Keutamaan Bulan Dzulqa’dah: Hapit Bukan Bulan Sial!

Pengertian, Amalan, dan Keutamaan Bulan Dzulqa’dah (Hapit, Apit).

Keutamaan Bulan Dzulqa’dah
BULAN Dzulqa'dah adalah bulan ke-11 dalam kalender Islam setelah bulan Syawal dan sebelum bulan Dzulhijjah (bulan haji).

Nama bulan ini disebut pula dengan nama Dzulqo'dah, Dzulqaidah, Dzulkaidah, Zulkadah, dan Dulkangidah. Bulan ini dikenal pula dengan nama bulan Apit atau Hapit (Jawa Kuno). 

Menurut masyarakat Jawa, apit berarti terjepit. Hal ini karena bulan ini terletak di antara dua hari raya besar yaitu, Idul Fitri (Syawal) dan Idul Adha (Dzulhijah).

Pengertian Dzulqa'dah

Secara bahasa, Dzul Qo’dah terdiri dari dua kata: Dzul yang artinya "sesuatu yang memiliki" dan Al Qo’dah yang artinya "tempat yang diduduki". 

Bulan ini disebut Dzul Qo’dah karena pada bulan ini, kebiasaan masyarakat Arab duduk (tidak bepergian) di daerahnya dan tidak melakukan perjalanan atau peperangan.

Secara bahasa, dzulqa’dah juga berarti “penguasa genjatan senjata” karena pada saat itu bangsa Arab dilarang melakukan peperangan.

Hapit Bukan Bulan Sial, Justru Bulan Mulia

Hingga zaman now masih beredar kepercayaan bulan Dzulqa'dah sebagai bulan sial atau bulan tidak baik untuk menikah dan sebagainya. Dalam Islam, kepercayaan tersebut dilarang karena merupakan bagian dari tahayul dan khurafat.

Justru, dalam Islam, bulan Dzulqa'dah termasuk salah satu dari empat bulan haram, yaitu bulan yang dimuliakan atau disucikan Allah SWT selain Muharram, Dzulhijjah, dan bulan Rajab.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. At-Taubah:36

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat) empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama-sama orang yang bertakwa.”

Bulan haram ialah bulan yang dijadikan oleh Allah sebagai bulan yang suci lagi diagungkan kehormatannya.

Bulan Dzulqa’dah termasuk bulan haram ditegaskan dalam hadits shahih berikut ini:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari 3197 & Muslim 4477).

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، أَوْ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzul Qo’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah Hudaibiyah di bulan Dzul Qo’dah, umrah tahun depan di bulan Dzul Qo’dah (HR. Bukhari 1780 & Muslim 1253)

Kisah Nabi Musa 

Di antara keistimewaan lain dari bulan Dzulqa’dah, bahwa Allah SWT berjanji kepada Nabi Musa as untuk berbicara dengannya selama tiga puluh malam di bulan Dzulqa’dah, ditambah sepuluh malam di awal bulan Dzul Hijjah berdasarkan pendapat mayoritas para ahli tafsir. [Tafsir Ibni Katsir II/244], sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ‌

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (untuk memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi)…” [Qs. al-A'raaf: 142].

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 142

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 142

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empatpuluh malam. Dan berkatalah Musa kepada saudaranya yaitu Harun: ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.’”(QS. al-A’raaf: 142)

Allah Ta’ala mengingatkan Bani Israil akan apa yang telah mereka peroleh, yaitu hidayah, berupa firman-Nya langsung kepada Musa as. dan pemberian Taurat oleh-Nya, yang di dalamnya terdapat beberapa ketentuan dan keterangan mengenai hukum bagi mereka.

Dia menyebutkan bahwa Dia telah menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam. Para ahli tafsir mengatakan, Musa berpuasa selama tiga puluh malam tersebut. Setelah sampai pada batas waktu yang ditentukan itu, Musa as. menggosok gigi dengan kulit pohon.

Kemudian Allah menyuruhnya untuk menyempurnakan dengan sepuluh malam hari, sehingga menjadi empat puluh hari. Mengenai maksud sepuluh malam itu, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli tafsir. 

Tetapi mayoritas ahli tafsir mengatakan bahwa, “Tiga puluh malam itu adalah bulan Dzulqa’dah, sedangkan yang sepuluh malam adalah bulan Dzulhijjah.” 

Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Masruq, dan Ibnu Juraij. 

Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya: “Atas dasar ini berarti Musa telah menyempumakan miqat (waktu yang ditentukan) pada hari raya kurban dan pada saat itulah telah terjadi firman Allah Ta’ala langsung kepada Musa as. 

Dan pada hari itu juga, Allah menyempurnakan agama bagi Muhammad saw., sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maa-idah: 3)

Setelah sampai pada waktu yang telah ditentukan tersebut, lalu Musa bermaksud pergi ke gunung (Thur), sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Hai Bani Israil, sungguhnya Kami telah menyelamatkanmu dari musuhmu dan Kami telah mengadakan perjanjian denganmu (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu.” (QS. Thaahaa: 80)

Maka pada saat itu Musa as. meminta saudaranya, Harun, memimpin Bani Israil, serta berpesan kepadanya agar melakukan perbaikan, bukan kerusakan. Dan ini merupakan peringatan dan penekanan semata, karena Harun sendiri adalah seorang Nabi mulia bagi Allah, memiliki kedudukan dan kehormatan. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan Allah kepadanya dan kepada para Nabi lainnya.

Demikian Keutamaan Bulan Dzulqa’dah (Dzulkaidah) dan tidak ada amalan khusus ataupun dziki/doa.bacaan khusus di dalamnya. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Shahihain & Amalan-Amalan yang Disyariatkan Di Bulan-Bulan Haram

Keutamaan dan Amalan Sunah Bulan Dzulqaidah (Zulkaidah)

Keutamaan dan Amalan Sunah Bulan Dzulqaidah (Zulkaidah). Persiapan Haji dan Kurban.

Keutamaan dan Amalan Sunah Bulan Dzulqaidah (Zulkaidah)
Zulkaidah atau Dzulqo'idah (Bahasa Arab: ذو القعدة, transliterasi: Dzulqaidah), adalah bulan kesebelas dalam penanggalan Islam, hijriyah. Ia merupakan bulan yang mengandung makna sakral dalam sejarah di mana pada bulan ini terdapat larangan berperang.

Makna kata Zulkaidah adalah 'Penguasa Gencatan Senjata' sebab pada saat itu bangsa Arab meniadakan peperangan pada bulan ini. (Wikipedia).

Asal Penamaan Secara bahasa, Dzul Qo’dah terdiri dari dua kata: Dzul, yang artinya: Sesuatu yang memiliki dan Al Qo’dah, yang artinya tempat yang diduduki.

Bulan Dzul Qa`idah --tahun ini bertepatan dengan awal Juli 2019-- adalah bulan pertama dari bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt.
Hadis Shahih Seputar Bulan Dzul Qa’dah
  1. Dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
  2. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzul Qo’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah Hudaibiyah di bulan Dzul Qo’dah, umrah tahun depan di bulan Dzul Qo’dah, …(HR. Al Bukhari)


Sumber: https://muslimah.or.id/2410-bulan-dzul-qodah.html

Amalan Sunah Khusus

Adakah amalan sunah atau amalan khusus bulan Zulkaidah sesuai dengan sunnah Rasul?

Setidaknya ada dua hadits shahih tentang seputar Bulan Dzul Qa’dah dalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Keutamaan dan Amalan Sunah Bulan Dzulqaidah (Zulkaidah)
Dari Abu Bakrah ra, Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim).

Dari Anas bin Malik ra, ia mengatakan: Nabi Saw melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzul Qo’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah Hudaibiyah di bulan Dzul Qo’dah, umrah tahun depan di bulan Dzul Qo’dah" (HR. Al Bukhari).

Dari dua hadits tersebut, tidak disebutkan amalan khusus atau amalan sunah bulan Zukaidah, kecuali ditegaskan Zulkaidah merupakan salah satu dari empat bulan suci selain Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Dengan demikian, tidak ada amalan khusus yang sunah dilakukan di bulan Zulkaidah, kecuali amal shalih seperti biasa, mengamalkan kewajiban sebagai Muslim, terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan, terus berusaha meningkatkan doa dan amal kebaikan.

Namun, mengingat bulan berikutnya adalah Zulhijah atau bulan haji, maka "amalan khusus" yang perlu dilakukan adalah bersiap-siap melaksakan ibadah kurban, karena amalan sunah yang paling disukai Allah SWT pada Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah --tahun ini insya Allah bertepatan dengan Jumat 1 September 2017.

Demikian ulasan ringkas tentang Keutamaan dan Amalan Sunah Bulan Dzulqaidah (Zulkaidah). Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).

Sumber: Shahihain

Kaum Munafik Menghambat Perjuangan Umat Islam

Kaum munafik (munafiq) menghambat perjuangan umat Islam. Kaum munafik adalah orang-orang yang mengaku beriman (mukmin) atau beragama Islam (muslim), padahal tidak.

Kaum Munafik Menghambat Perjuangan Umat Islam


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

"Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar." (QS Al-Baqarah: 8-9).

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta" (QS Al-Munafiqun:1).

Ketika Nabi Muhammad Saw, memobilisasi umat Islam di Madinah, untuk bersiap menghadapi serangan kaum kafir Quraisy dalam Perang Tabuk, Abdullah bin Ubay al Salul, segera bergerilya menghasut kaum Muslimin agar mengabaikan ajakan Rasulullah Saw.

“Menurut rencana, pasukan Islam akan mencegat pasukan Quraisy di Uhud. Mengapa kita harus sibuk ikut ke sana?” kata tokoh kaum munafik itu.

“Buat apa berjuang dengan perang? Kita lebih baik diam di masjid. Melaksanakan salat, do’a dan ibadah lain. Itu juga perintah dari Nabi, bukan?”

Akibatnya, ada di antara kaum Muslimin terpengaruh. Mereka membatalkan kesediaan berangkat ke medan jihad Uhud, karena mereka merasa, hasutan Abdullah bin Ubay sangat rasional. Beribadah tenang di masjid, lebih nyaman daripada pergi berjihad. Padahal mereka tahu, Abdullah bin Ubay itu provokator, penghambat da’wah dan syiar sejak awal. Ia munafikin sejati, yang mengaku Islam tapi tak rela Islam berkembang dan berjaya. (Prof. Dr. Ahmad Sallabi, “Gozwatur Rosul”, 2009).

Ketika Rasulullah Saw bergerak menuju Tabuk, ia (Abdullah bin Ubay) bersama rombongannya tidak bersedia berangkat bersama Nabi Saw.

Di antara ayat Alquran yang diturunkan berkenaan dengan sikap orang-orang munafik ini adalah: Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah Saw, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, Api neraka jahanam itu lebih panas, jika mereka mengetahui.” (QS At-Taubah [9]: 81).

Di antara mereka ada orang yang berkata, Berikanlah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (QS At-Taubah 49).

Sedangkan kaum Muslimin datang kepada Rasulullah Saw dari setiap pelosok. Dalam menghadapi peperangan ini Rasulullah SAW telah mengimbau orang-orang kaya agar menyumbangkan dana dan kendaraan yang mereka miliki sehingga banyak di antara mereka yang menyerahkan harta dan perlengkapan.

Usman r.a. menyerahkan 300 keping uang sebanyak 1.000 dinar yang diletakkan di kamar Rasulullah Saw. Sedangkan Abu Bakar RA menyerahkan semua hartanya dan Umar RA menyerahkan separuh dari hartanya.

Beberapa orang dari kaum Muslimin yang dikenal dengan panggilan al-Buka‘un (orang-orang yang menangis) datang kepada Rasulullah SAW meminta kendaraan guna pergi berjihad bersamanya, tetapi Nabi Saw menjawab mereka, Aku tidak punya kendaraan lagi untuk membawa kalian.” Kemudian mereka kembali dengan meneteskan air mata karena sedih tidak dapat ikut serta berjihad.

Rasulullah Saw keluar bersama sekitar 30 ribu personel kaum Muslimin. Di antara kaum Muslimin ada beberapa orang yang tidak ikut berperang, bukan karena ragu dan bimbang, yaitu Ka’ab bin Malik, Murarah bin Ar Rabi’, Hilal bin Umaiyah, dan Abu Khaitsamah. Mereka ini seperti dikatakan oleh Ibnu Ishaq adalah orang-orang yang jujur dan tidak diragukan lagi keislaman mereka. Hanya Abu Khaitsamah yang kemudian menyusul Rasulullah SAW di Tabuk.

Itulah watak orang munafik. Karena keimanannya palsu, kemuslimannya hanya pura-pura atau tidak sungguh-sungguh, mereka justru menghambat perjuangan kaum Muslimin.*

Sidang Isbat Idul Fitri 2019 Senin, Sejumlah Umat Islam Sudah Lebaran

Sidang Isbat Idul Fitri 2019 Senin, Sejumlah Umat Islam Sudah Lebaran
Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat penetapan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah, Senin (3//6/2019).

Sidang penentuan Idul Fitri 2019 itu akan diikuti Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sejumlah ulama, tokoh ormas Islam, pakar astronomi, delegasi negara sahabat, dan unsur terkait.

Sidang isbat akan diawali paparan mengenai posisi bulan sabit baru (hilal) berdasarkan data astronomi (falak) oleh pakar astronomi. Kegiatan dilanjutkan dengan Salat Magrib kemudian dilakukan sidang tertutup. Setelah itu, hasil sidang isbat akan diumumkan dalam jumpa pers.

Kemenag menyebar para pemantau hilal di 105 titik di seluruh Indonesia. Apabila bulan baru (hilal) terlihat perukyat beberapa saat setelah Magrib tiba (qobla ghurub), maka pada petang ini ditetapkan sudah memasuki 1 Syawal. Artinya, umat Islam Indonesia akan merayakan Lebaran atau idu fitri pada Selasa (4/6/2019) dan puasa Ramadhan berlangsung selama 29 hari.

Jika hilal tidak disaksikan para perukyat, maka pada Senin petang ditetapkan sebagai malam 30 Ramadan dan 1 Syawal jatuh pada Rabu (5/6/2019). Dengan begitu, jumlah hari puasa 30 hari.

Sejumlah Umat Islam Sudah Lebaran

Meski Sidang Isbat baru akan dilakukan Senin sore, namun sebagian umat Islam sudah berlebaran Senin 3 Juni 2019.

Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Pauh, Kota Padang, melaksanakan salat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah di Musala Baitul Makmur, Pauh, Padang, Senin, (3/6/2019).

Salat dimulai pukul 08:00 WIB yang sebelumnya diawali dengan takbiran. Salat Idul Fitri diimami pimpinan Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Buya Syafri Malin Mudo. Sedangkan Afrizal Tanjung bertindak sebagai khatib yang memberikan kutbah dalam bahasa Arab.

Usai salat, sesama jemaah berkumpul di musala sambil menikmati hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan sebagai bentuk menjaga silaturahmi. Setelah selesai masing-masing jemaah kembali pulang.

Shalat Id atau lebaran Senin juga dilakukan Jemaah An-Nadzir di Gowa, Sulawesi Selatan.

Jemaah yang identik dengan pakaian serba hitam dan rambut pirang ini melaksanakan salat Idul Fitri di halaman Masjid baitul Muqaddis, perkampungan Jemaah An Nadzir, Romang Lompoa, Kecamatan Bonto Marannu, Gowa.

Jamaah An-Nadzir menentukan 1 Syawal 1440 Hijriah dengan cara memantau bulan. Pemantuan itu dilakukan oleh Tim Sembilan yang dibentuk secara khusus oleh seluruh pengikut jemaah An Nadzir.

Masyarakat Desa Lek-Lek, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, juga melaksanakan Shalat Id dan memulai perayaan Idul Fitri lebih dulu.

Warga yang mengikuti Tarekat Syattariyah, Habib Muda Peulukung dan anak habib yakni Abu Habib Qudrat Seunagan, Kabupaten Nagan Raya itu, juga melaksanakan ibadah puasa lebih awal daripada yang ditetapkan pemerintah yakni pada 4 April 2019.

Selain di Kecamatan Panton Reu, hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, sebagian besar masyarakat juga melaksanakan shalat Ied pada hari ini (Senin).

Sidang Isbat Idul Fitri 2019 Senin, Sejumlah Umat Islam Sudah Lebaran

Sumber:
https://www.inews.id/news/nasional/kemenag-gelar-sidang-isbat-penentuan-hari-raya-idul-fitri-siang-ini/561437
https://www.tagar.id/pengikut-thariqat-syattariyah-hari-ini-idul-fitri
http://modusaceh.co/news/hari-ini-warga-panton-rhe-sudah-lebaran-idul-fitri/index.html
https://langgam.id/jemaah-tarekat-naqsabandiyah-di-padang-sudah-rayakan-idul-fitri/
https://www.beritaterkini.co/2019/06/jemaah-nadzir-di-sulsel-sudah-selesai.html


Contact Form

Name

Email *

Message *