Arti Thala' al-Badru 'Alayna dan Sejarahnya

Arti Thala' al-Badru 'Alayna
Arti Thala' al-Badru 'Alayna dan Sejarahnya.

Thala' al-Badru 'Alayna (طلع البدر علينا) adalah adalah syair atau nasyid yang dinyanyikan oleh kaum Ansar saat menyambut kedatangan Nabi Muhammad Saw di Yatsrib (sekarang Madinah) dalam peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah tahun 622 M. (Wikipedia).

Lagu ini telah berusia 1400 tahun dan disebut-sebut sebagai salah satu peninggalan kebudayaan Islam yang tertua.

Hadits tentang sejarah Thala'al Badru itu dinyatakan lemah (dhoif) dalam buku Hadits Lemah dan Palsu yang Populer Di Indonesia karya Ust. Ahmad Sabiq. Alasannya antara lain daerah Tsaniyatul Wada’ yang disebutkan dalam syair itu di arah Syam. Daerah ini tidak pernah dilewati oleh orang yang datang dari Makkah ke kota Madinah. Dan tidak akan melewatinya kecuali bila ia meneruskan perjalanan ke Syam”.

Meski demikian, kisah thola'al badru ini ada di hampir semua kitab sejarah yang menceritakan tentang kedatangan Rasulullah Saw ke kota Madinah.

Bait syair ini sudah menjadi bahan nyanyian sebagian kaum Muslimin dan menganggapnya sebagai sebuah nyanyain yang Islami.

Imam al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin bahkan menjadikannya sebagai dalil kehalalan nyanyian dan musik.

“Sisi dibolehkannya nyanyian adalah bahwa nyanyian adalah sesuatu yang bisa membangkitkan rasa senang dan gembira, maka semua yang boleh untuk bersenang senang dengannya maka boleh pula unytuk membangkitkan rasa senang dengan sesuatu tersebut. Dan yang menunjukkan akan bolehnya hal ini adalah riwayat yang menyatakan bahwa saat kedatangan Rosululloh ke kota Madinah maka para wanita menabuh duff (semacam gendang tanpa suara gemerincing) dan menyenandungkan thola'al badru 'alaina..."

Informasi lain menyebutkan, thala'al badru 'alayna dilantunkan penduduk Madinah ketika menyambut Nabi Muhammad Saw dan para sahabat sepulang dari Perang Tabuk.

Arti Thola'al Badru 'Alaina


Terlepas dari kontroversi sejarahnya, berikut ini arti sya'ir Thola'al Badru 'Alaina.

طلع البدر علينا


Tala‘a al-badru ‘alaynā
Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita

من ثنيات الوداع

Min thanīyāti al-wadā‘
Dari lembah Wadā‘.

وجب الشكر علينا

Wajab al-shukru ‘alaynā
Dan wajiblah kita mengucap syukur

ما دعى لله داع

Mā da‘ā lillāhi dā‘
Di mana seruan adalah kepada Allah.

أيها المبعوث فينا

Ayyuha al-mab‘ūthu fīnā
Wahai engkau yang dibesarkan di kalangan kami

جئت بالأمر المطاع

Ji’ta bil-amri al-mutā‘
Datang dengan seruan untuk dipatuhi

جئت شرفت المدينة

Ji’ta sharaft al-madīnah
Anda telah membawa kemuliaan kepada kota ini

مرحبا يا خير داع
Marḥaban yā khayra dā‘
Selamat datang penyeru terbaik ke jalan Allah

Arti Thala' al-Badru 'Alayna Selengkapnya

Tala al-Badru alayna
(Di saat tiba bulan purnama! )

min thaniyyatil-Wada'
(dari lembah perpisahan)

wajaba al-shukru alayna
(Wajiblah bagi kita bersyukur)

ma da'a lillahi da'
(Terkabul lah doa Rasul s.a.w kepadaNya,)

Ayyuha al-mabhuthu fina
(Wahai Rasul s.a.w yang diutus untuk kami,)

Ji'ta bi-al-amri al-muta'
(Pembawa amanat suci)

Ji'ta sharrafta al-Madinah
(Telah kau muliakan kota ini(madinah))

marhaban ya khayra da'
(Selamat datangnya Rasul s.a.w )

Thala al Nurul Mubin
(Telah keluar cahaya yang terang)

Nuru Khairil Mursalin
(Cahaya yang terbaik daripada Rasul s.a.w)

Nuru Amnin Wa Salaam
( Cahaya Cahaya keselamatan dan keamanan)

Nuru Haqqin wa Yaqin
(Cahaya kebenaran dan kemuliaan Allah s.w.t)

Sadaqallahu Ta'ala
(Allah (Ta ‘ala) itu sebenar-benarnya)

Rahmatan Lil'aalamin
(Muhammad adalah rahmat bagi sekalian alam)

Fa alal Barri Shu'aa'
(di Tanah ada sebuah pancaran)

Wa alal Bahri Shu'aa'
( dan di Laut juga ada sebuah pancaran..)

Mursalun Bilhaqqi Jaa'
(Seorang Utusan yang telah datang dengan kebenaran)

Nutquhu Wahyussamaa'
(Ia berbicara bimbingan dari langit(Allah s.w.t))

Qawluhuu Qaulun Fasihun
(BicaraNya adalah begitu tepat)

Yatahaddal Bulaghaa'
(Ini tantangan para ahli)

Fihi Liljismi Shifaa'un
(penyembuh raga)

Fihi Lilro'hi dawaa'
(pengobat jiwa)

Ayyuhal Haadi Salaaman
(Salam aman sejahtera Rasul pembimbing kita, )

Maa Wa'al qur'aana wa ma
( berjanjikah anda…??)

Jaa’anal Haadi-l-Bashir
(Dia telah datang kepada kita; panduan, dan pembawa kabar,)

Mutliqul aanil Asir
(membebaskan penderitaan/kegelapan)

Murshidu-Sa’i Ithaa Maa
(Panduan kpd pengembara dikala…)

Abta’a-Saa’il Masir
( lambat/lemah [dan mendengar])

Dinuhu haqqun Suraahun
(AgamaNya adalah benar , menjulang tinggi)

Dinuhu Mulkun Kabir
(AgamaNya adalah milikNya yng teragung)

Huwa Fi-Dunya Naimun
(sungguh berharga di dunia ini)

Wa Fi-l-Ukhraa Mataa’
(Dan dalam kehidupan seterusnya(akhirat) itu adalah kenikmatan)

Contoh Khotbah Jumat Singkat

Contoh Khotbah Jumat Singkat
Khotbah Jumat secara bahasa artinya pidato keagamaan yang dilakukan hari Jumat atau saat shalat Jumat.

Menurut KBBI, khotbah (bentuk tidak baku: kotbah, kutbah, khutbah) adalah pidato (terutama yang menguraikan ajaran agama).

Khutbah Jumat atau pidato keagamaan saat shalat Jumat ini harus dilakukan secara monolog, tanpa dialog dan tanya jawab, layaknya orasi, dan hadirin (jamaah Jumat) hanya mendengarkan dengan khusyu'.

Sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw dalam khotbah Jumat pertama beliau, khotbah Jumat hendaknya efektif dan ringkas. (Baca Juga: Gaya & Metode Khotbah Jumat Rasulullah).

Untuk itu, para khotib hendaknya memahamil "ilmu khotbah" sebagaimana dicontohkan Rasul, juga memahami syarat dan rukun khotbah. Khotbah Jumat hendaknya dilakukan ringkas, gak pake lama, demi efektifitas pesan atau wasiat takwa yang disampaikan kepada jamaah Jumat.

“Nabi Saw tidak memanjangkan nasihatnya pada hari Jumat. Beliau hanya memberikan amanah-amanah yang singkat dan ringkas” (H.R. Abu Dawud).

Khotbah Jumat diawali dengan doa pembuka dan diakhiri dengan doa penutup. (Lihat: Bacaan Pembuka dan Penutup Khotbah Jumat).

Dianjurkan, khotbah pertama berisi uraian tema khotbah atau wasiat takwa. Materi khotbah tuntaskan di khotbah pertama, sehingga di khotbah kedua langsung doa atau bacaan penutup, tanpa lagi membahas uraian sebagai di khotbah pertama, agar khotbah berlangsung singkat atau ringkas.

Contoh Khotbah Jumat Singkat

Berikut ini Contoh Khotbah Jumat Singkat, lengkap dengan bacaan atau doa pembuka dan penutup khotbah Jumat.

Khotbah Pertama 
Pembuka

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ


 اَمَّا بَعْدُ. فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن. قَالَ تَعَالَي: وَمَا اُمِرُوا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ القَيِّمَة

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Dalam Al-Quran, ada sebuah surat pendek, namun maknanya luas, yaitu Quran Surat Al-'Ashr.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Surat ini merupakan pedoman setiap Muslim dalam melaksanakan kehidupan pribadi dan sosial.

Surat pendek berisi risalah Islam tentang pentingnya waktu, iman, amal salih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya karena ia takkan kembali. Waktu luang wajib diisi dengan hal-hal bermanfaat, jangan disia-siakan.

Iman adalah pangkal keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Iman yang sebenar-benarnya mendorong amal kebaikan atau amal salih, minimal mengamalkan Rukun Islam sebagai ritual ibadah umat Islam.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Menurut Imam Syafi’i, seandainya manusia mencermati surat ini, yakni al-‘Ashr, secara seksama, niscaya surat ini akan mencukupi mereka.”

Allah Ta’ala telah bersumpah dengan masa tersebut bahwa manusia itu dalam kerugian, yakni benar-benar merugi dan binasa, kecuali:
  1. Orang-orang yang beriman 
  2. Mengerjakan amal shalih
  3. Saling menasehati dalam kebenaran
  4. Nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Keempat poin kandungan suat al-'ashr itu juga merupakan poin-poin utama kewajiban kaum Muslim terhadap Islam, yaitu:

Pertama, mengimani Islam. Percaya dan yakin, bahwa Islam satu-satunya agama Allah SWT yang menjadi pedoman hidup umat Islam dan umat manusia pada umunya.

Kedua, mengamalkan Islam, yakni berupa amal shalih atau amal kebaikan. Amal utama dalam Islam terangkum dalam Rukun Islam, yakni syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu.

Ketiga, mendakwahkan Islam. Islam tidak cukup diimani dan diamalkan, tapi juga harus didakwahkan atau disebarkan.

Sesama Muslim wajib saling menasihati atau saling mengingatkan dalam melaksanakan kebenaran, yakni ajaran Islam, dan saling mengingatkan untuk bersabar dalam menjalani beragam masalah kehidupan.

Poin ketiga ini, mendakwahkan Islam, juga terkandung kewajiban setiap Muslim untuk membela agama dan umat Islam, berupa berjuang di jalan Allah atau jihad fi sabilillah, baik dengan harta, pikiran, atau tenaga atau fisik.

Semoga kita dapat melaksanakan kewajiban sebagai Muslim dengan baik. Amin Ya Robbal 'alamin.

Barokallahu li walakum!

Khotbah Kedua

Bacaan & Doa Penutup


الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه.. وبعد

فَقَالَ تَعَالىَ: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْوَهَّابُرَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعينسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَوَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Demikian Contoh Khotbah Jumat Singkat. Wasalam. (www.risalahisam.com).*

Tiga Pilar Masyarakat Islam - Fondasi Masyarakat Madani (Madinah)

Tiga Pilar Masyarakat Islam
Tiga Pilar Masyarakat Islam - Fondasi Masyarakat Madani (Madinah): Masjid, Ukhuwah, Piagam Madinah.

Masyarakat Islam adalah masyarakat Muslim yang menjadikan Islam sebagai pedoman dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Masyarakat Islam sering disebut pula sebagai masyarakat madani atau masyarakat beradab (civil society).

Masyarakat Madani merujuk pada masyarakat yang dibangun sekaligus dipimpin Nabi Muhammad Saw di Madinah.

Madinah sendiri berakar kata "madani" yang artinya "beradab", dalam hal ini masyarakat yang menerapkan norma, aturan, atau adab-adab yang disyariatkan Islam.

Tiga Pilar Masyarakat Islam - Fondasi Masyarakat Madani (Madinah)

Menurut catatan sejarah, ada tiga pilar yang dibangun Nabi Muhammad Saw saat datang, berdomisili, dan dakwah Islam di Madinah (Yatsrib):
  1. Masjid
  2. Ukhuwah Islamiyah
  3. Piagam Madinah
Pilar #1. Masjid

Ketika Nabi Muhammad Saw dan para sahabat hijrah dari Mekah ke Madinah, yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Saw dan para sahabat di Madinah adalah membangun masjid.

Masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah ketika hijrah adalah Masjid Quba, sebelum beliau tiba di kota Yatsrib (Madinah) dan membangun Masjid Nabawi.

Quba adalah nama desa di luar Madinah yang ditempati Bani Amr bin Auf. Sejauh 2 mil perkiraan sekitar 3 Km. Asalnya adalah nama sumur di sana, kemudian setelah itu dikenal dengan nama desa.

Ketika Nabi Saw pergi ke arah Madinah, beliau turun di desa ini (Quba’) bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M. Berdiam selama 4 hari (Senin s.d. Kamis) dan membangun Masjid Quba’ dan shalat di dalamnya.

Rasulullah Saw menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat shalat berjamaah, tapi juga menyampaikan wahyu Allah SWT, memberikan pengajaran, tempat musyawarah, bahkan menyusun siasat perang.

Menurut Ali Mustafa, seperti dilansir Republika, ada lima fungsi Masjid pada zaman Rasulullah Saw, yakni:
  1. Tempat ibadah 
  2. Pembelajaran. 
  3. Tempat musyawarah
  4. Merawat orang sakit
  5. Asrama.
Melalui masjid, Rasulullah Saw membangun ketahanan spiritualumat Islam. Di mesjid beratapkan pelepah kurma, segala aktivitas umat dipusatkan. Mesjid merupakan 'rumah Allah' sekaligus rumah umat Islam.

Pilar #2. Ukhuwah Islamiyah

Pilar kedua yang ditegakkan Rasulullah Saw dalam membangun Islam di Madinah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor. 

Kaum Muhajirin adalah para sahabat yang datang bersama Rasulullah dari Mekah. Mereka rela meninggalkan seluruh harta benda mereka untuk ikut hijrah bersama Rasulullah. 

Kaum Anshor adalah kaum yang menyambut para sahabat yang datang dari Mekah bersama Nabi, kemudian membantu menyediakan berbagai fasilitas untuk tinggal di Madinah.

Dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor, mereka ikhlas untuk saling tolong menolong. Rasulullah Saw tidak membeda-bedakan keduanya, sebab Rasulullah menjunjung tinggi asas keadilan. Mereka mempunyai hak yang sama dalam hidup bermasyarakat.

Persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah) ini menjadi fondasi ketahanan sosial. Program persaudaraan antara kaum muhajirin dan anshor adalah pilar ketahanan sosial yang ditegakkan oleh Rasulullah SAW di kalangan kaum Muslimin. 

Rasul menggambarkan ukhuwah Islamiyah ini antara lain dalam hadits:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا

“Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya mengokohkan bagian lainnya.” (HR. Bukhari).

Dalam Al-Quran, ukhuwah Islamiyah antara lain diperintahan dalam ayat berikut ini:


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا 


"Dan berpeganglah kalian semua pada tali Allah (agama Islam) dan janganlah bercerai-berai" (QS Ali Imron:103).

Pilar #3. Piagam Madinah

Selain membangun ketahanan sosial di kalangan umat Islam, Rasulullah juga membangun ketahanan politik, yakni ketahanan masyarakat Madinah secara keseluruhan yang melibatkan Muslim dan non-Muslim.

Rasul mengikat ikrar warga Madinah, Muslim dan non-Muslim, untuk bersatu dan hidup berdampingan secara damai, penuh toleransi, dan saling menghormati dalam sebuah perjanjian yang disebut Piagam Madinah. 

Piagam Madinah (صحیفة المدینه, Shahifatul Madinah) --juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah-- adalah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara kaum Muslim dengan semua suku dan kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) tahun 622 Masehi. 

Tujuan utama pembuatan “Konstitusi Madinah” ini adalah menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj.

Poin-poin penting dari Piagam Madinah di antaranya adalah:
  • Nabi Muhammad merupakan pemimpin negara untuk semua penduduk Madinah.
  • Semua penduduk Madinah harus bersatu menjadi suatu kesatuan komunitas (ummah).
  • Semua penduduk Madinah bebas mengamalkan adat istiadat upacara keagamaan masing-masing.
  • Semua penduduk Madinah hendaklah bekerjasama dalam masalah ekonomi dan mempertahankan kota Madinah dari serangan musuh-musuh dari luar Madinah.

Demikian Tiga Pilar Masyarakat Islam - Fondasi Masyarakat Madani (Madinah) yang dibangun kukuh oleh Rasulullah Saw. (www.risalahislam.com).*

-- Sumber: Perjalanan Hidup Nabi Muhammad SAW (Sirah Nabawiyah) Shafiyurrahman al-Mubarakfury.

Hukum Merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah

Hukum Merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah
Tahun Baru Islam 1 Muharram dalam kalender Hijriyah biasanya diperingati atau dirayakan kalangan kaum Muslim.

Tahun ini (2018) tahun baru Islam 1 Muharram 1440 H bertepatan dengan 11 September 2018. Dalam kalender Indonesia, 11 September merupakan hari libur nasional Ttahun Baru 1440 Hijriyah.

Kalender Hijriyah diberlakukan sejak zaman Khalifah Umar bin Khattab. Dengan demikian, zaman Nabi Muhammad Saw dan Khalifah Abu Bakar belum ada kalender Hijriyah. 

Sudah tentu, nabi dan para sahabat zaman Nabi Saw dan era khalifah Abu Bakar belum mengenal tahun baru Islam, apalagi merayakan atau memperingatinya.

Karenanya, merayakan tahun baru Islam 1 Muharram tidak ada dalil maupun contohnya dari Rasulullah Saw, sehingga perayaan atau peringatan tahun baru Islam merupakan hal baru yang dalam istilah fiqih disebut bid'ah.

Tidak ada juga doa awal dan akhir tahun sebagaimana banyak beredar di kalangan masyarakat Muslim. 

Hijrah Bukan Bulan Muharram

Perayaan tahun baru Islam diyakini sebagian umat Islam sebagai peringatan hijrah, yakni pindahnya Nabi Muhammad Saw dan para sahabat dari Makkah ke Madinah (Yatsrib).

Hal itu mengacu pada catatan sejarah, bahwa saat kalender Hijriyah akan ditetapkan Khalifah Umar bin Khattab, forum musyawarah saat itu menyetujui usulan Ali bin Abi Thalib untuk menjadikan peristiwa Hijrah menjadi tahun pertama kalender Islam --karenanya dinamakan kalender Hijriyah.

Landasannya adalah firman Allah SWT. 

"Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya" (QS. At-Taubah:108)

Para sahabat saat itu memahami, makna sejak hari pertama dalam ayat tersebut adalah hari pertama kedatangan Nabi Muhammad Saw di Yatsrib (Madinah). Oleh karena itu, moment tersebut pantas dijadikan acuan awal tahun kalender hijriyah.

Untuk nama bulan pertama kalender Hijriyah, yakni Muharram, ditetapkan atas usul Utsman bin Affan. Alasannya, sejak dulu orang Arab menganggap Muharram adalah bulan pertama. Umat Islam juga telah menyelesaikan ibadah haji pada bulan Dzulhijjah.

Hijrah Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah tak terjadi pada tanggal 1 Muharram. Para ahli sejarah bersepakat, hijrah Nabi Saw terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan bulan Muharram

Dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum, Syeikh Al-Mubarakfury mengatakan, Muhammad Saw meninggalkan kediamannya di Mekkah ke kediaman Abu Bakar saat hari gelap atau malam hari, yakni pada tanggal 27 Shafar. 

Dari kediaman Abu Bakar, Rasulullah bersama Abu Bakar meninggalkan Mekkah ke tempat yang berlawanan dengan Madinah, menuju Gua Tsaur, untuk bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy. Nabi Muhammad SAW. sempat menginap di dalam gua tersebut selama tiga malam, yakni malam Jumat, Sabtu, dan Ahad.

Bersama Abu Bakar dan Abdullah bin Uraiqith serta orang kafir penunjuk jalan, Rasulullah Saw memulai perjalanan ke Madinah lewat jalan yang tak lumrah.

Dalam Sirrah Nabawiyah disebutkan, Rasulullah Saw tiba di daerah Quba, sekian kilometer sebelum masuk kota Madinah, pada Senin 8 Rabiul Awwal (23 Sept 622 M).

Di Quba ini Rasulullah Saw sempat menginap dari hari Senin, Selasa, Rabu, hingga Kamis. Rasulullah bergerak menuju Madinah hari Jumat, 11 Rabiul Awwal.

Dengan demikian, tidak tepat bila tanggal 1 Muharram diperingati peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah, karena hijrah Rasulullah tak terjadi pada bulan Muharram. 

Jika ingin memperingati hijrah nabi, waktunya seharusnya antara 27 Shafar hingga 11 Rabiul Awwal.

Memperingati 1 Muharam sebenarnya memperingati ulang tahun kelahiran Al-Madinah Al-Munawwarah. Sebab, pada dasarnya penetapan kalender hijriah itu dari kepentingan sistem adminstrasi negara. 

Umar serta para shahabat ketika itu setuju untuk mulai hitungan tahun pertama adalah sejak berdirinya negara Madinah, yang secara politis dijatuhkan pada tahun saat Nabi Saw hijrah dan tiba di Madinah.

Hukum Merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah

Bagaimana hukum memperingati Tahun Baru Islam?
Peringatan atau perayaan tahun baru Islam 1 Muharram tak ada dasarnya dalam Islam. Lagi pula, dalam Islam hari raya hanya ada dua, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.

Peringatan atau peringatan tahun baru merupakan tradisi kaum non-Muslim yang biasa memperingati Tahun Baru Masehi, termasuk ucapan "Selamat Tahun Baru" (Happy New Year). Bahkan, umat Kristen menyatukannya dengan perayaan Natal --Merry Christmas and Happy New Year.

Dalam Islam, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro) merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Dari Abu Bakroh, Nabi Saw bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

Baca Juga: Amalan Sunah Bulan Muharram

Demikian ulasan ringkas tentang Hukum Merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram Hijriyah. Wallahu a'lam bish-shawab. (www.risalahislam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *