Awal Ramadhan 2020: Mulai Puasa Jumat 1 Ramadan 1441 H atau 24 April 2020 M

Awal Ramadhan 2020: Mulai Puasa Jumat 1 Ramadhan 1441 Hijriyah atau 24 April 2020 M. Idul Fitri 1 Syawal 14141 H Senin 25 Mei 2020.


Awal Ramadhan 2020
Umat Islam akan menjalani ibadah puasa Ramadhan (Ramadan) di tengah pandemi Virus Corona atau Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Awal Ramadhan 1441 H kemungkinan besar Jumat, 24 April 2020 M.

Pada Ramadhan tahun ini, sebagian besar kaum Muslim kemungkinan akan shalat tarawih di rumah sebagaimana Fatwa MUI No. 14 Tahun 2020 tentang Ibadah di Tengah Wabah Covid-19.

Awal Ramadhan yang ditetapkan pemerintah kemungkinan akan sama dengan yang ditetapkan PP Muhammadiyah. Dalam maklumatnya, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1441 H jatuh pada hari Jumat, tanggal 24 April 2020. Idul Fitri 1441 H ditetapkan jatuh pada 24 Mei 2020.

Penetapan awal Ramadhan tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah nomor 01/MLM/I.0/E/2020 yang diunggah di situs resmi PP Muhammadiyah, Sabtu (7/3/2020).

Ditetapkan, awal puasa atau tanggal 1 Ramadhan 1441 H jatuh pada hari Jumat, 24 April 2020. Penetapan sudah berdasarkan hisab.

Dengan demikian, Shalat Tarawih dimulai Kamis malam, 23 April 2020 dan puasa Ramadhan 1441 dimulai Jumat, 24 April 2020.

Menurut prediksi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), hingga tahun 2021, awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha akan sama antara pemerintah dan ormas Islam.

Lapan memprediksi penetapan awal Ramadhan mulai tahun ini hingga 2021 nanti akan sama antara pemerintah dan ormas keagamaan. Begitu juga hari raya Idul Fitri tidak akan ada perbedaan antara pemerintah dengan ormas Islam lainnya (Lapan).

Baca Juga: Bekal Puasa Ramadhan

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) belum menentukan Awal Ramadan 2020. Kemenag biasanya akan melakukan pemantauan terlebih dahulu kemudian hasilnya akan dibahas di dalam sidang isbat atau penetapan awal dan akhir Ramadhan.

Awal Ramadhan di Berbagai Negara 

Sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa biasanya menetapkan awal Ramadhan berdasarkan perhitungan astronomi atau hisab, sebagaimana Muhammadiyah.

Dengan demikian, awal Ramadhan 2020 di berbagai negara kemungkinan tidak akan berbeda dengan yang ditetapkan Muhammdiyah.

Terpenting saat ini adalah melakukan amaliyah menyambut Ramadhan.

Keutamaan Ibadah Puasa Ramadhan

Ramadhan di Tengah Wabah Virus Corona

Pandemi Covid-19 dipediksi berakhir Juni 2020. Itu artinya, kemungkinan besar umat Islam menjalani Ramadhan saat wabah penyakit ini masih mengancam.

Tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi, kasus corona di Indonesia baru akan berakhir pada akhir Mei hingga awal Juni 2020.

Ini artinya, virus corona di Tanah Air diprediksi belum akan berakhir saat memasuki mudik lebaran 2020.

Kita berharap pandemi virus corona segera berlalu, agar dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan ibadah khas Ramadan lainnya secara "normal".

Jikapun saat Ramadhan pandemi Covid-19 masih terjadi, mari ikuti petunjuk Rasulullah Saw dan para ulama dalam menjalankan ibadah di tengah wabah penyakit. (www.risalahislam.com).*

Ramadhan Saat Wabah Virus Corona: Sholat Tarawih dan Idul Fitri di Rumah

Ramadhan Saat Wabah Virus Corona: Sholat Tarawih dan Idul Fitri di Rumah

PP Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran berisi imbauan tentang sholat tarawih dan amalan khusus bulan Ramadhan lainya jika wabah Virus Corona (Covid-19) belum reda.

Dilansir laman resminya, Jumat (27/3/2020), imbauan itu dituangkan dalam surat edaran tertanggal 29 Rajab 1441 H / 24 Maret 2020 M yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris Agung Danarto.

Isi surat edaran tidak jauh berbeda dengan Fatwa MUI No. 14 Tahun 2020 tentang Pedoman Ibadah di Tengah Wabah Corona.

Berdasarkan dalil-dalil Al Qur'an dan Sunnah serta data ilmiah dari para ahli, PP Muhammadiyah mengemukakan hal-hal sebaga berikut.

a. Salat tarawih dilakukan di rumah masing-masing dan takmir tidak perlu mengadakan salat berjamaah di masjid, musala dan sejenisnya, termasuk kegiatan Ramadan yang lain (ceramah-ceramah, tadarus berjamaah, iktikaf dan kegiatan berjamaah lainnya).

b. Puasa Ramadan tetap dilakukan kecuali bagi orang yang sakit dan yang kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik, dan wajib menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat.

c. Untuk menjaga kekebalan tubuh, puasa Ramadan dapat ditinggalkan oleh tenaga kesehatan yang sedang bertugas dan menggantinya sesuai dengan tuntunan syariat.

d. Sholat Idul fitri adalah sunnah muakkadah dan merupakan syiar agama yang amat penting. Namun apabila pada awal Syawal 1441 H mendatang tersebarnya virus corona belum mereda, sholat Idul Fitri dan seluruh rangkaiannya (mudik, pawai takbir, halal bihalal, dan lain sebagainya) tidak perlu diselenggarakan.

Kumandang takbir Idul Fitri dapat dilakukan di rumah masing-masing selama darurat Covid-19.

Tetapi bila berdasarkan ketentuan pihak berwenang covid-19 sudah mereda dan dapat dilakukan konsentrasi banyak orang, maka dapat dilaksanakan dengan tetap memperhatikan petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan pihak berwenang mengenai hal itu.

Kapan Virus Corona Berakhir?

Diam di rumah (stay at home) dan melakukan jaga jarak (social distancing) dipercaya mampu menekan penyebaran Covid-19. Sekolah diliburkan. Demikian pula masjid "meliburkan" shalat berjamaah dan shalat Jumat.

Wabah Virus Corona alias Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) diprediksi masih mengancam hingga Ramadhan dan bahkan pasca lebaran.

Pendiri Microsoft, Bill Gates, memprediksi wabah Corona bisa berlangsung dua bulan.

"Jika sebuah negara melakukan pekerjaan bagus dengan tes dan shut down, maka dalam 6 sampai 10 minggu seharusnya hanya ada sedikit kasus dan bisa membuka diri kembali," katanya dikutip detikINET dari CNBC.

"Kita berada di masa lockdown untuk jangka panjang, setidaknya satu atau dua bulan lagi," kata Eric Feigl-Ding, ekonom kesehatan global di Harvard Chan School of Public Health, kepada CNBC Capital Connection.

"Virus ini tidak akan hilang dalam tiga minggu ke depan, tidak peduli bagaimana kita ingin membandingkan dengan Wuhan," kata Feigl-Ding, merujuk pada kasus-kasus virus corona di AS (Tribunnews).

"Ini bukan Wuhan, kita tidak bisa mengalihkan seperempat dokter dan perawat dari bagian lain negara untuk datang ke satu pusat pandemi seperti yang dilakukan Cina. Jadi, sekali lagi, kita berada di masa ini setidaknya selama dua bulan atau lebih," imbuhnya.

Penasihat senior Direktur Jenderal WHO, Dr Bruce Aylward, menyatakan, wabah virus corona masih sangat mungkin menyebar di berbagai penjuru dunia berbulan-bulan ke depan.

"Jika kembali melihat China, mereka mengidentifikasi virus pada awal Januari, mereka melakukan segalanya, dan memperkirakan mungkin akhir Maret akan bebas dari corona, ya berarti 3 bulan ya," kata Bruce Aylward kepada Time.

Namun, jangka waktu itu bisa berbeda jika negara-negara tidak setanggap China atau Korea Selatan.

"Sekarang kalau kita lihat Eropa, Amerika Utara dan Timur tengah, pertumbuhan kasusnya meningkat terus menerus. Negara-negara ini masih menghadapi tantangan selama berbulan-bulan ke depan," tambahnya.

Ia menegaskan, kalau negara-negara bisa melakukan penanganan layaknya China, Korea Selatan, dan Singapura maka dunia bisa saja pulih di tiga bulan yang akan datang. (Suara)

Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi, epidemi virus corona akan berakhir di Indonesia pada akhir Mei hingga awal Juni 2020.

Artinya, epidemi Covid-19 itu belum berakhir saat memasuki mudik Lebaran 2020.

Simulasi dari tim peneliti P2MS ITB memperkirakan wabah Covid-19 di Indonesia akan mengalami puncak pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020. (CNN)

Kita berharap, kemuliaan dan keberkahan Ramadhan berdampak pada mereda dan menghilangnya ancaman Virus Corona. Amin Ya Rabbal 'Alamin. (www.risalahislam.com).*

Dalil Sholat di Rumah Bukan di Masjid Demi Mencegah Bahaya

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa atau imbauan agar umat Islam shalat di rumah di tengah wabah Virus Corona atau Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Dalil Sholat di Rumah Bukan di Masjid Demi Mencegah Bahaya

Shalat di rumah dan diam di rumah (stay at home) bagian dari menjaga jarak (social distancing) yang diyakini para ahli bisa menekan penyebaran Virus Corona.

Hingga Kamis (26/3/2020), jumlah total orang yang terinfeksi Virus Corona sudah mencapai 893 orang, 78 meninggal dunia, dan hanya 35 orang yang sembuh (CNN).

Dalil Sholat di Rumah 

Umat Isalam khususnya pria dianjurkan shalat berjamaah di masjid. Namun, dalam kondisi tertentu, kaum Muslim dianjurkan shalat di rumah. Hujan, badai, dan dingin bisa menjadi alasan syar'i untuk tidak datang ke masjid.

Sholat di Rumah Bukan di Masjid Demi Mencegah Bahaya didasarkan pada hadits shahih berikut ini.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ أَيُّوبَ، وَعَبْدِ الْحَمِيدِ، صَاحِبِ الزِّيَادِيِّ وَعَاصِمٍ الأَحْوَلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ خَطَبَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ فِي يَوْمٍ رَدْغٍ، فَلَمَّا بَلَغَ الْمُؤَذِّنُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ‏.‏ فَأَمَرَهُ أَنْ يُنَادِيَ الصَّلاَةُ فِي الرِّحَالِ‏.‏ فَنَظَرَ الْقَوْمُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ فَعَلَ هَذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ وَإِنَّهَا عَزْمَةٌ‏.‏

Dari Abdullah bin Al-Harith: “Hari itu sedang hujan dan berlumpur saat Ibnu Abbas hendak sholat bersama kami. Ketika muadzin yang mengumandangkan adzan berkata Hayyaa ‘alas Salaah, Ibnu Abbas mengatakan untuk mengubahnya menjadi As Salaatu fir Rihaal (sholatlah di rumah masing-masing). Orang-orang saling melihat dengan wajah kaget. Ibny berkata, hal ini pernah dilakukan di masa orang yang lebih baik dibanding dirinya (merujuk pada Rasulullah SAW) dan ini terbukti.” (HR Bukhari).

Ada juga riwayat lain yang menceritakan perubahan adzan supaya kaum Muslim sholat di rumah demi menghindari risiko yang lebih besar.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ حَدَّثَنِي نَافِعٌ، قَالَ أَذَّنَ ابْنُ عُمَرَ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ بِضَجْنَانَ ثُمَّ قَالَ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ، فَأَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ، أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ‏.‏ فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوِ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ

“Di suatu malam yang dingin, Ibnu ‘Umar mengumandangkan adzan ketika hendak sholat di Dajnan dan mengatakan Salu fi rihaalikum (sholatlah di rumahmu). Dia mengatakan, Rasulullah SAW pernah menyuruh muadzin mengumandangkan Salu fi rihaalikum (sholatlah di rumahmu) saat adzan di malam yang hujan atau sangat dingin dalam perjalanan.” (HR Bukhari).

Untuk saat ini, muslim disarankan sholat di rumah sesuai fatwa yang dikeluarkan MUI. Ulama adalah pewaris nabi. Jika tidak patuh pada ulama, lalau mau mendengarkan nasihat siapa?

Jadi, masalahnya bukan lebih takut virus corona daripada takut kapada Allah SWT. Tapi shalat di rumah justru bagian ketaatan pada-Nya yang memerintahkan kita menaati Allah, Rasul-Nya, dan ulil amri --dalam hal ini pemerintah dan MUI. Wallahu a'lam. (www.risalahislam.com).*

Keutamaan dan Amalan Khusus Bulan Sya'ban

amalan bulan sya'ban
Keutamaan, Amalan Sunah, dan Kedudukan Malam Nishfu Sya'ban.

BULAN Sya’ban (ruwah) termasuk bulan istimewa dalam Islam. Salah satunya karena Syaban adalah “pintu gerbang” memasuki bulan suci Ramadhan.

Pada bulan inilah sebaiknya kita “berlatih puasa” dengan rajin berpuasa sunah, sekaligus memperdalam ilmu puasa.

Dalam mengisi bulan Sya'ban dengan amalan sunah, Rasulullah Saw memberi teladan dengan banyak berpuasa.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a.:

"Terkadang Nabi Saw puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi Saw berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Keutamaan Sya'ban


Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah bulan yang menyucikan dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa” (HR. Imam al-Dailami)

Hadits tersebut menegaskan keutamaan dan posisi Sya'ban sebagai pintu gerbang memasuki Ramadhan. Tingkatannya di bawah Ramadhan sebaiah bulan Allah (Syahrulllah); Sya'ban disebut "Syahrun Nabi" atau bulan Nabi Saw.

Catatan Amal Diangkat


Salah satu alasan Rasul memperbanyak puasa atau ibadah lainnya, karena bulan Sya’ban merupakan diangkatnya catatan amal manusia.


ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

"Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An- Nasa’i).

"Pada bulan itu (Sya’ban) perbuatan dan amal baik diangkat kepada Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa". (HR. Abu Dawud).

Ibnu Rajab mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah” (Lathoif Al Ma’arif).

Puasa Sunah Sya'ban Ibarat Shalat Rawatib


Puasa bulan Sya’ban ibarat ibadah shalat sunat rawatib yang “mengapit” shalat fardhu, sebelum dan sesudahnya.

“Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena ia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan.” (Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab).

Malam Nisfhu Sya’ban

Sebagian umat Islam melakukan “amalan khusus” pada malam pertengahan bulan Sya’ban –dikenal dengan sebutan Malam Nishfu Sya’ban. Salah satu dalil yang digunakan adalah hadits dari Siti Aisyah r.a.

"Suatu malam Rasulullah salat, lalu beliau bersujud panjang sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil (wafat). Karena curiga, maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat, beliau berkata: "Hai A'isyah, engkau tidak dapat bagian?"

“Lalu aku menjawab: "Tidak, ya Rasulallah! Aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah wafat) karena engkau bersujud begitu lama". Lalu beliau bertanya: "Tahukah engkau, malam apa sekarang ini". "Rasulullah yang lebih tahu," jawabku. "Malam ini adalah malam nishfu Sya'ban, Allah mengawasi hamba-Nya pada malam ini, maka Dia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang kepada mereka yang meminta kasih sayang, dan menyingkirkan orang-orang yang dengki" (HR. Baihaqi).

Menurut perawinya, hadits tersebut mursal, yakni ada perawi yang tidak sambung ke sahabat, namun cukup kuat.

Dalam hadits lain yang dinilai lemah (dhoif) oleh kalangan ulama hadits, Rasulullah Saw bersabda:

"Malam nishfu Sya'ban, maka hidupkanlah dengan shalat dan puasalah pada siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: ‘Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rezeki akan Aku beri dia rezeki, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing." (H.R. Ibnu Majah, dengan sanad lemah).

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat, hadits lemah boleh digunakan untuk Fadlail A'mal (keutamaan amal).

Walaupun hadits-hadits kedudukannya tersebut tidak sahih, namun merujuk kepada dari hadits-hadits lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya'ban, dapat diambil kesimpulan: malam Nisfu Sya'ban juga memiliki keutamaan.

Amaliah Sunah Malam Nishfu Sya'ban

Hanya saja, jenis ibadah Nishfu Sya’ban harus seperti dicontohkan Rasulullah, yakni memperbanyak shalat malam dan puasa.

Mengisi malam Nishfu Sya'ban dengan amalan yang berlebih-lebihan, atau diada-adakan, seperti dengan shalat malam berjamaah, dzikir bersama, dan sejenisnya, bisa terjerumus ke perbuatan bid’ah karena Rasulullah tidak pernah melakukan atau mencontohkannya.

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).

Mayoritas ulama melihat tidak ada satu dalil pun yang shahih yang menjelaskan keutamaan apalagi “ibadah khusus” malam Nishfu Sya’ban. Bahkan, Ibnu Rajab mengatakan:

“Tidak ada satu dalil pun yang shahih dari Nabi Saw dan para sahabat. Dalil yang ada hanyalah dari beberapa tabi’in yang merupakan fuqoha’ negeri Syam.” (Lathoif Al Ma’arif).

Seorang ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia) yaitu Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan:

“Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (At Tahdzir minal Bida’).

Syeikh Ibnu Baz juga menegaskan: “Hadits tentang menghidupkan malam nishfu Sya’ban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.” (At Tahdzir minal Bida’).

Semoga kita mampu menyikapi permasalahan Nishfu Sya’ban dengan bijak dan demi niat mencapai ridha Allah SWT semata. Amin. Wallahu a’lam bish-shawab. (www.risalahislam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *