Arbain Nawawiyah Hadits ke-6 tentang Halal, Haram, Syubhat, dan Hati

Hadits Arba'in Nawawiyah ke-6 berisi penjelasan tentangHalal, Haram, dan Syubhat. Syubhat yaitu antara haram dan halal. Syubhat sebaiknya dihindari atau tidak diamalkan. Rasulullah juga menerangkan tentang hati (al-qoblu) sebagai penentu perbuatan baik-buruk seseorang.

Arbain Nawawiyah Hadits ke-6

Halal, Haram, Syubhat, dan Hati

عن أبي عبدالله النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إن الحلال بين و الحرام بين , وبينهما مشتبهات قد لا يعلمهن كثير من الناس , فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه , ومن وقع في الشبهات فقد وقع في الحرام , كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه , ألا وأن لكل ملك حمى , ألا وإن حمى الله محارمه , إلا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله , وإذا فسدت فسد الجسد كله , ألا وهي القلب

Dari Abu 'Abdillah An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: 

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar-samar (mutasyabihat, syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar (syubhat) itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus kedalamnya. 

Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Alloh apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.

(HR Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Penjelasan:

Hadits ini merupakan salah satu pokok syari’at Islam, yaitu tentang hal-hal yang boleh dilakukan (halal) dan tidak boleh dilakukan (hara), serta antara boleh dan haram (syubhat). 

Abu Dawud As Sijistani berkata, “Islam bersumber pada empat (4) hadits.” Dia sebutkan diantaranya adalah hadits ini. Para ulama telah sepakat atas keagungan dan banyaknya manfaat hadits ini.

Kalimat, “Sesungguhnya yang Halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar” maksudnya segala sesuatu terbagi kepada tiga macam hukum: 
  1. Halal, 
  2. Haram, 
  3. Syubhat. 
Sesuatu yang ditegaskan halalnya oleh Allah, maka dia adalah halal, seperti firman Allah: 
  • QS. Al-Maa’idah 5 : 5: ”Aku Halalkan bagi kamu hal-hal yang baik dan makanan (sembelihan) ahli kitab halal bagi kamu” dan firman-Nya dalam. 
  • QS. An-Nisaa 4:24: “Dan dihalalkan bagi kamu selain dari yang tersebut itu”.
Yang Allah nyatakan dengan tegas haramnya, maka dia menjadi haram, seperti firman Allah dalam:
  • QS. An-Nisaa’ 4:23: “Diharamkan bagi kamu (menikahi) ibu-ibu kamu, anak-anak perempuan kamu …..” 
  • QS. Al-Maa’idah 5:96: “Diharamkan bagi kamu memburu hewan didarat selama kamu ihram”. 
Allah SWT juga mengharamkan perbuatan keji yang terang-terangan dan yang tersembunyi. Setiap perbuatan yang Allah mengancamnya dengan hukuman tertentuatau siksaan atau ancaman keras, maka perbuatan itu haram.

Pengertin Syubhat

Yang syubhat (samar) yaitu setiap hal yang dalilnya masih dalam pembicaraan atau pertentangan, maka menjauhi perbuatan semacam itu termasuk wara’. 

Para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian syubhat yang diisyaratkan oleh Rasulullah . Pada hadits tersebut, sebagian ulama berpendapat, hal semacam itu haram hukumnya berdasarkan sabda Rasulullah: 

"Barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya”. 

Barangsiapa tidak menyelamatkan agama dan kehormatannya, berarti dia telah terjerumus kedalam perbuatan haram. 

Sebagian yang lain berpendapat bahwa hal yang syubhat itu hukumnya halal dengan alas an sabda Rasulullah:  “Seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang”.

Kalimat itu menunjukkan syubhat itu halal, tetapi meninggalkan yang syubhat adalah sifat yang wara’ (kehati-hatian). 

