Penjelasan Al-Quran tentang Bencana (Tafsir QS Al-Baqarah:155-156)

Tafsir QS Al-Baqarah:155-156 tentang Musibah (Bencana) sebagai Ujian
MUSIBAH atau bencana diturunkan Allah SWT dengan dua tujuan, yakni sebagai (1) siksa (adzab) bagi orang-orang yang maksiat dan (2) sebagai ujian atau cobaan bagi kaum beriman dan bertakwa.

Dalam QS Al-Baqarah:155, Allah SWT menyatakan akan menurunkan ujian kepada hamba-hamba-Nya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ


"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2:155).

Di ayat berikutnya (QS 2:156), Allah SWT pun menyampaikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah atau bencana.

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".

Dalam ayat lain, Allah SWT juga mengingatkan, ujian berupa bencana ataupun bentuk lain tidak akan menimpakan ujian atau siksa yang melebihi kemampuan untuk mengatasinya.


لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. " (QS 2:286).

Tafsir QS Al-Baqarah:155-156 

Dalam Tafsir Al-Maraghi disebutkan, Allah akan menguji hamba-Nya dengan aneka ragam percobaan. Misalnya, perasaan takut terhadap musuh dan adanya musibah, seperti kelaparan dan kekurangan buah-buahan (panceklik).

Bagi orang yang beriman kepada Allah, keadaan seperti ini akan dilaluinya, sekalipun terisolir dari lingkungan keluarga, bahkan diusir tanpa membawa sesuatu.

Sampai-sampai karena rasa laparnya, orang-orang beriman jika memerlukan makan hanya cukup dengan menghisap buah kurma, lalu disimpannya kembali mengingat jangka yang masih panjang.

Terutama sekali ketika mereka berlaga di medan perang Ahzab dan Tabuk. Allah juga menguji mereka dengan terbubuh di medan perang, atau mati karena sakit. Sebab ketika kaum Muslimin melakukan hijrah ke Madinah, di situ terjangkit wabah penyakit panas dingin yang luar biasa.

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa iman itu tidak menjamin seseorang untuk mendapatkan rezeki yang banyak, kekuasaan, atau tidak ada rasa takut. 

Tetapi semuanya itu justru berjalan sesuai dengan ketentuan sunnatullah yang berlaku untu hamba-Nya, jika terdapat sesuatu yang mendatangkan musibah, maka musibah itu tidak dapat dihalangi dan akan menimpanya, tetapi bagi seseorang yang mempunyai kesempurnaan iman, dan dirinya sudah mempunyai pengalaman digembleng dalam penderitaan, maka adanya musibah itu akan semakin membersihkan jiwanya.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Allah Swt mengabarkan: 

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan mengujimu agar Kami mengetabui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antaramu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)

Terkadang Dia memberikan ujian berupa kebahagiaan dan pada saat yang lain Dia juga memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan. 

Firman-Nya: fa adzaaqaHallaaHu libaasal juu’i wal khaufi (“Oleh karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan.”)(QS. An-Nahl: 112)

Karena orang yang sedang dalam keadaan lapar dan takut, ujian pada keduanya akan sangat terlihat jelas. Oleh karena itu Dia berfirman, “Pakaian kelaparan dan ketakutan.”

Dalam surat al-Baqarah ini, Allah swt. berfirman: 
  • bi syai-im minal minal khaufi wal juu-‘i (Dengan sedikit ketakutan dan kelaparan) 
  • wa naqshim minal amwaali (Dan kekurangan harta). Artinya, hilangnya sebagian harta.
  • Wal anfusi (serta jiwa), misalnya meninggalnya para sahabat, kerabat, dan orang-orang yang dicintai. 
  • Wats-tsamaraaat (Dan buah-buahan), yaitu kebun dan sawah tidak dapat diolah sebagaimana mestinya. Sebagaimana ulama mengemukakan: “Di antara pohon kurma ada yang tidak berbuah kecuali hanya satu buah saja.”
Semua hal di atas dan yang semisalnya adalah bagian dari ujian Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. 

Barangsiapa bersabar, maka Dia akan memberikan pahala baginya, dan barangsiapa berputus asa karenanya maka Dia akan menimpakan siksaan terhadapnya. Oleh karena itu, di sini Allah Ta’ala berfirman: wa basy-syirish shaabiriin (“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar.”)

Setelah itu Allah menjelaskan tentang orang-orang yang sabar yang dipuji-Nya, dengan firman-Nya: alladziina idzaa ashaabatHum mushiibatun qaaluu innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun (“Yaitu orang-orang yang apaabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. [Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali].”)

Artinya, mereka menghibur diri dengan ucapan ini atas apa yang menimpa mereka dan mereka mengetahui bahwa diri mereka adalah milik Allah Ta’ala, la memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. 

Selain itu, mereka juga mengetahui bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan amalan mereka meski hanya sebesar biji sawi pada hari kiamat kelak. Dan hal itu menjadikan mereka mengakui dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan-Nya, dan mereka akan kembali kepada-Nya kelak di akhirat. 

Oleh karena itu, Allah swt. memberitahukan mengenai apa yang diberikan kepada mereka itu, di mana Dia berfirman: ulaa-ika ‘alaiHim shalawaatum mir rabbiHim wa rahmatun (“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka.”) 

Artinya, pujian dari Allah Ta’ala atas mereka. Dan menurut Sa’id bin Jubair, “Artinya, keselamatan dari adzab.”

Firman-Nya: ulaa-ika Humul muHtaduun (“Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”) Amirul Mu’minin Umar ra. mengatakan: 

“Alangkah nikmatnya dua balasan itu, dan betapa menyenangkan [anugerah] tambahan itu.” ulaa-ika ‘alaiHim shalawaatum mir rabbiHim wa rahmatun (“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka.”) inilah tambahan. Mereka itulah orang-orang yang diberi pahala-pahala dan diberikan pula tambahan.

Mengenai pahala mengucapkan “Innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun” ketika tertimpa musibah telah banyak dimuat di banyak hadits. 

Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Ummu Salamah ia bercerita, pada suatu hari Abu Salamah mendatangiku dari tempat Rasulullah saw. lalu ia menceritakan, aku telah mendengar ucapan Rasulullah saw. yang membuatku merasa senang, beliau bersabda:

“Tidaklah seseorang dari kaum Muslimin ditimpa musibah, lalu ia membaca: 

إنّاَ للهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها

(Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘un. Allâhumma ajirnî fî mushîbatî wa akhlif lî khairan minhâ.)

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya") melainkan akan dikabulkan doanya itu.” (HR Ahmad).

Dalam kitab Shahih Muslim disebtukan bahwa Ummu Salamah mengatakan: aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan: innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya; melainkan Allah akan memberikan pahala kepadanya dalam musibah itu dan memberikan ganti kepadanya dengan yang lebih baik darinya.” Kata Ummu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal, maka aku mengucapkan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadaku, maka Allah Ta’ala memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah Saw. (HR. Muslim).

Baca Juga: Doa Ketika Datang Musibah

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Fatimah binti Husain, dari ayahnya, Husain bin Ali, dari Nabi saw, beliau bersabda: 

“Tidaklah seorang muslim, laki-laki maupun perempuan ditimpa suatu musibah, lalu ia mengingatnya, meski waktunya sudah lama berlalu, kemudian ia membaca kalimat istirja’ (innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un) untuknya, melainkan Allah akan memperbaharui pahala baginya pada saat itu, lalu Dia memberikan pahala seperti pahala yang diberikan-Nya pada hari musibah itu menimpa.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah; Dha’if sekali; Dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iiful Jaami’ [5434].-ed.)

Imam Ahmad juga meriwayatkan, dari Abu Sinan, ia menceritakan, Aku sedang menguburkan anakku. Ketika itu aku masih berada di liang kubur, tiba-tiba tanganku ditarik oleh Abu Thalhah al-Khaulani dan mengeluarkan diriku darinya seraya berucap, 

“Maukah aku sampaikan berita gembira untukmu?” “Mau,” jawabnya. Ia berkata, adh-Dhahhak bin Abdur Rahman bin Auzab telah mengabarkan kepadaku, dari Abu Musa, katanya Rasulullah pernah bersabda:

“Allah berfirman, ‘Hai malaikat maut, apakah engkau sudah mencabut nyawa anak hamba-Ku? Apakah engkau mencabut nyawa anak kesayangannya dan buah hatinya?’ ‘Ya, jawab malaikat. ‘Lalu apa yang ia ucapkan?’ tanya Allah. Malaikat pun menjawab, ‘Ia memuji-Mu dan mengucapkan kalimat istirja’. Maka Allah berfirman (kepada para malaikat): ‘Buatkan untuknya sebuah rumah di surga, dan namailah rumah itu dengan baitul hamdi (rumah pujian).’”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam at-Tirmidzi, dari Suwaid bin Nashr, dari Ibnu al-Mubarak. Menurutnya, hadits tersebut hasan gharib. Nama Abu Sinan adalah Isa bin Sinan.

Demikian Tafsir QS Al-Baqarah:155-156 tentang Musibah (Bencana) sebagai Ujian. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Doa Ketika Datang Bencana - Musibah Gempa, Tsunami, Longsor, Kecelakaan, Kebakaran

Doa Ketika Datang Bencana - Musibah
Berikut ini bacaan atau doa ketika datang bencana, seperti musibah gempa, tsunami, longsor, kecelakaan, kebakaran, kemalingan, sakit, dan lain-lain.

Doa adalah senjata kaum mukmin dan senjata kaum lemah, tak berdaya, terzhalimi. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan doa, kecuali Allah SWT sendiri yang Mahabesar, Mahakuasa, dan Maha Berkehendak.

Doa pastik dikabulkan Allah SWT. Setidaknya, Allah SWT akan memberi pahala karena doa itu ibadah. Allah SWT kabulkan doa dengan banyak cara, mulai sesuai dengan yang diminta hingga digantikan dengan kebaikan yang lain. Dia Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Bencana atau musibah adalah adzab bagi yang maksiat dan ujian bagi kaun mukmin.

Doa Ketika Datang Bencana - Musibah

Rasulullah Saw mengajarkan, saat kita tertimpa musibah atau terjadi bencana, kita membaca doa berikut ini:

إنّاَ للهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘un. Allâhumma ajirnî fî mushîbatî wa akhlif lî khairan minhâ.

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya.” (HR Muslim).

Dalam Shahih Muslim disebutkan, barangsiapa membaca doa tersebut, niscaya Allah SWT akan memberinya pahala dalam musibahnya dan memberinya ganti yang lebih baik daripadanya.

Dari Ummu Salamah r.a., ia berkata: aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:


مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم


"Tak seorang hamba (muslim) tertimpa musibah lalu ia berdoa: 

'Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya.' 

Ummu Salamah berkata: Saat Abu Salamah wafat, aku berdoa sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah kepadaku, lalu Allah memberi ganti untukku yang lebih baik darinya, yakni Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam." (Muttafaq 'Alaih) 

Do'a Penawar Hati Yang Duka

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Allohumma innii a’uudzubika minalHammi, walhuzni, wal’ajzi, walkasali, walbukhli waljubni, wa dhola’iddayni wagholabatirrijali“

Ya Allah!.. Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.”

Do'a Apabila Dalam Kesedihan

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.

Allohumma rohmataka arjuu falaa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘aini, wa ashlihlii sya’nii kullahu, laa ilaha illaa anta.

“Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmatMu, oleh karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau

Do'a Jika Mengalami Kesulitan

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allohumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlaa wa anta taj’alulhazna idzaa syi’ta sahlaa"

Ya Allah! Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mu-dah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau meng-hendakinya.”

Selain berdoa, ketika datang bencana/musibah, sikapi dengan sabar. Dengan begitu, musibah akan menjadi kebaikan.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR.Muslim).

Demikian Doa Ketika Datang Bencana - Musibah Gempa, Tsunami, Longsor, Kecelakaan, Kebakaran. Wasalam. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Shahih Muslim, Kumpulan Doa

Arti Thala' al-Badru 'Alayna dan Sejarahnya

Arti Thala' al-Badru 'Alayna
Arti Thala' al-Badru 'Alayna dan Sejarahnya.

Thala' al-Badru 'Alayna (طلع البدر علينا) adalah adalah syair atau nasyid yang dinyanyikan oleh kaum Ansar saat menyambut kedatangan Nabi Muhammad Saw di Yatsrib (sekarang Madinah) dalam peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah tahun 622 M. (Wikipedia).

Lagu ini telah berusia 1400 tahun dan disebut-sebut sebagai salah satu peninggalan kebudayaan Islam yang tertua.

Hadits tentang sejarah Thala'al Badru itu dinyatakan lemah (dhoif) dalam buku Hadits Lemah dan Palsu yang Populer Di Indonesia karya Ust. Ahmad Sabiq. Alasannya antara lain daerah Tsaniyatul Wada’ yang disebutkan dalam syair itu di arah Syam. Daerah ini tidak pernah dilewati oleh orang yang datang dari Makkah ke kota Madinah. Dan tidak akan melewatinya kecuali bila ia meneruskan perjalanan ke Syam”.

Meski demikian, kisah thola'al badru ini ada di hampir semua kitab sejarah yang menceritakan tentang kedatangan Rasulullah Saw ke kota Madinah.

Bait syair ini sudah menjadi bahan nyanyian sebagian kaum Muslimin dan menganggapnya sebagai sebuah nyanyain yang Islami.

Imam al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin bahkan menjadikannya sebagai dalil kehalalan nyanyian dan musik.

“Sisi dibolehkannya nyanyian adalah bahwa nyanyian adalah sesuatu yang bisa membangkitkan rasa senang dan gembira, maka semua yang boleh untuk bersenang senang dengannya maka boleh pula unytuk membangkitkan rasa senang dengan sesuatu tersebut. Dan yang menunjukkan akan bolehnya hal ini adalah riwayat yang menyatakan bahwa saat kedatangan Rosululloh ke kota Madinah maka para wanita menabuh duff (semacam gendang tanpa suara gemerincing) dan menyenandungkan thola'al badru 'alaina..."

Informasi lain menyebutkan, thala'al badru 'alayna dilantunkan penduduk Madinah ketika menyambut Nabi Muhammad Saw dan para sahabat sepulang dari Perang Tabuk.

Arti Thola'al Badru 'Alaina


Terlepas dari kontroversi sejarahnya, berikut ini arti sya'ir Thola'al Badru 'Alaina.

طلع البدر علينا


Tala‘a al-badru ‘alaynā
Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita

من ثنيات الوداع

Min thanīyāti al-wadā‘
Dari lembah Wadā‘.

وجب الشكر علينا

Wajab al-shukru ‘alaynā
Dan wajiblah kita mengucap syukur

ما دعى لله داع

Mā da‘ā lillāhi dā‘
Di mana seruan adalah kepada Allah.

أيها المبعوث فينا

Ayyuha al-mab‘ūthu fīnā
Wahai engkau yang dibesarkan di kalangan kami

جئت بالأمر المطاع

Ji’ta bil-amri al-mutā‘
Datang dengan seruan untuk dipatuhi

جئت شرفت المدينة

Ji’ta sharaft al-madīnah
Anda telah membawa kemuliaan kepada kota ini

مرحبا يا خير داع
Marḥaban yā khayra dā‘
Selamat datang penyeru terbaik ke jalan Allah

Arti Thala' al-Badru 'Alayna Selengkapnya

Tala al-Badru alayna
(Di saat tiba bulan purnama! )

min thaniyyatil-Wada'
(dari lembah perpisahan)

wajaba al-shukru alayna
(Wajiblah bagi kita bersyukur)

ma da'a lillahi da'
(Terkabul lah doa Rasul s.a.w kepadaNya,)

Ayyuha al-mabhuthu fina
(Wahai Rasul s.a.w yang diutus untuk kami,)

Ji'ta bi-al-amri al-muta'
(Pembawa amanat suci)

Ji'ta sharrafta al-Madinah
(Telah kau muliakan kota ini(madinah))

marhaban ya khayra da'
(Selamat datangnya Rasul s.a.w )

Thala al Nurul Mubin
(Telah keluar cahaya yang terang)

Nuru Khairil Mursalin
(Cahaya yang terbaik daripada Rasul s.a.w)

Nuru Amnin Wa Salaam
( Cahaya Cahaya keselamatan dan keamanan)

Nuru Haqqin wa Yaqin
(Cahaya kebenaran dan kemuliaan Allah s.w.t)

Sadaqallahu Ta'ala
(Allah (Ta ‘ala) itu sebenar-benarnya)

Rahmatan Lil'aalamin
(Muhammad adalah rahmat bagi sekalian alam)

Fa alal Barri Shu'aa'
(di Tanah ada sebuah pancaran)

Wa alal Bahri Shu'aa'
( dan di Laut juga ada sebuah pancaran..)

Mursalun Bilhaqqi Jaa'
(Seorang Utusan yang telah datang dengan kebenaran)

Nutquhu Wahyussamaa'
(Ia berbicara bimbingan dari langit(Allah s.w.t))

Qawluhuu Qaulun Fasihun
(BicaraNya adalah begitu tepat)

Yatahaddal Bulaghaa'
(Ini tantangan para ahli)

Fihi Liljismi Shifaa'un
(penyembuh raga)

Fihi Lilro'hi dawaa'
(pengobat jiwa)

Ayyuhal Haadi Salaaman
(Salam aman sejahtera Rasul pembimbing kita, )

Maa Wa'al qur'aana wa ma
( berjanjikah anda…??)

Jaa’anal Haadi-l-Bashir
(Dia telah datang kepada kita; panduan, dan pembawa kabar,)

Mutliqul aanil Asir
(membebaskan penderitaan/kegelapan)

Murshidu-Sa’i Ithaa Maa
(Panduan kpd pengembara dikala…)

Abta’a-Saa’il Masir
( lambat/lemah [dan mendengar])

Dinuhu haqqun Suraahun
(AgamaNya adalah benar , menjulang tinggi)

Dinuhu Mulkun Kabir
(AgamaNya adalah milikNya yng teragung)

Huwa Fi-Dunya Naimun
(sungguh berharga di dunia ini)

Wa Fi-l-Ukhraa Mataa’
(Dan dalam kehidupan seterusnya(akhirat) itu adalah kenikmatan)

Contoh Khotbah Jumat Singkat

Contoh Khotbah Jumat Singkat
Khotbah Jumat secara bahasa artinya pidato keagamaan yang dilakukan hari Jumat atau saat shalat Jumat.

Menurut KBBI, khotbah (bentuk tidak baku: kotbah, kutbah, khutbah) adalah pidato (terutama yang menguraikan ajaran agama).

Khutbah Jumat atau pidato keagamaan saat shalat Jumat ini harus dilakukan secara monolog, tanpa dialog dan tanya jawab, layaknya orasi, dan hadirin (jamaah Jumat) hanya mendengarkan dengan khusyu'.

Sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw dalam khotbah Jumat pertama beliau, khotbah Jumat hendaknya efektif dan ringkas. (Baca Juga: Gaya & Metode Khotbah Jumat Rasulullah).

Untuk itu, para khotib hendaknya memahamil "ilmu khotbah" sebagaimana dicontohkan Rasul, juga memahami syarat dan rukun khotbah. Khotbah Jumat hendaknya dilakukan ringkas, gak pake lama, demi efektifitas pesan atau wasiat takwa yang disampaikan kepada jamaah Jumat.

“Nabi Saw tidak memanjangkan nasihatnya pada hari Jumat. Beliau hanya memberikan amanah-amanah yang singkat dan ringkas” (H.R. Abu Dawud).

Khotbah Jumat diawali dengan doa pembuka dan diakhiri dengan doa penutup. (Lihat: Bacaan Pembuka dan Penutup Khotbah Jumat).

Dianjurkan, khotbah pertama berisi uraian tema khotbah atau wasiat takwa. Materi khotbah tuntaskan di khotbah pertama, sehingga di khotbah kedua langsung doa atau bacaan penutup, tanpa lagi membahas uraian sebagai di khotbah pertama, agar khotbah berlangsung singkat atau ringkas.

Contoh Khotbah Jumat Singkat

Berikut ini Contoh Khotbah Jumat Singkat, lengkap dengan bacaan atau doa pembuka dan penutup khotbah Jumat.

Khotbah Pertama 
Pembuka

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ


 اَمَّا بَعْدُ. فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن. قَالَ تَعَالَي: وَمَا اُمِرُوا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ القَيِّمَة

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Dalam Al-Quran, ada sebuah surat pendek, namun maknanya luas, yaitu Quran Surat Al-'Ashr.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Surat ini merupakan pedoman setiap Muslim dalam melaksanakan kehidupan pribadi dan sosial.

Surat pendek berisi risalah Islam tentang pentingnya waktu, iman, amal salih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya karena ia takkan kembali. Waktu luang wajib diisi dengan hal-hal bermanfaat, jangan disia-siakan.

Iman adalah pangkal keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Iman yang sebenar-benarnya mendorong amal kebaikan atau amal salih, minimal mengamalkan Rukun Islam sebagai ritual ibadah umat Islam.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Menurut Imam Syafi’i, seandainya manusia mencermati surat ini, yakni al-‘Ashr, secara seksama, niscaya surat ini akan mencukupi mereka.”

Allah Ta’ala telah bersumpah dengan masa tersebut bahwa manusia itu dalam kerugian, yakni benar-benar merugi dan binasa, kecuali:
  1. Orang-orang yang beriman 
  2. Mengerjakan amal shalih
  3. Saling menasehati dalam kebenaran
  4. Nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Keempat poin kandungan suat al-'ashr itu juga merupakan poin-poin utama kewajiban kaum Muslim terhadap Islam, yaitu:

Pertama, mengimani Islam. Percaya dan yakin, bahwa Islam satu-satunya agama Allah SWT yang menjadi pedoman hidup umat Islam dan umat manusia pada umunya.

Kedua, mengamalkan Islam, yakni berupa amal shalih atau amal kebaikan. Amal utama dalam Islam terangkum dalam Rukun Islam, yakni syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu.

Ketiga, mendakwahkan Islam. Islam tidak cukup diimani dan diamalkan, tapi juga harus didakwahkan atau disebarkan.

Sesama Muslim wajib saling menasihati atau saling mengingatkan dalam melaksanakan kebenaran, yakni ajaran Islam, dan saling mengingatkan untuk bersabar dalam menjalani beragam masalah kehidupan.

Poin ketiga ini, mendakwahkan Islam, juga terkandung kewajiban setiap Muslim untuk membela agama dan umat Islam, berupa berjuang di jalan Allah atau jihad fi sabilillah, baik dengan harta, pikiran, atau tenaga atau fisik.

Semoga kita dapat melaksanakan kewajiban sebagai Muslim dengan baik. Amin Ya Robbal 'alamin.

Barokallahu li walakum!

Khotbah Kedua

Bacaan & Doa Penutup


الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه.. وبعد

فَقَالَ تَعَالىَ: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْوَهَّابُرَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعينسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَوَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Demikian Contoh Khotbah Jumat Singkat. Wasalam. (www.risalahisam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *