Jasa Membuat Blog


Pengertian Tasyabuh dan Ritual Tahun Baru Masehi

Muslim yang merayakan malam tahun baru Masehi termasuk tasyabbuh. Perayaan tahun baru adalah ritualnya bangsa Romawi kuno untuk menyembah Dewa "Janus" (Januarius, Januari). Tahun baru 1 Januari saat ini adalah salah satu hari suci umat Kristen.

Pengertian Tasyabuh dan Ritual Tahun Baru Masehi
TASYABUH adalah istilah dalam literatur Islam yang merujuk pada perilaku meniru meniru atau mencontoh perbuatan non-Muslim dalam ritual ibadah. Pengertian secara harfiyah tasyabbuh adalah peniruan atau penyerupaan.

Syekh Nashir Bin Abdul Karim Al-Aql dalam Mantasyabbaha biqoumin Fahuwa Minhum menyebutkan,  At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti.

Tasyabbuh yang dilarang dalam Al-Quran dan As-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka (kaum kafir), terutama dalam hal ritual ibadah.

Kajian para ulama tentang tasyabbuh selalu merujuk pada hadits shahih bahwa umat Islam di akhir zaman akan mengikuti jalan kaum non-Muslim:

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari).

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim).

"Barangsiapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyatakan: “Hadits ini menunjukkan larangan yang keras, peringatan, dan ancaman atas perbuatan menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian, hari-hari raya, dan peribadahan mereka, serta perkara mereka yang lain yang tidak disyariatkan bagi kita dan syariat kita tidak mentaqrir (menyetujui)nya untuk kita.”

Rasulullah Saw juga bersabda: “Bukan termasuk golongan kami, orang yang menyerupai (tasyabbuh) dengan selain kami.” (HR Tirmidzi).

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad & Abu Daud).

TASYABUH NATAL & TAHUN BARU
Tasyabbuh yang dilarang terutama adalah dalam hal ucapan dan perbuatan kaum kafir yang merupakan bentuk ibadah (ritual).

Dengan demikian, tasyabbuh dibolehkan jika yang ditiru bukan syi’ar agama orang kafir dan bukan menjadi kekhususan mereka.

Menurut Ibnu Taimiyah, “Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 154).

Contoh tasyabbuh paling nyata adalah ketika umat Islam ikut-ikutan menggunakan atribut Natal yang merupakan ritual atau ibadahnya orang Kristen.
Menggunakan mobil, sepeda motor, komputer, internet, dan teknologi canggih lainnya bukan termasuk tasyabbuh, karena ini perkara duniawi yang tidak ada kaitan langsung dengan ritual keagamaan.

Contoh tasyabbuh lainnya ketika umat Islam ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Masehi (New Year). Pasalnya, perayaan tahun baru adalah ritualnya bangsa Romawi kuno untuk menyembah Dewa "Janus" (Januarius, Januari) yang dipilih sebagai nama bulan pertama kalender Masehi.

Menurut English Wikipedia, The Romans dedicated New Year’s Day to Janus, the god of gates, doors, and beginnings for whom the first month of the year (January) is also named. After Julius Caesar reformed the calendar in 46 BC and was subsequently murdered, the Roman Senate voted to deify him on the 1st January 42 BC [1] in honor of his life and his institution of the new rationalized calendar [2]. The month originally owes its name to the deity Janus, who had two faces, one looking forward and the other looking backward. This suggests that New Year’s celebrations are founded on pagan traditions.” [1] Warrior, Valerie M. (2006). Roman Religion. Cambridge University Press. p. 110. ISBN 0-521-82511-3 [2] Courtney, G. Et tu Judas, then fall Jesus (iUniverse, Inc 1992), p. 50.
“Orang-orang Romawi mendedikasikan hari perayaan Tahun Baru kepada Janus, dia adalah dewa segala pintu gerbang, pintu-pintu dan permulaan waktu yang mana namanya juga adalah nama dari bulan pertama dalam setahun, Januari. Setelah Julius Caesar menyusun sistem kalendar (Masehi) pada 46 BC dan ia dibunuh setelah itu, anggota Senat Romawi memutuskan untuk meresmikannya pada 1 Januari 42 BC untuk mengenang hidup Julius Caesar dan menghormati penyusunannya terhadap sistem kalender baru yang rasional. Bulan pertama didedikasikan pada nama dewa Janus yang mempunyai 2 wajah, 1 menghadap ke depan (mengindikasikan masa depan, pent) dan 1 menghadap ke belakang (mengindikasikan masa lalu, pent). Ini mengindikasikan perayaan Tahun Baru didirikan atas dasar kepercayaan pagan.”
Dewa Janus dalam kepercayaan Romawi yaitu dewa bermuka dua. Satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.
Ritual Romawi kuno itu diteruskan oleh kaum Kristen. Tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristiani.
Pada perkembangannya, tahun baru dirayakan oleh seluruh dunia yang sama sekali jauh dari nilai-nilai Islam. Terompet, panggung-panggung hiburan, sangat jauh dari nilai-nilai Islam.

Umat Islam yang ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi, selain harus ingat tentang pengertian tasyabbuh di atas, juga tadzkirah dari Abdullah bin ’Amr ra yang memperingatkan dalam Sunan Al-Baihaqi (IX/234): 

”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya Nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka, serta menyerupai mereka (tasyabuh) sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian, maka ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”

Demikian makna, arti, atau pengertian tasyabuh dikaitkan dengan sejarah tahun baru Masehi. Semoga Allah SWT memberi kekuatan iman kepada kita dan umat Islam pada umumnya. Amin! Wasalam. (www.risalahislam.com, dari berbagai sumber).*

You're reading Pengertian Tasyabuh dan Ritual Tahun Baru Masehi. Please share...!

Previous
« Prev Post

0 Response to "Pengertian Tasyabuh dan Ritual Tahun Baru Masehi"

Komentar SPAM dan mengandung LINK AKTIF tidak akan muncul.

Back to Top