Islam Tidak Mengenal Hari Valentine - Kaum Muslim Takkan Merayakannya

Valentine’s Day (Hari Valentin) 14 Februari adalah perayaan umat non-Muslim, yakni peringatan kematian Pendeta St. Valentine. Muslim yang baik tidak akan ikut merayakannya.
Say No to Valentine's Day!


Say No to Valentine's Day
SEORANG Muslim tidak akan merayakan Hari Valentine (Valentine's Day). Pasalnya, Valentine tidak dikenal dalam Islam dan bukan bagian dari budaya umat Islam.

Menurut Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Yunahar Ilyas, Islam tidak mengenal istilah perayaan hari kasih sayang (Valentine).

Terdapat kekeliruan cara pandang pada perayaan Valentine oleh segelintir orang, terutama kalangan pemuda dan pemudi. Karena mereka, lanjut Yunahar, terkadang menginterpretasikan perayaan tersebut sebagai momentum untuk menunjukkan kasih sayang melalui hubungan fisik.

"Ada banyak yang mensurvei setelah perayaan valentine itu pasti ditemukan kondom berserakan, banyak perempuan hamil tanpa kawin. Karena mereka salah menangkap makna kasih sayang itu," ujarnya kepada Republika Senin (8/2).

Karena itu, ia menyarankan agar para anak-anak muda Muslim agar tidak turut serta dan larut dalam perayaan Valentine. Sebab, istilah valentine atau perayaan hari kasih sayang memang tidak ada dalam ajaran Islam.

Hari Valentine Peringatan Non-Muslim

Seperti diulas dalam posting sebelumnya, Hukum Merayakan Valentine, Valentine’s Day (Hari Valentin) 14 Februari adalah perayaan umat non-Muslim, yakni peringatan kematian Pendeta St. Valentine.

Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus”,  merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci dalam Katolik) yang berbeda: seorang pastur di Roma, uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa (Wikipedia).

Hubungan antara tiga santo tersebut terhadap perayaan V alentine atau “hari kasih sayang” tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan, Paus Gelasius II tahun 496 M menyatakan, sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga santo itu.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Tanggal 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (Dewa Kesuburan) yang dirayakan tanggal 15 Februari. 

Beberapa sumber menyebutkan, jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Church di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI tahun 1836.

Sejak itu, banyak wisatawan yang adalah nama seorang paderi, Pedro St. Valentino.
Literatur lain menyebutkan, tanggal 14 Februari 270 M, St. V alentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi, Raja Claudius II (268 – 270 M). 

Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai “upacara keagamaan”.

Tetapi sejak abad 16 M, ‘upacara keagamaan’tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.

Jelas,  Islam Tidak Mengenal Hari Valentine - Kaum Muslim Takkan Merayakannya. Say No to Valentine's Day! (www.risalahislam.com).*

Hukum Merayakan Hari Valentine

Hukum Merayakan Hari Valentine
Valentine’s Day (Hari Valentin) tanggal 14 Februari adalah perayaan umat non-Muslim. Maka, tidak selayaknya (baca: haram) umat Islam ikut merayakannya. Tanggal 14 Februari 1492 juga adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Spanyol. 

Valentine’s Day (Hari Valentin) adalah Peringatan Kematian Pendeta St. Valentine. Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus”,  merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci dalam Katolik) yang berbeda: seorang pastur di Roma, uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa (Wikipedia).

Hubungan antara tiga santo tersebut terhadap perayaan V alentine atau “hari kasih sayang” tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan, Paus Gelasius II tahun 496 M menyatakan, sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga santo itu.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Valentine's Day Peringatan Pendeta

Tanggal 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (Dewa Kesuburan) yang dirayakan tanggal 15 Februari. 

Beberapa sumber menyebutkan, jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Church di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI tahun 1836.

Sejak itu, banyak wisatawan yang adalah nama seorang paderi, Pedro St. Valentino.

Catatan lain menyebutkan, tanggal 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Spanyol. Jadi, tumbangnya kerajaan Islam di Spanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Maka, apakah umat Islam akan turut merayakan keruntuhan kejayaan Islam di Spanyol itu?

Valentine Misa Khusus Gereja

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo V alentinus dengan cinta berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Literatur lain menyebutkan, tanggal 14 Februari 270 M, St. V alentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi, Raja Claudius II (268 – 270 M). 

Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan, maka para pengikutnya memperingati kematian St. V alentine sebagai “upacara keagamaan”.

Tetapi sejak abad 16 M, ‘upacara keagamaan’tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.

Setelah orang-orang Romawi itu masuk Kristen, pesta “supercalis” kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. V alentine. Penerimaan upacara kematian St. V alentine sebagai ‘hari kasih sayang’ juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu ‘kasih sayang’ itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’pada tanggal 14 Februari.

Dalam bahasa Prancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti ‘galant atau cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berpikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya tanggal 14 Februari.

Dipercayai 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung):

For this was sent on Seynt Valentyne’s day (“Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)
When every foul cometh there to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”).

Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London.

Menurut catatan Wikipedia, Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut.

Valentine HARAM bagi Umat Islam

Semua ulama di seluruh dunia bersepakat, umat Islam tidak boleh merayakan Valentine karena Valentina adalah “ritual” atau “hari raya” non-Muslim yang harus kita hormati tanpa harus turut merayakannya.

Umat Islam dilarang merayakan Hari Valentine dengan cara apa pun. Valentine itu perayaannya kaum Katolik. Kita hormati keyakinan mereka, namun tidak boleh ikut merayakannya.

Para pemuka agama Islam di seluruh dunia dari golongan dan gerakan Islam mana pun telah sepakat bahwa HARAM hukumnya bagi umat Islam untuk ikut-ikutan merayakan Hari Valentine dengan tingkat partisipasi sekecil apa pun, bahkan sekadar mengucapkan “Selamat Hari Valentine” atau “Happy Valentne”.

Ulama Arab Saudi bahkan menulis risalah khusus soal Valentine. Download Fatwa Haram Soal Valentine.

Hukum Merayakan Hari Valentine

Rasulullah Saw dengan tegas melarang umat Islam untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut” (HR. At-Tirmidzi).

Ulama kenamaan, Ibnul Qayyim, berkata:

“Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan “Selamat hari raya!” dan semisalnya. 

Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyembah Salib.

Bahkan, perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut.”

Bagaimana dengan TV-TV kita yang mengadakan acara khusus Valentine? Sudah jadi rahasia umum, para bos media tersebut kebanyakan non-Muslim dan tidak komitmen pada Islam. Selain itu, TV bertujuan komersial semata, kurang memperhatikan hal-hal yang terkait dengan akidah. 

SIKAP DASAR KAUM MUSLIM 
Katakanlah, “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6). (www.risalahislam.com, dari berbagai sumber).*

No Hijab Day, Ajakan Setan Berbentuk Manusia

NO HIJAB DAY trending topic di Twitter Indonesia. Kampanye No Hijab Day atau Hari Tanpa Mengenakan Jilbab adalah ajakan setan berbentuk manusia.

No Hijab Day, Ajakan Setan Berbentuk Manusia

Kampanye No Hijab Day adalah ajakan kaum kafir, munafik, dan fasik untuk menentang ajaran Islam tentang kewajiban mengenakan hijab bagi kaum perempuan Muslim yang dewasa (muslimah).

Menurut Ustaz Willyuddin A. R. Dhani dari Komunitas Cinta Tauhid dan Cinta Qur’an, Bogor, kampanye “No Hijab Day” yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial dinilai sebagai ajakan setan.

Ustaz yang juga aktivis Islam Nasional ini berpesan, No Hijab Day adalah ajakan dari setan-setan yang dari golongan manusia.

"Jangan ikuti kampanye mereka, karena sesungguhnya mereka itu hanya akan mengajak golongannya untuk menjadi calon penghuni nereka”, kata Ustaz Dhani melalui keterangan tertulisnya, Kamis (30/1/2020).

Uztaz Dhani mendasarkan sarannya ini pada QS. Al-An’am 6: Ayat 70, yang berbunyi:

“Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur’an agar setiap orang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Dan jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), disebabkan perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.”

Kampanye No Hijab Day digelar melalui media sosial. Kampanye anti-Islam ini dipelopori oleh Yasmine Mohammad. Kampanye hari tanpa hijab ini dirayakan setiap 1 Februari.

"Meskipun Hijrah Indonesia tidak selalu sepakat dengan pandangan-pandangannya mengenai keislaman, tetapi kami memahami keresahannya dalam hal hijabisasi dan niqabisasi di seluruh dunia Muslim,” kata Admin Fan Page Hijrah Indonesia di Facebook.

Hijrah Indonesia membuatkan laman acara “No Hijab Day” di media sosial terbesar di dunia tersebut.

Dalam penjelasan acara, Hijrah Indonesia menulis “Karena itulah, Hijrah Indonesia mengajak Anda para perempuan Indonesia baik Muslim maupun bukan Muslim untuk meramaikan #NoHijabDay dengan menayangkan foto foto Anda berbusana dengan nuansa Indonesia dengan memperlihatkan kepala Anda tanpa memakai hijab/jilbab/ niqab/cadar/ kerudung dan semacamnya di akun media sosial Anda, baik instagram, facebook, maupun twitter dan blog Anda dengan hashtag #NoHijabDay dan #FreeFromHijab pada 1 Februari 2020”.

Menurut Uztaz Dhani, hijrah menurut Islam adalah berpindah (berubah) dari satu tempat yang dimurkai Allah ke tempat yang diridhoi Allah. 

Hijrah juga bermakna berubah atau berpindah dari perilaku yang tidak diridhoi Allah SWT atau buruk menurut syariat Allah kepada perilaku yang diridhoi Allah, yaitu mengundang berkah dan kemuliaan dari Allah.

"Nah yang dilakukan kelompok “Hijrah Indonesia” kok malah sebaliknya? Berhijab itu perintah Allah, lho?  Kok mereka malah mengkampanyekan sebaliknya? Padahal pakai nama Hijrah Indonesia?” tegas kata Uztadz Dhani.

Kampanye No Hijab Day disambut antusias muslimah yang tidak mengenakan jilbab. Kalangan kafir dan munafik atau yang belum sempurna keimanannya juga menyambut gembira ajakan melepas jilbab ini.

Bukan yang Pertama

Kampanye No Hijab Day bukan yang pertama. Pada 2014, gerakan Islamofobia yang makin marak di media sosial juga menghadirkan gerakan "No Hijab Day".

Gerakan ini memprovokasi agar setiap Muslimah berjilbab melepas hijabnya dalam satu hari, yakni pada 11 Oktober 2014.

Gerakan tersebut juga mengunggah foto berjudul No Hijab Day. Dalam keterangannya, gerakan tersebut mengungkapkan pernyataan sebagai berikut.

"Dalam solidaritas terhadap perempuan Muslim yang dipaksa mengenakan jilbab atau dikatakan, Allah akan menghukum mereka karena tidak menggunakan jilbab. Semua pria dan wanita, Muslim dan non-Muslim, diundang untuk tidak menggunakan jilbab untuk sehari".

Gerakan ini pun mendapat banyak kecaman. Akun twitter beridentitas Hannah Hafiz menjelaskan, apa yang salah dengan menggunakan hijab sehingga No Hijab Day kemudian dibuat?

Kontra World Hijab Day

Kampanye No Hijab Day adalah respons kaum anti-Islam terhadap suksesnya Hari Hijab Sedunia (World Hijab Day) yang dirayakan tiap 1 Februari.

World Hijab Day


World Hijab Day (WHD) dirayakan kaum Muslimah yang mengenakan jilbab di seluruh dunia. Tanggal 1 Februari ditetapkan sebagai Hari Jilbab Sedunia.

WHD digelar atas inisiatif seorang perempuan berhijab dari Amerika Serikat, Nazma Khan. Ia mengimbau untuk semua penduduk dunia agar menghormati para perempuan yang mengenakan jilbab.

Bagi yang Muslim, kenakanlah jilbab satu hari ini saja apabila belum mengenakan jilbab setiap harinya. ''Bagi yang non-Muslim, hari itu bisa menjadi saat untuk mengetahui apa itu jilbab,'' ujarnya, dari laman resmi worldhijabday.com.

Respons yang didapatkan ternyata sangat positif. Banyak para perempuan Muslim dari seluruh penjuru dunia mengisi lamannya, bercerita tentang pengalaman mereka saat mengenakan jilbab.

Banyak perempuan Muslim dari seluruh dunia menceritakan pengalamannya, mengapa ia memutuskan memakai jilbab, atau respons orang-orang terdekatnya ketika ia mengenakan jilbab.

Juga ada testimoni dari para perempuan non-Muslim, yang pada hari itu mereka tahu apa manfaat mengenakan jilbab.

Dan ternyata tidak sesuai dengan perkiraan mereka yang selama ini menganggap bahwa perempuan berjilbab merupakan bagian dari teroris.

Menurut Nazma, World Hijab Day ini bertujuan untuk solidaritas bagi para perempuan yang mengenakan jilbab di seluruh dunia.

Jelaslah, No Hijab Day adalah upaya kaum kafir, munafik, dan fasik untuk menentang World Hijab Day sekaligus mengkampanyekan Islamofobia atau anti-Islam. Wallahu a'lam. (www.risalahislam.com).*

Keutamaan Bulan Jumadil Akhir: Teladan Abu Bakar, Umar, dan Khalid bin Walid

Jumadil Akhir (Jumadilakhir, Jumada al-Akhira, جمادى الآخرة) atau Jumadits Tsani (جمادى الثاني) adalah bulan keenam dalam penanggalan Hijriyah.

Keutamaan Bulan Jumadil Akhir

Bulan jumadil akhir bisa dikatakan sebagai bulan suksesi kepemimpinan umat Islam (khilafah). Pada bulan inilah, menurut sejarah Islam, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. wafat dan digantikan oleh Umar bin Khattab r.a. Abu Bakar wafat tanggal 22 Jumadil Akhir 13 H dalam usia 63 tahun.

Pada bulan Jumadil Akhir pula terjadi Perang Yarmuk. Saat itu pasukan kaum Muslim dipimpin Khalid bin Walid, bergelar "pedang Allah" (Saifullah), dan dikenal sebagai orang yang ikhlas (mukhlis) berjuang karena Allah SWT semata. 

Teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar adalah pemimpin kaum Muslimin pertama setelah Rasulullah Muhammad SAW wafat. Beliau adalah khalifah pertama dalam Khulafaur Rasyidin.

Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar termasuk orang yang beriman di masa awal atau generasi pertama umat Islam (as-sabiqun al-awwalun). Ia menjadi orang dewasa pertama yang masuk Islam setelah Khadijah (istri Nabi Saw).

Abu Bakar mendapat gelar Ash-Siddiq oleh karena sifat jujur beliau akan kebenaran. Ash-Shiddiiq (الصديق) artinya "orang yang membenarkan", dalam hal ini membenarkan kerasulan Muhammad dan apa pun yang disampaikan Rasul, termasuk membenarkan dengan adanya pristiwa Isra Mi’raj Rasulullah Saw.

Abu Bakar adalah ayah Aisyah ra (istri Rasulullah Saw). Nama Abu Bakar merupakan kunyah (panggilan kehormatan). Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah yang artinya "hamba Ka’bah". 

Setelah Abu Bakar masuk Islam, namanya diganti oleh Rasulullah Saw dengan nama Abdullah yang artinya "hamba Allah Swt."

Ketika Abu Bakar masih kecil, ayahnya membawanya ke Ka'bah, dan meminta Abu Bakar berdoa kepada berhala. Setelah itu ayahnya pergi untuk mengurus urusan bisnis.

Abu Bakar sendirian dengan berhala-berhala tersebut. Abu Bakar lalu berdoa kepada berhala, "Ya Tuhanku, aku sedang membutuhkan pakaian, berikanlah kepadaku pakaian". 

Berhala tersebut tetap acuh tak acuh tidak menanggapi permintaan Abu Bakar. 

Abu Bakar berdoa kepada berhala lainnya dan mengatakan "Ya Tuhanku, berikanlah aku makanan yang lezat, lihatlah aku sangat lapar". 

Berhala itu masih tidak memberikan jawaban apapun dan acuh tak acuh. Melihat permintaannya tidak dikabulkan, kesabaran Abu Bakar habis lalu mengangkat sebuah batu dan berkata kepada berhala tersebut: 

"Di sini saya sedang mengangkat batu dan akan mengarahkannya kepadamu, kalau kamu memang tuhan, maka lindungilah dirimu sendiri". 

Abu Bakar lalu melemparkan batu tersebut ke arah berhala dan meninggalkan Ka'bah. Setelah itu, Abu Bakar tidak pernah lagi datang ke Ka'bah untuk menyembah berhala-berhala di Ka'bah.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan, Laki-laki dewasa yang bukan budak yang pertama kali masuk islam yaitu Abu Bakar.

Wanita yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah. Zaid bin Haritsah adalah budak pertama yang masuk Islam. Ali bin Abi Thalib adalah anak kecil pertama yang masuk Islam.

Ibnu Hisyam dalam kitab Shirah Nabawiyahnya mencatat, Abu Bakar sangat dekat dengan Rasulullah. Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya.

Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi di sebuah gua yang dikenal dengan nama Gua Tsur, di puncak Jabal (bukit) Tsur Kota Makkah, sekitar 7 KM dari Masjidil Haram. 

Nabi dan Abu Bakar sembunyi di Gua Tsur untuk menghindari kejaran kafir Quraisy.

Ketika sampai di mulut gua, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, janganlah Anda masuk ke dalam gua ini sampai aku yang memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu (yang jelek), maka akulah yang mendapatkannya bukan Anda”.

Abu Bakar masuk lalu membersihkan gua tersebut. Abu Bakar tutup lubang-lubang di gua dengan kainnya, karena ia khawatir jika ada hewan yang membahayakan Rasulullah, hingga tersisalah dua lubang, yang nanti bisa ia tutupi dengan kedua kakinya.

Setelah itu, Abu Bakar mempersilakan Rasulullah masuk ke dalam gua. Rasulullah pun masuk dan tertidur di pangkuan Abu Bakar. 

Ketika Rasulullah istirahat, tiba-tiba seekor hewan menggigit kaki Abu Bakar. Ia menahan dirinya untuk tidak bergerak menahan gigitan hewan itu (riwayat lain menyebut seekor ular). 

Abu bakar berusaha sekuat tenaga menahan sakit, karena tidak ingin membangunkan Rasulullah dari istirahatnya.

Namun, Abu Bakar adalah manusia biasa. Rasa sakit akibat sengatan hewan itu membuat air matanya menetes dan terjatuh di wajah Rasulullah. 

Sang kekasih Allah pun terbangun, kemudian bertanya, “Apa yang menimpamu wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku disengat sesuatu”. 

Kemudian Rasulullah mengobatinya. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi mengobati Abu Bakar dengan ludah beliau.

Abu Bakar adalah sahabat terdekat Rasul sekaligus mertua. 

Dari Amr bin Ash, Rasulullah pernah mengutusku dalam Perang Dzatu as-Salasil, saat itu aku menemui Rasulullah dan bertanya kepadanya, “Siapakah orang yang paling Anda cintai?” Rasulullah menjawab, “Aisyah.” Kemudian kutanyakan lagi, “Dari kalangan laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Bapaknya (Abu Bakar).”

Ketika Rasul sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah berkata, “Ketika Nabi Saw sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta izin untuk memulai shalat.

Rasulullah bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. 

Aisyah berkata, ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an."

Nabi tetap berkata: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata, ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’.”

Karena keimanan kuatnya, perjuangannya bersama Nabi Saw, senioritas dalam Islam, dan kedekatannya Rasul, ditambah penunjukkan sebagai imam shalat pengganti Rasul, kaum Muslimin pun bersepakat mengangkat Abu Bakar sebagai pemimpin umat Islam (khalifah) setelah Rasul Saw wafat.

Umar bin Khathab r.a. suatu ketika berceramah di atas mimbar. Beliau berkata, “Ketahuilah, sungguh manusia yang paling utama dari umat ini setelah Nabi SAW adalah Abu Bakar. Barangsiapa mengatakan yang tidak seperti ini, ia adalah pendusta, dan baginya apa yang berlaku bagi pendusta!”

Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Manusia yang paling baik dari umat ini setelah Nabi SAW adalah Abu Bakar dan Umar.” 

Beliau juga mengatakan bahwa orang yang paling besar pahalanya atas keberadaan mushaf Al-Qur’an adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Karena beliaulah orang pertama yang menghimpun naskah-naskah ayat-ayat Al-Qur’an menjadi sebuah mushaf.

Teladan Umar bin Khattab Al-Faruq

Setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khattab menjadi khalifah kedua. 'Umar merupakan salah satu sahabat utama Nabi Saw dan ayah Hafshah, istri Nabi Muhammad.

Umar bin Khattab Al-Faruq

Beberapa hadits menyebutkan Umar sebagai sahabat Nabi paling utama setelah Abu Bakar.

Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti "orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan". 

Pembentukan Baitul Mal menjadi salah satu pembaharuan 'Umar dalam bidang ekonomi umat. 

Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah. 

Sebelum masuk Islam, Umar juga dikenal sebagai seorang pemabuk. Umar mempunyai reputasi sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh.

Umar pula yang memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad. Namun, saat dalam perjalanannya, ia bertemu Nu'aim bin Abdullah, yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam.

Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya. 

Diriwayatkan, Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an surat Thoha ayat 1-8. Ia makin marah dan memukul saudarinya. 

Ketika melihat saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat.

Diriwayatkan, Umar menjadi terguncang oleh apa yang ia baca tersebut, beberapa waktu setelah kejadian itu, Umar menyatakan memeluk Islam.

Setelah masuk Islam, Umar berada di barisan terdepan dalam membela Islam dan kaum Muslim, termasuk membela Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah wafat, Umar berkata: 

"Sesungguhnya beberapa orang munafik menganggap bahwa Nabi Muhammad S.A.W. telah wafat. Sesungguhnya dia tidak wafat, tetapi pergi ke hadapan Tuhannya, seperti dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya. Demi Allah dia benar-benar akan kembali. Barang siapa yang beranggapan bahwa dia wafat, kaki dan tangannya akan kupotong."

Abu Bakar yang mendengar kabar itu, menjumpai Umar dan berkata:

"Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Nabi Muhammad S.A.W, Nabi Muhammad S.A.W sudah meninggal dunia. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati!"

Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasihat Abu Bakar. Setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.

Umar dikenal sederhana. Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun keempat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah. Masa Umar lah ditetapkan sistem kalender Islam Hijriyah.

Teladan Khalid bin Walid Saifullah

Jumadil Akhir juga bulan bersejarah, yaitu bulan terjadinya  perang terbesar dalam sejarah Islam yang dikenal dengan Perang Yarmuk antara umat Islam dengan pasukan Romawi. Pasukan Islam dipimpin panglima Khalid bin Walid.

Khalid bin Walid

Kemasyhuran dan keperkasaan Khalid dalam peperangan ini membuat beliau digelar dengan “Saifullah” (pedang Allah) --Sayf Allāh al-Maslūl (سيف الله المسلول‎; Pedang Allah yang terhunus).

Sebelum masuk Islam, Khalid adalah pemimpin pasukan berkuda kaum Kafir Quraisy yang memukul mundur pasukan Islam dalam Perang Uhud.

Setelah masuk Islam, Khalid menjadi pembela Islam barisan depan. Ia memimpin pasukan Madinah masa Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan Umar Bin Khattab.

Khalid dan pasukannya tidak pernah dikalahkan dalam lebih dari 100 pertempuran melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka.

Pada Pertempuran Yarmuk, bulan Jumadil Akhir, Khalifah Umar bin Khattab memberhentikannya sebagai panglima tertinggi pasukan muslim, karena khawatir terjadi kultus individu dan ketergantungan pasukan Muslim terhadap Khalid. 

Umar mendengar sebagian orang berkata "Tidak ada yang bisa menggantikan Khalid bin Walid, seandainya ia tidak ada maka takkan mungkin kita menang". 

Umar khawatir mereka sesat karenanya, dan Umar berharap mereka tahu bahwa Allah-lah satu-satunya yang berkuasa. 

Aku memberhentikan Khalid bukan kerana tidak suka kepadanya. Juga bukan karena dia tidak jujur. Bahkan aku kagum padanya. Tindakan yang aku ambil hanyalah untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa kemenangan umat Islam selama ini hanyalah karena pertolongan Allah SWT. Bukan karena kehebatan Khalid! Jangan sampai ada anggapan bahwa kemenangan kita selama ini semata-mata karena kehebatan Khalid bin Al-Walid saja…” jelas Khalifah Umar.

Khalid dengan ikhlas meneria keputusan Umar. Ia tetap berada di barisan pasukan Muslim dan berjuag seperti biasanya.

"Tak ada alasan untuk meragukan keputusan yang diambilnya,” kata Khalid. “Aku berjuang bukan karena kepentingan Umar. Aku berjuang semata-mata untuk Allah SWT!” jawab Khalid tegas ketika ditanya anggota pasukannya. Mereka pun terdiam sambil menahan rasa haru dan kagum.

Khalid dikatakan mengikuti sekitar seratus pertempuran, baik pertempuran besar dan pertempuran kecil serta duel tunggal, selama karier militernya ia tetap tak terkalahkan, ia diklaim sebagai salah satu jenderal militer atau panglima perang terbaik dalam sejarah.

Demikian catatan sejarah penting bulan Jumadil Akhir. Setidaknya ada tiga Keutamaan Bulan Jumadil Akhir, yakni wafatnya Abu Bakar, diangkatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah, dan kemenangan umat Islam dalam Perang Yarmuk sekaligus teladan Khalid bin Walid. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Contact Form

Name

Email *

Message *