Profil Taliban yang Kini Menguasai Afghanistan, Menolak ISIS

Taliban adalah kelompok pejuang kemerdekaan yang pernah berkuasa di Afghanistan dan digulingkan Amerika pada 2001. Setelah militer Amerika mundur, kini Taliban berkuasa lagi. Berikut ini Profil Taliban yang Kini Menguasai Afghanistan yang dihimpun dari berbagai sumber. Taliban menolak ISIS.

Profil Taliban yang Kini Menguasai Afghanistan


TALIBAN kembali menguasa Afghanistan. Taliban adalah kelompok pejuang bersenjata yang berjuang menguasai Afghanisan dan menerapkan syariat Islam di negara Asia Tengah itu.

Kelompok ini berasal dari mujahidin atau pejuang yang memerangi pasukan Uni Soviet yang menduduki Afghanistan pada 1970-an dan 1980-an. Sempat berkuasa 1996-2001, kini Taliban kembali berkuasa.

Diberitakan AFP, Senin (16/8/2021), Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan setelah Presiden Ashraf Ghani, yang meninggalkan negaranya, mengakui kelompok Taliban telah memenangkan perang selama 20 tahun. 

Taliban memasuki Kabul pada Minggu (15/8) malam waktu setempat. Mereka pun menyatakan "perang telah berakhir" usai usai mengambil alih Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul.

"Hari ini adalah hari besar bagi rakyat Afghanistan dan para mujahidin. Mereka telah menyaksikan buah dari upaya dan pengorbanan mereka selama 20 tahun," ucap juru bicara kantor politik Taliban, Mohammad Naeem, kepada Al Jazeera TV.

"Alhamdulillah, perang telah berakhir di negara ini," tegas Naeem yang juga menyerukan hubungan internasional yang damai.

Ini untuk kedua kalinya Taliban menguasai Afghanistan setelah akhir 1990-an atau awal 2000-an. Kekuasaan mereka berakhir ketika pasukan Amerika Serikat melakukan invasi tahun 2001 dengan dalih memerangi kelompok Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Saat Amerika menarik pasukannya, militer dan pemerintahan Afghanistan melemah. Taliban pun kembali bangkit dan kini berhasil kembali menguasai Afghanistan.

Dalam keberhasilan kali ini, dikabarkan ada andil China. Pemerintah China pun menyatakan siap meningkatkan hubungan "persahabatan dan kerja sama" dengan Afghanistan di bawah Taliban.

China berusaha untuk mempertahankan hubungan tidak resmi dengan Taliban selama penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, yang mendorong serangan-serangan Taliban hingga akhirnya berhasil merebut ibu kota Kabul pada hari Minggu (15/8).

Beijing telah lama khawatir Afghanistan bisa menjadi basis bagi separatis minoritas Muslim Uighur di Xinjiang. 

Namun, delegasi tingkat atas Taliban bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Tianjin bulan lalu, dan menjanjikan bahwa Afghanistan tidak akan digunakan sebagai basis bagi militan. Sebagai gantinya, China menawarkan dukungan ekonomi dan investasi untuk rekonstruksi Afghanistan.

Siapa Taliban?

Nama Taliban (Thaliban, Taleban) diambil dari bahasa Afghanistan, thaliban (طالبان), yang berarti pelajar, sepadan dengan kata dan arti dalam bahasa Arab, dari kata thalib (طالب) artinya penuntut ilmu, murid, atau santri. 

Nama lengkap kelompok Taliban adalah "gerakan para pelajar Islam" (Al Harakah Al Islamiyah Lit Thalabah Madaris Ad Diiniyyah).

Gerakan atau kelompok ini mulanya didominasi oleh warga wilayah Pashtun dan pertama kali muncul di pesantren-pesantren — kebanyakan dibiayai oleh Arab Saudi.

Taliban dibentuk Mullah Muhammad Umar (Mohammed Omar) pada September 1994 di Qandahar, Afganistan Selatan. Kelompok ini beranggotakan lulusan madrasah-madrasah Pakistan, teruta-ma dari Deoban, yang terdapat di perbatasan Pakistan-Afganistan. 

Mohammed Omar merupakan kepala negara Afganistan de facto dari 1996 sampai 2001. 

Taliban pertama kali muncul pada awal 1990-an di utara Pakistan, setelah pasukan Uni Soviet mundur dari Afghanistan.

Kelompok ini mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan sekutunya, Pakistan, untuk "dimanfaatkan" mengeliminasi pengaruh Uni Soviet yang lama menduduki Afghanistan.

Bagi sebagian kalangan, Taliban adalah pejuang kemerdekaan dan pejuang penegakan syariat Islam di Afghanistan.

Taliban yang Kembali Kuasai Afghanistan

Taliban pertama kali berkuasa di Aghanistan tahun 1996-2001. Misi mereka adalah mengembalikan perdamaian dan keamanan berdasarkan Syariah Islam. 

Pada Oktober 1997, Taliban sempat mengubah nama negaranya menjadi "Emirat Islam Afganistan" dengan Mullah Umar — yang sebelumnya diangkat menjadi Amir al-Mu'minin — sebagai kepala negara. 

Terdapat suatu dewan pemerintahan di Kabul (Majelis Syura Kabul) yang dipilih para ulama berdasarkan prestasi dan kebajikannya, dipimpinan Mullah Mohammad Rabbani. 

Masyarakat Afghan yang religius secara umum menyambut kemunculan Taliban.

Popularitas ini sebagian besar karena keberhasilan mereka memberantas korupsi, membatasi pelanggaran hukum, dan membuat jalan-jalan dan area-area di bawah kekuasaan mereka aman untuk perdagangan.

Basis terkuat Taliban berada di wilayah selatan Afghanistan yang menjadi tempat kelahiran kelompok ini. 

Menurut sejumlah pengamat, saat militer Amerika menduduki Afghanistan, Taliban masih tetap disegani di desa-desa diseluruh negeri. Kalaupun mereka tidak didukung, mereka masih ditoleransi, antara lain dengan cara menyerang lalu membaur dengan penduduk. 

Semula, Taliban adalah kelompok yang mendapat dukungan negara-negara Barat. Pembentukan dan pelatihan terhadap kelompok Taliban dilakukan oleh Amerika Serikat. 

Akhirnya, Taliban berhasil menguasai pemerintahan di Afganistan dan menerapkan hukum Islam. Seluruh hukum pidana Islam diberlakukan, seperti hukuman rajam bagi pezina, potong tangan bagi pencuri, dan hukuman mati bagi pembunuh.

Wanita dilarang bersekolah dan bekerja di luar rumah, bahkan di rumah sakit. Mereka juga dilarang bepergian tanpa muhrirn, dan yang kedapatan bepergian dengan orang lain akan dihukum mati.

Dokter lelaki tidak diperkenankan memasuki ruangan pasien wanita, kecuali keadaan mengharuskannya. Dokter wanita dan lelaki tidak diperkenankan duduk bersama atau bercakap-cakap. Jika muncul kebutuhan untuk berdiskusi, keduanya harus dipisahkan tabir.

Kondisi itu dimanfaatkan oleh pemerintah negara-negara Barat untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa pemerintahan Islam melanggar HAM, menindas perempuan, dan menyukai kekerasan.

Kekuasaan Taliban berakhir 2001 akibat invasi Amerika yang memburu kelompok Al-Qaidah, termasuk memburu Usamah bin Ladin (Osama bin Laden).

Di bawah kekuasaan pemerintahan "boneka" bentukan Amerika, Taliban tetap eksis. Kini mereka kembali menguasai Afghanistan.

Dalam pernyataan setelah menguasai Kabul, Taliban mengatakan mereka akan menciptakan "pemerintahan Islam yang terbuka dan inklusif". Era baru kehidupan muslim Afghanistan dimulai.

Menolak ISIS

Sejak awal berdirinya kelompk Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Taliban menganggap ISIS itu palsu mencanangkan negara Islam. Taliban menyebut pemimpin ISIS sebagai "khalifah gadungan".

Pemimpin Taliban, Mullah Muhammad Umar, saat masih hidup sekitar awal tahun 2013, pernah mengeluarkan fatwa "haram bagi anggota Taliban yang menyatakan janji kesetiaan kepada ISIS".

Mullah Umar menyebut pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, sebagai "khalifah palsu".

Taliban juga memperingatkan pemimpin kelompok ISIS tidak melakukan aksi paralel di Afghanistan, ketika ISIS mulai besar di tahun yang sama. 

Hingga 2015, ISIS tidak pernah secara resmi mengaku hadir di Afghanistan. Namun, Taliban melihat ada ancaman dengan tumbuhnya kelompok ini membuat terobosan di Afghanistan. 

Dalam surat yang ditujukan kepada pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, Taliban bersikeras jihad (perang suci) terhadap Amerika dan sekutu mereka harus dilakukan di bawah satu bendera dan satu kepemimpinan.

"Emirat Islam (Taliban) tidak mempertimbangkan banyaknya cabang jihad menguntungkan, baik untuk jihad atau bagi umat Islam," kata surat itu yang ditandatangani oleh wakil pemimpin Taliban Mullah Akhtar Mohammad Mansur.

Surat yang diterbitkan di laman Taliban dalam bahasa Pashto, Urdu, Arab dan Dari itu tidak memberikan penjelasan tentang ancaman itu. 

Bukti kuat Taliban menolak ISIS antara lain terjadinya pertempuran antara Taliban dan pendukung ISIS di Afghanistan timur. (ROL)

Post a Comment on Profil Taliban yang Kini Menguasai Afghanistan, Menolak ISIS