Cara Menjawab Salam 'Assalamualaikum' dari Non-Muslim

Cara Menjawab Salam 'Assalamualaikum' dari Non-Muslim

UCAPAN salam "Assalamu'alaikum..." (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ) adalah salam Islam atau salam khusus di kalangan umat Islam. Mengucapkannya sunah, namun menjawabnya wajib.

Ucapan salam dalam Islam selengkapnya adalah Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhuh (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) artinya “Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah untukmu” atau “semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu.”

Jawaban salam Islam selengkapnya adalah  wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh (وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) yang artinya "Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah juga kepada kalian".

Cara Menjawab Salam 'Assalamualaikum' dari Non-Muslim

Bagaimana jika orang nonmuslim alias kafir memberi salam "Assalamu'alaiku..." kepada kita (muslim)? Bagaimana cara menjawabnya?

Jika seorang nonmuslim mengucapkan salam Assalamu'alaikum, maka jawabnya adalah: WA'ALAIKA, yang artinya "dan semoga bagi Anda juga".

Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hathim berikut ini.

Suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, seseorang datang dan mengucapkan, "Assalaamualaikum". Maka Rasulullah SAW pun membalas dengan ucapan "Waalaikum salaam wa rahmah".

Orang kedua datang dengan mengucapkan "Assalaamualaikum wa rahmatullah". Maka Rasulullah membalas dengan, "Waalaikum salaam wa rahmatullah wabarakatuh".

Ketika orang ketiga datang dan mengucapkan "Assalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu." Rasulullah SAW menjawab "Waalaika".

Orang yang ketiga terperanjat dan bertanya, namun tetap dengan rendah hati, "Wahai Rasulullah, ketika mereka mengucapkan salam yang ringkas kepadamu, engkau membalas dengan salam yang lebih baik kalimatnya. Sedangkan aku memberi salam yang lengkap kepadamu, aku terkejut engkau membalasku dengan sangat singkat hanya dengan waalaika."

Rasulullah SAW menjawab, "Engkau sama sekali tidak menyisakan ruang bagiku untuk yang lebih baik. Karena itulah aku membalasmu dengan ucapan yang sama sebagaimana yang dijabarkan Allah di dalam Al-Quran." Ternyata orang ketiga tersebut adalah orang kafir.

Demikian Cara Menjawab Salam 'Assalamualaikum' dari Non-Muslim. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Arti Salam Islam Assalamu'alaikum dan Alasan Khusus untuk Kaum Muslim

Arti Salam Islam Assalamu'alaikum dan Alasan Khusus untuk Kaum Muslim

Salam Islam yakni ucapan Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhuh (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) menjadi perbincangan.

Pemicunya, imbauan Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur (MUI Jatim) agar para pejabat Muslim tidak memakai salam pembuka semua agama (lintas agama) saat sambutan resmi.

Dijelaskan MUI Jatim dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019, mengucapkan salam semua agama merupakan bid’ah, mengandung nilai syubhat, dan patut dihindari umat Islam.

Alasannya, dalam Islam, salam diartikan sebagai doa. Sedangkan doa merupakan ibadah, sehingga tidak baik jika mencampuradukkan ibadah agama satu dengan yang lain.

MUI Pusat menyatakan setuju dengan imbauan MUI Jatim. MUI Pusat menyatakan, imbauan agar masyarakat dan pejabat muslim tidak mengucapkan salam pembuka semua agama sesuai dengan ketentuan Al Quran dan hadis.

Fatwa itu juga dinilai tidak mengandung intoleransi. Alasannya, setiap agama memiliki ajaran dan sistem kepercayaannya masing-masing.

Imbauan itu memicu kontroversi. Ada pejabat yang mengatakan, dirinya tidak akan mematuhi imbauan itu. Alasannya, dirinya dipilih oleh pemeluk semua agama.

Sang pejabat muslim itu tidak paham bahwa imbauan MUI tidak terkait dengan konstituen, melainkan murni masalah akidah dan tidak bermaksud mengabaikan umat agama lain.

Hukum Mengucapkan Salam

Hukum mengucapkan salam dalam Islam adalah sunah dan menjawabnya adalah wajib.

Hasan Al-Basri berkata, "Mengawali mengucapkan salam sifatnya adalah sukarela, sedangkan membalasnya adalah kewajiban".

Makna Salam Islam Assalamu'alaikum

Salam Islam Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhuh (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) artinya “Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah untukmu” atau “semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu.”

Dalam Islam, hukum engucapkan salam adalah sunnah (dianjurkan) sedangkan bagi yang mendengarnya wajib untuk menjawabnya dengan ucapan wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh (وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) yang artinya "Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah juga kepada kalian".

Salam Islam yang ringkas adalah Assalamu'alaikum (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ) yang artinya "semoga keselamatan terlimpah kepada kalian" dengan jawaban wa'alaikum salam (وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ) yang artinya "dan semoga keselamatan juga terlimpah kepada Anda".

Dalam menjawab salam, sebaiknya lebih lengkap dari pemberi salam, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا

"Apabila kamu diberi penghormatan/salam dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS.An-Nisa’: 86)

Jadi, sebaiknya, jawaban salam adalah lengkap, yakni wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hathim.

Suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, seseorang datang dan mengucapkan, "Assalaamualaikum". Maka Rasulullah SAW pun membalas dengan ucapan "Waalaikum salaam wa rahmah".

Orang kedua datang dengan mengucapkan "Assalaamualaikum wa rahmatullah". Maka Rasulullah membalas dengan, "Waalaikum salaam wa rahmatullah wabarakatuh".

Ketika orang ketiga datang dan mengucapkan "Assalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuhu." Rasulullah SAW menjawab "Wa'alaika".

Orang yang ketiga terperanjat dan bertanya, namun tetap dengan rendah hati, "Wahai Rasulullah, ketika mereka mengucapkan salam yang ringkas kepadamu, engkau membalas dengan salam yang lebih baik kalimatnya. Sedangkan aku memberi salam yang lengkap kepadamu, aku terkejut engkau membalasku dengan sangat singkat hanya dengan wa'alaika."

Rasulullah SAW menjawab, "Engkau sama sekali tidak menyisakan ruang bagiku untuk yang lebih baik. Karena itulah aku membalasmu dengan ucapan yang sama sebagaimana yang dijabarkan Allah di dalam Al-Quran." Ternyata orang ketiga tersebut adalah orang kafir.

Hadits Berkaitan dengan Salam 

Memberi salam dianjurkan Islam kepada sesama muslim, baik yang dikenal maupun yang tidak.

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ ؟ قَالَ :” تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ 

"Amalan apa yang paling baik dalam Islam?” Rasulullah Saw menjawab,”Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali.” (HR Bukhari).

Memberi salam adalah ibadah seperti halnya berlaku adil dan berinfak.

ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ

“Tida perkara yang apabila seseorang memiliki ketiga-tiganya, maka akan sempurna imannya : Bersikap adil pada diri sendiri, mengucapkan salam pada setiap orang, dan berinfaq ketika kondisi pas-pasan.” (HR Bukhari)

Assalamualaikum merupakan salam dalam Bahasa Arab, dan digunakan oleh kultur Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW yang dapat merekatkan Ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia.

Sebelum terbitnya fajar Islam, orang Arab biasa menggunakan ungkapan-ungkapan yang lain, seperti Hayakallah yang artinya "semoga Allah menjagamu tetap hidup", kemudian Islam memperkenalkan ungkapan Assalamualaikum.

Tidak seperti kebiasaan orang Arab yang mendoakan untuk tetap hidup, tetapi Salam mendoakan agar hidup dengan penuh kebaikan.

Salam mengingatkan kita bahwa kita semua bergantung kepada Allah SWT. Tak satupun makhluk yang bisa mencelakai atau memberikan manfaat kepada siapapun juga tanpa perkenan Allah SWT.

Makna salam Islam antara lain dijelaskan pula oleh Ibnu Al-Arabi di dalam Ahkamul Quran.

"Tahukah kamu arti Salam? Orang yang mengucapkan Salam itu memberikan pernyataan bahwa kamu tidak terancam dan aman sepenuhnya dari diriku".

Dengan demikian, makna salam dalam Islam (Assalamu'alaikum) adalah sebagai berikut:
  1. Mengingat Allah SWT (dzikir).
  2. Pengingat diri.
  3. Ungkapan kasih sayang antar sesama Muslim.
  4. Doa yang istimewa.
  5. Pernyataan atau pemberitahuan bahwa Anda aman dari bahaya tangan dan lidahku.

