Khurafat Bulan Safar sebagai Bulan Sial

Khurafat Bulan Safar sebagai Bulan Sial
Khurafat Bulan Safar sebagai Bulan Sial

Khurafat adalah tahayul, mitos, dongeng, cerita rekaan yang diyakini sebagai kebenaran.

Kamus Bahasa mengartikan khurafat sebagai "dongeng (ajaran dan sebagainya) yang tidak masuk akal; takhayul".

Khurafat adalah salah satu bentuk penyelewengan dalam Akidah dan Risalah Islam.

Salah satu contoh khurafat adalah berkenaan dengan bulan Safar (Shofar, Shafar).

Khurafat Safar Bulan Sial Peninggalan Jahiliyah

Pada zaman Jahiliyah, ada kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Kepercayaan terhadap mitos atau tahayul tersebut langsung dibantah oleh Rasulullah Saw.

Bulan Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalendar Islam (Hijriyah) yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi).

Safar artinya kosong. Dinamakan Safar karena dalam bulan ini orang-orang Arab dulu sering meninggalkan rumah untuk menyerang musuh.

Kepercayaan bahwa Safar bulan sial atau bulan bencana masih saja dipercaya sebagian umat. Padahal, Rasul sudah menegaskan mitos itu tidak benar.

Pesta Mandi Safar

Salah satu amalan khurafat yang pernah muncul ialah “Pesta Mandi Safar”. Jika tiba bulan Safar, umat Islam mengadakan upacara mandi beramai-ramai dengan keyakinan hal itu bisa menghapuskan dosa dan menolak bala.

Biasanya, amalan mandi Safar ini dilakukan pada hari Rabu minggu terakhir dalam bulan Safar yang diyakini merupakan hari penuh bencana.

Amalan mandi Safar untuk tolak bala dan menghapus dosa itu merupakan kepercayaan penganut Hindu melalui ritual “Sangam” yang mengadakan upacara penghapusan dosa melalui pesta mandi di sungai. Umat Islam harus menghormati keyakinan mereka, tapi tidak boleh menirunya.

Hingga kini pun masih ada umat Islam yang tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Safar karena percaya terhadap khurafat tersebut. Sebuah keyakinan yang dapat menjerumuskan kepada jurang kemusyrikan.

Bahkan, sampai ada “amalan khusus”, misalnya hari Rabu membaca syahadat tiga kali, istighfar 300 kali, ayat kursi tujuh kali, surat Al-Fiil tujuh kali, dan sebagaiya. Jelas, itu amalah khurafat dan bid’ah yang tidak bersumber dari ajaran Islam dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat.

Khurafat bulan Safar selengkapnya antara lain:
  • Larangan menikah dan pertunangan
  • Menghalangi bermusafir atau berpergian jauh
  • Rabu minggu terakhir bulan Safar puncak hari sial
  • Upacara ritual menolak bala dan buang sial di pantai, sungai atau rumah (Mandi Safar), 
  • Membaca jampi serapah tertentu untuk menolak bala sepanjang Safar
  • Menjamu makan "makhluk halus" yang dikatakan penyebab sesuatu musibah, menganggap bayi lahir bulan Safar bernasib malang
  • Safar bulan Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. 

Semuanya itu tidak benar dan umat Islam wajib mengingkari khurafat tersebut.
Kesialan, naas, atau bala bencana dapat terjadi kapan saja, tidak hanya bulan Safar, apalagi khusus banyak terjadi pada bulan Safar. Allah Swt menegaskan:

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51 ).

Tidak amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Safar. Amalan bulan Safar adalah sama seperti amalan-amalan pada bulan-bulan lain.

Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada sesuatu hari, bulan dan tempat itu merupakan kepercayaan orang jahiliah sebelum kedatangan Islam.

Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari).Wallahu a’lam. (www.risalahislam.com).*

Hukum Nikah Siri dalam Islam

Pengertian, Syarat, Rukun, dan Hukum Nikah Siri dalam Islam.

Hukum Nikah Siri dalam Islam
Nikah Siri adalah nikah secara diam-diam atau dirahasiakan.

Kata Siri berasal dari bahasa Arab, Sirr, yang artinya rahasia atau diam-diam.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia,  nikah siri adalah pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama (KUA. Menurut agama Islam sudah sah.

Masyarakat memahami Nikah Siri sebagai sebuah pernikahan yang tidak dicatat di Kantor Urusan Agama (KUA) alias "nikah di bawah tangan".

Keberadaan nikah siri dikatakan sah secara agama, tapi tidak sah menurut hukum positif (hukum negara).

Ada juga pemahaman, nikah siri adalah nikah tanpa wali pihak istri. Jika nikah siri tanpa wali begini, maka hukumnya tidak sah baik secara agama maupun secara hukum negara.

“Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali.” (HR. Khomsah).

“Wanita mana pun yang menikah tanpa mendapat izin walinya, maka pernikahannya batil (tidak sah); pernikahannya batil; pernikahannya batil”. (HR Khomsah).

Rukun Nikah: Syarat Sah

Jika nikah tanpa dicatat negara (KUA) alias diam-diam, namun ada wali sah, menurut syariat Islam itu sah selama memenuhi Rukun Nikah:
  1. Ada Wali, 
  2. Dua orang saksi, 
  3. Ijab qabul. 
Dari tiga rukun nikah di atas, yang sering jadi masalah adalah soal WALI. Menurut Islam, nikah tanpa wali adalah batal. 

"Barangsiapa diantara perempuan yang nikah dengan tidak seizin walinya, nikahnya itu batal.” (HR Aisyah RA)

Yang berhak  menjadi wali nikah adalah sebagai berikut:
1. Ayah/Bapak.
2. Kakek, yang dimaksud adalah ayahnya bapak, ke atas.
3. Saudara kandung laki-laki seayah seibu
4. Saudara kandung laki-laki seayah
5. Anak dari saudara kandung laki-laki (keponakan) seayah seibu
6. Anak dari saudara kandung laki-laki seayah
7. Paman dari jalur ayah dan ibu
8. Paman dari jalur ayah
9. Anaknya paman (sepupu) dari jalur ayah dan ibu
10. Anaknya paman dari jalur ayah
11. Pewaris-pewaris ashobah
12. Hakim

السُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

"Sultan (hakim) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali" (Sunan Abu Dawud, no.2083, Sunan At-Turmudzi, no.1102, Sunan Ibnu Majah, no.1879 dan Shohih Ibnu Hibban, no.4074).


Urutan di atas didasarkan pada kedekatan hubungan seseorang dengan ayah wanita yang dinikahkan. Mana yang paling dekat hubungannya dengan ayah, maka dialah yang didahulukan.

Disunahkan Walimah/Resepsi untuk Publikasi
 
Risalah Islam mengajarkan, pernikahan harus diumumkan dan sebagai “alat bukti” (bayyinah) sudah sah sebagai pasangan suami-istri sekaligus menghindari fitnah.

Rasulullah Saw mengajarkan umatnya untuk menyebarluaskan pernikahan dengan menyelenggarakan Walimatul ‘Ursy. “Adakan walimah walaupun dengan seekor kambing”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Nikah Siri banyak risikonya, seperti dalam kasus sengketa pernikahan, hak waris, dan sebagainya yang diurus oleh pengadilan agama –karena tidak ada “alat bukti” buku nikah.

Jika ada buku nikah, padahal nikah tidak di KAU, maka dipastikan buku nikahnya palsu dan ini sebuah kebohongan/penipuan yang hukumnya berdosa.

Fatwa MUI tentang Nikah Siri

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi mengatakan, MUI tidak menganjurkan nikah secara diam-diam (siri) karena pernikahan jenis itu tidak memiliki landasan hukum atau pengakuan negara sehingga rentan terjadi sengketa tidak berkesudahan.

Meskipun nikah siri sah secara agama, kata dia, tapi pernikahan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum. Dengan tidak adanya kekuatan hukum, maka baik istri maupun anak berpotensi menderita kerugian akibat pernikahan tersebut.

Dia mengatakan perkawinan seperti itu seringkali menimbulkan dampak negatif terhadap istri dan anak yang dilahirkannya, terkait dengan hak-hak mereka seperti nafkah ataupun hak kewarisannya.

Tuntutan pemenuhan hak-hak tersebut, kata dia, seringkali menimbulkan sengketa. Sebab tuntutan akan sulit dipenuhi karena tidak adanya bukti catatan resmi perkawinan yang sah.

Untuk menghindari kemudaratan, ulama sepakat bahwa pernikahan harus dicatatkan secara resmi pada instansi yang berwenang.

Menurut dia, pernikahan di bawah tangan atau nikah siri hukumnya sah kalau telah terpenuhi syarat dan rukun nikah. Rukun pernikahan dalam Islam antara lain ada pengantin laki-laki, pengantin perempuan, wali, dua orang saksi laki-laki, mahar serta ijab dan kabul.

Akan tetapi, lanjut dia, pernikahan tersebut bisa menjadi haram jika menimbulkan mudarat atau dampak negatif.

MUI juga telah mengeluarkan fatwa terkait pernikahan tersebut sesuai hasil keputusan Ijtima Ulama se-Indonesia ke-2 di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur tahun 2006.

Dia mengatakan MUI berpandangan tujuan pernikahan itu sangat luhur dan mulia untuk mengangkat harkat dan martabat manusia yang tidak sekedar memenuhi kebutuhan nafsu dasariah manusia saja yaitu hanya pemenuhan kebutuhan seks semata.

"Pernikahan merupakan institusi yang sakral yang harus dijaga dan dipelihara. Tidak boleh direndahkan dan dijadikan sebagai komoditas perdagangan semata. Jika hal tersebut terjadi maka sama halnya merendahkan nilai-nilai kemanusiaan," katanya dikutip Antara.

MUI juga pernah mengeluarkan fatwa khusus soal Nikah Siri Online tahun 2005. Menurut fatwa MUI, praktik nikah siri online tidak dibenarkan dalam ajaran Islam dan masuk dalam kategori haram.

Keharamanya disebabkan tidak ada rangkaian upacara sakral seperti yang diajarkan dalam Islam. Nikah sirinya saja melanggar Undang-Undang, karena bisa dilaporkan ke KUHP, walaupun itu dianggap sah.  

Nah, jelas 'kan, bagaimana pengertian nikah siri dan hukum nikah sirri dalam Islam. Sah jika memenuhi syarat dan rukun nikah, namun berisiko banget karena tidak diakui oleh hukum negara. Artinya, nikah siri itu berisiko alias lebih banyak madhoratnya! Wallahu a’lam bish-shawab. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Fatwa MUI, Bulughul Maram, Fiqh Sunnah, dll.

Memberantas Bid'ah di Kalangan Umat Itu Sulit, Kenapa?

Memberantas Bid'ah di Kalangan Umat Itu Sulit, bahkan Lebih Sulit ketimbang memberantas kemaksiatan. Kenapa? 

Memberantas Bid'ah di Kalangan Umat Itu Sulit, Kenapa?
Soalnya, pelaku bid'ah (ahlul bid'ah) "merasa benar" sedangkan pelaku maksiat dalam hati nuraninya mengakui perbutannya salah. Jadi, bagaimana mungkin kita bisa mengingatkan orang yang merasa benar?

Simak saja pembelaan para pelaku bid'ah. Mulai dari bahwa tidak semua bid'ah itu sesat --padahal jelas dalam hadits Shahih disebutkan "kullu bid'atin dholalah" (semua bid'ah itu sesat), hingga justifikasi dengan rasio dan menggunakan dalil-dalil yang dianggapnya mendukung perbuatannya.

Maka, langkah terbaik adalah sekadar mengingatkan soal perbuatan bid'ah. Setelah itu, jangan melayani perdebatan, hindari perdebatan, karena ahli bid'ah tidak akan menerima argumentasi ahlus sunnah, karana ahli bid'ah akan merasa benar.

Ahli Bid'ah biasanya menjuluki ahli sunnah dengan "Salafi Wahabi". Padahal, salafi-wahabi hakikatnya penganut Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan pemegang teguh kemurdian ajaran Islam.

Lihat: 
Pengertian Salafi 
Pengertian Wahabi

Bid'ah adalah amalan ibadah (ritual) yang tidak ada dalilnya yang sahih dan tidak dicontohkan Nabi Muhammad Saw dan para sahabat. (Baca: Pengertian Bid'ah)

Di kalangan umat masih ada (atau banyak?) yang beribadah tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw. Padahal, sunnah adalah acuan dalam beribadah.


Salah satu sifat utama seorang muslim sejati itu adalah ittiba’ (mengikuti) apa saja yang berasal dari Rasulullah Saw, baik dalam perkara ibadah, akhlaknya, aqidahnya, maupun muamalah.

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Dan apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian, maka ambillah (laksanakanlah), dan apa saja yang kalian di larang untuk mengerjakannya, maka berhentilah (tinggalkanlah)” (QS. Al-Hasyr: 7).

Sangat jelas, mengukuti Sunah Rasul itu perintah Allah SWT bagi setiap Muslim, sebagaimana diperkuat hadits:

“Apabila aku memerintahkan kalian dengan suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian! Dan apa saja yang aku larang kalian dari mengerjakannya, maka jauhilah (tinggalkanlah)!” (Muttafaqun ‘alaih).

Perkara-perkara bid'ah banyak yang muncul dari "tradisi leluhur". Demikian pula tahayul dan khurafat. Hal ini juga disinyalir dalam Al-Quran, bahwa kaum kafir Quraisy melakukan apa yang dicontohnya pendahulunya:

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

"Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

Demikian pula ahli bid'ah sering berdalih yang mereka lakukan hanyalah meneruskan tradisi nenek-moyang atau pendahulunya, sudah dianggap adat-kebiasaan, meskipun bertentangan dengan ajaran Islam.

Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan kekuatan kepada kita agar menjauhi bid'ah dan melaksanakan Sunnah. Amin...! Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Amalan Sunah Bulan Muharram: Puasa Asyura dan Tasuah

Amalan Sunah Bulan Muharram: Puasa Asyura dan Tasuah. Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu.

Amalan Sunah Bulan Muharram: Puasa Asyura dan Tasuah

MUHARRAM adalah bulan istimewa dalam sistem penanggalan (kalender) Islam. Muharam bukan saja bulan pertama atau awal tahun Hijriyah, tapi juga mengandung sejarah penuh hikmah, yakni Hijrah.

Literatur sejarah menyebutkan, Muharam (محرم) adalah bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah. Muharram berasal dari kata haroma yang artinya 'diharamkan' atau 'dipantang', yaitu dilarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah.

Setidaknya ada dua amalan sunnah di bulan Muharram, yakni puasa tasuah dan puasa asyura. Di dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mencantumkan tiga hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura atau Asyuro (10 Muharram) dan Puasa Tasu’a (9 Muharram).

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah Saw berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (HR Muttafaqun ‘Alaihi).

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Qatadah ra, Rasulullah Saw ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim).

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ


Dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata: “Rasulullah Saw bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim).

“Rasulullah Saw ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent).

Selaian puasa ‘Asyura (10 Muharram), ada juga puasa sunah sehari sebelumnya, yakni Puasa Tasu’a tanggal 9 Muharram. Hal ini karena Nabi Saw bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.

Selain dari Shahih Muslim, keutamaan puasa 'Asyura disebutkan dalam hadis lainnya.

حَدَّثَنَا هُشَيْمُ بْنُ بَشِيرٍ أَخْبَرَنَا مَنْصُورٌ يَعْنِي ابْنَ زَاذَانَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ الزِّمَّانِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ كَفَّارَةُ سَنَةٍ

"Telah menceritakan kepada kami Husyaim bin Basyir telah mengkhabarkan kepada kami Manshur bin Zadan dari Qatadah dari 'Abdullah bin Ma'bad Az Zammanni dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari 'arafah, beliau bersabda; "Penghapus (kesalahan) dua tahun." Beliau ditanya tentang puasa hari 'asyura`, beliau bersabda; "Penghapus (kesalahan) setahun."  (HR Ahmad)


"Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Ubaidullah bahwasanya ia mendengar Ibnu 'Abbas -ditanya tentang puasa Asyura? -, ia berkata; "Aku tidak pernah mengetahui Nabi SAW berpuasa di hari yang beliau pilih keutamaannya dibanding hari-hari lain, kecuali hari ini, yaitu: bulan Ramadlan dan hari 'Asyura." (HR Nasa'i)


"Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ubaidullah dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Nafi' dari Ibnu Umar radliallahu 'anhuma dia berkata; "Dahulu hari Asyura' adalah hari yang orang-orang jahilliyah pergunakan untuk puasa, tatkala turun bulan ramadlan, beliau bersabda: "Barang siapa yang ingin berpuasa Asyura' hendaklah ia berpuasa, dan bagi yang tidak ingin, silahkan ia tinggalkan." (HR Bukhari).

Demikian dalil tentang Amalan Sunah Bulan Muharram,Puasa Asyura dan Tasuah. Semoga kita bisa mengamalkan Puasa Tasuah (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram). Amin...! Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*