Sebagian lain lagi berkata, syubhat yang tersebut pada hadits ini tidak dapat dikatakan halal atau haram, karena Rasulullah Saw menempatkannya di antara halal dan haram, oleh karena itu kita memilih diam saja, dan hal itu termasuk sifat wara’ juga.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari ‘Aisyah, ia berkata: 

“Sa’ad bin Abu Waqash dan ‘Abd bin Zam’ah mengadu kepada Rasulullah tentang seorang anak laki-laki. Sa’ad berkata : Wahai Rasulullah anak laki-laki ini adalah anak saudara laki-lakiku.’Utbah bin Abu Waqash. Ia (‘Utbah) mengaku bahwa anak laki-laki itu adalah anaknya. Lihatlah kemiripannya” 

Sedangkan ‘Abd bin Zam’ah berkata; “ Wahai Rasulullah, Ia adalah saudara laki-lakiku, Ia dilahirkan ditempat tidur ayahku oleh budak perempuan milik ayahku”, lalu Rasulullah memperhatikan wajah anak itu (dan melihat kemiripannya dengan ‘Utbah) maka beliau Rasulullah bersabda: 

“Anak laki-laki ini untukmu wahai ‘Abd bin Zam’ah, anak itu milik laki-laki yang menjadi suami perempuan yang melahirkannya dan bagi orang yang berzina hukumannya rajam. Dan wahai Saudah, berhijablah kamu dari anak laki-laki ini” sejak saat itu Saudah tidak pernah melihat anak laki-laki itu untuk seterusnya.

Rasulullah Saw telah menetapkan bahwa anak itu menjadi hak suami dari perempuan yang melahirkannya, secara formal anak laki-laki itu menjadi anak Zam’ah. ‘Abd bin Zam’ah adalah saudara laki-laki Saudah, istri Rasulullah , karena Saudah putrid Zam’ah. 

Ketetapan semacam ini berdasarkan suatu dugaan yang kuat bukan suatu kepastian. Kemudian Rasulullah menyuruh Saudah untuk berhijab dari anak laki-laki itu karena adanya syubhat dalam masalah itu. 

Jadi, tindakan ini bersifat kehati-hatian. Hal itu termasuk perbuatan takwa kepada Allah SWT, sebab jika memang pasti dalam pandangan Rasulullah anak laki-laki itu adalah anak Zam’ah, tentulah Rasulullah tidak menyuruh Saudah berhijab dari saudara laki-lakinya yang lain, yaitu ‘Abd bin Zam’ah dan saudaranya yang lain.

Pada Hadits ‘Adi bin Hatim, ia berkata : “Wahai Rasulullah, saya melepas anjing saya dengan ucapan bismillah untuk berburu, kemudian saya dapati ada anjing lain yang melakukan perburuan”. 

Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kamu makan (hewan buruan yang kamu dapat) karena yang kamu sebutkan bismillah hanyalah anjingmu saja, sedang anjing yang lain tidak”. 

Rasulullah memberi fatwa semacam ini dalam masalah syubhat karena beliau khawatir, bila anjing yang menerkam hewan buruan tersebut adalah anjing yang dilepas tanpa menyebut Bismillah. 

Jadi seolah-olah hewan itu disembelih dengan cara diluar aturan Allah. Allah berfirman, “Sesungguhnya hal itu adalah perbuatan fasiq” (QS. Al-An’am 6:121)

Rasulullah menunjukkan sifat kehati-hatian terhadap hal-hal yang masih samar tentang halal atau haramnya, karena sebab-sebab yang masih belum jelas. Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah: 

“Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan kamu untuk berpegang pada sesuatu yang tidak meragukan kamu”

Jenis-Jenis Syubhat

Sebagian Ulama berpendapat, syubhat itu ada tiga macam :

1. Sesuatu yang sudah diketahui haramnya oleh manusia, tetapi orang itu ragu apakah masih haram hukumnya atau tidak. 

Misalnya makan daging hewan yang tidak pasti cara penyembelihannya, maka daging semacam ini haram hukumnya kecuali terbukti dengan yakin telah disembelih (sesuai aturan Allah). Dasar dari sikap ini adalah hadits ‘Adi bin Hatim seperti tersebut diatas.

2. Sesuatu yang halal tetapi masih diragukan kehalalannya.

Seperti seorang laki-laki yang punya istri namun ia ragu-ragu, apakah dia telah menjatuhkan thalaq kepada istrinya atau belum, ataukah istrinya seorang perempuan budak atau sudah dimerdekakan. 

Hal seperti ini hukumnya mubah hingga diketahui kepastian haramnya, dasarnya adalah hadits ‘Abdullah bin Zaid yang ragu-ragu tentang hadats, padahal sebelumnya ia yakin telah bersuci.

3. Seseorang ragu-ragu tentang sesuatu dan tidak tahu apakah hal itu haram atau halal, dan kedua kemungkinan ini bisa terjadi sedangkan tidak ada petunjuk yang menguatkan salah satunya. 

Hal semacam ini sebaiknya dihindari, sebagaimana Rasulullah pernah melakukannya pada kasus sebuah kurma yang jatuh yang beliau temukan dirumahnya, lalu Rasulullah bersabda : “Kalau saya tidak takut kurma ini dari barang zakat, tentulah saya telah memakannya”

Orang yang mengambil sikap hati-hati yang berlebihan, seperti tidak menggunakan air bekas yang masih suci karena khawatir terkena najis, atau tidak mau sholat disuatu tempat yang bersih karena khawatir ada bekas air kencing yang sudah kering, mencuci pakaian karena khawatir pakaiannya terkena najis yang tidak diketahuinya dan sebagainya, sikap semacam ini tidak perlu diikuti, sebab kehati-hatian yang berlebihan tanda adanya halusinasi dan bisikan setan, karena dalam masalah tersebut tidak ada masalah syubhat sedikit pun. Wallahu a’lam.

Kalimat, “kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” maksudnya tidak mengetahui tentang halal dan haramnya, atau orang yang mengetahui hal syubhat tersebut didalam dirinya masih tetap menghadapi keraguan antara dua hal tersebut, jika ia mengetahui sebenarnya atau kepastiannya, maka keraguannya menjadi hilang sehingga hukumnya pasti halal atau haram. 

Hal ini menunjukkan bahwa masalah syubhat mempunyai hokum tersendiri yang diterangkan oleh syari’at sehingga sebagian orang ada yang berhasil mengetahui hukumnya dengan benar.

Kailmat, “maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” maksudnya menjaga dari perkara yang syubhat.

Kalimat, “barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram” hal ini dapat terjadi dalam dua hal :

1. Orang yang tidak bertaqwa kepada Allah dan tidak memperdulikan perkara syubhat maka hal semacam itu akan menjerumuskannya kedalam perkara haram, atau karena sikap sembrononya membuat dia berani melakukan hal yang haram, seperti kata sebagian orang : “Dosa-dosa kecil dapat mendorong perbuatan dosa besar dan dosa besar mendorong pada kekafiran”

2. Orang yang sering melakukan perkara syubhat berarti telah menzhalimi hatinya, karena hilangnya cahaya ilmu dan sifat wara’ kedalam hatinya, sehingga tanpa disadari dia telah terjerumus kedalam perkara haram. Terkadang hal seperti itu menjadikan perbuatan dosa jika menyebabkan pelanggaran syari’at.

Rasulullah bersabda : “seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus kedalamnya” ini adalah kalimat perumpamaan bagi orang-orang yang melanggar larangan-larangan Allah. 

Dahulu orang arab biasa membuat pagar agar hewan peliharaannya tidak masuk ke daerah terlarang dan membuat ancaman kepada siapapun yang mendekati daerah terlarang tersebut. 

Orang yang takut mendapatkan hukuman dari penguasa akan menjauhkan gembalaannya dari daerah tersebut, karena kalau mendekati wilayah itu biasanya terjerumus. Dan terkadang penggembala hanya seorang diri hingga tidak mampu mengawasi seluruh binatang gembalaannya. 

Untuk kehati-hatian maka ia membuat pagar agar gembalaannya tidak mendekati wilayah terlarang sehingga terhindar dari hukuman. 

Begitu juga dengan larangan Allah seperti membunuh, mencuri, riba, minum khamr, qadzaf, menggunjing, mengadu domba dan sebagainya adalah hal-hal yang tidak patut didekati karena khawatir terjerumus dalam perbuatan itu.

Hati Penentu Baik-Buruk Amal

Kalimat, “Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya” yang dimaksud adalah hati, betapa pentingnya daging ini walaupun bentuknya kecil, daging ini disebut Al-Qalb (hati) yang merupakan anggota tubuh yang paling terhormat, karena ditempat inilah terjadi perubahan gagasan, sebagian penyair bersenandung: “Tidak dinamakan hati kecuali karena menjadi tempat terjadinya perubahan gagasan, karena itu waspadalah terhadap hati dari perubahannya”

Allah SWT menyebutkan, manusia dan hewan memiliki hati yang menjadi pengatur kebaikan-kebaikan yang diinginkan. 

Hewan dan manusia dalam segala jenisnya mampu melihat yang baik dan buruk, kemudian Allah mengistimewakan manusia dengan karunia akal disamping dikaruniai hati sehingga berbeda dari hewan. Allah berfirman,

 “Tidakkah mereka mau berkelana dimuka bumi karena mereka mempunyai hati untuk berpikir, atau telinga untuk mendengar…” (QS. Al-Hajj 22:46). 

Allah SWT telah melengkapi dengan anggota tubuh lainnya yang dijadikan tunduk dan patuh kepada akal. Apa yang sudah dipertimbangkan akal, anggota tubuh tinggal melaksanakan keputusan akal itu, jika akalnya baik maka perbuatannya baik, jika akalnya jelek, perbuatannya juga jelek.

Bila kita telah memahami hal diatas, maka kita bisa menangkap dengan jelas sabda Rasulullah ,

“Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”.*

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 Hijriyah / 2019 Masehi Seluruh Kota di Indonesia Resmi Kemenag RI.


Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M


Marhaban Ya Ramadhan! Ramadhan segera tiba. Awal Puasa Ramadhan 1440 H insya Allah Senin 6 Mei 2019.

Umat Islam memerlukan jadwal puasa yang dikenal dengan sebuatan jadwal imsakiyah, yaitu jadwal waktu mulai berpuasa (imsak) dan saatnya berbuka puasa (ifthar).

Sebenarnya, jadwal puasa sama dengan jadwal shalat Subuh dan Magrib. Puasa dimilai saat waktu shalat Subuh tiba dan berakhir saat shalat Magrib tiba.

Jadwal Imsakiyah merujuk pada kata "imsak" yang artinya menahan, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hal yang membatalkan puasa lainnya. Dalam tradisi Indonesia, jadwal imsak yaitu 10 menit sebelum waktu Subuh, untuk kehati-hatian atau siap-siap berpuasa.

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M

Berikut ini Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M untuk wilayah DKI Jakarta, Kota Bandung, dan Surabaya.

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M Kota Jakarta

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M Kota Jakarta

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M Kota Bandung



Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1439 H / 2018 M Kota Bandung

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M Kota Surabaya

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1439 H / 2018 M Kota Surabaya


Jadwal Puasa Ramadhan Kota lainnya di Indonesia bisa dilihat di Jadwal Imsakiyah Kemenag RI. Pilih Provinsi, Tahun, dan Kota, lalu klik ikon Proses Data (ikon pencarian), klik Download (File Excel).

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M untuk kota lainnya, selain di link Imsakiyah Kemenag di atas, juga bisa dicek di jadwal shalat berikut ini. Pilih Kota Anda.

Jadwal Shalat & Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M

jadwal-sholat

Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M harus dimiliki agar kita bisa berpuasa tepat waktu. Tepat mulai awal waktu puasa, yakni saat masuk waktu shalat Subuh, dan tepat waktu sekaligus segera berbuka saat masuk waktu shalat Maghrib.

Baca Juga: Panduan Puasa Ramadhan

Pengertian Imsak & Imsakiyah

Jadwal Pengertian Imsak & Imsakiyah
Secara bahasa, imsak adalah saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum; berpantang dan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang mem-batalkan puasa mulai terbit fajar sidik sampai datang waktu berbuka (KBBI).

Imsak berasal dari bahas Arab yang artinya menahan, yakni menahan diri dari hal yang membatalkan puasa.

Dari kata Imsak itu terbentuk kata Imsakiyah yang merujuk pada jadwal puasa.
Umumnya, waktu imsak dipahami sebagai batas waktu antara sahur dan mulai dari puasa.

Di Indonesia, waktu imsak yaitu 10 menit sebelum waktu shalat Subuh. Adanya waktu imsak ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga, agar tidak "bablas".

Jadi, sebenarnya, saat 10 menit sebelum Subuh, kita masih boleh sahur (makan/minum) karena belum masuk waktu puasa/waktu subuh. Sekali lagi, waktu imsak hanya untuk berjaga-jaga.

Imsak sendiri sudah bermanka puasa, karena sudah menahan diri dari makan-minum atau hal lain yang membatalkan puasa.

Zaman Rasulullah Saw dan para sahabat tidak ada istilah imsak.  Al-Quran juga dengan tegas menyebutkan, batas waktu mulai puasa itu sejak terbitnya fajar. 

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

"Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa." (QS Al-Baqarah: 187)

Dalam hadits shahih, riwayat Bukhari (hadits no. 1919), dari ‘Aisyah r.a., bahwasanya Bilal mengumandangkan adzan pada suatu malam. Kemudian Rasulullah Saw,

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan. Sesungguhnya dia tidaklah mengumdanngakan adzan hingga fajar terbit.”

Berdasarkan hal tersebut, barangsiapa yang mengetahui terbitnya fajar shadiq (fajar subuh) dengan menyaksikan langsung atau melalui kabar dari orang lain, maka dia wajib meninggalkan makan minum alias mulai berpuasa, hingga tiba waktu shalat Magrib (untuk berbuka puasa).

Imsakiyah biasa menjadi patokan waktu sahur. Sahur sendiri disunahkan karena mengandung berkah, antara lain membuat fisik jadi kuat saat berpuasa.

“Senantiasalah umatku berada dalam kebaikan (Puasa) selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Zarr ra)

“Ummatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur” (H.R. Imam Ahmad dari Abu Zarr r.a.).

Imsak ala Rasulullah Saw

Arti Imsak Imsakiyah Puasa Ramadhan
Diriwayatkan dari Anas, Zaid bin Tsabit r.a. berkata:

“Kami telah makan sahur bersama-sama Nabi Saw., kemudian baginda bangun mengerjakan salat. Anas bertanya kepada  Zaid, ‘Berapa lamanya antara azan (Subuh) dengan waktu makan sahur itu?’

Dia menjawab, ‘Sepadan dengan waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat.’”

Hadis ini menunjukkan bahwa jarak atau interval waktu antara bersahurnya Rasul Saw dan adzan Subuh adalah kira-kira 50 ayat. Itu artinya, Rasul Saw tidak lagi makan sahur sampai berkumandangnya adzan Subuh.

Rasulullah Saw sahur dan berhenti kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk membaca 50 ayat Alquran sebelum masuk waktu Subuh. Inilah yang dipahami oleh para ulama kita, sehingga menetapkan sunnah berimsak sekitar waktu yang dibutuhkan untuk pembaca 50 ayat Alquran tersebut yang diperkirakan setara dengan 10–15 menit.

Demikian Jadwal Imsakiyah Puasa Ramadhan 1440 H / 2019 M dan Sholat Lima Waktu untuk seluruh wilayah Indonesia. Wasalam. (www.risalahislam.com).*

Awal Ramadhan 1440 H Senin 6 Mei 2019 M, Idul Fitri Rabu 5 Juni

Awal puasa atau tanggal 1 Ramadan 1440 Hijriyah jatuh pada hari Senin 6 Mei 2019, menurut rilis PP Muhammadiyah. Pemerintah dan ormas Islam lain juga kemungkinan besar menetapkan awal Ramadhan tahun ini jatuh pada hari yang sama, Senin 6 Mei 2019.

Awal Ramadan 2019

Pasalnya, menurut prediksi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), hingga 2021, awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha akan sama antara pemerintah dan ormas Islam.

Lapan memprediksi penetapan awal Ramadhan mulai tahun ini hingga 2021 nanti akan sama antara pemerintah dan ormas keagamaan. Begitu juga hari raya Idul Fitri tidak akan ada perbedaan antara pemerintah dengan ormas Islam lainnya (Lapan).

Menurut Thomas Djamaluddin (Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN/Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama), secara hisab ditentukan awal Ramadhan 1440 jatuh pada 6 Mei 2019.

Kepastian awal Ramadhan tahun ini menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat Maghrib 5 Mei 2019.

Awal Ramadhan 2019 M versi Muhammadiyah

Awal Ramadhan 2019 M versi Muhammadiyah jatuh pada hari Senin 6 Mei 2019. Muhammadiyah juga menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1440 H jatuh pada hari Rabu 5 Juni 2019 M.

Dirilis situs resminya, dalam Maklumat Muhammadiyah, Senin (25/3/2019), Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1440 Hijriah jatuh pada 6 Mei 2019.

Ketetapan itu berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Muhammadiyah juga menentukan 1 Syawal 1440 H bertepatan dengan tanggal 5 Juni 2019. Sedangkan 1 Zulhijah 1440 H akan jatuh pada 2 Agustus 2019.

"Maklumat ini disampaikan untuk dilaksanakan dan agar menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita," demikian Maklumat Muhammadiyah.

Maklumat PP Muhammadiyah itu bernomor 01/MLM/1.0/E/2019 tentang Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1440 H. Maklumat ditandatangani oleh Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris Agung Danarto.

Baca Juga: Bekal Puasa Ramadhan

Kementerian Agama (Kemenag) belum menentukan awal bulan Ramadan 2019. Kemenag biasanya akan melakukan pemantauan terlebih dahulu kemudian hasilnya akan dibahas di dalam sidang isbat atau penetapan awal dan akhir Ramadhan.*

Awal Ramadan 2019

Amalan Sunah Bulan Sya'ban

Sya'ban (شعبان) adalah bulan kedelapan dalam sistem penanggalan Islam (Hijriyah), tepat setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan. Adakah amalan sunah (sunat) khusus di bulan Sya'ban? Bagaimana dengan Malam Nishfu Sya’ban?

Amalan Sunah Bulan Sya'ban
MENURUT berbagai literatur, nama Sya'ban berarti "pemisahan", merujuk pada kebiasaan (adat/budaya) orang-orang Arab yang biasa berpencar atau berpisah pada bulan ini untuk mencari air.

Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya mengemukakan, di bulan Sya'ban banyak orang yang lalai beramal shaleh karena yang dinantikan adalah bulan setelahnya, yakni Ramadhan.

Padahal, di bulan inilah saat berbagai amalan manusia "dilaporkan" (dinaikkan) kepada Allah SWT.

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ


"Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad).

Berdasarkan hadits itu pula, maka jumhur ulama berkesimpulan, satu-satunya amalan sunah bulan Sya'ban adalah "memperbanyak puasa". Itu pula yang dicontohkan Rasulullah Saw:

Siti Aisyah r.a. mengatakan:


فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ


"Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah Saw berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal yang sama dikemukakan Ummu Salamah: “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An-Nasa’i).

Ada hikmah tersendiri jika kita memperbanyak puasa bulan Sya'ban, yaitu "berlatih puasa (shaum)" karena setelah Sya'ban ada Ramadhan, bulan saat umat Islam diwajibkan puasa sebulan penuh, sebagai pengamalan Rukun Islam yang ketiga (setelah Syahadat, Shalat, Zakat, dan sebelum Haji).

Ada ungkapan, practise makes perfect! Berlatih akan membawa kesempurnaan. Maka, "berlatih" puasa di bulan Sya'ban sebagai amalan sunah pun, insya Allah membawa kesempurnaan dalam pelaksanaan puasa wajib di bulan berikutnya (Ramadhan).

Malam Nishfu Sya’ban

Masalah Nishfu Sya'ban (malam pertengahan bulan Sya'ban) merupkan perkara yang menimbulkan pro-kontra (kontroversial).

Pendapat pertama mengatakan, tidak ada keuatamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama saja dengan malam-malam biasa lainnya.

Semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits lemah, seperti hadits berikut ini:


إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah dan At Thabrani).

Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya).” Artinya, hadits tersebut dho’if (lemah).

Lagi pula, sejauh ini belum ada hadits atau keterangan shahih yang menyebutkan Nabi Saw dan para sahabat melakukan amalan khusus, misalnya shalat khusus atau puasa khusus, dalam rangka malam Nishfu Sya'ban. 

Kesimpulan

Amalan sunah bulan Sya'ban adalah memperbanyak puasa. Tidak ada amalan khusus di malam Nishfu Sya'ban.

Benar... tidak pula ada larangan tentang melakukan amalan khusus nishfu Sya'ban, tapi bukankah jika tidak dicontohkan oleh Nabi Saw kita tidak boleh melakukannya?

Mari kita simak ucapan Ibnu Mas’ud:  “Ikutilah (petunjuk Nabi Saw), janganlah membuat amalan yang tidak ada tuntunannya. Karena (ajaran Nabi Saw) itu sudah cukup bagi kalian...." (Al Mu’jam Al Kabir). Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).  Rujukan: berbagai sumber, termasuk Shahih Bukhari dan Muslim).*


Doa Para Ulama Sebelum Memasuki Bulan Ramadhan


Doa Para Ulama Sebelum Memasuki Bulan Ramadhan
Doa Para Ulama Sebelum Memasuki Bulan Ramadhan

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad)

Contact Form

Name

Email *

Message *