Dalam sebuah hadits dikatakan: "Muslim sejati adalah bahwa dia tidak membahayakan setiap Muslim yang lain dengan lidahnya dan tangannya".

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Kamu tidak dapat memasuki Surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sehingga kamu berkasih-sayang satu sama lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang jika kamu kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih-sayang di antara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal." (HR Muslim).

Abdullah bin Mas'ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda,

"Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jamaah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam." (Musnad Al Bazar, Al Mujam Al Kabir oleh At Tabrani).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam."

Demikian ulasan tentang arti salam Islam Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh yang sering disingkat dalam bahasa tulisan dengan Assalamu'alaikum Wr. Wb. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Keutamaan dan Manfaat Memelihara Kucing

Kutamaan dan Manfaat Memelihara Kucing

KUCING adalah hewan kesayangan Rasulullah Saw. Kucing yang dipelihara Nabi Saw diberi nama Mueeza. Berikut ini Keutamaan dan Manfaat Memelihara Kucing - Perspektif Islam, Medis, dan Psikologis.

Sebuah riwayat populer menyebutkan, suatu saat, di kala Nabi Saw hendak mengambil jubah, Mueeza sedang terlelap tidur di atas jubah. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi Saw pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.

Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk kepada Nabi. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak tiga kali.

Dalam sebuah hadits disebutkan,  dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

“Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik).

Memelihara kucing merupakan bagian dari perilaku Rasul yang harus kita tiru. Tentu Rasul punya alasan bagus mengapa beliau menyayangi kucing. Faktanya memang, memelihara kucing memiliki banyak manfaat, faidah, atau keutamaan, dari pahala, rezeki, hingga keshatan. Berikut ini ulasannya.

Keutamaan Memelihara Kucing 

1. Rahmat Allah SWT

Orang yang menyayangi hewan, sekalipun hewan tersebut adalah hewan sembelih, akan mendapatkan Allah SWT pada hari kiamat.

“Barangsiapa menyayangi meskipun terhadap hewan sembelihan, niscaya Allah akan merahmatinya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

2. Terapi mental

Kucing bisa menghilangkan rasa kesepian atau kesendirian. Orang yang memelihara kucing seringkali mengajak kucingnya mengobrol (berbicara) dan bermain. Itulah yang dapat menjadi obat terapi untuk mental atau emosi yang sedang tidak stabil.

Kucing bisa menjadi penghilang stres. Dalam sebuah penelitian, para pemilik kucing memiliki denyut jantung istirahat yang rendah dan tekanan darah yang lebih rendah, ketimbang mereka yang tidak memiliki hewan peliharaan.

Studi menunjukkan, betapa besar dukungan emosi yang didapatkan seseorang dari kucing peliharaannya berdasarkan bagaimana pemilik tersebut mencari mereka pada situasi stres. 

3. Empati

Memiliki hewan peliharaan seperti kucing dapat membuat seseorang memiliki rasa empati yang tinggi. Ketika kita memiliki hewan peliharaan, kita mencoba untuk mengerti apa yang dirasakan hewan tersebut. Maka ketika kita telah berempati terhadap hewan, tentu kita akan memiliki rasa empati kepada sesama.

4. Sedekah

Islam selalu mengajarkan agar umatnya berbuat baik keepada setiap makhluk hidup, dan menganjurkan umatnya untuk senantiasa bersedekah.

Sedekah tidak hanya dapat dilakukan kepada sesama,, namun juga dapat dilakukan kepada hewan.

“Pada setiap sedekah terhadap makhluk yang memiliki hati (jantung) yang basah (hidup) akan mendapatkan pahala kebaikan. Seorang musllim yang menanam tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang kemudian dimakan oleh burung-burung, manusia, atau binatang, maka baginya sebagai sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Diampuni Dosa

Menolong atau memberi makan dan minum hewan merupakan sebuah kebaikan, bahkan dosa terampuni.

“Seorang wanita pelacur melihat seekor anjing di atas sumur dan hampir mati karena kehausan. Lalu wanita tersebut melepas sepatunya, diikatnya dengan kerudungnya dan diambilnya air dari sumur (lalu diminumkan ke anjing itu) dengan perbuatannya itu dosanya diampuni” (HR. Bukhari).

Manfaat Ilmiah Memelihara Kucing

Penelitian menunjukan, hanya dengan menonton video kucing di internet, dapat meningkatkan energi seseorang dan menciptakan emosi positif.

Dikutip dari Mentalflos, setidaknya ada 6 manfaat jika seseorang menjadi seorang pemilik kucing.

1. Baik untuk Lingkungan Sekitar

Sebuah studi pada 2009 menemukan, sumber daya yang dibutuhkan untuk memberi makan seekor anjing selama masa hidupnya, menciptakan jejak kaki yang sama seperti mobil atau sangat kotor.

Kucing — yang makan lebih sedikit secara umum dan lebih cenderung memakan ikan daripada produk yang beraroma jagung atau sapi, tidak meninggalkan kotoran sebanyak anjing.

2. Orang Pintar

Sebuah survei 2010 terhadap pemilik hewan peliharaan Inggris oleh University of Bristol menemukan, orang yang memiliki kucing lebih mungkin memiliki gelar sarjana daripada rekan-rekan mereka yang suka anjing.

Pada 2014, seorang peneliti di Wisconsin mensurvei 600 mahasiswa dan menemukan bahwa pemilik kucing sebenarnya lebih pintar.

3. Pemilik Kucing Punya Jantung yang Sehat

Memiliki hewan peliharaan apa pun baik untuk jantung seseorang. Kucing, khususnya, menurunkan tingkat stres seseorang - mungkin karena mereka tidak membutuhkan perhatian dan usaha lebih banyak seperti mengurus anjing - dan menurunkan jumlah kecemasan dalam hidup seseorang.

Membelai kucing memiliki efek menenangkan yang positif. Satu studi menemukan bahwa selama periode 10 tahun, pemilik kucing 30 persen lebih kecil kemungkinannya meninggal karena serangan jantung atau stroke daripada pemilik non-kucing (walaupun ini mungkin hanya karena pemilik kucing lebih santai dan memiliki stres yang lebih rendah pada umumnya).

4. Setara Memiliki Pasangan Romantis

Kucing bisa menjadi sahabat, terutama bagi wanita. Sebuah penelitian di Austria pada 2003 menemukan, memiliki kucing di rumah adalah setara emosional dengan memiliki pasangan yang romantis.

Selain sering melakukan kontak, penelitian menunjukkan kucing akan mengingat kebaikan yang ditunjukkan kepada mereka dan dapat membalas budi.

Tetapi kucing benar-benar memiliki keunggulan dalam hubungan ini. Setelah ribuan tahun domestikasi, kucing telah belajar bagaimana membuat suara setengah mendengkur atau setengah melolong yang terdengar sangat mirip tangisan bayi manusia. Dan karena otak manusia diprogram untuk merespons permintaan anak-anak bulu tersebut, hampir mustahil untuk mengabaikan apa yang diinginkan kucing ketika ia menuntutnya seperti itu.

5. Tidur Lebih Tenang

Beberapa penelitian dan jajak pendapat di Inggris telah menemukan bahwa orang (terutama wanita) lebih suka tidur dengan kucing mereka daripada dengan pasangan mereka, dan mereka bahkan melaporkan tidur lebih baik dengan kucing daripada dengan manusia.

Sebuah penelitian baru-baru ini dari Pusat Klinik Obat Tidur Mayo menunjukkan, 41 persen orang dalam penelitian itu mengindikasikan mereka tidur lebih nyenyak karena hewan peliharaan mereka, sementara hanya 20 persen mengatakan bahwa itu menyebabkan gangguan.

6. Kucing Bisa Selamatkan Hidup Pemilik

Kucing memiliki reputasi sebagai hewan yang menyendiri dan tidak peduli dengan manusia, tetapi mereka telah menyelamatkan banyak nyawa selama bertahun-tahun.

Seekor kucing di Inggris memperingatkan manusia ketika dia akan mengalami serangan epilepsi, sementara seekor kucing di Montana membangunkan dua manusia ketika pipa gas mulai bocor.

Petugas pemadam kebakaran memberi tahu pasangan itu bahwa rumah itu bisa dengan mudah meledak jika bukan karena intervensi kucing.

Seekor kucing bahkan telah menerima medali tertinggi yang tersedia untuk hewan militer. Simon si kucing berada di atas kapal HMS Amethyst, yang berlayar di Yangtze pada 1949 ketika sebuah shell menabrak kapal, menewaskan beberapa marinir dan melukai Simon. Peristiwa itu menandai dimulainya pengepungan 101 hari kapal, yang akan dikenal sebagai Insiden Yangtze.

Simon disembuhi, dan meskipun terluka, melakukan tugas kapalnya dan mulai menangkap tikus yang mengancam kapal, pasokan makanan, serta memberikan dukungan moral bagi para pelaut yang masih hidup. Simon meninggal tidak lama setelah kapal kembali ke Inggris, tetapi ia secara anumerta dianugerahi Medali Dickin Inggris, yang dikenal sebagai hewan Victoria Cross, karena "perilaku tertinggi."

Manfaat Merawat Kucing: Sehat!

1. Terapi Autisme

Mengelus kucing merupakan terapi yang baik untuk autisme. Pasalnya, kucing juga bisa merasakan perasaan yang ada pada pemiliknya.

2. Dapat Terapi Dengkur Kucing

Kalau manusia yang mendengkur, mungkin mengganggu. Namun, kucing punya dengkur yang menyenangkan untuk manusia. Suara dengkur kucing bisa meningkatkan kesehatan tulang dan mengurangi rasa sakit.

3. Meningkatkan Imun Bayi

Penelitian menyebutkan, anak-anak yang tumbuh bersama hewan peliharaan relatif lebih sehat dibanding mereka yang tidak melakukannya.

4. Meningkatkan Mood

Menghabiskan waktu bersama kucing bisa membantu meningkatkan suasana hati. Mainlah bersama kucing saat sedang terpuruk atau mengalami hari yang buruk.

5. Punya Teman Ngobrol

Kucing bisa diajak ngobrol. Memang kucing tidak akan menjawab yang ditanyakan. Namun, melakukan itu bisa buat perasaan perasaan lebih baik

6. Lebih bahagia 

Berdasarkan hasil penelitian di Australia, para pemilik kucing cenderung memiliki kesehatan kejiwaan yang lebih baik ketimbang mereka yang tak memiliki binatang peliharaan.

Dalam kuisioner yang disertakan pada riset itu, para pemilik kucing mengaku merasa lebih bahagia, lebih percaya diri, dan minim kegelisahan. Mereka pun mengaku tidur lebih nyenyak, lebih fokus, hingga lebih mudah menghadapi permasalahan kehidupan.

7. Baik bagi Anak-Anak

Memelihara kucing juga baik bagi mereka yang sudah memiliki anak. Anak-anak yang memiliki keterikatan kuat dengan kucing peliharaan, akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Demikian kesimpulan dalam sebuah survei dengan lebih dari 2.200 responden anak di Skotlandia yang berusia 11-15 tahun.

Semakin terikat dengan hewan peliharaan, maka anak-anak akan semakin sehat, enerjik, penuh perhatian, tidak kesepian, serta lebih mampu menikmati waktu sendiri. Dengan postur tidur seperti pose yoga, kucing juga bisa membuat mood jelek lenyap.

8. Bangkitkan Mood

Ada pula penelitian lain yang menyebut, orang-orang yang memelihara kucing disebut memiliki lebih sedikit perasaan emosi negatif dan keterasingan, ketimbang mereka yang tidak memelihara kucing.

Faktanya, mereka yang single namun memelihara kucing, cenderung lebih jarang memiliki mood jelek.

Bahkan, kucing yang kita lihat di internet pun bisa membuat kita tersenyum. Orang-orang yang menyaksikan video kucing secara online mengatakan, kecemasan dan kesedihan mereka berkurang serta merasakan tumbuhnya emosi positif.

Video Kucing Lucu



9. Hubungan yang baik 

Kucing adalah sesuatu yang kita perhatikan dan (yang menurut kita) memerhatikan kita. Orang-orang yang memelihara hubungan ini juga akan mendapatkan manfaat pada hubungan mereka dengan sesama manusia.

Sebuah penelitian menemukan, para pemilik kucing cenderung lebih sensitif secara sosial, memercayai orang lebih besar, dan menyukai orang melebihi orang-orang yang tidak punya hewan peliharaan.

"Perasaan positif tentang kucing atau anjing peliharaan membawa perasaan positif terhadap sesama manusia," tulis Rose Perrine dan Hannah Osbourne dari Eastern Kentucky University.

Demikian Kutamaan dan Manfaat Memelihara Kucing. Bagaimana pengalaman Anda? (www.risalahislam.com).*

Keutamaan Bulan Rabiul Awal dan Hukum Maulid Nabi Saw

Keutamaan Bulan Rabiul Awal, Bulan Maulid Nabi Muhammad Saw


Bulan Rabiul Awal (Rab'ul Awwal) adalah bulan istimewa bagi umat Islam. Bulan ini disebut juga bulan Maulid Nabi karena di bulan inilah Nabi Muhammad Saw dilahirkan.

Berbagai riwayat menyebutkan, Muhammad bin Abdullah lahir Senin, 12 Rabiul Awal, tahun Gajah (Fil). Karenanya, umat Islam biasa merayakan kelahiran (Maulid) Nabi alias "Muludan" tiap tanggal 12 Rabiul Awal.

Selain sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw, terdapat sejumlah keutamaan bulan Rabiul Awal lainnya, seperti hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Kota Mekah ke Kota Madinah, dibangunnya masjid pertama di dunia, pertama kali digelar sholat Jumat, dan wafatnya Rasulullah Saw.

Rabiul Awal merupakan bulan ketiga dalam sistem penanggalan (kalender) Hijriah, setelah bulan Muharram dan Safar. 

Bulan ini menjadi salah satu momentum efektif untuk sosialisasi atau mendakwahkan teladan akhlak Rasulullah Saw, serta sejarah kehidupan, perjuangan, bisnis, politik, strategi kepemimpinan, dan cara ibadah beliau (sunnah).

Imam al-Suyuthi dari kalangan ulama Syafi’iyyah juga mengatakan, Maulid Nabi Saw merupakan kegiatan positif yang mendatangkan pahala. Ia menganjurkan pada bulan Rabiul Awal umat Islam meluapkan kegembiraan dan rasa syukur dengan cara memperingati kelahiran Rasulullah, berkumpul, membagikan makanan, dan beberapa ibadah lain.

Karena merupakan bulan kelahiran Nabi Saw, umat Islam dianjurkan para ulama untuk memperbanyak sholawat . Kecintaan kepada Rasulullah SAW juga harus ditumbuhkembangkan di bulan ini, dengan mendalami syariat Islam yang didakwahkan beliau.

Imam Syafi'i Rohimahullah mengatakan, "Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan dia akan dimasukkan dalam syurga na'im."

Keutamaan Bulan Rabiul Awal Selain Maulid Nabi Muhammad Saw

Pada ahli sejarah berselisih pendapat dalam menentukan sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw, terutama yang terkait dengan bulan, tanggal, hari, dan tempat beliau dilahirkan.

Pendapat yang paling masyhur menyatakan beliau dilahirkan di bulan Rabi’ul Awal. Ada juga pendapat yang menyebutkan Nabi Saw dilahirkan di bulan Safar, Rabi’ul Akhir, dan bahkan ada yang berpendapat beliau dilahirkan di bulan Muharram tanggal 10 (hari Asyura). 

Sebagian yang lain berpendapat bahwa beliau lahir di bulan Ramadlan karena bulan Ramadlan adalah bulan di mana beliau mendapatkan wahyu pertama kali dan diangkat sebagai nabi dan utusan Allah (Rasulullah). 

Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari senin. Kemudian beliau menjawab: “Hari senin adalah hari aku dilahirkan dan pertama kali aku mendapat wahyu.” 

Soal tanggal lahir Nabi Saw, ada yang mengatakan tanggal 2 Rabi’ul Awal, tanggal 8, 10, 12, 17 Rabiul Awal, dan 8 hari sebelum habisnya bulan Rabi’ul Awal.

Pendapat yang lebih kuat, berdasarkan penelitian ulama ahli sejarah, Muhammad Sulaiman Al-Mansurfury dan ahli astronomi Mahmud Basya, hari Senin pagi bertepatan dengan permulaan tahun dari peristiwa penyerangan pasukan gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan 20 atau 22 april tahun 571, hari senin tersebut bertepatan dengan tanggal 9 Rabi’ul Awal.

Para ulama ahli sejarah menyatakan, Nabi Saw meninggal pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H dalam usia 63 tahun lebih empat hari.

Sejarah Maulid Nabi

Sebuah catatan menunjukkan, kelompok umat Islam yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi Saw adalah kelompok Bathiniyah. Mereka menamakan dirinya sebagai Bani Fatimiyah dan mengaku sebagai keturunan Ahli Bait (keturunan Nabi Saw).

Catatan lainnya menyebutkan, peringatan Maulid Nabi Saw pertama kali dilakukan Shalahuddin Al-Ayyubi saat memimpin pasukan umat Islam menaklukkan Yerusalem. 

Saat itu, Shalahuddin bermaksud membangkitkan semangat juang pasukan, dengan mengenang sejarah perjuangan Nabi Saw dalam mendakwahkan risalah Islam.

Mana catatan sejarah yang shahih? Wallahu a'lam. Terpenting bagi kita adalah selalu mengenang perjuangan Nabi Muhammad dalam mendakwahkan Islam, meneruskan perjuangannya dalam menegakkan Islam, dan meneladani akhlak dan ibadah beliau (Sunah Rasul).

Sejarah Peringatan Maulid Nabi

Hukum Peringatan Maulid Nabi

Terdapat dua pendapat mengenai hukum merayakan maulid nabi. Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah bidah alias perbuatan atau cara yang tidak pernah dikatakan atau dicontohkan Rasulullah atau sahabatnya, kemudian dilakukan seolah-olah menjadi ajaran Islam.

Kedua, hukum merayakan Maulid Nabi itu mubah (boleh). Pendapat kedua ini diterangkan Ustadz Abdul Somad (UAS).

Dilansir suara, menurut UAS, ada sekitar 300 ribu hadits yang menerangkan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw boleh dilakukan. 

Yang menganggap peringatan ini bidah, kata Abdul Somad, hanya sebagian kecil ulama Arab Saudi.

UAS memaparkan beberapa hadits serta pendapat ulama mengenai dasar diperbolehkannya Maulid Nabi.

“Manfaat positif peringatan Maulid Nabi Muhammad salah satunya adalah orang-orang akan bersilaturahmi satu sama lain. Bukan setahun sekali, melainkan setiap minggu di hari Senin,” katanya.

Ia menjelaskan, Rasulullah SAW pernah ditanya mengapa melaksanakan puasa hari Senin. Salah satunya adalah Rasulullah SAW ternyata mengenang hari lahirnya sendiri. Ustaz Abdul Somad mengutip salah satu hadis HR Muslim bahwa Rasulullah SAW menjawab, "Pada hari itu aku dilahirkan dan hari aku dibangkitkan (atau hari itu diturunkan [Alquran] kepadaku).

Alasan lainnya merujuk pada penafsiran Rasulullah terhadap kalimat Ayyamillah dalam Qs Ibrahim [14]: 5 yang berbunyi, "Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah."

"Imam an-Nisa'i Abdullah bin Ahmad dalam Zawa'id al-Musnad, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari Ubai bin Ka'ab meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa Rasulullah SAW menafsirkan kalimat Ayyamillah sebagai nikmat-nikmat dan karunia Allah SWT.

“Dengan demikian maka makna ayatnya adalah ‘Dan ingatkanlah mereka kepada nikmat-nikmat dan karunia Allah’. Dan kelahiran Muhammad SAW adalah nikmat dan karunia terbesar yang harus diingat dan disyukuri."

Ustaz Abdul Somad juga memaparkan pendapat dari Ibu Taumiah. Ibnu Taimiah yang menjelaskan bahwa mengagungkan hari lahir Nabi Muhammad SAW dan menjadikannya sebagai perayaan, maka ia mendapat balasan pahala besar karena kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW.

Pendapat lain yang juga dijelaskan Ustaz Abdul Somad berasal dari Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani.

"Hukum asal melaksanakan maulid adalah bid'ah, tidak terdapat dari seorangpun dari kalangan Salafushshalih dari tiga abad (pertama). Akan tetapi maulid itu juga mengandung banyak kebaikan dan sebaliknya. Siapa yang dalam melaksanakannya mencari kebaikan-kebaikan dan menghindari yang tidak baik, maka maulid itu adalah bid'ah hasanah, begitulah pendapat Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani,” pungkas UAS. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *