Hikmah Perang Badar

Perang Badar atau Pertempuran Badar (غزوة بدر, Ghazwah Badr‎) adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan kaum kafir Quraisy. Badar adalah nama tempat di sebuah lembah yang terletak di antara madinah dan mekah.

Hikmah Perang Badar

Perang Badar terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624). Pasukan kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisydari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang.

Perang Badar bukan inisiatif kaum Muslim, tapi merupakan upaya mempertahankan diri. Umat Islam dizinkan berperang hanya jika diperangi.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

"Telah diizinkan berperang bagi orang-orang Mukmin yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu." (QS. Al Hajj: 39).

Setelah bertempur sekitar dua jam, pasukan Muslim berhasil menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy berkat semangat juang, disiplin tinggi, dan pertolongan Allah SWT.

Perang Badar diabadikan dalam Al-Quran Surah Ali 'Imran ayat 123-125 dan ayat 13.

"Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. (QS Ali 'Imran: 123-125).

"Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati." (QS. Ali 'Imran:13).

Doa Perang Badar

Sedikitnya jumlah tentara Muslim dan banyaknya tentara kafir membuat Nabi Muhammad Saw cemas. Beliau pun berdoa kepada Allah SWT.

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

"Ya Allah Azza wa Jalla , penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla , jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini" (HR. Muslim 3/1384 hadits No 1763).

Allah SWT mengabulkan doa Rasul-Nya. Kaum Musim yang sedikit menang atas kaum kafir yang banyak dalam perang Badar.

Allah SWT berfirman,

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 249).

Hikmah Perang Badar

Menurut pakar Al-Quran, KH Ahsin Sakho Muhammad, seperti dikutip Republika, Perang Badar merupakan refleksi dari geliat kaum Muslimin yang sebelumnya ditindas kaum Musyrikin.

Perang Badar terjadi akibat "salah paham" pihak kafir Quraisy. Disebutkan dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, setelah kaum Muslimin hijrah ke Yastrib (Madinah), banyak harta dan rumah mereka yang lantas dirampas kaum musyrik Quraisy. Sebenarnya, umat Islam kala itu tidak berniat perang.

Kaum Muslim saat itu berbondong-bondong keluar dari Madinah ke Badar untuk menghadang kafilah Quraisy yang membawa barang-barang hasil rampasan dari kaum Muhajirin. Sejatinya harta itu masih harta mereka, bukan milik kaum musyrikin itu. Kafilah Quraisy tadi hendak berdagang ke Syam (Suriah).

Namun, kaum Quraisy ternyata mendengar kabar rombongan Muslimin itu, sehingga menyangka akan terjadi perang. Para pemuka musyrikin di Makkah lantas menyiapkan balatentara untuk menyerang kaum Muslim di Madinah.

Nabi Muhammad Saw pun mengadakan musyawarah dan membentuk pasukan untuk menghadapi pasukan kaum musyrikin.

Allah SWT menolong kaum Muslimin dalam Perang Badar melalui beberapa hal:
  1. Turunnya hujan, sehingga memudahkan kaum Muslimin. 
  2. Kaum Muslim diberi waktu yang cukup untuk tidur, sehingga cukup energi dan kembali bugar saat bangun. 
  3. Adanya strategi yakni beberapa sumur diurug terlebih dahulu, supaya kaum musyrikin tidak mendapat jatah air.
Saat perang Badar, kaum muslimim membawa senjata seadanya. Secara kasat mata, mereka sangat mungkin kalah. Namun berkat pertolongan Allah, kaum Muslim akhirnya menang.

Baca Juga: Kunci Kemenangan Umat Islam

Pada waktu berkecamuk perang, Allah SWT menurunkan malaikat sebagai bala bantuan kepada umat Islam.

