Pengertian Tauhid dan Keutamaannya sebagai Inti Ajaran Islam

Pengertian Tauhid dan Keutamaannya sebagai Inti Ajaran Islam
TAUHID atau keesaan Tuhan adalan inti ajaran Islam. Kalimat tauhid berbunyi "Laa Ilaaha Illallah" (لآإِلَهَ إِلاَّ الله) yang artinya Tiada Tuhan Selain Allah.

Makna Tauhid itu adalah Laa ma’buuda bi haqqin illallah ( لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ) yang artinya "tidak ada sesembahan yang benar dan berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja". 

Kalimat tauhid menafikan segala sesembahan selain Allah SWT dan hanya menetapkan Allah saja sebagai sesembahan yang benar.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj: 62).

Dalam kalimat tauhid ini terdapat dua rukun, yaitu nafi (peniadaan) dan itsbat(penetapan).

Rukun pertama terdapat pada kalimat لآإِلَهَ. Maksudnya adalah membatalkan seluruh sesembahan selain Allah dalam segala jenisnya dan wajib kufur terhadapnya.

Rukun kedua terdapat pada kalimat إِلاَّ اللهُ . Maksudnya menetapkan bahwa hanya Allah saja satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam peribadatan.

Para nabi dan Rasul, sejak Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Saw, membawa risalah Islam yang berintikan ajaran Tauhid --bahwa Tuhan itu Esa, satu, tidak Tuhan selain-Nya.

Karenanya, kalimat tauhid menjadi inti ajaran Islam atau agama Allah SWT.

Pengertian Tauhid

Tauhid dari akar kata ahad atau wahid— artinya artinya satu.

Dalam risalah Islam, tauhid adalah asas keyakinan (akidah), bahwa Tuhan itu hanya satu, yakni Allah Swt dan tidak ada yang setara, juga sekutu, dengan-Nya. 

Hanya Dia yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Hanya Dia yang ditaati dan ditakuti. Hanya Dia yang menentukan segala sesuatu di dunia dan akhirat nanti.

Kalimat Tauhid dirangkum dalam kalimat tahlil: “La ilaha illallah” (tidak ada Tuhan selan Allah).

Tiga Aspek Tauhid

Tauhid terdiri dari tiga aspek:
  1. Tauhid dalam kekuasaan Tuhan (tauhid rububiyah)
  2. Aspek ibadah (tauhid uluhiyah)
  3. Tauhid dalam nama dan sifat Allah (Asma wa Sifat).
Tauhid Rububiyah adalah mempercayai dan mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta. "Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu" (QS. Az-Zumar:62).

Tauhid Uluhiyah adalah hanya kepada Allah setiap ibadah ditujukan, tidak ada persembahan atau pengabdian pada selain-Nya, dan hanya Allah yang layak disembah.

Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid, ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah Ta'ala dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Inilah hakekat agama Islam karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya.

Tauhid Asma wa Sifat artinya bahwa sesuai nama dan sifat (karakteristik) Allah yang disebutkan baik oleh Al-Qur'an dan Al-Hadits adalah hanya berhak disandang oleh Allah itu sendiri.

Umat Islam diperintahkan hanya beribadah kepada Allah dan menjauhi Thogut. "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut." (QS. An-Nahl:36). Thaghut yaitu setiap yang diagungkan --selain Allah— dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun syetan.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah berkata, Thaghut adalah segala sesuatu yang diperlakukan oleh seseorang secara melampaui batas, baik dalam hal penyembahan, ketaatan atau ikutan.

Karena itu, thaghut adalah segala sesuatu yang diminta untuk memutuskan perkara selain dari Allah dan Rasul-Nya, selain Allah yang disembah, yang diikuti padahal tidak selaras dengan syariat Allah, atau ditaati dalam hal-hal yang tidak diketahui sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ini semua adalah thaghut dunia ini.

Syaikh Sulaiman bin Sahman an-Najdi berkata, “Thaghut itu ada tiga macam, thaghut dalam hukum, thaghut dalam peribadatan, dan thaghut dalam ikutan “. Mengikuti hukum selain hukum Allah, mengabdi kepada selain-Nya, dan mengikuti selain perintah-Nya, berarti mengikuti Thogut dan menyalahi tauhid.

Keutamaan Kalimat Tauhid

Pengertian Tauhid
Pengamalan Tauhid dilakukan dengan cara melakukan segala perbuatan hanya bertujuan mengharap ridha Allah SWT dan segala amal mengacu pada risalah Islam sebagai ketentuan-Nya.

Kalimat tauhid (Laa ilaaha illallah) merupakan harga surga. Nabi Saw bersabda:

“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaaha illallah,’ maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Dawud no. 1621).

Kalimat ‘Laa ilaaha ilallah’ adalah kebaikan. Abu Dzar berkata,”Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” 

Nabi Saw bersabda, “Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” 

Lalu Abu Dzar berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah ‘laa ilaaha illallah’ merupakan kebaikan?” 

Nabi Saw bersabda,”Kalimat itu (laa ilaaha illallah) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.”

Kalimat tauhid juga merupakan dzikir yang paling utama. Dari Jabir r.a., dari Nabi Saw, beliau bersabda: 

“Dzikir yang paling utama adalah laa ilaaha illallah, dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah,” (HR. Ibnu Majah)

“Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat laa ilaaha illallah” (HR. Hakim).

Demikian Pengertian Tauhid dan Keutamaannya sebagai Inti Ajaran Islam. Wallahu a’lam. (www.risalahislam.com).*

Khurafat Bulan Safar sebagai Bulan Sial

Khurafat Bulan Safar sebagai Bulan Sial
Khurafat Bulan Safar sebagai Bulan Sial

Khurafat adalah tahayul, mitos, dongeng, cerita rekaan yang diyakini sebagai kebenaran.

Kamus Bahasa mengartikan khurafat sebagai "dongeng (ajaran dan sebagainya) yang tidak masuk akal; takhayul".

Khurafat adalah salah satu bentuk penyelewengan dalam Akidah dan Risalah Islam.

Salah satu contoh khurafat adalah berkenaan dengan bulan Safar (Shofar, Shafar).

Khurafat Safar Bulan Sial Peninggalan Jahiliyah

Pada zaman Jahiliyah, ada kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Kepercayaan terhadap mitos atau tahayul tersebut langsung dibantah oleh Rasulullah Saw.

Bulan Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalendar Islam (Hijriyah) yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi).

Safar artinya kosong. Dinamakan Safar karena dalam bulan ini orang-orang Arab dulu sering meninggalkan rumah untuk menyerang musuh.

Kepercayaan bahwa Safar bulan sial atau bulan bencana masih saja dipercaya sebagian umat. Padahal, Rasul sudah menegaskan mitos itu tidak benar.

Pesta Mandi Safar

Salah satu amalan khurafat yang pernah muncul ialah “Pesta Mandi Safar”. Jika tiba bulan Safar, umat Islam mengadakan upacara mandi beramai-ramai dengan keyakinan hal itu bisa menghapuskan dosa dan menolak bala.

Biasanya, amalan mandi Safar ini dilakukan pada hari Rabu minggu terakhir dalam bulan Safar yang diyakini merupakan hari penuh bencana.

Amalan mandi Safar untuk tolak bala dan menghapus dosa itu merupakan kepercayaan penganut Hindu melalui ritual “Sangam” yang mengadakan upacara penghapusan dosa melalui pesta mandi di sungai. Umat Islam harus menghormati keyakinan mereka, tapi tidak boleh menirunya.

Hingga kini pun masih ada umat Islam yang tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Safar karena percaya terhadap khurafat tersebut. Sebuah keyakinan yang dapat menjerumuskan kepada jurang kemusyrikan.

Bahkan, sampai ada “amalan khusus”, misalnya hari Rabu membaca syahadat tiga kali, istighfar 300 kali, ayat kursi tujuh kali, surat Al-Fiil tujuh kali, dan sebagaiya. Jelas, itu amalah khurafat dan bid’ah yang tidak bersumber dari ajaran Islam dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat.

Khurafat bulan Safar selengkapnya antara lain:
  • Larangan menikah dan pertunangan
  • Menghalangi bermusafir atau berpergian jauh
  • Rabu minggu terakhir bulan Safar puncak hari sial
  • Upacara ritual menolak bala dan buang sial di pantai, sungai atau rumah (Mandi Safar), 
  • Membaca jampi serapah tertentu untuk menolak bala sepanjang Safar
  • Menjamu makan "makhluk halus" yang dikatakan penyebab sesuatu musibah, menganggap bayi lahir bulan Safar bernasib malang
  • Safar bulan Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. 
Semuanya itu tidak benar dan umat Islam wajib mengingkari khurafat tersebut.
Kesialan, naas, atau bala bencana dapat terjadi kapan saja, tidak hanya bulan Safar, apalagi khusus banyak terjadi pada bulan Safar. Allah Swt menegaskan:

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51 ).

Tidak amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Safar. Amalan bulan Safar adalah sama seperti amalan-amalan pada bulan-bulan lain.

Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada sesuatu hari, bulan dan tempat itu merupakan kepercayaan orang jahiliah sebelum kedatangan Islam.

Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari).Wallahu a’lam. (www.risalahislam.com).*

Penjelasan Al-Quran tentang Bencana (Tafsir QS Al-Baqarah:155-156)

Tafsir QS Al-Baqarah:155-156 tentang Musibah (Bencana) sebagai Ujian
MUSIBAH atau bencana diturunkan Allah SWT dengan dua tujuan, yakni sebagai (1) siksa (adzab) bagi orang-orang yang maksiat dan (2) sebagai ujian atau cobaan bagi kaum beriman dan bertakwa.

Dalam QS Al-Baqarah:155, Allah SWT menyatakan akan menurunkan ujian kepada hamba-hamba-Nya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ


"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2:155).

Di ayat berikutnya (QS 2:156), Allah SWT pun menyampaikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah atau bencana.

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".

Dalam ayat lain, Allah SWT juga mengingatkan, ujian berupa bencana ataupun bentuk lain tidak akan menimpakan ujian atau siksa yang melebihi kemampuan untuk mengatasinya.


لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. " (QS 2:286).

Tafsir QS Al-Baqarah:155-156 

Dalam Tafsir Al-Maraghi disebutkan, Allah akan menguji hamba-Nya dengan aneka ragam percobaan. Misalnya, perasaan takut terhadap musuh dan adanya musibah, seperti kelaparan dan kekurangan buah-buahan (panceklik).

Bagi orang yang beriman kepada Allah, keadaan seperti ini akan dilaluinya, sekalipun terisolir dari lingkungan keluarga, bahkan diusir tanpa membawa sesuatu.

Sampai-sampai karena rasa laparnya, orang-orang beriman jika memerlukan makan hanya cukup dengan menghisap buah kurma, lalu disimpannya kembali mengingat jangka yang masih panjang.

Terutama sekali ketika mereka berlaga di medan perang Ahzab dan Tabuk. Allah juga menguji mereka dengan terbubuh di medan perang, atau mati karena sakit. Sebab ketika kaum Muslimin melakukan hijrah ke Madinah, di situ terjangkit wabah penyakit panas dingin yang luar biasa.

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa iman itu tidak menjamin seseorang untuk mendapatkan rezeki yang banyak, kekuasaan, atau tidak ada rasa takut. 

Tetapi semuanya itu justru berjalan sesuai dengan ketentuan sunnatullah yang berlaku untu hamba-Nya, jika terdapat sesuatu yang mendatangkan musibah, maka musibah itu tidak dapat dihalangi dan akan menimpanya, tetapi bagi seseorang yang mempunyai kesempurnaan iman, dan dirinya sudah mempunyai pengalaman digembleng dalam penderitaan, maka adanya musibah itu akan semakin membersihkan jiwanya.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Allah Swt mengabarkan: 

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan mengujimu agar Kami mengetabui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antaramu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)

Terkadang Dia memberikan ujian berupa kebahagiaan dan pada saat yang lain Dia juga memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan. 

Firman-Nya: fa adzaaqaHallaaHu libaasal juu’i wal khaufi (“Oleh karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan.”)(QS. An-Nahl: 112)

Karena orang yang sedang dalam keadaan lapar dan takut, ujian pada keduanya akan sangat terlihat jelas. Oleh karena itu Dia berfirman, “Pakaian kelaparan dan ketakutan.”

Dalam surat al-Baqarah ini, Allah swt. berfirman: 
  • bi syai-im minal minal khaufi wal juu-‘i (Dengan sedikit ketakutan dan kelaparan) 
  • wa naqshim minal amwaali (Dan kekurangan harta). Artinya, hilangnya sebagian harta.
  • Wal anfusi (serta jiwa), misalnya meninggalnya para sahabat, kerabat, dan orang-orang yang dicintai. 
  • Wats-tsamaraaat (Dan buah-buahan), yaitu kebun dan sawah tidak dapat diolah sebagaimana mestinya. Sebagaimana ulama mengemukakan: “Di antara pohon kurma ada yang tidak berbuah kecuali hanya satu buah saja.”
Semua hal di atas dan yang semisalnya adalah bagian dari ujian Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. 

Barangsiapa bersabar, maka Dia akan memberikan pahala baginya, dan barangsiapa berputus asa karenanya maka Dia akan menimpakan siksaan terhadapnya. Oleh karena itu, di sini Allah Ta’ala berfirman: wa basy-syirish shaabiriin (“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar.”)

Setelah itu Allah menjelaskan tentang orang-orang yang sabar yang dipuji-Nya, dengan firman-Nya: alladziina idzaa ashaabatHum mushiibatun qaaluu innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun (“Yaitu orang-orang yang apaabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. [Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali].”)

Artinya, mereka menghibur diri dengan ucapan ini atas apa yang menimpa mereka dan mereka mengetahui bahwa diri mereka adalah milik Allah Ta’ala, la memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. 

Selain itu, mereka juga mengetahui bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan amalan mereka meski hanya sebesar biji sawi pada hari kiamat kelak. Dan hal itu menjadikan mereka mengakui dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan-Nya, dan mereka akan kembali kepada-Nya kelak di akhirat. 

Oleh karena itu, Allah swt. memberitahukan mengenai apa yang diberikan kepada mereka itu, di mana Dia berfirman: ulaa-ika ‘alaiHim shalawaatum mir rabbiHim wa rahmatun (“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka.”) 

Artinya, pujian dari Allah Ta’ala atas mereka. Dan menurut Sa’id bin Jubair, “Artinya, keselamatan dari adzab.”

Firman-Nya: ulaa-ika Humul muHtaduun (“Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”) Amirul Mu’minin Umar ra. mengatakan: 

“Alangkah nikmatnya dua balasan itu, dan betapa menyenangkan [anugerah] tambahan itu.” ulaa-ika ‘alaiHim shalawaatum mir rabbiHim wa rahmatun (“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka.”) inilah tambahan. Mereka itulah orang-orang yang diberi pahala-pahala dan diberikan pula tambahan.

Mengenai pahala mengucapkan “Innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun” ketika tertimpa musibah telah banyak dimuat di banyak hadits. 

Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Ummu Salamah ia bercerita, pada suatu hari Abu Salamah mendatangiku dari tempat Rasulullah saw. lalu ia menceritakan, aku telah mendengar ucapan Rasulullah saw. yang membuatku merasa senang, beliau bersabda:

“Tidaklah seseorang dari kaum Muslimin ditimpa musibah, lalu ia membaca: 

إنّاَ للهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها

(Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘un. Allâhumma ajirnî fî mushîbatî wa akhlif lî khairan minhâ.)

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya") melainkan akan dikabulkan doanya itu.” (HR Ahmad).

Dalam kitab Shahih Muslim disebtukan bahwa Ummu Salamah mengatakan: aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan: innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya; melainkan Allah akan memberikan pahala kepadanya dalam musibah itu dan memberikan ganti kepadanya dengan yang lebih baik darinya.” Kata Ummu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal, maka aku mengucapkan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadaku, maka Allah Ta’ala memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah Saw. (HR. Muslim).

Baca Juga: Doa Ketika Datang Musibah

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Fatimah binti Husain, dari ayahnya, Husain bin Ali, dari Nabi saw, beliau bersabda: 

“Tidaklah seorang muslim, laki-laki maupun perempuan ditimpa suatu musibah, lalu ia mengingatnya, meski waktunya sudah lama berlalu, kemudian ia membaca kalimat istirja’ (innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un) untuknya, melainkan Allah akan memperbaharui pahala baginya pada saat itu, lalu Dia memberikan pahala seperti pahala yang diberikan-Nya pada hari musibah itu menimpa.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah; Dha’if sekali; Dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iiful Jaami’ [5434].-ed.)

Imam Ahmad juga meriwayatkan, dari Abu Sinan, ia menceritakan, Aku sedang menguburkan anakku. Ketika itu aku masih berada di liang kubur, tiba-tiba tanganku ditarik oleh Abu Thalhah al-Khaulani dan mengeluarkan diriku darinya seraya berucap, 

“Maukah aku sampaikan berita gembira untukmu?” “Mau,” jawabnya. Ia berkata, adh-Dhahhak bin Abdur Rahman bin Auzab telah mengabarkan kepadaku, dari Abu Musa, katanya Rasulullah pernah bersabda:

“Allah berfirman, ‘Hai malaikat maut, apakah engkau sudah mencabut nyawa anak hamba-Ku? Apakah engkau mencabut nyawa anak kesayangannya dan buah hatinya?’ ‘Ya, jawab malaikat. ‘Lalu apa yang ia ucapkan?’ tanya Allah. Malaikat pun menjawab, ‘Ia memuji-Mu dan mengucapkan kalimat istirja’. Maka Allah berfirman (kepada para malaikat): ‘Buatkan untuknya sebuah rumah di surga, dan namailah rumah itu dengan baitul hamdi (rumah pujian).’”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam at-Tirmidzi, dari Suwaid bin Nashr, dari Ibnu al-Mubarak. Menurutnya, hadits tersebut hasan gharib. Nama Abu Sinan adalah Isa bin Sinan.

Demikian Tafsir QS Al-Baqarah:155-156 tentang Musibah (Bencana) sebagai Ujian. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Doa Ketika Datang Bencana - Musibah Gempa, Tsunami, Longsor, Kecelakaan, Kebakaran

Doa Ketika Datang Bencana - Musibah
Berikut ini bacaan atau doa ketika datang bencana, seperti musibah gempa, tsunami, longsor, kecelakaan, kebakaran, kemalingan, sakit, dan lain-lain.

Doa adalah senjata kaum mukmin dan senjata kaum lemah, tak berdaya, terzhalimi. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan doa, kecuali Allah SWT sendiri yang Mahabesar, Mahakuasa, dan Maha Berkehendak.

Doa pastik dikabulkan Allah SWT. Setidaknya, Allah SWT akan memberi pahala karena doa itu ibadah. Allah SWT kabulkan doa dengan banyak cara, mulai sesuai dengan yang diminta hingga digantikan dengan kebaikan yang lain. Dia Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Bencana atau musibah adalah adzab bagi yang maksiat dan ujian bagi kaun mukmin.

Doa Ketika Datang Bencana - Musibah

Rasulullah Saw mengajarkan, saat kita tertimpa musibah atau terjadi bencana, kita membaca doa berikut ini:

إنّاَ للهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘un. Allâhumma ajirnî fî mushîbatî wa akhlif lî khairan minhâ.

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya.” (HR Muslim).

Dalam Shahih Muslim disebutkan, barangsiapa membaca doa tersebut, niscaya Allah SWT akan memberinya pahala dalam musibahnya dan memberinya ganti yang lebih baik daripadanya.

Dari Ummu Salamah r.a., ia berkata: aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:


مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم


"Tak seorang hamba (muslim) tertimpa musibah lalu ia berdoa: 

'Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya.' 

Ummu Salamah berkata: Saat Abu Salamah wafat, aku berdoa sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah kepadaku, lalu Allah memberi ganti untukku yang lebih baik darinya, yakni Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam." (Muttafaq 'Alaih) 

Do'a Penawar Hati Yang Duka

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Allohumma innii a’uudzubika minalHammi, walhuzni, wal’ajzi, walkasali, walbukhli waljubni, wa dhola’iddayni wagholabatirrijali“

Ya Allah!.. Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.”

Do'a Apabila Dalam Kesedihan

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.

Allohumma rohmataka arjuu falaa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘aini, wa ashlihlii sya’nii kullahu, laa ilaha illaa anta.

“Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmatMu, oleh karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau

Do'a Jika Mengalami Kesulitan

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allohumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlaa wa anta taj’alulhazna idzaa syi’ta sahlaa"

Ya Allah! Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mu-dah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau meng-hendakinya.”

Selain berdoa, ketika datang bencana/musibah, sikapi dengan sabar. Dengan begitu, musibah akan menjadi kebaikan.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR.Muslim).

Demikian Doa Ketika Datang Bencana - Musibah Gempa, Tsunami, Longsor, Kecelakaan, Kebakaran. Wasalam. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Shahih Muslim, Kumpulan Doa

Contact Form

Name

Email *

Message *