tidak ada perintah (wajib) atau sekadar anjuran (sunah) untuk mudik, dalam pengertian pulang ke kampung halaman saat lebaran.

Jadi, mudik tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam, karena tidak ada satu perintahpun baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah, setelah menjalankan ibadah Ramadhan harus melakukan acara silaturahmi untuk kangen-kangenan dan maaf-maafan, karena silaturahmi bisa dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan dan kondisi.

Namun demikian, mudik sangat baik dalam konteks silaturahmi sebagaimana ajaran Islam.

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim”. (QS. An Nisa’:1).

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kerabat.”. (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud).

Makna Mudik

Secara bahasa, “mudik” artinya “menuju udik”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), “udik” antara lain berarti desa, dusun, kampung (lawan kota). Karena itu, mudik disebut pula “pulang kampung”.

Jika ditelaah lebih dalam, ada makna yang sangat mendalam dari tradisi mudik ini, yakni semangat “kembali ke asal” (fitrah). Secara psikologis, “udik” (kampung halaman) adalah tempat, ruang dan waktu yang masih murni, bersih, religius, dan belum dikotori oleh polusi peradaban materialis kota.

Ketika kita mudik, kita akan merasakan kedamaian suasana udik, kampung halaman asal kita, jauh dari “kejamnya” kehidupan di kota. Kota adalah tempat kerja, mencari uang, mengejar cita-cita duniawi, berupa kekayaan ataupun popularitas dan jabatan. Ketika semua diperoleh, “udik” memanggilnya untuk memberikan kedamaian dan ketenangan.

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dalam bukunya Sedang Tuhan pun Cemburu (1994) menulis, orang beramai-ramai mudik itu sebenarnya sedang setia kepada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya.

Tujuan utama mudik adalah silaturahmi atau silaturahim.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahmi”. (HR Muslim dan Abu Daud).

Mudik Abadi

Mudik sebenarnya mencerminkan kerinduan kita, manusia, yang luar biasa pada asal- muasalnya. Karena asal-muasal kita yang hakiki adalah Allah Swt, maka mudik ini sebenarnya merupakan sebuah bentuk kecil dari kerinduan kita yang luar biasa kepada Allah Swt.

Pada gilirannya nanti, kita pun akan melakukan “mudik” yang abadi, meninggalkan dunia ini, kembali ke hadirat Ilahi.

Dengan mudik, kita sudah merasakan keindahan kembali ke tempat asal (kampung halaman). Demikian pula “mudik” kepada fitrah, yakni iman-Islam, jiwa tauhid, atau syariat Islam sebagai pedoman hidup.

Islam adalah “kampung halaman” kita, tempat kita menikmati dan menjalani hidup sesuai dengan aturan Allah Swt.

Semoga perjuangan berat menuju mudik, kita lakukan pula dengan ikhlas untuk “mudik abadi” menuju alam akhirat, asal-musal kita, yakni Allah Swt.

Jika untuk mudik ke kampung halaman kita rela berkorban apa saja, maka demikian pula hendaknya ketika kita “mudik” ke hadirat Allah Swt kelak. Kita harus rela berkorban jiwa dan harta, tenaga dan pikiran, demi tegaknya syariat Islam, agar saat kita “mudik” ke tempat asal kita, yang memiliki kita, yakni Allah Swt, kita diterima di sisi-Nya. Wallahu a’lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Hikmah Perang Badar

Perang Badar atau Pertempuran Badar (غزوة بدر, Ghazwah Badr‎) adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan kaum kafir Quraisy. Badar adalah nama tempat di sebuah lembah yang terletak di antara madinah dan mekah.

Hikmah Perang Badar

Perang Badar terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624). Pasukan kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisydari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang.

Perang Badar bukan inisiatif kaum Muslim, tapi merupakan upaya mempertahankan diri. Umat Islam dizinkan berperang hanya jika diperangi.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

"Telah diizinkan berperang bagi orang-orang Mukmin yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu." (QS. Al Hajj: 39).

Setelah bertempur sekitar dua jam, pasukan Muslim berhasil menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy berkat semangat juang, disiplin tinggi, dan pertolongan Allah SWT.

Perang Badar diabadikan dalam Al-Quran Surah Ali 'Imran ayat 123-125 dan ayat 13.

"Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. (QS Ali 'Imran: 123-125).

"Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati." (QS. Ali 'Imran:13).

Doa Perang Badar

Sedikitnya jumlah tentara Muslim dan banyaknya tentara kafir membuat Nabi Muhammad Saw cemas. Beliau pun berdoa kepada Allah SWT.

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

"Ya Allah Azza wa Jalla , penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla , jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini" (HR. Muslim 3/1384 hadits No 1763).

Allah SWT mengabulkan doa Rasul-Nya. Kaum Musim yang sedikit menang atas kaum kafir yang banyak dalam perang Badar.

Allah SWT berfirman,

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 249).

Hikmah Perang Badar

Menurut pakar Al-Quran, KH Ahsin Sakho Muhammad, seperti dikutip Republika, Perang Badar merupakan refleksi dari geliat kaum Muslimin yang sebelumnya ditindas kaum Musyrikin.

Perang Badar terjadi akibat "salah paham" pihak kafir Quraisy. Disebutkan dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, setelah kaum Muslimin hijrah ke Yastrib (Madinah), banyak harta dan rumah mereka yang lantas dirampas kaum musyrik Quraisy. Sebenarnya, umat Islam kala itu tidak berniat perang.

Kaum Muslim saat itu berbondong-bondong keluar dari Madinah ke Badar untuk menghadang kafilah Quraisy yang membawa barang-barang hasil rampasan dari kaum Muhajirin. Sejatinya harta itu masih harta mereka, bukan milik kaum musyrikin itu. Kafilah Quraisy tadi hendak berdagang ke Syam (Suriah).

Namun, kaum Quraisy ternyata mendengar kabar rombongan Muslimin itu, sehingga menyangka akan terjadi perang. Para pemuka musyrikin di Makkah lantas menyiapkan balatentara untuk menyerang kaum Muslim di Madinah.

Nabi Muhammad Saw pun mengadakan musyawarah dan membentuk pasukan untuk menghadapi pasukan kaum musyrikin.

Allah SWT menolong kaum Muslimin dalam Perang Badar melalui beberapa hal:
  1. Turunnya hujan, sehingga memudahkan kaum Muslimin. 
  2. Kaum Muslim diberi waktu yang cukup untuk tidur, sehingga cukup energi dan kembali bugar saat bangun. 
  3. Adanya strategi yakni beberapa sumur diurug terlebih dahulu, supaya kaum musyrikin tidak mendapat jatah air.
Saat perang Badar, kaum muslimim membawa senjata seadanya. Secara kasat mata, mereka sangat mungkin kalah. Namun berkat pertolongan Allah, kaum Muslim akhirnya menang.

Baca Juga: Kunci Kemenangan Umat Islam

Pada waktu berkecamuk perang, Allah SWT menurunkan malaikat sebagai bala bantuan kepada umat Islam.

Hikmah Perang Badar antara lain:
  1. Perjuangan harus disertai doa, seperti yang dilakukan Rasulullah Saw.
  2. Kemenangan dicapai dengan disiplin dan semangat juang tinggi serta pertolongan Allah SWT.
  3. Kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar atas izin Allah. 
Karena itu, kaum Muslimin jangan berputus asa dalam berjuang. Demikian pula, jangan terlena oleh banyaknya kuantitas. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Model Kepemimpinan Rasulullah Saw, Teladan bagi Pemimpin Muslim

Model Kepemimpinan Rasulullah Saw, Teladan bagi Pemimpin Muslim
Rasulullah Muhammad Saw merupakan teladan yang baik bagi umat Islam, termasuk teladan bagi para pemimpin kaum muslim.

Sebagai seorang pemimpin umat Islam, Rasulullah Saw memiliki pola atau model kepemimpinan yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat yang multi-etnis, multi-ras dan multi-agama.

Dalam teori, model kepemimpinan dibagi menjadi lima gaya kepemimpinan, yaitu otokratis (berkuasa sendiri), militeristis, paternalistis (kebapakan), kharismatik, dan demokratis.

Pemimpin yang paling berhasil dan mampu mengkombinasikan kelima model kepemimpinan di atas adalah Rasulullah Muhammad Saw.

Professor di Universitas Chicago Amerika, Jules Masserman, pernah melakukan penelitian dengan meletakkan tiga syarat untuk menentukan pemimpin terbaik dunia yaitu:
  1. Hendaknya pada diri pemimpin ada proses pembentukan kepemimpinan yang baik; 
  2. Hendaknya pemimpin tersebut menaungi kesatuan masyarakat yang terdiri dari keyakinan yang berbeda-beda;
  3. Hendaknya pemimpin tersebut mampu mewujudkan sebuah sistem masyarakat yang manusia dapat hidup di dalamnya dengan aman dan tenteram.
Masserman berkesimpulan: “Barangkali pemimpin teragung sepanjang sejarah adalah Muhammad yang telah memenuhi tiga syarat tersebut.” (Majalah Time, Who Were History’s Great Leaders, edisi 15 Juli 1974).

Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah Saw

Dalam Sejarah dan Kebudayaan Islam, sebagaimana ditulis Hasan Ibrahim (2001), diuraikan kesuksesan kepemimpinan Rasulullah Saw antara lain sebagai berikut:
  1. Menggunakan sistem musyawarah.
  2. Menghargai orang lain, baik lawan maupun kawan.
  3. Ramah, kelembutan perangai menjadi lekat dengan pribadi beliau, akan tetapi beliau juga dapat bersifat keras dan tegas beliau ketika dibutuhkan.
  4. Lebih mementingkan umat daripada diri beliau sendiri.
  5. Cepat menguasai situasi dan kondisi, serta tegar menghadapi musuh.
  6. Sebagai koordinator dan pemersatu ummat.
  7. Prestasi dan jangkauan beliau di segala bidang.
  8. Keberhasilan beliau sebagai perekat dasar-dasar perdamaian dan penyatu kehidupan yang berkesinambungan.
  9. Beliau merupakan pembawa rahmat bagi seluruh alam.
  10. Beliau menerapkan aturan dengan konsisten. Tidak memandang bulu dan tidak pilih kasih.

Model sekaligus karakteristik kepemimpinan Rasulullah juga digambaran dala, Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 

“Maka sebab rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah-lembut kepada mereka. Seandainya engkau bersikap kasar (dalam ucapan dan perbuatan), mereka pasti pergi meninggalkanmu (tidak mau berdekatan denganmu). Maafkanlah mereka. Mohonkan ampun lah untuk mereka. Ajaklah mereka bermusyawarah (mendengarkan aspirasi mereka) dalam segala perkara (yang akan dikerjakan). Jika engkau sudah berketetapan hati, tawakal-lah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang tawakal” (Surat Ali Imran ayat 159).

Berdasarkan ayat di atas, seorang pemimpin harus memiliki karakter sebagai berikut:

  1. Lemah-lembut.
  2. Tidak kasar (tidak bengis), baik dalam ucapan atau perbuatan.
  3. Memaafkan kesalahan orang lain. 
  4. Memohonkan ampunan untuk rakyatnya yang berbuat dosa.
  5. Mendengarkan aspirasi rakyat (demokratis).
  6. Memiliki komitmen yang kuat untuk melakasanakan tugas yang diembankan.
  7. Tawakal kepada Allah. 
Dalam ayat lain disebutkan:


لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS al-Taubah [9]: 128).

Ada tiga sifat (moral) kepemimpinan Nabi SAW berdasarkaan ayat di atas.

1. Azizin alaihi ma anittum (berat dirasakan oleh Nabi penderitan orang lain).

Dalam bahasa modern, sifat ini disebut sense of crisis, yaitu kepekaan atas kesulitan rakyat yang ditunjukkan dengan kemampuan berempati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung.

2. Harishun `alaikum (amat sangat berkeinginan agar orang lain aman dan sentosa).

Dalam bahasa modern, sifat ini dinamakan sense of achievement, yaitu semangat agar masyarakat dan bangsa meraih kemajuan. Tugas pemimpin, antara lain, memang menumbuhkan harapan dan membuat peta jalan politik menuju cita-cita dan harapan itu.

3. Raufun rahim (pengasih dan penyayang).

Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Nabi Muhammad SAW adalah juga pengasih dan penyayang. Orang-orang beriman wajib meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul itu dengan mencintai dan mengasihi umat manusia.

Model Kepemimpinan Rasulullah Saw ditunjang dengan sifat-sifat beliau yang terkenal, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

  1. Siddiq -- jujur, benar, dan berpihak pada kebenaran, kejujuran. 
  2. Amanah -- dapat dipercaya, tidak berkhianat, tidak inkar janji.
  3. Tabligh  -- menyampaikan kebenaran atau segala sesuatu yang telah diamanahkan.
  4. Fathonah -- cerdas, pintar, visioner.
Demikian kajian ringkas tentang Model Kepemimpinan Rasulullah Saw yang disarikan dari beberapa sumber. Wallahu a'lam bish-showabi. (www.risalahislam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *