Hukum dan Hikmah Ibadah Kurban

Hukum dan Hikmah Ibadah Kurban
Hukum dan Hikmah Ibadah Kurban.

Ibadah Kurban (Qurban) adalah ibadah yang dilakukan umat Islam setiap bulan Dzulhijjah di hari raya Idul Adha.

Karenanya, hari raya Idul Adha disebut juga 'Idul Qurban dan Yaumun Nahr (Hari Kurban).

Ibadah kurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan takwa, selain ungkapan bakti dan syukur kepada Allah SWT.

Kurban adalah suatu amalan yang disyariatkan Islam pada tahun kedua hijriyah.

Ibadah kurban disyariatkan Allah SWT melalui Al-Quran Surat Al-Kautsar (QS. 108:1-2).

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”

HUKUM KURBAN

Mayoritas ulama menyatakan, hukum ibadah kurban adalah Sunnah Muakkadah, yaitu sunah yang sangat dianjurkan, sebagaimana hadits shahih:

Tiga hal yang merupakan kewajiban atasku dan sunnah atas kalian adalah shalat witir, nahr (qurban), dan shala dhuha.” (HR. Ahmad, Hakim, dan Daruquthni).

Barangsiapa yang memiliki kelonggaran dan tidak mau berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Kurban adalah amalan yang paling dicintai Allah SWT pada saat Idul Adha.

Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya qurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan qurban.” (HR. Tirmidzi).

Menyembelih hewan pada hari raya qurban, aqiqah (setelah mendapat anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada shadaqah yang nilainya sama.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi).

HIKMAH KURBAN

1. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim a.s.
2. Mendidik jiwa ke arah taqwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3. Mengikis sifat tamak (serakah) dan mewujudkan sifat murah hati.
4. Menghapuskan dosa dan mengharap keridhaan Allah SWT.
5. Menjalinkan hubungan kasih sayang sesama manusia.

Inti ibadah kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus rela berkorban apa saja demi bakti kepada Allah SWT dengan keikhlasan.

Besarnya pahala, berkah, dan hikmah kurban menjadikan para sahabat Nabi Saw saling berlomba memilih jenis hewan kurban terbaik dan termahal, seperti onta, dari jenis binatang yang sehat dan gemuk.

TUJUAN KURBAN

Niat ibadah kurban itu hanya untuk Allah semata (fashalli lirabbika wanhar, maka shalatlah dan berkurbanlah –QS. Al-Kautsar).

Kurban tidak boleh disertai kepentingan lain, harus hanya karena Allah SWT saja yang tercermin dalam salah satu do'a kurban:

"Bismillâhi wallâhu akbar, allâhuma minka walaka" --dengan nama Allah dan Allah Maha besar. Ya Allah ini dari-Mu dan hanya untuk-Mu."

Imam Ibnu Katsir berkata: "Ibadah kurban ini disyari'atkan, yaitu hadyu bagi jama'ah haji (tamattu' dan qiran, pent) dan udlhiyah bagi yang tidak naik haji, di antara manfaatnya supaya kita dapat menyebut asma Allah terutama saat menyembelih binatang kurban itu (aspek tauhid).

Demikian Hukum dan Hikmah Ibadah Kurban. Semoga kita diberi kekuatan, keikhlasan, dan kelonggaran oleh Allah SWT untuk melaksanakannya di Bulan Dzulhijjah. Amin...! (www.risalahislam.com).*

Hukum Pekurban Melihat Langsung Penyembelihan Hewan Kurban


Hukum Pekurban Melihat Langsung Penyembelihan Hewan Kurban

Hukum Pekurban Melihat Langsung Penyembelihan Hewan Kurban
TANYA: Haruskan Pekurban melihat proses penyembelihan hewan kurban?

JAWAB: Tidak harus, karena pekurban tidak wajib menyaksikan hewan kurbannya disembelih.

Menyaksikan penyembelihan hewan kurban bagi yang berkurban hukumnya sunah. Menghadiri prosesi penyembelihan juga bukan syarat keabsahan kurban.

Dalam Fatwa disebutkan:

ويتولاها أي الأضحية صاحبها إن قدر أو يوكل مسلما ويشهدها، أي يحضر ذبحها إن وكل فيه. انتهى.
“Hendaklah shohibul kurban mengurus kurbannya sendiri. Namun ia boleh pula mewakilkan muslim yang lain dan ia menyaksikan prosesi penyembelihan ketika diwakilkan.”
Biasanya kita berkurban dengan menitipkan hewan kurban dan penyembelihannya kepada panitia Qurban di masjid atau di lembaga zakat. Panitia itulah yang menjadi wakil kita dalam menyaksikan penyembilahan hewan kurban.

Menurut para ahli hadits, hadits tentang kewajiban menyaksikan penyembelihan hewan kurban, yakni Rasulullah Saw memerintahkan putrinya, Fatimah, untuk menyaksikan penyembelihan, adalah hadits lemah (dhoif).

“Wahai Fatimah, bangkit dan saksikanlah penyembelihan kurbanmu, karena sesungguhnya Allah mengampunimu setiap dosa yang dilakukan dari awal tetesan darah kurban, dan katakanlah:” Sesungguhnya shalatku, ibadah (kurban) ku, hidupku dan matiku lillahi rabbil ‘alamiin, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan oleh karena itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang yang paling awal berserah diri”

Selain itu, pekurban juga tidak wajin memakan daging hewan kurbannya, hanya dibolehkan (mubah). “Makanlah dagingnya, berilah fakir miskin, dan simpanlah.” (HR Bukhori).

Demikian Hukum Pekurban Melihat Langsung Penyembelihan Hewan Kurban. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Hukum Bully dalam Islam, Pelakunya Takkan Lolos di Akhirat

Hukum Bully dalam Islam, Pelakunya Takkan Lolos di Akhirat
Hukum Bully dalam Islam, Pelakunya Takkan Lolos di Akhirat.

BULLY atau bullying tampaknya sudah menjadi bagian dari kehidupan sebagian warga internet (warganet, netizen).

Tiap hari selalu saja ada netizen yang melakukan bully melalui akun media sosial, baik melalui akun bodong atau akun palsu maupun akun dengan nama asli.

Komentar bernada bully juga banyak terjadi di kolom komentar situs berita dan blog.

Perilaku bullying menunjukkan "watak asli" pelaku sebagai manusia yang tidak terdidik (uneducated), tidak beradab (uncivilized people), atau tidak berbudi pekerti yang baik atau akhlak mulia (akhlaqul karimah).

Pengertian Bully

Dalam bahasa Inggris, bully artinya orang yang suka menggertak, mengganggu, mengusik, atau mengintimidasi. A person who uses strength or power to harm or intimidate those who are weaker.

Dalam bahasa Indonesai, bully atau bullying disebut risak atau rundung.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan: 
  • risak/ri·sak/ v, merisak/me·ri·sak/ v mengusik; mengganggu.
  • rundung/run·dung/ v, merundung/me·run·dung/ v 1 mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan: anak itu ~ ayahnya, meminta dibelikan sepeda baru; 2 menimpa (tentang kecelakaan, bencana, kesusahan, dan sebagainya).

Hukum Bully dalam Islam

Islam mengharapkan bully, bullying, risak, atau rundung. Dalil-dalil berikut ini cukup menunjukkan haramnya bully dalam Islam.

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah salah satu kaum dari kalian menghina kaum yang lain, bisa jadi kaum yang dihina lebih baik dari pada yang menghina…” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil ‘Adzim menjelaskan, sukhriyyah (hinaan) dalam ayat tersebut bukan hanya berarti istihza’ (mengolok-ngolok), tetapi juga ihtiqar (memandang rendah).

Ibnu Katsir mengutip sebuah hadis sahih yang maknanya sebagai berikut: “Sombong adalah menolak kebenaran, meremehkan dan menganggap rendah manusia.”

Tindakan semacam ini (bully) diharamkan dalam agama Islam.

Hukuman bagi Tukang Bully

Karena hukumnya haran, pelaku bully diancam hukuman berat, di dunia maupun di akhirat. Pelaku bully atau tukang nyinyir, tukang hina, tukang mengolok-olok, diancam adzab (siksa).

Di akhirat nanti, jika pelaku bully memiliki catatan amal kebaikan, maka kebaikannya bisa diambil oleh korban atau orang yang di-bully-nya sehingga ia menjadi bangkrut (tidak punuya amal kebaikan karena diambil oleh orang yang di-bully-nya di dunia)

“Janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak karena melihat siksa. (QS. Ibrahim: 42).

Dalam sebuah hadits disebutkan, artinya:

Rasulullah Saw bertanya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta.”

Lalu Rasulullah Saw menjelaskan,

“Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah menghina si A, menuduh berzina si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, dan memukul si E. Maka si A diberi pahala kebaikannya dan si B, si C… diberi pahala kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) kedzalimannya, dosa-dosa mereka yang dizalimi itu diambil lalu dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim 2581)

Demikian Hukum Bully dalam Islam. Pelakunya Takkan Lolos. Kalaupun di dunia ia bisa sembunyi di balik akun bodong, maka di akhirat akan terbuka. Malaikat Rakib-Atid tak berhenti menjalankan tugasnya, mencatat semua amal perbuatan manusia. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Keutamaan Bulan Dzulqa’dah

Pengertian, Amalan, dan Keutamaan Bulan Dzulqa’dah. 

Keutamaan Bulan Dzulqa’dah
BULAN Dzulqa'dah adalah bulan ke-11 dalam kalender Islam setelab buln Syawal dan sebelum bulan Dzulhijjah (bulan haji).

Nama bulan ini disebut pula dengan nama Dzulqo'dah, Dzulqaidah, Dzulkaidah, Zulkadah, dan Dulkangidah. Bulan ini dikenal pula dengan nama bulan Apit atau Hapit (Jawa Kuno). 

Menurut masyarakat Jawa, apit berarti terjepit. Hal ini karena bulan ini terletak di antara dua hari raya besar yaitu, Idul Fitri (Syawal) dan Idul Adha (Dzulhijah).

Secara bahasa, Dzul Qo’dah terdiri dari dua kata: Dzul yang artinya "sesuatu yang memiliki" dan Al Qo’dah yang artinya "tempat yang diduduki". 

Bulan ini disebut Dzul Qo’dah karena pada bulan ini, kebiasaan masyarakat Arab duduk (tidak bepergian) di daerahnya dan tidak melakukan perjalanan atau peperangan.

Secara bahasa, dzulqa’dah juga berarti “penguasa genjatan senjata” karena pada saat itu bangsa Arab dilarang melakukan peperangan.

Dzulqa'dah Bukan Bulan Sial, Justru Bulan Mulia

Hingga zaman now masih beredar kepercayaan bulan Dzulqa'dah sebagai bulan sial atau bulan tidak baik untuk menikah dan sebagainya. Dalam Islam, kepercayaan tersebut dilarang karena merupakan bagian dari tahayul dan khurafat.

Justru, dalam Islam, bulan Dzulqa'dah termasuk salah satu dari empat bulan haram, yaitu bulan yang dimuliakan atau disucikan Allah SWT selain Muharram, Dzulhijjah, dan bulan Rajab.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. At-Taubah:36

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat) empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama-sama orang yang bertakwa.”

Bulan haram ialah bulan yang dijadikan oleh Allah sebagai bulan yang suci lagi diagungkan kehormatannya.

Bulan Dzulqa’dah termasuk bulan haram ditegaskan dalam hadits shahih berikut ini:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari 3197 & Muslim 4477).

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعَ عُمَرٍ كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ: عُمْرَةً مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، أَوْ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzul Qo’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah Hudaibiyah di bulan Dzul Qo’dah, umrah tahun depan di bulan Dzul Qo’dah (HR. Bukhari 1780 & Muslim 1253)

Di antara keistimewaan lain dari bulan Dzulqa’dah, bahwa Allah SWT berjanji kepada Nabi Musa as untuk berbicara dengannya selama tiga puluh malam di bulan Dzulqa’dah, ditambah sepuluh malam di awal bulan Dzul Hijjah berdasarkan pendapat mayoritas para ahli tafsir. [Tafsir Ibni Katsir II/244], sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ‌

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (untuk memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi)…” [Qs. al-A'raaf: 142].

Demikian Keutamaan Bulan Dzulqa’dah (Dzulkaidah) dan tidak ada amalan khusus ataupun dziki/doa.bacaan khusus di dalamnya. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Shahihain & Amalan-Amalan yang Disyariatkan Di Bulan-Bulan Haram

Contact Form

Name

Email *

Message *