Hikmah Perang Badar antara lain:
  1. Perjuangan harus disertai doa, seperti yang dilakukan Rasulullah Saw.
  2. Kemenangan dicapai dengan disiplin dan semangat juang tinggi serta pertolongan Allah SWT.
  3. Kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar atas izin Allah. 
Karena itu, kaum Muslimin jangan berputus asa dalam berjuang. Demikian pula, jangan terlena oleh banyaknya kuantitas. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Model Kepemimpinan Rasulullah Saw, Teladan bagi Pemimpin Muslim

Model Kepemimpinan Rasulullah Saw, Teladan bagi Pemimpin Muslim
Rasulullah Muhammad Saw merupakan teladan yang baik bagi umat Islam, termasuk teladan bagi para pemimpin kaum muslim.

Sebagai seorang pemimpin umat Islam, Rasulullah Saw memiliki pola atau model kepemimpinan yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat yang multi-etnis, multi-ras dan multi-agama.

Dalam teori, model kepemimpinan dibagi menjadi lima gaya kepemimpinan, yaitu otokratis (berkuasa sendiri), militeristis, paternalistis (kebapakan), kharismatik, dan demokratis.

Pemimpin yang paling berhasil dan mampu mengkombinasikan kelima model kepemimpinan di atas adalah Rasulullah Muhammad Saw.

Professor di Universitas Chicago Amerika, Jules Masserman, pernah melakukan penelitian dengan meletakkan tiga syarat untuk menentukan pemimpin terbaik dunia yaitu:
  1. Hendaknya pada diri pemimpin ada proses pembentukan kepemimpinan yang baik; 
  2. Hendaknya pemimpin tersebut menaungi kesatuan masyarakat yang terdiri dari keyakinan yang berbeda-beda;
  3. Hendaknya pemimpin tersebut mampu mewujudkan sebuah sistem masyarakat yang manusia dapat hidup di dalamnya dengan aman dan tenteram.
Masserman berkesimpulan: “Barangkali pemimpin teragung sepanjang sejarah adalah Muhammad yang telah memenuhi tiga syarat tersebut.” (Majalah Time, Who Were History’s Great Leaders, edisi 15 Juli 1974).

Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah Saw

Dalam Sejarah dan Kebudayaan Islam, sebagaimana ditulis Hasan Ibrahim (2001), diuraikan kesuksesan kepemimpinan Rasulullah Saw antara lain sebagai berikut:
  1. Menggunakan sistem musyawarah.
  2. Menghargai orang lain, baik lawan maupun kawan.
  3. Ramah, kelembutan perangai menjadi lekat dengan pribadi beliau, akan tetapi beliau juga dapat bersifat keras dan tegas beliau ketika dibutuhkan.
  4. Lebih mementingkan umat daripada diri beliau sendiri.
  5. Cepat menguasai situasi dan kondisi, serta tegar menghadapi musuh.
  6. Sebagai koordinator dan pemersatu ummat.
  7. Prestasi dan jangkauan beliau di segala bidang.
  8. Keberhasilan beliau sebagai perekat dasar-dasar perdamaian dan penyatu kehidupan yang berkesinambungan.
  9. Beliau merupakan pembawa rahmat bagi seluruh alam.
  10. Beliau menerapkan aturan dengan konsisten. Tidak memandang bulu dan tidak pilih kasih.

Model sekaligus karakteristik kepemimpinan Rasulullah juga digambaran dala, Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 

“Maka sebab rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah-lembut kepada mereka. Seandainya engkau bersikap kasar (dalam ucapan dan perbuatan), mereka pasti pergi meninggalkanmu (tidak mau berdekatan denganmu). Maafkanlah mereka. Mohonkan ampun lah untuk mereka. Ajaklah mereka bermusyawarah (mendengarkan aspirasi mereka) dalam segala perkara (yang akan dikerjakan). Jika engkau sudah berketetapan hati, tawakal-lah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang tawakal” (Surat Ali Imran ayat 159).

Berdasarkan ayat di atas, seorang pemimpin harus memiliki karakter sebagai berikut:

  1. Lemah-lembut.
  2. Tidak kasar (tidak bengis), baik dalam ucapan atau perbuatan.
  3. Memaafkan kesalahan orang lain. 
  4. Memohonkan ampunan untuk rakyatnya yang berbuat dosa.
  5. Mendengarkan aspirasi rakyat (demokratis).
  6. Memiliki komitmen yang kuat untuk melakasanakan tugas yang diembankan.
  7. Tawakal kepada Allah. 
Dalam ayat lain disebutkan:


لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS al-Taubah [9]: 128).

Ada tiga sifat (moral) kepemimpinan Nabi SAW berdasarkaan ayat di atas.

1. Azizin alaihi ma anittum (berat dirasakan oleh Nabi penderitan orang lain).

Dalam bahasa modern, sifat ini disebut sense of crisis, yaitu kepekaan atas kesulitan rakyat yang ditunjukkan dengan kemampuan berempati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung.

2. Harishun `alaikum (amat sangat berkeinginan agar orang lain aman dan sentosa).

Dalam bahasa modern, sifat ini dinamakan sense of achievement, yaitu semangat agar masyarakat dan bangsa meraih kemajuan. Tugas pemimpin, antara lain, memang menumbuhkan harapan dan membuat peta jalan politik menuju cita-cita dan harapan itu.

3. Raufun rahim (pengasih dan penyayang).

Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Nabi Muhammad SAW adalah juga pengasih dan penyayang. Orang-orang beriman wajib meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul itu dengan mencintai dan mengasihi umat manusia.

Model Kepemimpinan Rasulullah Saw ditunjang dengan sifat-sifat beliau yang terkenal, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

  1. Siddiq -- jujur, benar, dan berpihak pada kebenaran, kejujuran. 
  2. Amanah -- dapat dipercaya, tidak berkhianat, tidak inkar janji.
  3. Tabligh  -- menyampaikan kebenaran atau segala sesuatu yang telah diamanahkan.
  4. Fathonah -- cerdas, pintar, visioner.
Demikian kajian ringkas tentang Model Kepemimpinan Rasulullah Saw yang disarikan dari beberapa sumber. Wallahu a'lam bish-showabi. (www.risalahislam.com).*

Pengertian Kepribadian Islami - Syakhsiyah Islamiyah

Pengertian Kepribadian Islami - Syakhsiyah Islamiyah
Kepribadian Islami (as-syakhshiyyah al-Islamiyah) adalah perpaduan antara cara berpikir Islami (aqliyyah Islamiyah) dan sikap Islami (nafsiyyah Islamiyah) dalam diri seorang Muslim. 

Cara berpikir dan bersikap Islami yaitu pola pikir dan sikap yang didasarkan pada ajaran Islam (syariat Islam) yang bersumberkan Al-Quran, Hadits, dan Ijma' Ulama.

Menurut Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam As Syakhshiyyah Al Islamiyyah, kepribadian seseorang dibentuk oleh cara berpikirnya (aqliyah) dan caranya berbuat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginannya (nafsiyah).

Kepribadian dalam Islam terdiri dari hati (kalbu), pikiran (akal), dan sikap (nafsu).
  • Kalbu -- tempat menerima perasaan kasih sayang, pengajaran, pengetahuan, berita, ketakutan, keimanan, keislaman, keihklasan, dan ketauhidan.
  • Akal -- al-Istibsar (melihat dengan mata batin), al-I‟tibar (menginterpretasikan), al-Fafkir (memikirkan), al-Tazakur (mengingat)
  • Nafsu -- bereaksi, berbuat, berusaha, berkemauan dan berkehendak.

Ciri-Ciri Kepribadian Islami

1. Pribadi yang Tunduk pada Islam

Pemikiran dan nafsu seseorang yang berkepribadian Islami akan senantiasa didasarkan pada ajaran Islam. Rasulullah saw. bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidaklah sempurna iman kalian sehingga hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaranku.” (HR Thabrani).

2. Siap Jihad

انَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat, 49: 15).

3. Tunduk pada Ketetapan Allah 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

4. Amar Ma'ruf Nahyi Munkar

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ 

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah" (QS Ali Imran: 110).

5. Tegas & Lembut

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah Dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka” (Q.S. Al-Fath:29).*

Hikmah Peringatan Nuzulul Quran

Hikmah Peringatan Nuzulul Quran - Turunnya Al-Quran


Hikmah Peringatan Nuzulul Quran
Peringatan Nuzulul Quran (turunnya al-Qur'an) diperingati kaum Muslimin Indonesia tiap tanggal 17 Ramadhan. 

Pada tanggal itu, diyakini pertama kali turunnya al-Quran sekaligus sebagai “simbol peresmian” Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT dengan misinya mendakwahkan Risalah Islam. 

Karena itu pula, Ramadhan sering disebut Syahr al-Quran (bulan al-Quran).

Tentu saja, peringatan tersebut diadakan supaya kaum Muslimin, minimal setahun sekali, melakukan pengkajian tentang keimanan terhadap al-Quran dan pengamalan ayat-ayat al-Quran, termasuk menancapkan keyakinan bahwa al-Quran yang merupakan sumber utama ajaran Islam ini benar-benar merupakan kebenaran sejati sebagai pedoman hidup (way of life)

Melalui al-Quranlah Allah SWT Sang Pencipta dan Penguasa Alam ini menyatakan kehendak-Nya. Mengikuti tuntunan dan tuntutan al-Quran berarti mengikuti kehendak-Nya. Itulah sebabnya Dia sendiri yang menjamin keaslian al-Quran sejak pertamakali diturunkan. Firman-Nya,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya” (Q.S. 15:9).

Salah satu indikasi keaslian al-Quran adalah tidak adanya “Quran tandingan” karena manusia yang paling cerdas sekaligus paling membenci al-Quran pun tidak akan sanggup membuatnya. Allah SWT sendiri menantangnya,

“Jika kamu masih ragu-ragu tentang kebenaran apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), silakan kamu membuat satu surat saja yang sama dengannya (al-Quran). Panggilah saksi-saksi (pemuka dan para ahli) kamu (untuk membantumu) selain Allah, sekiranya kamu benar (bisa melakukan hal itu). Jika kamu tidak sanggup membuatnya dan sekali-kali kamu tidak akan sanggup, takutilah api neraka yang kayu bakarnya manusia dan bantu yang disediakan bagi orang-orang kafir (yang menentang kebenaran al-Quran)” (Q.S. 2:23-24).

Arti Al-Quran

Secara harfiyah, al-Quran berarti bacaan. Sebagaimana terdapat dalam Q.S. 75:17-18),

“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya dan ‘membacanya’. Jika Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah ‘bacaan’ itu”.
Ayat pertama pun yang diturnkan adalah Iqra’ (bacalah!) yang mengindikasikan kewajiban pertama manusia adalah membaca, baik dengan pancaindera maupun mata hati. 

Dari ayat pertama itu saja, al-Quran sudah menunjukkan bahwa ia rahmat dan bimbingan bagi manusia. Membaca adalah jalan untuk memperoleh ilmu. 

QS Al-Alaq

Dengan ilmu itu manusia bisa mengenal baik dan buruk menurut Allah SWT, mengenal dirinya, juga mengenal Tuhannya. Rahasia alam akan tersingkap denan membaca, juga pembentukan kebudayaan termasuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk “menaklukkan” alam.

Quran sebagai Ruh

Dalam QS. al-Anfal (8): 2 disebutkan, salah satu sifat atau ciri orang yang beriman (mukmin) adalah waidza tuliat 'alahim aayaatuhuu zaadathum iimaana, jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah bertambahlah keimanan mereka. Ayat tersebut menunjukkan, bagi seorang mukmin al-Quran merupakan ruh yang dapat menggerakkan hati-sanubarinya. 

Sebuah gerakan hati menuju keimanan yang lebih kuat lagi kepada Allah SWT. Keimanan yang kuat merupakan energi untuk beramal-Islami yang lebih kuat pula, menambah semangat jihad fi sabilillah, dan menambah keberanian untuk tampil membela kebenaran atas motif li i'laai kalimatillah (menegakkan firman-firman Allah SWT).

Maka, ketika ruh al-Quran bisa menyentuh sanubari umat Islam, mereka pun dapat menjadi benar-benar umat yang terbaik (khairu ummah). 

Sebaliknya, ketika ruh al-Quran tidak lagi menyentuh atau berpengaruh terhadap hati-sanubari umat Islam, mereka pun menjadi umat yang hina, terbelakang, dan menjadi "buih" (ghutsa) yang mudah diombang-ambing ombak, selalu mengikuti arus ke mana saja ia mengarah, tidak punyai ketetapan dan pendirian tegas. Itulah yang diperingatkan Nabi Muhammad SAW dengan sabdanya,

"Sesungguhnya Allah dengan kalam ini (al-Quran) mengangkat beberapa kaum dan dengannya pula merendahkan yang lain."
Tepat pula apa yang dikemukakan Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh: “Bangsa Barat maju karena meninggalkan kitab suci mereka (Bible, Injil), sementara umat Islam justru mengalami kemunduran ketika meninggalkan kitab sucinya (al-Quran)”.

Sesungguhnya, ruh al-Quran hanya akan merasuk sukma seseorang jika ia betul-betul menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidupnya, menjadikan kalam Allah ini sebagai sumber motivasi dan referensi (acuan) dalam beramal. Padahal, Allah sendiri menyebut al-Quran sebagai ruh yang dapat menggerakkan hati manusia dengan firman-Nya,

"Dan begitulah Kami wahyukan padamu berupa ruh" (QS 42:52).

Allah SWT mewahyukan al-Quran tidak lain agar menjadi pedoman bagi hidup umat manusia. Dengan pedoman itu, manusia akan menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar, sehingga tercipta ketentraman, keharmonisan, dan kebahagiaan hidup (Q.S. 35:29-31). 

Maka, adalah kewajiban kita untuk mengimani, membaca, menelaah, menghayati, dan mengamalkan ajaran al-Quran secara keseluruhan, serta mendakwahkannya (Q.S. al-'Ashr:1-3). 

Jika kita memang benar-benar beriman kepada Allah SWT atau mengaku Muslim. Membacanya saja sudah berpahala, bahkan kata Nabi Saw satu huruf mengandung 10 pahala, apalagi jika mengamalkannya.

Tiga Kelompok Menyikapi Al-Quran

Allah SWT mengingatkan dalam al-Quran tentang terbaginya umat Islam kedalam tiga golongan dalam menyikapi al-Quran (Q.S. Faathir [35]:32). 
  1. Zhalimu linafsih (menganiaya diri sendiri).
  2. Sabiqun bil-khairi (cepat berbuat kebajikan). 
  3. Muqtashid (pertengahan). 

QS Al-Fathir:32 Pewaris Al-Quran

Dewan Penerjemah Al-Quran Depag RI (Al-Quran dan Terjemahannya, Depag RI) memaknai ketiga golongan tersebut sebagai berikut: golongan pertama adalah "orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya"; golongan kedua adalah "orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan; dan golongan "pertengahan" adalah mereka yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya.

Dapat dikatakan, golongan zhalimu linafsih adalah orang yang mengabaikan al-Quran sebagai pedoman dalam hidupnya. Disebut "menganiaya diri sendiri" karena dengan mengabaikan ajaran Allah ia sesat dalam hidupnya, dunia dan akhirat. Ia menolak untuk mengikuti aturan yang sudah jelas akan menyelamatkannya dunia-akhirat.

Golongan sabiqun bil-khair adalah mereka yang cepat mengamalkan al-Quran begitu mereka baca dan pahami. Persis sebagaimana dicontohkan Nabi Saw dan para sahabat. Para sahabat bahkan berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan (fastabiqul khairat) sebagai pengamalan ajaran al-Quran (Islam).

Sedangkan golongan muqtashid dapat dikatakan parsial dalam pengamalan al-Quran. Mereka mencampuradukkan antara ibadah dan maksiat, hak dan batil, ajaran al-Quran dan ajaran di luar al-Quran. Mereka tentu termasuk orang yang merugi karena Allah SWT memerintahkan agar kita berislam secara total (kaffah). Wallahu a’lam. (www.risalahislam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *