Naskah Khotbah Jumat Singkat: Wasiat Rasulullah Detik-Detik Sebelum Wafat

Naskah Khotbah Jumat Singkat: Wasiat Rasulullah Detik-Detik Sebelum Wafat. Rasulullah Saw mengingatkan umatnya untuk menjaga shalat dan peduli kaum lemah (ash-asholaah wa maa malakat aimaanukum).

Wasiat Rasulullah Detik-Detik Sebelum Wafat


Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اَللَّهُمّصَلِّوَسَلِّمْعَلىمُحَمّدٍوَعَلىآلِهِوِأَصْحَابِهِوَمَنْتَبِعَهُمْبِإِحْسَانٍإِلَىيَوْمِالدّيْن

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


Amma Ba’du.
Ma’asyirol muslimin rahikumulloh.

Setiap bulan Rabiul Awal, kita biasa memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. Dalam peringatan maulid Nabi itu, kita diingatkan kembali tentang kepribadian Rasulullah, akhlaknya yang mulia, serta perjuangannya dalam mendakwahkan Islam.

Pada kesempatan khutbah kali ini, mari simak, pahami, dan amalkan pula wasiat Rosulullah sebelum beliau wafat, yang tampaknya jarang dibahas para penceramah maulid Nabi Saw.

Diriwayatkan dalam hadis shahih An-Nasai dan Ahmad, sebelum mengembuskan napas terakhirnya, dalam kondisi berbaring menjelang wafat, Rasulullah Saw bersabda:

الصَّلاة الصَّلاة َ وما ملكت َ أيمانكم

Ash-sholaah ash-sholaah wamaa malakat aimaanukum. Shalat, shalat, dan apa-apa yang ada di tangan kanan kalian.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ حُضِرَ جَعَلَ يَقُولُ « الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ »

"Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam ketika dalam keadaan sekarat bersabda: "Jagalah shalat, jagalah shalat, dan apa-apa yang ada di tangan kalian".

Ma’asyirol muslimin rahikumulloh.

Dalam hadis tadi, Rasulullah mewasiatkan dua hal penting bagi umatnya.

Pertama, agar kita tidak pernah meninggalkan kewajiban sholat. Rasul menyebut kata shalat hingga dua kali, menunjukkan betapa pentingnya shalat.

Shalat adalah kewajiban pokok umat Islam, bagian dari rukun Islam, dan ciri utama kaum Muslim.

Dalam berbagai hadits disebutkan, shalat adalah tiangnya agama Islam, amalan pertama yang dihisab di akhirat, penentu diterima-tidaknya amal kebaikan lainnya, serta pembeda utama antara kaum Muslim dan kaum kafir. Sholat pula yang menjadi pemisah antara keimanan dan kekufuran.

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kufur.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah)

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy).

Karenanya, jangan pernah meninggalkan shalat, dalam kondisi apa pun. Allah SWT juga sudah memberikan keringanan, rukhshoh, bagi kita yang tidak bisa melaksanaan shalat dalam kondisi normal, seperti boleh duduk, berbaring, jama', qoshor, bahkan qodho bagi yang lupa.

Ma’asyirol muslimin rahikumulloh.

Wasiat kedua, Rasul mewasiatkan agar kita peduli sesama, khususnya kaum lemah atau dhu'afa, dengan ungkapan "maa malakat aimaanuukum".
Ungkapan Rasul “maa malakat aimaanukum” secara harafiah artinya apa yang tangan kananmu menguasai, apa yang kamu punyai dengan hak sepenuhnya, apa yang telah kalian miliki, dan apa yang menjadi hak milik.

Yang menjadi hak milik itu bisa bermakna istri, pasangan, pelayan, anak buah, atau karyawan.

Kata “malakat” sendiri memiliki arti menguasai atau memiliki, termasuk memiki istri, anak, karyawan, pembantu rumah tangga, juga kekuasaan untuk memerintah atau otoritas.

Dalam syarah hadits di atas disebutkan, maa malakat aimaanuukum juga bermakna kita harus memenuhi hak-hak orang lain, hak istri, anak, asisten rumah tangga, tetangga, karyawan, juga hak kaum dhuafa yang ada dalam harta kita dengan zakat, infak, dan sedekah, bahkan juga kita harus memenuhi hak hewan.

Dengan demikian, dua wasiat Rasulullah Saw itu adalah panduan pokok hubungan dengan Allah (hablum minallah), minimal dengan menjaga shalat, dan panduan memelihara hubungan baik dengan sesama (hablum minannas), yaitu dengan memenuhi hak dan kewajiban dalam kehidupan keluarga, di lingkungan kerja, dan dan peduli sesama terutama kaum dhuafa.

Barokallaahu lii walakum.

Khutbah Kedua

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ

وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Catatan:
2. Khotbah kedua hendakanya tidak lagi membahas materi khotbah, tapi langsung doa penutup, sebab jamaah Jumat juga mengharapkan demikian.

Hukum Imam Shalat Berjamaah Bacaan Tidak Fasih, Tajwid Buruk

Hukum Imam Shalat Berjamaah Bacaan Tidak Fasih, Tajwid Buruk
Bagaimana hukum shalat berjamaah yang imamnya baca Al-Fatihah dan ayat Al-Quran lainnya tidak fasih, tajwidnya berantakan? Ia jadi imam hanya karena dituakan di sebuah masjid.

Ustadz Taufik Hamim Effendi di laman Eramuslim menjelaskan, para ulama menjelaskan bahwa tidak sah shalat di belakang imam atau bermakmun dengan imam yang tidak fasih dengan mengubah atau mengganti huruf ke huruf lainnya dari surat Al-Fatihah.

Tidak sah bermakmum kepada imam yang salah membaca harakat atau baris. Orang yang tidak fasih bacaan Al-Qurannya tidak boleh menjadi imam. Orang yang menjadi makmumnya juga shalatnya tidak sah. 

Namun, ketika yang menjadi makmun adalah orang yang kemampuan baca Al-fatihahnya sama dengan dia atau lebih buruk darinya, maka shalatnya sah.

Jika imam fasih bacaan Al-Fatihahnya, dan tidak fasih membaca selain Al-Fatihah, maka shalatnya sah. Demikian juga dengan orang yang bermakmum di belakangnya, karena setelah membaca Al-Fatihah, boleh atau sah shalat orang yang tidak membaca surat atau ayat Al-Quran.

Imam Nawawi menjelaskan: 

“Jika kesalahannya mengubah makna maka sah shalatnya dan orang yang shalat bermakmum di belakangnya, karena meninggalkan bacaan surat (selain Al-Fatihah) tidak membatalkan shalat dan tidak ada larangan bermakmum dengannya”.
Dengan demikian, yang paling berhak menjadi imam shalat berjamaah adalah orang yang paling fasih bacaan Al-Qurannya. Selain itu, sebaiknya ia juga memahami fiqih shalat secara baik. 

Rasulullah Saw menegaskan:

“يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله…”.

“Orang yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling fasih membaca kitabullah…”.

Masih di Eramuslim, Ustadz Sigit Pranowo juga menjelaskan, di antara persyaratan seorang bisa menjadi imam dalam shalat adalah memiliki kemampuan untuk membaca Al Qur’an dengan benar.

Tidaklah sah imamnya seorang yang ummi (tidak bisa baca Al Qur’an) terhadap orang yang bisa membacanya. Tidaklah sah imamnya seorang yang bisu terhadap orang yang bisa membaca Al Qur’an atau terhadap orang yang ummi karena membaca adalah salah satu rukun didalam shalat. 

Tidaklah sah makmumnya seorang yang pandai membaca Al Qur’an dibelakang orang yang tidak pandai membacanya karena imam adalah penjamin dan yang bertanggungjawab terhadap bacaan makmumnya dan ini tidaklah mungkin terdapat didalam diri orang yang ummi.

Jika imamnya seorang yang ummi, untuk orang yang ummi juga, atau bisu, maka diperbolehkan. Ini merupakan kesepakatan para fuqaha (ahli fiqih). 

Jumhur ulama (para ulama Hanafi, Maliki dan Hambali) menagatakan, janganlah seorang makmum lebih kuat (mampu) keadaannya dalam membaca Al Qur’an daripada imamnya. 

Tidak diperbolehkan seorang pandai membaca Al Qur’an bermakmum dengan seorang yang ummi tidak dalam shalat wajib maupun sunnah. 

Tidak diperbolehkan seorang yang sudah baligh bermakmum dengan anak kecil, tidak diperbolehkan seorang yang mampu melakukan ruku’ dan sujud bermakmum dengan orang yang tidak mampu melakukan keduanya.

Dengan demikian tidak seharusnya seorang imam memiliki kualitas bacaan yang buruk atau tidak benar didalam pengucapan huruf-huruf al Qur’an, baik ketika membaca Al Fatihah maupun surat-surat lainnya, sementara dibelakangnya terdapat orang yang pandai membaca Al Qur’an.

Di laman NU Online juga disebutkan, sholat berjama'ah meniscayakan adanya imam dan makmum serta ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan oleh imam dan makmum.

Di antara ketentuan tersebut adalah tidak sah shalatnya makmum yang baik bacaan fatihahnya (qari') mengikuti (bermakmum) dengan orang yang bacaan fatihahnya cacat. 

Dengan demikian, ketika si makmum mengetahui bahwa bacaan fatihah imam cacat, maka ia harus mufaraqah (niat keluar dari jama'ah dan tidak mengikuti shalat imam lagi). 

Hal ini banyak dibicarakan dalam kitab-kitab fiqih madzhab Syafi'i seperti Fathul Qarib, Fathul Mu'in, Asnal Mathalib dan lain-lain. Dalam Asnal-Mathalib disebutkan:

وَلَا) قُدْوَةَ (بِمَنْ يَعْجِزُ) بِكَسْرِ الْجِيمِ أَفْصَحُ مِنْ فَتْحِهَا (عَنْ الْفَاتِحَةِ، أَوْ عَنْ إخْرَاجِ حَرْفٍ) مِنْهَا (مِنْ مَخْرَجِهِ، أَوْ عَنْ تَشْدِيدٍ) مِنْهَا (لِرَخَاوَةِ لِسَانِهِ) وَلَوْ فِي السِّرِّيَّةِ؛ لِأَنَّ الْإِمَامَ بِصَدَدِ تَحَمُّلِ الْقِرَاءَةِ، وَهَذَا لَا يَصْلُحُ لِلتَّحَمُّلِ

"Dan tidak (sah) bermakmum dengan orang yang tidak dapat membaca surat Al-Fatihah sesuai dengan mahraj atau tasydidnya karena mengendornya lidahnya, meskipun dalam shalat yang imam tidak dianjurkan mengeraskan suara karena sesungguhnya imam menjadi penanggung jawab fatihah makmum, sementara orang ini (yang tidak mampu membaca fatihah dengan baik) tidak layak untuk itu."

Demikian Hukum Imam Shalat Berjamaah Bacaan Tidak Fasih, Tajwid Buruk. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Hukum Baca Alfatihah dan Bersalaman Usai Shalat Fardu Berjamaah

Hukum Baca Alfatihah dan Bersalaman Usai Shalat Fardu Berjamaah
Hukum Baca Alfatihah dan Bersalaman Usai Shalat Fardu Berjamaah

Ada kebiasaan di kalangan umat Islam soal bacaan dan amalan setelah shalat berjamaah. Ada imam yang memberi komando baca "Alfatihah" kepada jamaah, ada juga jamaah yang "sibuk" bersalaman ke kiri dan kanan, bahkan depan belakang.

Bagaimana Bacaan & Amalan Setelah Shalat sesuai sunah Rasulullah Saw?

Membaca Al-Fatihah dan bersalaman usai shalat berjamaah tidak ada contoh dan dalilnya dari Rasulullah Saw dan para sahabat.

Baca Al-Fatihah

Membaca Al-Fatihah usai shalat berjamaah tidak ada contoh dan dalilnya. Demikian dilansir Islam Way dan diterjemahkan muslim.or.id.

Bahkan, dalam hadis palsu dan hadis dhoif pun tidak ditemukan dalil yang menyebutkan harus atau sunah memnaca al-fatihan usai shalat fardu. Yang menemukan contoh dan dalilnya, silakan share di kolom komentar.

Berkata Syeikh Shalih bin Fauzan:

أمَّا قراءتها أدبار الصَّلوات؛ فلا أعلم له دليلاً من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإنما الذي ورد هو قراءة آية الكرسي ، و { قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ } ، و { قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ } ، و { قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ }؛ وردت الأحاديث بقراءة هذه السُّور بعد الصَّلوات الخمس، وأمَّا الفاتحة؛ فلا أعلم دليلاً على مشروعيَّة قراءتها بعد الصَّلاة .

“Adapun membacanya (yaitu Al-Fatihah) setelah shalat fardhu maka saya tidak mengetahui dalilnya dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang ada dalilnya adalah ayat kursy, qul huwallahu ahad, dan qul a’udzu birabbil falaq, dan qul a’udzu birabbinnas. Telah datang hadist-hadist yang menunjukkan disyari’atkannya membaca surat-surat ini setelah shalat lima waktu, adapun Al-Fatihah maka saya tidak mengetahui dalil yang menunjukkan disyariatkannya untuk dibaca setelah shalat.” (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan no: 133).

Bahkan, Lajnah Daimah menyebutnya "bid'ah". Berkata Al-Lajnah Ad-Daimah:

لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يقرأ الفاتحة بعد الدعاء فيما نعلم، فقراءتها بعد الدعاء بدعة.

“Tidak datang dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau membaca Al-Fatihah setelah berdoa sebatas pengetahuan kami, oleh karena itu membacanya setelah berdoa adalah bid’ah.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 2/528).

Bersalaman Usai Shalat Fardu Berjamaah

Rasul dan para sahabat juga tidak mencontohkan bersalaman usai shalat fardu. Tidak ada seorang pun dari sahabat atau salafus shaleh yang berjabat tangan (bersalam-salaman) kepada orang yang disebelah kanan atau kiri, depan atau belakangnya apabila mereka selesai melaksanakan shalat. 

Jika seandainya perbuatan itu baik, maka akan sampai (kabar) kepada kita, dan ulama akan menukil serta menyampaikannya kepada kita (riwayat yang shahih). Para ulama mengatakan: “Perbuatan tersebut adalah bid’ah.”

Berjabat tangan dianjurkan, akan tetapi menetapkannya setiap selesai shalat fardhu tidak ada contohnya, atau setelah shalat shubuh dan ‘Ashar, maka perbuatan ini adalah bid’ah.

Kalangan umat Islam yang bersalaman usai shalat fardu berjamaah mendasarkan amalannya pada pendapat Imam An Nawawi dalam kitabnya Fatawa Al Imam An Nawawi:

"Jabat tangan disunahkan ketika bertemu. Adapun kebiasaan masyarakat yang mengkhususkan salaman setelah dua sholat (subuh dan ashar) tergolong bidah yang diperbolehkan. Dikatakan bid'ah mubah jika orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum sholat. Namun jika belum bertemu, maka berjabat tangan disunahkan karena termasuk bagian dari silaturahmi."

Bersalaman Dianjurkan

Bersalaman adalah hal sunah, namun tidak setelah shalat fardu berjamaah. Sunnah ini dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya ketika mereka bertemu dan berpisah. 

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا.

“Tidaklah dua orang muslim bertemu, lalu keduanya berjabatan tangan, kecuali akan diampuni keduanya sebelum berpisah”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (5212), At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2727), Ahmad dalam Al-Musnad (4/289), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (3/32/no.2718)]

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرُ.

“Sesungguhnya seorang mukmin jika bertemu dengan seorang mukmin, dan mengambil tangannya, lalu ia menjabatinya, maka akan berguguran dosa-dosanya sebagaimana daun pohon berguguran”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (245). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (no.2720)]

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا تَلاَقَوْا تَصَافَحُوْا وَإِذَا قَدِمُوْا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوْا.

“Dulu para sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, apabila mereka bertemu, maka mereka berjabatan tangan. Jika mereka datang dari safar, maka mereka berpelukan”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath. Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (2719)]

Demikian Bacaan & Amalan Setelah Shalat:  Hukum Baca Alfatihah dan Bersalaman Usai Shalat Fardu berjamaah. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Pengertian Tauhid dan Keutamaannya sebagai Inti Ajaran Islam

Pengertian Tauhid dan Keutamaannya sebagai Inti Ajaran Islam
TAUHID atau keesaan Tuhan adalan inti ajaran Islam. Kalimat tauhid berbunyi "Laa Ilaaha Illallah" (لآإِلَهَ إِلاَّ الله) yang artinya Tiada Tuhan Selain Allah.

Makna Tauhid itu adalah Laa ma’buuda bi haqqin illallah ( لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ) yang artinya "tidak ada sesembahan yang benar dan berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja". 

Kalimat tauhid menafikan segala sesembahan selain Allah SWT dan hanya menetapkan Allah saja sebagai sesembahan yang benar.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj: 62).

Dalam kalimat tauhid ini terdapat dua rukun, yaitu nafi (peniadaan) dan itsbat(penetapan).

Rukun pertama terdapat pada kalimat لآإِلَهَ. Maksudnya adalah membatalkan seluruh sesembahan selain Allah dalam segala jenisnya dan wajib kufur terhadapnya.

Rukun kedua terdapat pada kalimat إِلاَّ اللهُ . Maksudnya menetapkan bahwa hanya Allah saja satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam peribadatan.

Para nabi dan Rasul, sejak Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Saw, membawa risalah Islam yang berintikan ajaran Tauhid --bahwa Tuhan itu Esa, satu, tidak Tuhan selain-Nya.

Karenanya, kalimat tauhid menjadi inti ajaran Islam atau agama Allah SWT.

Pengertian Tauhid

Tauhid dari akar kata ahad atau wahid— artinya artinya satu.

Dalam risalah Islam, tauhid adalah asas keyakinan (akidah), bahwa Tuhan itu hanya satu, yakni Allah Swt dan tidak ada yang setara, juga sekutu, dengan-Nya. 

Hanya Dia yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Hanya Dia yang ditaati dan ditakuti. Hanya Dia yang menentukan segala sesuatu di dunia dan akhirat nanti.

Kalimat Tauhid dirangkum dalam kalimat tahlil: “La ilaha illallah” (tidak ada Tuhan selan Allah).

Tiga Aspek Tauhid

Tauhid terdiri dari tiga aspek:
  1. Tauhid dalam kekuasaan Tuhan (tauhid rububiyah)
  2. Aspek ibadah (tauhid uluhiyah)
  3. Tauhid dalam nama dan sifat Allah (Asma wa Sifat).
Tauhid Rububiyah adalah mempercayai dan mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta. "Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu" (QS. Az-Zumar:62).

Tauhid Uluhiyah adalah hanya kepada Allah setiap ibadah ditujukan, tidak ada persembahan atau pengabdian pada selain-Nya, dan hanya Allah yang layak disembah.

Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid, ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah Ta'ala dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Inilah hakekat agama Islam karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya.

Tauhid Asma wa Sifat artinya bahwa sesuai nama dan sifat (karakteristik) Allah yang disebutkan baik oleh Al-Qur'an dan Al-Hadits adalah hanya berhak disandang oleh Allah itu sendiri.

Umat Islam diperintahkan hanya beribadah kepada Allah dan menjauhi Thogut. "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut." (QS. An-Nahl:36). Thaghut yaitu setiap yang diagungkan --selain Allah— dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun syetan.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah berkata, Thaghut adalah segala sesuatu yang diperlakukan oleh seseorang secara melampaui batas, baik dalam hal penyembahan, ketaatan atau ikutan.

Karena itu, thaghut adalah segala sesuatu yang diminta untuk memutuskan perkara selain dari Allah dan Rasul-Nya, selain Allah yang disembah, yang diikuti padahal tidak selaras dengan syariat Allah, atau ditaati dalam hal-hal yang tidak diketahui sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ini semua adalah thaghut dunia ini.

Syaikh Sulaiman bin Sahman an-Najdi berkata, “Thaghut itu ada tiga macam, thaghut dalam hukum, thaghut dalam peribadatan, dan thaghut dalam ikutan “. Mengikuti hukum selain hukum Allah, mengabdi kepada selain-Nya, dan mengikuti selain perintah-Nya, berarti mengikuti Thogut dan menyalahi tauhid.

Keutamaan Kalimat Tauhid

Pengertian Tauhid
Pengamalan Tauhid dilakukan dengan cara melakukan segala perbuatan hanya bertujuan mengharap ridha Allah SWT dan segala amal mengacu pada risalah Islam sebagai ketentuan-Nya.

Kalimat tauhid (Laa ilaaha illallah) merupakan harga surga. Nabi Saw bersabda:

“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaaha illallah,’ maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Dawud no. 1621).

Kalimat ‘Laa ilaaha ilallah’ adalah kebaikan. Abu Dzar berkata,”Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” 

Nabi Saw bersabda, “Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” 

Lalu Abu Dzar berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah ‘laa ilaaha illallah’ merupakan kebaikan?” 

Nabi Saw bersabda,”Kalimat itu (laa ilaaha illallah) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.”

Kalimat tauhid juga merupakan dzikir yang paling utama. Dari Jabir r.a., dari Nabi Saw, beliau bersabda: 

“Dzikir yang paling utama adalah laa ilaaha illallah, dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah,” (HR. Ibnu Majah)

“Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat laa ilaaha illallah” (HR. Hakim).

Demikian Pengertian Tauhid dan Keutamaannya sebagai Inti Ajaran Islam. Wallahu a’lam. (www.risalahislam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *