Hukum Tarhim, Shalawat Sebelum Adzan

Tarhim (ترحيم) adalah bacaan atau kumandang shalawat sebelum adzan. Istilahnya mirip dengan tahrim (mengharamkan atau perbuatan yang dilarang dalam Islam). Berikut ini Hukum Tarhim, Shalawat Sebelum Adzan.

Hukum Tarhim, Shalawat Sebelum Adzan

Shalawat Tarhim (صلوات ترحيم) adalah doa pujian bacaan sholawat yang dikumandangkan beberapa waktu sebelum adzan menjelang adzan, khususnya adzan shalat Subuh. 

Menjelang azan subuh, bahkan menjelang waktu shalat lainnya, banyak masjid di Indonesia yang mengumandangkan bacaan tarhim ini.

Jenis solawat ini cukup populer dan sering pula diperdengarkan pada bulan suci Ramadhan, terutama saat menjelang sahur dan imsak.

Dahulu, selawat tahrim ini diperdengarkan di hampir seluruh masjid dan mushalla di tanah air, terutama di wilayah Jawa Timur. Meski kini intensitasnya tidak seperti dulu, selawat tarhim ini masih sering diperdengarkan selagi menunggu waktu subuh tiba atau sesaat sebelum adzan dikumandangkan.

Pencipta atau penyusun nada dan lirik shalawat tarhim adalah Syekh Mahmud Khalil Al-Husshari (1917-1980), seorang qari’ ternama lulusan Al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Sholawat Tarhim sampai ke Indonesia pada akhir tahun 1960-an. Saat itu, Syeikh Mahmud berkunjung ke Indonesia dan diminta untuk merekam Shalawat Tarhim di Radio Lokananta, Solo. 

Hasil rekaman tersebut kemudian disiarkan oleh Radio Lokananta dan juga Radio Yasmara (Yayasan Masjid Rahmat), Surabaya. Dari sinilah awal mula Shalawat Tarhim menjadi populer di Indonesia. 

Bacaan Sholawat Tarhim

 الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ • الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞ يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞ 

Artinya: 

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemulianmu dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu. 

Tujuan Sholawat Tarhim

Awalnya, tujuan Shalawat Tarhim ialah membangunkan kaum muslimin agar mempersiapkan diri untuk sahur, shalat Shubuh, atau membangunkan mereka yang ingin shalat tahajjud. 

Karena banyak masjid memutarkan rekaman shalawat tarhim selain sebelum Subuh, maka tujuan tarhim menjadi pengingat atau sinyal bagi kaum muslim bahwa waktu shalat fardu segera tiba.

Hukum Sholawat Tarhim

Ada dua pendapat utama tentang hukum mengumandangkan shalawat tarhim sebelum adzan, antara boleh dan tidak boleh karena dinilai bid'ah.

Namun, mayoritas ulama membolehkannya, karena manfaatnya untuk mengingatkan kaum muslim bersiap shalat, khususnya shalat Subuh. Dasarnya adalah hadits berikut ini:

ان النبي – صلى الله عليه وسلم – كان إذا ذهب ثلثا الليل قام، فقال: ((يأيها الناس، اذكروا الله، جاءت الراجفة تتبعها الرادفة، جاء الموت بما فيه، جاء الموت بما فيه

"Sesungguhnya Nabi Saw ketika sudah sepertiga malam, beliau bangun dan berkata; Wahai manusia, ingatlah kalian kepada Allah, pasti datang tiupan sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua, datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya." (HR Tirmidzi)

Dijelaskan dalam kitab Fathul Bari li Ibni Rajab:

وفيه دلالة على ان الذكر والتسبيح جهرا في آخر الليل لا بأس به؛ لايقاظ النوام.وقد انكره طائفة من العلماء، وقال: هو بدعة، منهم: ابو الفرج ابن الجوزي. وفيما ذكرناه دليل على انه ليس ببدعة

"Hadis ini menjadi dalil bahwa dzikir dan tasbih dengan suara keras di akhir malam tidak masalah untuk membangunkan orang-orang yang tidur. Terdapat sebagian ulama yang mengingkarinya dan mengatakan bahwa hal itu adalah bid’ah. Di antaranya adalah Abu Al-Farj Ibnu Al-Jauzi. Dan apa yang telah kami sebutkan menjadi dalil bahwa hal itu bukan sesuatu yang bid’ah."

Demikian Hukum Tarhim, Shalawat Sebelum Adzan.

Sumber:
  • "Menelusuri Jejak Shalawat Tarhim". Republika Online.
  • "Sejarah dan Dalil Tarhim". Tebuireng Online.

Video Shalawat Tarhim



Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post