Arti Jumat Berkah atau Jumat Mubarok

Arti Jumat Berkah - Jumat Mubarok
Makna Arti Jumat Berkah atau Jumat Mubarok yang Trending Tiap Pekan #JumatBerkah

Setiap hari Jumat, biasanya tagar #JumatBerkah atau #JumatMubarok trending di Twitter. Para tweps (pengguna sosial media Twitter) saling mengingatkan tentang keutamaan hari Jumat yang penuh berkah (barokah).

Apa arti Jumat Berkah atau Jumat Mubarok?

Ringkasnya, Jumat Berkah artinya hari Jumat itu penuh kebaikan dan keutamaan. Jumat adalah hari khusus memaksimalkan ibadah atau amail kebaikan, seperti sedekah yang pahalanya dilipatkgandakan oleh Allah SWT.

Hari Jum’at adalah hari raya bagi umat Islam:

“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk umat slam. Barangsiapa yang mendatangi (shalat) Jum’at maka hendaklah mandi, kalau mempunyai wewangian hendaknya dia pakai dan pergunakan siwak.” (HR. Ibnu Majah).

Diceritakan Abu Lubanah al-Badri, Rasulullah bersabda bahwa pemimpin seluruh hari dalam setiap minggu adalah hari Jumat. Menurut Rasulullah Saw, Jumat hari paling mulia di sisi Allah SWT bahkan lebih mulia dibandingkan Idul Fitri dan Idul Adha. 

Baca: Keutamaan Hari Jumat

Arti Berkah

Arti Berkah
Arti Jumat Berkah tidak lepas dari makna berkah itu sendiri.

Menurut bahasa, berkah --berasal dari bahasa Arab: barokah (البركة), artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). Istilah lain berkah dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”.

Menurut istilah, berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan” (Imam Al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf, hlm. 79).

Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia.

Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti:
  1. Tumbuh, berkembang, atau bertambah.
  2. Kebaikan yang berkesinambungan. Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi”.

Baca : Pengertian Berkah atau Barokah

Baca Juga: Waktu Khusus Doa Dikabulkan Hari Jumat

Demikian arti Jumat Berkah atau Jumat Mubarok. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Keutamaan Hari Jumat : Hari Penuh Berkah dan Bersejarah

Keutamaan Hari Jumat
Keutamaan Hari Jumat. Hari Penuh Berkah dan Bersejarah dalam Islam.

Jumat adalah hari keenam dalam satu pekan. Kata Jumat diambil dari Bahasa Arab, Jumu'ah  (الجمعة)yang berarti beramai-ramai, diambil dari tata cara ibadah kaum Muslim yang dilakukan pada hari ini. Jumu'ah memiliki akar sama dengan Jama' yang berarti banyak dan juga Jima' yang artinya bergabung. (Wikipedia)

Nama-nama hari dalam bahasa Indonesia diadopsi nama-nama bilangan dari bahasa Arab: 
  1. Wahid (وَاحِدٌ) - Ahad/Minggu
  2. Itsnain (اثْنَانِيْ) - Senin)
  3. Tsalasah (ثَلَاثَةُ) - Selasa
  4. Ar'ba'ah (أَرْبَعَةُ) - Rabu
  5. Khomsah (خَمْسَةُ) - Kamis
  6. Jumu'ah ( الجمعة) - Jumat
  7. Sab'ah (سَبْعَةُ) - Sabtu
Khusus hari keenam, tidak mengambil dari nama Sittah (سِتَّةُ ) atau Enam. Ini karena hari keenam dalam Islam memiliki keutamaan, salah satunya di hari keenam ini umat Islam melaksanakan shalat Jumat, sebuah shalat yang berbeda dengan shalat-shalat lainnya.

Shalat jumat harus dilaksanakan waktu dzhuhur, secara bersama-sama (berjamaah), terdiri dari dua rakaat, dan diawali dengan khotbah Jumat.

Keutamaan Hari Jumat

Rasulullah Saw menegaskan, “Sebaik-baik hari yang pada hari itu matahari terbit adalah Hari Jumat" (HR Muslim). Berikut ini keutamaan hari Jumat berdasarkan hadits Nabi Muhammad Saw.

1. Hari Raya Umat Islam

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” [HR. Muslim] 


2. Hari Khusus Melaksanakan Shalat Jumat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu’ah:9] 

اَلْجُمْعَةُ حَقُّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِ جَمَاعَةٍ إِلاَّ عَلَى أَرْبَعَةٍ : عَبْدٍ مَمْلُوْكٍ أَوِمْرَأَةٍ أَوْصَبِيٍّ أَوْمَرِيْضٍ
 

"Shalat jumat itu wajib atas tiap orang muslim berjamaah kecuali empat orang : Hamba sahaya, atau wanita, atau anak-anak (yang belum baligh) atau orang sakit.” (HR. Abu Dawud dan Alhakim)

3. Hari Nabi Adam a.s. Diciptakan dan Terjadinya Kiamat
 
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ,, خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ اْلجُمْعَةِ, فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ, وَفِيْهِ أُدْخِلَ اْلَجنَّةَ, وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُوْمَ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ اْلجُمْعَةِ


"Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda : “Sebaik-baik hari yang pada hari itu matahari terbit adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke jannah(surga) dan pada hari itu ia dikeluarkan dari jannah dan tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari jumat.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

4. Hari Waktu Khusus Doa Dikabulkan

وَعَنْ اَبِيْ مُوْسَى اَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِيْ سَاعَةِ الْجُمْعَةِ,, هِيَ مَابَيْنَ اَنْ يَجْلِسَ اْلإِمَامُ-يَعْنِيْ عَلَى الْمِنْبَرِ-اِلٰى اَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ,,
 
Dan dari Abu Musa, sesungguhnya ia pernah mendengar Nabi saw. Bersabda tentang waktu (mustajab di) hari jumat yang dimaksud : yaitu antara Imam duduk—di atas mimbar sampai selesai salat. (HR. Muslim dan Abu Dawud)

“Sesungguhnya pada hari jumat itu ada satu saat, yang tidak ada seseorang yang memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu melainkan Allah pasti akan memberi kepadanya.” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi) .

“Sesungguhnya pada hari jumat itu ada satu saat yang tidak bertepatan seorang muslim yang sedang memohon kebaikan kepada Allah azza wa jalla melainkan pada saat itu Allah pasti akan memberinya. Saat itu sesudah ashar.” (HR. Ahmad)

5. Hari Penghapusan Dosa


Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا


"Barangsiapa berwudlu', lalu memperbagus (menyempurnakan) wudlunya, kemudian mendatangi shalat Jum'at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum'at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum'atnya." (HR. Muslim)

6. Pahala Sedekah Dilipatgandakan
 
الصَّدَقَةُ تُضَاعَفُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ

“Sedekah itu dilipat gandakan pahalanya pada hari jumat (yakni bila sedekah itu pada hari jumat maka pahala berlipat ganda dari lain-lain hari.” (HR. Abi Syaibah).

Baca: Keutamaan Sedekah Hari Jumat

Salah satu amalan sunah hari Jumat adalah memperbanyak sholawat.

“Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i).

Demikian keutamaan hari Jumat yang penuh berkah (Jumat Mubarok). Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Shahihain, Na’lul Authar, Riyadus Shalihin

Hukum Stand Up Comedy (Melawak) Menurut Islam

Hukum Stand Up Comedy (Melawak) Menurut Islam
Joshua dan GE Pamungkas Diduga Lecehkan Islam. Demikian diberitakan Viva.co.id. Keduanya dinilai melakukan pelecehan terhadap Islam dalam Stand Up Comedy (Lawakan Tunggal/Komedi Tunggal) yaitu membawakan lawakan di atas panggung seorang diri dengan cara monolog mengenai sesuatu topik.

Orang yang melakukan kegiatan ini disebut pelawak tunggal (bahasa Inggris: stand-up comedian), komik, atau komik berdiri (komik tunggal).

Pada praktiknya, di kalangan Komika atau Stand Up Comedian di Indonesia, umumnya para komika mengarang cerita alias berbohong agar penonton tertawa. Kalaupun ada unsur kebenaran dalam cerita, maka mereka akan melebih-lebihkan atau menambahkan cerita agar lucu.

Islam tidak melarang lawakan atau bercerita lucu. Rasulullah Saw pun dikenal sebagai seorang yang humoris atau suka melucu.

Jadi, hukum komik, komika, stand up comedy, atau melawak pada dasarkan mubah (boleh). Namun, jika materi stand up comery atau isi lawakannya berupa cerita bohong, maka hukumnya haram. Apalagi jika lawakannya atau materinya berisi pelecehan atau penghinaan terhadap Islam, jelas diharamkan dan pelakunya berdosa (akan diadzab Allah SWT).

Rasulullah Saw bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 2315).

فإن قال قائل: ذكر حكايات الحمقى والمغفلين يوجب الضحك وقد رويتم عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال "إنَّ الرجل ليتكلّم بالكلمة يُضحك بها جلساءَه يهوي بها من أبعدَ من الثُّرَيّا" فالجواب إنه محمول على أنه يضحككم بالكذب، وقد روى هذا فى الحديث مفسرا، "ويل للذي يحدث فيكذب ليضحك الناس". وقد يجوز للإنسان أن يقصد إضحاك الشخص في بعض الأوقات، ففي أفراد مسلم من حديث عمر ابن الخطاب رضي الله عنه أنه قال "لأكلمن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لعله يضحك قال، قلت: لو رأيت ابنة زيد امرأة عمر سألتني النفقة فوجأت عنقها فضحك رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ."

"Kalau ada yang bertanya, ‘Bacaan Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin [Hikayat Orang-orang Dungu dan Lalai-penerjemah] bikin tertawa. Bukankah ada hadits nabi yang berbunyi, ‘Sungguh, seseorang yang mengeluarkan satu kata sekalipun yang dapat membuat orang di sekitarnya tertawa akan jatuh karenanya [ke jurang neraka] melebihi jarak bumi dan bintang Tsurayya?’’ Jawabnya, ‘Hadits ini bisa dipahami karena unsur dusta di dalam cerita humornya. Hal ini diperjelas oleh hadits, ‘Celakalah seseorang yang berbicara kepada orang lain, lalu berdusta sehingga orang lain tertawa.’’ Hanya saja terkadang seseorang boleh berbicara atau mendongeng dengan maksud membuat orang lain tertawa. Di dalam Shahih Muslim, Sayyidina Umar bin Khattab mengatakan, ‘Aku akan bicara kepada Rasulullah SAW dengan kalimat yang dapat membuatnya tertawa.’ Kukatakan kepadanya, ‘Ya Rasulullah, kalau kaulihat anak perempuan Zaid–istri Umar–meminta nafkah kepadaku, akan kupukul lehernya.’ Rasulullah SAW tertawa mendengarnya.” (Abdurrahman Ibnul Jauzi Al-Baghdadi, Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin, Beirut, Darul Fikr, 1990 M/1410 H).

Hadits di atas jelas menjelaskan Hukum Stand Up Comedy (Melawak) Menurut Islam, yakni haram jika isi lawakannya berupa kebohongan, cerita palsu atau dusta; dan mubah (boleh) jika lawakannya tidak mengandung dusta dan hal lain yang melanggar syariat Islam.

Jika lawakan atau materi stand up comedy menghina Islam, maka hukumnya lebih keras lagi, yaitu sang komika dianggap kufur. Orang yang suka menghina atau mengolok-olok Islam adalah kaum kafir sebagaimana dilakukan Kaum Kafir Quraisy.

Islam melarang umatnya untuk bermain-main atau mengolok-olok Islam. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66)

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dinukil dari Imam Syafi’iy bahwa beliau ditanyakan mengenai orang yang bersenda gurau dengan ayat-ayat Allah T’ala. Beliau mengatakan bahwa orang tersebut kafir dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ


“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)” -Demikianlah dinukil dari Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul.
Ayat di atas menunjukkan bahwa mengolok-olok Allah, Rasulullah dan ayat-ayat Allah adalah suatu bentuk kekafiran. Dan barangsiapa mengolok-olok salah satu dari ketiga hal ini, maka dia juga telah mengolok-olok yang lainnya (semuanya). (Kitab At Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 59)

HUKUM dasar bercanda (bergurau, senda-gurau, humor, melawak) adalah mubah atau boleh (Imam An-Nawawi, Al-Adzkar). Dalilnya, Rasulullah Saw juga suka bercanda.

Dari Abu Hurairah, bahwa para shahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda telah mencandai kami.” Rasulullah saw. Menjawab, “Sesungguhnya tidaklah aku berbicara kecuali yang benar” (HR Tirmidzi).

Rambu-rambu Bercanda dalam Islam

Hukum bercanda yang mubah itu berlaku selama rambu-rambu dalam bercanda dalam Islam dipatuhi. Sebagaimana dikemukakan ‘Aadil bin Muhammad Al-‘Abdul ‘Aali dalam bukunya, Pemuda dan canda, syarat bercanda menurut Islam antara lain:
  • Materi canda tidak berisi olok-olok atau mempermainkan ajaran Islam;
  • Tidak boleh menyakiti perasaan orang lain;
  • Tidak mengandung kebohongan;
  • Tidak mengandung ghibah (menggunjing);
  • Tidak cabul; dan
  • Tidak melampaui batas, yakni tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak menjerumuskan pada yang haram.

Bercanda ala Rasulullah Saw

Canda ala Rasulullah umumnya berupa “teknik bisosiasi”, yakni mengemukakan hal tak terduga pada akhir pembicaraan (“teknik belokan mendadak”) atau kata yang menimbulkan dua pengertian (asosiasi ganda).

Anas ra. Meriwayatkan, pernah ada seorang laki-laki meminta kepada Rasulullah agar membawanya di atas unta. Rasulullah bersabda: ”Aku akan membawamu di atas anak unta”. Orang tadi bingung karena ia hanya melihat seekor unta dewasa, bukan anak unta. Lalu Rasulullah berkata: “Bukankan yang melahirkan anak unta itu anak unta juga?” (HR.Abu Dawud dan Tirmidzi).

Rasulullah pernah mencandai seorang gadis yatim di rumah Ummu Sulaim. Rasul berkata kepada gadis yatim itu, ”Engkau masih muda, tapi Allah tidak akan membuat keturunanmu nanti tetap muda. “

Ummu Sulaimah lalu berkata,”Hai Rasulullah, Engkau berdoa kepada Allah bagi anak yatimku, agar Allah tidak membuat keturunannya tetap muda. Demi Allah, ya memang dia tidak muda selama-lamanya.” (HR. Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik).

Seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?”Rasulullah menjawab : “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”. Perempuan itu menangis.

Lalu Rasulullah mengutip salah satu firman Allah QS. Al-Waaqi’ah: 35-37, ‘“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya” (HR. Tirmidzi).

Rasulullah pernah memeluk sahabat Zahir dari belakang dengan erat.
Zahir: “He, siapa ini? Lepaskan aku!”. Zahir memberontak dan menoleh, ternyata yang memeluknya Rasulullah.

Zahir pun segera menyandarkan tubuhnya dan lebih mengeratkan pelukan Rasulullah. Rasulullah berkata : “Wahai umat manusia, siapa yang mau membeli budak ini?” Zahir: “Ya Rasulullah, aku ini tidak bernilai dipandangan mereka”

Rasulullah: “Tapi di pandangan Allah, engkau sungguh bernilai Zahir. Mau dibeli Allah atau dibeli manusia?” Zahir pun makin meng-eratkan tubuhnya dan merasa damai di pelukkan Rasulullah (HRAhmad dari Anas).

Dalam beberapa riwayat menyebutkan, Rasulullah Saw pernah bercanda ketika memanggil shahabatnya: “Hai yang mempunyai dua telinga “ (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Tidak Mempermainkan Islam

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: “Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman”. (QS. At-Taubah: 65-66).

Contoh ungkapan canda yang mempermainkan ajaran Islam: menerjemahkan ayat “Wahai orang-orang yang beriman…. Yang tidak beriman tidak hai!”, mempermainkan hadist tentang adanya syetan menjadi pihak ketiga bila seorang laki-laki berduaan dengan wanita non-Muhrim, atau ucapan salam “Assalamu’alaikum” yang sering dibuat-buat supaya terdengar lucu.

Tidak Bohong

Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah”. (HR. Ahmad).

Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya tidaklah aku berbicara kecuali yang benar” (HR Tirmidzi).

Tidak Mencela dan Menyakiti

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mencela sebagian yang lain, karena boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari yang mencela” (QS. Al-Hujurat:11).

Janganlah seorang di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Tidak Meniru Jenis Kelamin Lain

Seringkali untuk membuat orang tertawa, seorang laki-laki bergaya seperti wanita --pakaian, cara berjalan, atau cara bicaranya. Tampaknya, aturan Islam yang ini sering dilanggar oleh para komedian pria dengan meniru perempuan atau memerankan banci atau bencong

Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Ad-Darimi).

Demikian Hukum Stand Up Comedy (Melawak) Menurut Islam. Wallahu a'lam bish-showabi. Dihimpun dari berbagai sumber. (www.risalahislam.com).*

Wudhu - Ibadah Ringan Berpahala Besar

Pengertian dan Cara Wudhu - Ibadah Ringan Berpahala Besar
Pengertian dan Cara Wudhu - Ibadah Ringan Berpahala Besar.

WUDHU (wudlu, wudu) adalah menyucikan diri (sebelum shalat) dengan membasuh muka, tangan, kepala, dan kaki (KBBI)

Setiap Muslim melakukan wudhu minimal lima kali dalam sehari, yaitu sebelum shalat fardhu lima waktu --Subuh, Zhuhur, 'Ashar, Maghrib, Isya.

Dalam istilah fiqih, wudhu adalah membasuh wajah, kedua tangan hingga siku, sebagian rambut di kepala, dan kedua kaki hingga mata kali denganmenggunakan air yang suci.

Dalil wajibnya wudhu sebelum shalat adalah firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6).

Rukun wudhu ada enam:
  1. Membasuh muka. Dianjurkan sebelum membasuh muka berkumur dulu.
  2. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku.
  3. Mengusap (menyapu) sebagian rambut di kepala, termasuk mengusap kedua daun telinga.
  4. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.
  5. Tertib (berurutan) --dari muka, tangan, rambut, telinga, dan kaki.
  6. Muwalah, yaitu tidak diselingi dengan kegiatan yang lain.

Tata cara wudhu dalam gambar berikut ini:

Tata cara wudhu

Selain wajib dilakukan sebelum shalat, wudhu juga disunahkan dilakukan kapan saja. Dengan kata lain, umat Islam dianjurkan senantiasa dalam keadaan "punya wudhu" atau dalam keadaan suci.


Alkisah, seorang kiai melalukan perjalanan dengan para santrinya. Ketika di tengah perjalanan, masuk waktu Zhuhur. Sang kiai yang selalu mempunyai wudhu bertanya kepada para santrinya. "Apa kalian punya wudhu ? "Tidak, Pak Kiai, " jawab santri-santrinya. "Wudhu saja kalian tidak punya, apalagi duit," seloroh sang kiai.

Diriwayatkan, sahabat Nabi Saw bernama Bilal bin Rabah --muadzin pertama dalam sejarah Islam-- bisa menjadi penghuni surga karena wudhu. Bahkan, kabar tersebut sudah ia terima sejak masih menjejakkan kakinya di muka bumi ini alias masih hidup.

Secara medis, sudah diakui, wudhu bisa menghilangkan mikroba yang bersarang dalam hidung, apabila tidak cepat dibersihkan akan cepat menyebar dan berkembangbiak, akan menyebabkan munculnya berbagai penyakit, lebih-lebih kalau sampai ke tenggorokan lalu masuk menerobos keperedaran darah.

Maka berbahagialah orang yang melazimkan diri berwudhu secara terus-menerus. karena dengan instinsyaq lalu mengeluarkannya lagi, hidung bersih dari debu, kuman, dan bakteri.

Manfaat secara ilmiah dan medis ini hanya sebagian kecil dari berkah wudhu. Masih begitu banyak hikmah lainnya dari amal yang ringan ini. Wudhu bisa menghapus dosa - dosa kecil dan mengangkat derajat seseorang (HR. Muslim).

Ketika ditanya tentang keutamaan wudhu, Rasûlullâh Saw menjawab :

مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ، وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ، وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ، ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ، إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ


"Tidak ada seorang pun diantara yang mendekatkan air wudhu’nya lalu dia berkumur, memasukkan air ke hidungnya lalu mengeluarkannya kecuali akan berjatuhan kesalahan-kesalahan wajahnya, kesalahan-kesalahan mulutnya dan kesalahan-kesalahan hidungnya. Jika dia mencuci wajahnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allâh, kesalahan-kesalahan wajahnya akan berjatuhan bersama tetesan air dari ujung jenggotnya. Kemudian mencuci kedua tangannya sampai siku, kecuali kesalahan-kesalahan tangannya akan berjatuhan bersama air lewat jari-jemarinya. Kemudian jika ia mengusap kepala, maka kesalahan-kesalahan kepalanya akan berjatuhan melalui ujung rambutnya bersama air. Lalu jika dia mencuci kakinya sampai mata kaki, maka kesalahan kedua kakinya akan berjatuhan melalui jari-jari kakinya bersama tetesan air. Jika kemudian, ia berdiri lalu shalat, kemudian dia memuji Allâh menyanjung dan mengagungkan-Nya dengan pujian dan sanjungan yang menjadi hak-Nya dan mengosongkan hatinya hanya untuk Allâh kecuali dia terlepas dari kesalahan-kesalahannya seperti pada hari ia dilahirkan dari perut ibunya." [Muttafaqun ’alaihi].

Dalam hadits lain Rasûlullâh Saw bersabda :

لَا يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ ثُمَّ يُصَلِّي الصَّلَاةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلَاةِ الَّتِي تَلِيهَا


"Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhunya dan melaksanakan shalat, kecuali Allâh akan mengampuni dosa-dosa yang dilakukannnya antara shalat yang dia kerjakan itu sampai dengan shalat berikutnya" [Muttafaqun ’alaihi].

Demikian pengertian dan keutamaan wudhu. Semoga kita senantiasa mampu menjaga wudhu. Amin..! Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com. Sumber: Shahihain, Fiqh Sunnah).*