4 Peristiwa Bersejarah di Bulan Rajab: Isra Mi'raj, Tabuk, Yerusalem, Khilafah Islam

Rajab (رجب‎) adalah bulan ke-7 tahun Hijriah. Banyak Peristiwa bersejarah bagi umat Islam di bulan Rajab.
Peristiwa Bersejarah di Bulan Rajab

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan mulia (syahrul haram). Rajab menyimpan peristiwa sejarah yang penting bagi umat Islam.

Secara khusus, terdapat lima peristiwa penting dalam sejarah Islam.

1. Isra Mi'raj

Tanggal 27 Rajab, Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam hari dari Masjid Hara (Makkah) ke Masjid Al-Aqsha (Palestina), dan naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.

Peristiwa ini dikenal dengan Isra' Mi'raj. Umat Islam biasa memperingatinya dengan pengajian atau tablig akbar, salah satunya membahas shalat. (Baca: Tiga Golongan Musholli).

Dengan demikian, Rajab  merupakan bulan Allah SWT mewajibkan sholat lima waktu bagi umat Islam.

2. Perang Tabuk

Perang Tabuk adalah peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah SAW tahun 9 Hijriyah. Perang terjadi akibat rencana Raja Romawi yang akan menyerang Madinah dengan pasukan yang besar melalui Syam.

Menjelang pertempuran inilah Abu Bakar ra mengorbankan seluruh hartanya, sehingga ketika ia ditanya oleh Nabi SAW, “Apa yang kamu tinggalkan di rumahmu? Ia menjawab, “Kutinggalkan Allah dan Rasul-Nya bersama mereka.”

Kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran Tabuk menandai selesainya otoritas Islam atas seluruh Semenanjung Arab.

Sebanyak 30.000 pasukan Muslim menggentarkan tentara Romawi yang telah berada di Tabuk. Ketika mendengar jumlah tentara Muslim yang dipimpin langsung Rasulullah Saw, tentara Romawi bergegas kembali ke Syam.

Hal ini menyebabkan penaklukan Tabuk menjadi sangat mudah dan dilakukan tanpa perlawanan. Rasulullah SAW menetap di tempat ini selama sebulan.

Beliau mengirimkan surat kepada para pemimpin dan gubernur di bawah kendali Romawi untuk membuat perdamaian. Pemimpin daerah Romawi menyetujuinya dan membayar Jizyah.

3. Pembebasan Yerusalem

Pembebasan Yerussalem (Baitul Maqdis) dari tentara Salib Eropa yang telah memerintah selama hampir satu abad. Peristiwa penting dalam Perang Salib ini terjadi pada bulan Rajab tahun 1187 M yang dipimpin oleh Salahuddin al Ayyubi

Penaklukan ini bukan hanya karena pentingnya asasi Yerusalem dalam Islam, tetapi juga karena peran tentara salib dalam upaya untuk menaklukkan negeri-negeri Muslim.

Penaklukkan Yerusalem terjadi tanggal 20 September sampai 2 Oktober 1187.

Salahuddin al Ayyubi mencapai Yerusalem dengan banyak pasukan, mendirikan kemah, dan memulai pengepungan. 

Pada tanggal 21 September pasukan Salahuddin al Ayyubi mendapat perlawanan sengit. Pada malam 25 sampai 26 September, ia pindah kemahnya di Bukit Zaitun di sisi timur laut kota. Akhirnya pada tanggal 29 September pasukan Islam telah telah berhasil merobohkan dinding benteng.

Pertempuran berakhir dengan menyerahnya Yerusalem pada 2 Oktober 1187, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab yaitu tanggal peringatan Isra' dan Mi'raj.

4. Berakhirnya Era Khilafah Islam

Pada 1924 M, bulan Rajab kembali menuliskan sejarah bagi umat Islam. Pada 28 Rajab, Khalifah Utsmaniyah (Ottoman Turki) dibubarkan oleh Mustafa Kemal Pasha.

Khalifah Utsmaniyah Turki merupakan khalifah terkahir umat Islam. Sejak saat itu, Mustafa Kemal mengubah Turki menjadi negara sekuler.

Mustafa Kemal yang menjadi Presiden Turki menghapus semua syariah Islam dan mengganti hukum-hukum Islam dengan paham hukum Barat atau menetapkan paham sekuler pada negara tersebut.

Sumber: Sirrah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Ensikopedia Islam; Republika.

Pengertian Kafir secara Bahasa, Istilah, dan Menurut Islam

Pada kajian sebelumnya, kita sudah bahas tiga golongan manusia (muslim, kafir, munafik). Kali ini kita bahas pengertian kafir secara bahasa, istilah, dan menurut Islam.

Pengertian Kafir

Orang yang memilih agama selain Islam, ditolak oleh Allah SWT.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" (QS. 3:85).

Pengertian Kafir secara Bahasa

Dalam bahasa Indonesia, kafir adaah orang yang tidak percaya kepada Allah Swt. dan rasul-Nya (KBBI).

Dalam bahasa Arab, kāfir (كافر) artinya adalah menutup kebenaran, menolak kebenaran, atau mengetahui kesalahan tapi tetap menjalankannya.

Kata kafir merupakan ism fa'il (kata pelaku) dari kata kafara-yakfuru-kufr

Dalam al-Qur’an, kata "kafir" (plural: kafirin, kafirun) ini disebutkan sebanyak 525 kali dengan makna a.l. menutupi, melepaskan diri, menghapus, dan denda karena melanggar salah satu ketentuan Allah swt. 

Dari beberapa arti di atas, menurut al-Asfahani dan Ibn Manzur, yang dekat kepada arti secara istilah adalah menutupi dan menyembunyikan. 

Ensiklopedia al-Qur’an menyebutkan, "kafir" adalah lawan daripada "iman". Kafir yaitu pengingkaran terhadap Allah Swt., pengingkaran kepada para Nabi dan Rasul, serta semua ajaran yang mereka bawa, dan pengingkaran kepada hari akhir.

Macam-macam orang kafir

Menurut Eksiklopedia al-Qur’an, jenis-jenis orang kafir ada lima.

1. Kufur Juhud

Kufur Juhud adalah orang yang ada pengakuan terhadap Tuhan di dalam hati, tetapi tidak diringi dengan ucapan. 

Kekafiran seperti ini, telah ada sebelum kerasulan Muhammad Saw seperti yang terdapat di dalam kisah Fir’aun.

"Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: "Ini adalah sihir yang nyata". Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan." (QS An-Naml:13-14)

Kekafiran semacam itu, juga ada pada kafir Mekkah dan Yahudi di Madinah, misalnya menceritakan kaum Yahudi yang mengingkari kerasulan Muhammad karena bukan dari keturunan mereka.

2. Kafir Ingkar

Kufur ingkar yakni kafir terhadap Allah Swt., para Nabi dan Rasul, serta semua ajaran-Nya, dan hari akhir. 

Kafir seperti ini sama dengan zalim dan fasik. Sebab siksaan untuk mereka terkait dengan prilaku zalim dan fasik yang mereka lakukan sebagaimana dalam QS al-Ahqaf/46: 20.

"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik".

Ciri yang dominan pada kekafiran ini adalah pendustaan ayat-ayat Allah Swt., sombong, mempertuhankan hawa nafsu, dan tidak mempercayai mukjizat. 

Pada dasarnya Kufur Ingkar mempunyai persamaan dengan Kufur Juhud, terutama pada penolakan terhadap kebenaran Tuhan. perbedaannya terletak pada posisi pelakunya, kafir Juhud karna kesombongannya, sedangkan kafir Ingkar karna ketidakyakinannya akan kebenaran.

3. Kafir Nifaq

Yang dimkasud Kufur Nifaq adalah pembenaran dengan ucapan namun diingkari dengan hati. Kekafiran seperti ini, merupakan kebalikan dari kafir Juhud.

Imam al-Asfahani mengartikannya masuk agama melalui pintu yang satu, dan keluar dari pintu yang lain. Imam al-Tabatabai mengartikannya dengan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. 

Munafik digolongkan kafir karena pengingkarannya secara terselubung. gejala ini terlihat pada priode sebelum hijrah dan menonjol setelah hijrah ke Madinah. orang kafir yang seperti ini ketika shalat selalu bermalas-malasan dan tidak khusyu’.

4. Kafir Syirik

Kafir Syirik yakni mempersekutukan Allah dengan makhluk atau menyembah selain Allah Swt (mengingkari keesaan Allah atau tauhid). 

Mereka tidak menampik adanya Tuhan sebagai pencipta Alam, tetapi mempercayai bahwa ada Tuhan selain Allah Swt baik itu berbentuk materi atau nonmateri. yang menurut mereka dapat mendatangkan manfaat bagi manusia. 

Berbuat Syirik merupakan dosa besar dan tidak diampuni dosanya oleh Allah swt. firman-Nya dalam QS al-Nisa’/4: 48.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."

5. Kafir al-Irtidad

Yakni kafir yang keluar dari agama Islam dan menjadi kafir (Murtad) karena sebelumnya mereka juga telah Kafir. 

Dalam al-Qur’an disebutkan, kafir yang seperti ini jika meninggal, maka akan mati dalam kekafiran. Sebagaimana dalam QS al-Baqarah/2:217.

"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. katakanlah: "berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjid al-Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka. Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS. An-Nisa : 137).

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ ٱلْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ ٱفْتَدَىٰ بِهِۦٓ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ


"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Ali 'Imran 3:91).

Demikian Pengertian Kafir secara Bahasa, Istilah, dan Menurut Islam. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Tiga Golongan Manusia: Muslim, Kafir, Munafik dan Pengertiannya

UMAT manusia di dunia ini terbagi kedalam tiga golongan Manusia, yakni muslim atau mukmin, kafir, dan munafik. Golongan kaum Muslim terbagi lagi menjadi tiga golongan umat Islam.

Tiga Golongan Manusia menurut Al-Quran: Muslim, Kafir, Munafik

Pengertian Muslim, Kafir, Munafik

Berikut ini pengertian Muslim, Kafir, Munafik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
  1. Muslim adalah penganut agama Islam. 
  2. Kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah Swt dan rasul-Nya (dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad Saw). 
  3. Munafik adalah berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama (Islam) dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua.

Tiga Golongan Manusia

Dalam Al-Quran Surah Al Baqarah ayat 1-20, Allah SWT menyebutkan secara rinci, ada tiga golongan manusia dalam menghadapi datangnya Al-Qur’an, yakni golongan muslim atau mukmin, kafir, dan munafik.

Dalam QS 2:1-20 itu Allah SWT menjelaskan secara rinci karakteristik muslim (mukmin/mutakin), kafirin, dan munafikin.

Tiga golongan manusia ini diklasifikasikan berdasarkan sikapnya terhadap ajaran Islam yang bersumberkan Al-Quran.

1. Muslim (مسلم)

Secara harfiyah, Muslim adalah secara harfiah berarti "seseorang yang berserah diri kepada Allah". Siapa pun yang berserah diri atau tunduk, patuh, dan taat kepada Allah SWT disebut muslim.

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam” (Surat Al-Baqarah:2:131)
Selengkapnya: Pengertian Muslim yang Sebenarnya.

Muslim adalah orang yang beragama Islam dengan kewajiban pokoknya berupa syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji (Rukun Islam).

Muslim yang benar-berar menganut Islam disebut mukmin (mu'min, مؤمن) atau "orang yang beriman (percaya)". Orang yang hanya mengaku beragama Islam atau pura-pura menjadi sorang muslim disebut munafik.

Karena itu, ada perbedaan antara muslim dan mukmin. Muslim belum tentu mukmin, namun mukmin sudah tentu muslim.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman (mukmin), tapi katakanlah ´kami telah tunduk´ (muslim), karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al Hujurat:14).

Dengan demikian, mukmin adalah seorang muslim yang benar-benar percaya akan Islam, dibuktikan dengan mengamalkan ajaran Islam.

Ciri-ciri golongan mukmin dalam Al-Quran:

  • QS 2:2 Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
  • QS 2:3 (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
  • QS 2:4 dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quraan) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat
  • QS 2:5 Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

2. Kafir (كافر)

Kafir adalah orang yang tidak beragama Islam. Al-Quran dengan tegas menyebut orang yang tidak beriman dengan istilah kafir, misalnya dalam QS Al-Kafirun yang menjadi pedoman utama toleransi dalam Islam.

Jadi, setiap orang yang bukan muslim (non-muslim), dalam Islam disebut kafir.

Secara bahasa, kāfir (dari kafaro) artinya adalah menutup kebenaran, menolak kebenaran, atau mengetahui kesalahan tapi tetap menjalankannya, dalam hal ini menutup atau menolak kebenaran ajaran Islam.

Dalam QS Al-Baqarah disebutkan, orang kafir memiliki ciri  tidak  mengakui Muhammad SAW sebagai utusan Allah, dan hatinya dikunci oleh Allah SWT untuk tidak beriman.

Ciri golongan kafir antara lain:

  • QS 2:6 Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
  • QS 2:7 Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

3. Munafik (منافق)

Golongan munafik (munafiq) adalah orang yang pura-pura beriman, mengaku muslim, padahal tidak, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqoroh: 8-14.

"Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman" (QS 2:8).

Di depan kaum muslim, mereka mengaku beriman, namun di belakang atau ketika berada di kelompoknya sesama munafik, mereka mengaku hanya bercanda dengan mengaku beriman.

"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, tetapi bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS 2:14).

Dalam ayat lain, ciri golongan munafik disebutkan:

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah", dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (QS Al-Munafiqun 63:1-3).

Orang munafik itu selalu ‘berwajah dua’, kalau berkumpul dengan orang Mukmin mereka mengaku beriman tapi saat bergabung dengan orang kafir, mereka menyatakan kafir.

Karena itulah, orang munafik lebih berbahaya daripada orang kafir, karena orang munafik masuk kedalam barisan golongan umat Islam dan merusak dari dalam. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Kaum Muslim Terbagi Tiga Golongan: Sabiqun, Muqtashid, Zhalim

Kaum Muslim Terbagi Tiga Golongan: Sabiqun bil Khairat, Muqtashid, Zhalimu Linafsih.

golongan muslim

ALLAH SWT menyebutkan, umat Islam terbagi kedalam tiga golongan atau kelompok, berdasarkan ketaatannya kepada syariat Islam yang bersumberkan Al-Quran.

Hanya ketiga kelompok Muslim ini pula yang ada dalam Islam, bukan sebutan-sebutan kelompok umat Islam yang sering dipropagandakan media-media anti-Islam.

Ketiga golongan kaum Muslim menurut Al-Quran itu adalah
  1. Zhalimu Linafsih
  2. Muqtashid
  3. Sabiqun bil Khairat
Dalam QS. Al-Fathir disebukan:


ُثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Fathir: 32).

Pengertian Sabiqun bil Khairat, Muqtashid, Zhalimu Linafsih.


Apa pengertian dan kriteria golongan Sabiqun bil Khairat, Muqtashid, Zhalimu Linafsih? Dalam Tafsir Al-Quran Departemen Agama RI disebutkan:
  1. Zhalimu Linafsih adalah orang yang menganiaya dirinya sendiri, yaitu orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya. 
  2. Muqtashid adalah pertengahan, yaitu orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya.
  3. Sabiqun bil khairat adalah golongan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan, yaitu orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan
  1. Dzalimun linafsihi atau orang-orang yang menganiaya diri sendiri adalah orang-orang yang meninggalkan kewajiban dan melakukan banyak maksiat.
  2. Muqtashid atau pertengahan adalah orang-orang yang hanya melakukan perbuatan wajib dan menghindarkan diri dai perbuatan maksiat, meninggalkan perbuatan-perbuatan baik, namum suka melakukan perbuatan-perbuatan makruh (tercela).
  3. Sabiqun bilkhairat atau orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan adalah orang-orang yang melaksanakan kewajiban dan kebaikan-kebaikan lainnya, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang haram dan makruh, bahkan juga meninggalkan perbuatan yang mubah.”
Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan, Mujahid, Al-Hasan, dan Qatadah menjelaskan:
  1. Zhalimun linafsihi (orang yang mendzalimi diri sendiri) adalah ash-habul masy’amah (golongan kiri).
  2. Muqtashid (pertengahan) adalah ash-habul maimanah (golongan kanan). 
  3. Sabiqun bilkhairat (lebih dahulu berbuat kebaikan) adalah al-muqarrabun
Pendapat dalam Tafsir Al-Baghawi itu berdasarkan QS Al-Waqi'ah:7-2 

وَكُنتُمْ أَزْوَاجاً ثَلَاثَةً ◌ فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ ◌ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ ◌ وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ ◌ وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ ◌ أُوْلَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ ◌ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

“Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, Mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan.” (QS Al-Waqi’ah: 7-12)

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Darda, Rasulullah saw. bersabda:
  1. Kelompok Saabiqun adalah mereka yang akan masuk janah (surga) dengan tanpa hisab. 
  2. Kelompok muqtashid adalah mereka yang akan dihisab dengan hisab yang ringan (hisaban yasiira). 
  3. Kelompok dhalimun adalah mereka yang mendapat rintangan sepanjang mahsyar, kemudian Allah menghapus kesalahannya karena rahmat-Nya.
Setelah diampuni Allah, kelompok zhalimun ini  berkata, "Dan mereka Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rab kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (jannah) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu." (QS Fathir: 34--35). (HR Imam Ahmad).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, suatu ketika  Aisyah r.a. ditanya oleh Uqbah bin Shuhban al-Hinai tentang ayat di atas. Beliau menjawab, "Wahai anakku, mereka berada di janah. Adapun sabiq bil khairat adalah mereka yang telah berlalu pada masa Rasulullah saw., Rasulullah menjanjikan untuk mereka janah. Adapun muqtashid adalah mereka yang mengikuti jejaknya dari kalangan sahabatnya, sehingga bertemu dengan mereka. Adapun dhalim linafsih adalah seperti aku dan kalian?."

Komentar ibunda Aisyah r.a. yang mengelompokkan dirinya ke dalam dhalim linafsih, tentu sebuah ketawadhu'an, sebagaimana dinyatakan oleh Uqbah bin Shuhban. Menurutnya, Aisyah justru termasuk pemuka sabiq bil khairat. Namun, bagi kita tidak ada alasan untuk tidak menyatakan diri kita sebagai muqtashid apalagi sabiq bil khairat.

Tiga kelompok di atas memang akhirnya dinyatakan akan masuk janah, karena mereka adalah umat Muhammad Saw yang bertauhid. Namun, kelompok zhalim linafsih berada pada posisi terancam karena akan melewati proses hisab yang berat dan belum tentu mendapat ampunan dan rahmat Allah SWT.

Semoga kita termasuk kelompok Sabiqun bil Khairat, yaitu golongan kaum Muslim yang bersegera dalam kebaikan, melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, juga menjalankan amalan-amalan sunah, dan menjauhi perbuatan makruh apalagi haram. Amin...! Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *