Kunci Kemenangan Umat Islam

UMAT Islam memenangi hampir semua peperangan dengan kaum kafir di zaman Rasulullah Saw hingga era Khilafah Islamiyah, mulai Perang Badar hingga Perang Salib.

Karenanya, Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Apa kunci kemenangan umat Islam?

Kunci Kemenangan Umat Islam

Kunci kemenangan umat Islam adalah kesalehan atau ketakwaan. Karena kesalehan itu, dengan ketaatan beribadah itu, Allah SWT pun memberikan pertolongan dan memenangkan pasukan kaum Muslim.

Dikisahkan, dalam Perang Mu'tah, tentara kekaisaran Romawi Timur kalah dari pasukan kaum Muslimin. Padahal, jumlah pasukan Romawi lebih banyak dari jumlah tentara Islam. Saat itu pasukan Romawi berkekuatan 100 ribu tentara, berbanding 3.000 tentara kaum Muslim.

Kaisar Romawi, Heraklius, bertanya: "Katakan kepadaku siapa mereka (yang telah mengalahkan Romawi)? Bukankah mereka orang-orang seperti kalian?"

Di antara para pembesar Romawi itu ada yang menjawab, “Ya, benar. Mereka manusia seperti kita.”

Heraklius bertanya lagi, “Jumlah kalian yang lebih banyak atau mereka?”

"Jumlah kami lebih banyak dan berlipat ganda dari jumlah mereka,” ucap salah satu komandan pasukan Romawi.

Heraklius bertanya lagi, “Mengapa kalian bisa kalah?”

Suasana hening. Semua orang mencari jawabannya. Akhirnya, salah seorang yang paling senior di antara mereka, mengangkat tangan dan memberikan penjelasan perihal mengapa Romawi bisa kalah sekaligus mengungkapkan kunci kemenangan pasukan kaum Musim.

“Karena mereka (pasukan Muslim) bangun malam hari untuk beribadah kepada Tuhannya dan pada siang hari mereka berpuasa. Mereka menepati janji yang mereka sepakati, memerintahkan untuk berbuat baik, mencegah dari perbuatan keji dan saling memberi nasihat di antara mereka sendiri. Karena itu wajar Allah menolong dan memenangkan mereka."
"Sedangkan kita dan pasukan kita, wahai Raja kami, kita meminum minuman keras. Kita mengingkari janji yang telah kita buat. Kita berbuat zalim dan melakukan kejahatan. Semua ini telah menjauhkan datangnya pertolongan Allah. Bagaimana Dia akan menolong kita, jika kita tidak menolong-Nya?”

Kisah di atas ditulis Dr. Abdurrahman ‘Umairah dalam buku Fursan Min Madrasatin Nubuwwah.

Kunci Kemenangan Umat Islam

Jawaban atas pertanyaan kenapa pasukan Romawi kalah itu selaras dengan firman Allah SWT:

"Jika Allah menolongmu, maka tidak ada (satu kekuatan pun) yang dapat mengalahkanmu” (QS. 3:160).

Kemenangan adalah milik mereka yang membela agama-Nya. 

”Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (sebagai pemenang)” (QS. 47:7).

Itu pula yang mendasari pesan Khalifah Abu Bakar kepada pasukan umat Islam: 

“Kamu orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kamu pasti dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh, jika kamu terlibat di dalam dosa-dosa!”

Dengan demikian, kunci kemenangan umat Islam adalah kesalehan atau ketakwaan. Dengan kata lain, saleh dan takwa adalah modal kemenangan utama karena mengundang pertolongan Allah SWT.

Jadi, umat Islam kuat bukan semata-mata karena senjata, jumlah, ataupun teknologi. Umat Islam kuat, sekali lagi, karena kesalehannya dan ketakwaannya. 

Jika umat Islam kini lebih sering kalah ketimbang menang atau tertunda-tunda kemenangannya, jangan-jangan karena kita bersemangat sekali dalam urusan muamalah, sosial, politik, namun mengabaikan kesalehan ritual-individual, lalai dalam ibadah ritual (mahdhah) atau sebaliknya, rajin ibadah (ritual) tapi mengabaikan hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minallah).

Jangan-jangan, kita merasa paling Islami, paling benar, ketika ”turun ke jalan”, berdebat, atau bermu’amalah sosial-politik. Namun kita mengesampingkan tegaknya ukhuwah Islamiyah yang juga merupakan kewajiban syar’i.

Bahkan, jangan-jangan, perjuangan kita tidak ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah, tapi ada niat lain –pragmatis, hedonis, oportunis, ’ala kulli hal… materialis! Na’udzubillah…!

Semoga kesalehan individual dan sosial dapat kita bina dan tegakkan mulai sekarang, di atas fondasi akidah dan ukhuwah yang kuat, sehingga kunci kemenangan itu kita genggam. Mari, bangkit! Allahu Akbar! Wallahu a’lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

4 Peristiwa Bersejarah di Bulan Rajab: Isra Mi'raj, Tabuk, Yerusalem, Khilafah Islam

Rajab (رجب‎) adalah bulan ke-7 tahun Hijriah. Banyak Peristiwa bersejarah bagi umat Islam di bulan Rajab.
Peristiwa Bersejarah di Bulan Rajab

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan mulia (syahrul haram). Rajab menyimpan peristiwa sejarah yang penting bagi umat Islam.

Secara khusus, terdapat lima peristiwa penting dalam sejarah Islam.

1. Isra Mi'raj

Tanggal 27 Rajab, Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam hari dari Masjid Hara (Makkah) ke Masjid Al-Aqsha (Palestina), dan naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.

Peristiwa ini dikenal dengan Isra' Mi'raj. Umat Islam biasa memperingatinya dengan pengajian atau tablig akbar, salah satunya membahas shalat. (Baca: Tiga Golongan Musholli).

Dengan demikian, Rajab  merupakan bulan Allah SWT mewajibkan sholat lima waktu bagi umat Islam.

2. Perang Tabuk

Perang Tabuk adalah peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah SAW tahun 9 Hijriyah. Perang terjadi akibat rencana Raja Romawi yang akan menyerang Madinah dengan pasukan yang besar melalui Syam.

Menjelang pertempuran inilah Abu Bakar ra mengorbankan seluruh hartanya, sehingga ketika ia ditanya oleh Nabi SAW, “Apa yang kamu tinggalkan di rumahmu? Ia menjawab, “Kutinggalkan Allah dan Rasul-Nya bersama mereka.”

Kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran Tabuk menandai selesainya otoritas Islam atas seluruh Semenanjung Arab.

Sebanyak 30.000 pasukan Muslim menggentarkan tentara Romawi yang telah berada di Tabuk. Ketika mendengar jumlah tentara Muslim yang dipimpin langsung Rasulullah Saw, tentara Romawi bergegas kembali ke Syam.

Hal ini menyebabkan penaklukan Tabuk menjadi sangat mudah dan dilakukan tanpa perlawanan. Rasulullah SAW menetap di tempat ini selama sebulan.

Beliau mengirimkan surat kepada para pemimpin dan gubernur di bawah kendali Romawi untuk membuat perdamaian. Pemimpin daerah Romawi menyetujuinya dan membayar Jizyah.

3. Pembebasan Yerusalem

Pembebasan Yerussalem (Baitul Maqdis) dari tentara Salib Eropa yang telah memerintah selama hampir satu abad. Peristiwa penting dalam Perang Salib ini terjadi pada bulan Rajab tahun 1187 M yang dipimpin oleh Salahuddin al Ayyubi

Penaklukan ini bukan hanya karena pentingnya asasi Yerusalem dalam Islam, tetapi juga karena peran tentara salib dalam upaya untuk menaklukkan negeri-negeri Muslim.

Penaklukkan Yerusalem terjadi tanggal 20 September sampai 2 Oktober 1187.

Salahuddin al Ayyubi mencapai Yerusalem dengan banyak pasukan, mendirikan kemah, dan memulai pengepungan. 

Pada tanggal 21 September pasukan Salahuddin al Ayyubi mendapat perlawanan sengit. Pada malam 25 sampai 26 September, ia pindah kemahnya di Bukit Zaitun di sisi timur laut kota. Akhirnya pada tanggal 29 September pasukan Islam telah telah berhasil merobohkan dinding benteng.

Pertempuran berakhir dengan menyerahnya Yerusalem pada 2 Oktober 1187, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab yaitu tanggal peringatan Isra' dan Mi'raj.

4. Berakhirnya Era Khilafah Islam

Pada 1924 M, bulan Rajab kembali menuliskan sejarah bagi umat Islam. Pada 28 Rajab, Khalifah Utsmaniyah (Ottoman Turki) dibubarkan oleh Mustafa Kemal Pasha.

Khalifah Utsmaniyah Turki merupakan khalifah terkahir umat Islam. Sejak saat itu, Mustafa Kemal mengubah Turki menjadi negara sekuler.

Mustafa Kemal yang menjadi Presiden Turki menghapus semua syariah Islam dan mengganti hukum-hukum Islam dengan paham hukum Barat atau menetapkan paham sekuler pada negara tersebut.

Sumber: Sirrah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Ensikopedia Islam; Republika.

Pengertian Kafir secara Bahasa, Istilah, dan Menurut Islam

Pada kajian sebelumnya, kita sudah bahas tiga golongan manusia (muslim, kafir, munafik). Kali ini kita bahas pengertian kafir secara bahasa, istilah, dan menurut Islam.

Pengertian Kafir

Orang yang memilih agama selain Islam, ditolak oleh Allah SWT.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" (QS. 3:85).

Pengertian Kafir secara Bahasa

Dalam bahasa Indonesia, kafir adaah orang yang tidak percaya kepada Allah Swt. dan rasul-Nya (KBBI).

Dalam bahasa Arab, kāfir (كافر) artinya adalah menutup kebenaran, menolak kebenaran, atau mengetahui kesalahan tapi tetap menjalankannya.

Kata kafir merupakan ism fa'il (kata pelaku) dari kata kafara-yakfuru-kufr

Dalam al-Qur’an, kata "kafir" (plural: kafirin, kafirun) ini disebutkan sebanyak 525 kali dengan makna a.l. menutupi, melepaskan diri, menghapus, dan denda karena melanggar salah satu ketentuan Allah swt. 

Dari beberapa arti di atas, menurut al-Asfahani dan Ibn Manzur, yang dekat kepada arti secara istilah adalah menutupi dan menyembunyikan. 

Ensiklopedia al-Qur’an menyebutkan, "kafir" adalah lawan daripada "iman". Kafir yaitu pengingkaran terhadap Allah Swt., pengingkaran kepada para Nabi dan Rasul, serta semua ajaran yang mereka bawa, dan pengingkaran kepada hari akhir.

Macam-macam orang kafir

Menurut Eksiklopedia al-Qur’an, jenis-jenis orang kafir ada lima.

1. Kufur Juhud

Kufur Juhud adalah orang yang ada pengakuan terhadap Tuhan di dalam hati, tetapi tidak diringi dengan ucapan. 

Kekafiran seperti ini, telah ada sebelum kerasulan Muhammad Saw seperti yang terdapat di dalam kisah Fir’aun.

"Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: "Ini adalah sihir yang nyata". Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan." (QS An-Naml:13-14)

Kekafiran semacam itu, juga ada pada kafir Mekkah dan Yahudi di Madinah, misalnya menceritakan kaum Yahudi yang mengingkari kerasulan Muhammad karena bukan dari keturunan mereka.

2. Kafir Ingkar

Kufur ingkar yakni kafir terhadap Allah Swt., para Nabi dan Rasul, serta semua ajaran-Nya, dan hari akhir. 

Kafir seperti ini sama dengan zalim dan fasik. Sebab siksaan untuk mereka terkait dengan prilaku zalim dan fasik yang mereka lakukan sebagaimana dalam QS al-Ahqaf/46: 20.

"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik".

Ciri yang dominan pada kekafiran ini adalah pendustaan ayat-ayat Allah Swt., sombong, mempertuhankan hawa nafsu, dan tidak mempercayai mukjizat. 

Pada dasarnya Kufur Ingkar mempunyai persamaan dengan Kufur Juhud, terutama pada penolakan terhadap kebenaran Tuhan. perbedaannya terletak pada posisi pelakunya, kafir Juhud karna kesombongannya, sedangkan kafir Ingkar karna ketidakyakinannya akan kebenaran.

3. Kafir Nifaq

Yang dimkasud Kufur Nifaq adalah pembenaran dengan ucapan namun diingkari dengan hati. Kekafiran seperti ini, merupakan kebalikan dari kafir Juhud.

Imam al-Asfahani mengartikannya masuk agama melalui pintu yang satu, dan keluar dari pintu yang lain. Imam al-Tabatabai mengartikannya dengan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. 

Munafik digolongkan kafir karena pengingkarannya secara terselubung. gejala ini terlihat pada priode sebelum hijrah dan menonjol setelah hijrah ke Madinah. orang kafir yang seperti ini ketika shalat selalu bermalas-malasan dan tidak khusyu’.

4. Kafir Syirik

Kafir Syirik yakni mempersekutukan Allah dengan makhluk atau menyembah selain Allah Swt (mengingkari keesaan Allah atau tauhid). 

Mereka tidak menampik adanya Tuhan sebagai pencipta Alam, tetapi mempercayai bahwa ada Tuhan selain Allah Swt baik itu berbentuk materi atau nonmateri. yang menurut mereka dapat mendatangkan manfaat bagi manusia. 

Berbuat Syirik merupakan dosa besar dan tidak diampuni dosanya oleh Allah swt. firman-Nya dalam QS al-Nisa’/4: 48.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."

5. Kafir al-Irtidad

Yakni kafir yang keluar dari agama Islam dan menjadi kafir (Murtad) karena sebelumnya mereka juga telah Kafir. 

Dalam al-Qur’an disebutkan, kafir yang seperti ini jika meninggal, maka akan mati dalam kekafiran. Sebagaimana dalam QS al-Baqarah/2:217.

"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. katakanlah: "berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjid al-Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka. Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS. An-Nisa : 137).

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ ٱلْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ ٱفْتَدَىٰ بِهِۦٓ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ


"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Ali 'Imran 3:91).

Demikian Pengertian Kafir secara Bahasa, Istilah, dan Menurut Islam. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Tiga Golongan Manusia: Muslim, Kafir, Munafik dan Pengertiannya

UMAT manusia di dunia ini terbagi kedalam tiga golongan Manusia, yakni muslim atau mukmin, kafir, dan munafik. Golongan kaum Muslim terbagi lagi menjadi tiga golongan umat Islam.

Tiga Golongan Manusia menurut Al-Quran: Muslim, Kafir, Munafik

Pengertian Muslim, Kafir, Munafik

Berikut ini pengertian Muslim, Kafir, Munafik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
  1. Muslim adalah penganut agama Islam. 
  2. Kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah Swt dan rasul-Nya (dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad Saw). 
  3. Munafik adalah berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama (Islam) dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua.

Tiga Golongan Manusia

Dalam Al-Quran Surah Al Baqarah ayat 1-20, Allah SWT menyebutkan secara rinci, ada tiga golongan manusia dalam menghadapi datangnya Al-Qur’an, yakni golongan muslim atau mukmin, kafir, dan munafik.

Dalam QS 2:1-20 itu Allah SWT menjelaskan secara rinci karakteristik muslim (mukmin/mutakin), kafirin, dan munafikin.

Tiga golongan manusia ini diklasifikasikan berdasarkan sikapnya terhadap ajaran Islam yang bersumberkan Al-Quran.

1. Muslim (مسلم)

Secara harfiyah, Muslim adalah secara harfiah berarti "seseorang yang berserah diri kepada Allah". Siapa pun yang berserah diri atau tunduk, patuh, dan taat kepada Allah SWT disebut muslim.

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam” (Surat Al-Baqarah:2:131)
Selengkapnya: Pengertian Muslim yang Sebenarnya.

Muslim adalah orang yang beragama Islam dengan kewajiban pokoknya berupa syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji (Rukun Islam).

Muslim yang benar-berar menganut Islam disebut mukmin (mu'min, مؤمن) atau "orang yang beriman (percaya)". Orang yang hanya mengaku beragama Islam atau pura-pura menjadi sorang muslim disebut munafik.

Karena itu, ada perbedaan antara muslim dan mukmin. Muslim belum tentu mukmin, namun mukmin sudah tentu muslim.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman (mukmin), tapi katakanlah ´kami telah tunduk´ (muslim), karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al Hujurat:14).

Dengan demikian, mukmin adalah seorang muslim yang benar-benar percaya akan Islam, dibuktikan dengan mengamalkan ajaran Islam.

Ciri-ciri golongan mukmin dalam Al-Quran:

  • QS 2:2 Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
  • QS 2:3 (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
  • QS 2:4 dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quraan) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat
  • QS 2:5 Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

2. Kafir (كافر)

Kafir adalah orang yang tidak beragama Islam. Al-Quran dengan tegas menyebut orang yang tidak beriman dengan istilah kafir, misalnya dalam QS Al-Kafirun yang menjadi pedoman utama toleransi dalam Islam.

Jadi, setiap orang yang bukan muslim (non-muslim), dalam Islam disebut kafir.

Secara bahasa, kāfir (dari kafaro) artinya adalah menutup kebenaran, menolak kebenaran, atau mengetahui kesalahan tapi tetap menjalankannya, dalam hal ini menutup atau menolak kebenaran ajaran Islam.

Dalam QS Al-Baqarah disebutkan, orang kafir memiliki ciri  tidak  mengakui Muhammad SAW sebagai utusan Allah, dan hatinya dikunci oleh Allah SWT untuk tidak beriman.

Ciri golongan kafir antara lain:

  • QS 2:6 Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
  • QS 2:7 Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

3. Munafik (منافق)

Golongan munafik (munafiq) adalah orang yang pura-pura beriman, mengaku muslim, padahal tidak, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqoroh: 8-14.

"Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman" (QS 2:8).

Di depan kaum muslim, mereka mengaku beriman, namun di belakang atau ketika berada di kelompoknya sesama munafik, mereka mengaku hanya bercanda dengan mengaku beriman.

"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, tetapi bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS 2:14).

Dalam ayat lain, ciri golongan munafik disebutkan:

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah", dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (QS Al-Munafiqun 63:1-3).

Orang munafik itu selalu ‘berwajah dua’, kalau berkumpul dengan orang Mukmin mereka mengaku beriman tapi saat bergabung dengan orang kafir, mereka menyatakan kafir.

Karena itulah, orang munafik lebih berbahaya daripada orang kafir, karena orang munafik masuk kedalam barisan golongan umat Islam dan merusak dari dalam. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *