Hukum dan Tata Cara Sujud Syukur

Hukum dan Tata Cara Sujud Syukur
Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan oleh seseorang ketika mendapatkan nikmat, kegembiraan, atau ketika selamat dari bencana.

SUJUD SYUKUR menjadi fenomena tersendiri di kalangan pesepakbola Muslim. Para pemain Timnas atau Liga Indonesia sering melakukannya setelah mencetak gol ke gawang lawan.

Para pemain Muslim di Liga Inggris atau Liga Eropa lainnya juga sering melakukannya. Dalam konteks dakwah, sujud syukur juga bagian dari syi'ar Islam.

Sujud syukur adalah salah satu pertanda seorang Muslim. Syuku sendiri merupakan salah satu kehebatan seorang Muslim.

Sujud syukur adalah ungkapan terima kasih kepada Allah SWT atas nikmat atau kegembiran yang diperoleh.

Sujud Syukur juga sunah dilakukan setelah seorang Muslim terlepas dari bahaya  atau musibah.

Hukum Sujud Syukur 

Jumhur ulama sependapat ikhwal sunatnya mengerjakan Sujud Syukur. Dalil disyari’atkannya sujud syukur adalah hadits shahih berikut ini.

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ.

Dari Abu Bakroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika beliau mendapati hal yang menggembirakan atau dikabarkan berita gembira, beliau tersungkur untuk sujud pada Allah Ta’ala. (HR. Abu Daud).

Tata Cara Sujud Syukur
Sujud syukur tidak disyaratkan menghadap kiblat, juga tidak disyaratkan dalam keadaan suci, karena sujud syukur bukanlah shalat.

Namun, jika dilakukan dalam keadaan berwudhu' sangat baik atau lebih baik dan disunnahkan, tapi bukan syarat.

Dalam kitab Fat-hul 'Allam disebutkan, Syaukani berkata: "Dalam sujud Syukur tidak terdapat sebuah hadits pun yang menjelaskan bahwa untuk melakukannya itu disyaratkan berwudhu, suci pakaian dan tempat."

Dalam Fiqh Sunnah disebutkan, sujud syukur disunnahkan dalam dua kondisi:

1. Ketika adanya anugerah, karunia, nikmat, rezeki, kebahagiaan, termasuk mendapat hidayah, masuk Islam, atau umat Islam mendapat pertolongan.

2. Ketika tercegah atau terhindarnya musibah seperti selamat dari kecelakaan atau selamat dari bahaya atau musibah.

Diriwayatkan dari Abu Bakrah, Nabi Saw. apabila mendapatkan sesuatu yang disenangi atau diberi kabar gembira, segeralah tunduk bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah Swt.

Baihaqi meriwayatkan dengan sanad menurut syarat Bukhari : "Bahwa Ali r.a . ketika menulis surat kepada Nabi saw. untuk memberitahukan masuk Islamnya Suku Hamdzan, beliau pun sujud dan setelah mengangkat kepalanya terus bersabda: 'Selamat sejahtera atas Suku Hamdzan! Selamat sejahtera atas Suku Hamdzan'!"

Dari Abdurrahman bin 'Auf : "Bahwa Rasulullah saw. pada suatu hari keluar dan saya mengikutinya sampai kami tiba di Nakhl. Beliau lalu sujud dan lama sekali sujudnya itu hingga saya takut kalau-kalau Allah akan mendatangkan ajalnya di sana. Saya lalu datang mendapatkannya, tiba-tiba beliau mengankat kepala dan bertanya: 'Mengapa wahai Abdurrahman?' Saya menceritakan perasaan saya tadi, maka beliau pun bersabda:'Sesungguhnya Jibril a.s. datang kepadaku tadi dan berkata: Sukakah Anda kuberi kabar gembira ? Sesungguhnya Allah berfirman kepada Anda: Barang siapa membacakan shalawat padamu, maka Aku akan memberinya rahmat . Dan berang siapa membacakan salam kepadamu, maka Aku akan memberinya keselamatan. Oleh karena itu saya sujud sebagai tanda syukur kepada Allah Ta'ala.

Demikian Hukum dan Tata Cara Sujud Syukur. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Shaih Bukhari, Shahih Muslim, Fikih Sunnah 2 hal.117-119, Sayyid Saabiq, Penerbit: PT.Al-Ma'rif, Bandung.

Pengertian Sakinah Mawaddah Wa Rohmah - Doa bagi Pengantin

Pengertian Sakinah Mawaddah Wa Rohmah
Pengertian Sakinah Mawaddah Wa Rohmah 

UNGKAPAN Sakinah Mawaddah Wa Rohmah hampir dipastikan selalu muncul dalam acara pernikahan.

"Semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Wa Rohmah". Demikian yang sering diucapkan mereka yang menghadiri pernikahan atau mendengar temannya menikah.

Harus diingat, cara mengucapkannya yang benar adalah Sakinah Mawaddah Wa Rohmah, bukan Sakinah Mawaddah dan Wa Rohmah, karena Wa di depan kata Rohmah artinya "dan".

Ungkapan sakinah wawaddah warahmah diambil dari ayat Al-Quran yang sering dicantumkan dalam undangan pernikahan karena memang menggambarkan sebagian tujuan atau fungsi pernikahan dalam Islam.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”  (QS Ar-Rum/30:21).

Dalam ayat di atas ada kata litaskunu (لِتَسْكُنُوا ) atau sakinah), mawaddah (مَوَدَّةً), dan rohmah (وَرَحْمَةً) sehingga digabungkan menjadi sakinah mawaddah warohmah.

Pengertian Sakinah Mawaddah Warahmah

Secara bahasa, Sakinah Mawaddah Wa Rahmah artinya tenang atau tentram (sakinah), cinta kasih (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah).

Dalam konteks ini, ada juga ulama yang mengartikan rahmah sebagai "anak", yakni buah hati atau keturunan hasil cinta dan kasih sayang kedua orangtuanya.

Arti Sakinah
Kata Sakinah dalam bahasa Arab memiliki arti kedamaian, tenang, tentram, dan aman. Kata Sakinah berasal dari QS 30:21di atas, di dukung dengan ayat lain:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

"Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya." (QS Al-A’raf/7:189).

Arti Mawaddah
Mawaddah dalam bahasa Indonesia bisa diartikan cinta atau sebuah harapan.

Arti Rahmah
Rahmah artinya kasih sayang.

Dengan demikian, ungkapan "semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rohmah" artinya semoga pasangan pengantin menjadi keluarga yang tenang, tentram, damai, penuh cinta dan kasih sayang. Ringkasnya: semoga menjadi keluarga bahagia di dunia dan di akhirat.

Demikian sekilas ulasan tentang Pengertian Sakinah Mawaddah Wa Rohmah. Wasalam. (www.risalahislam.com).*

Dua Wasiat Rasulullah Saw Menjelang Wafat: Shalat dan Peduli Dhuafa

Dua Wasiat Rasulullah Saw Menjelang Wafat: Shalat dan Peduli Dhuafa
Dua Wasiat Rasulullah Saw Menjelang Wafat: Shalat dan Peduli Dhuafa

DIRIWAYATKAN, sesaat sebelum Rasulullah Muhammad Saw wafat, beliau sempat membisikan sebuah wasiat bagi umat Islam.

Saat tubuh Nabi Saw mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi, tiba-tiba beliau menggerakkan bibirnya hendak membisikkan sesuatu. 

Ali bin Abi Thalib yang saat itu ada di dekat beliau, segera mendekatkan telinganya. Rasulullah Saw pun berbisik: “Ushikum bi al-shalati wa ma malakat aimanukum" yang artinya "Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Saat Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Nabi Saw yang mulai kebiruan, Rasul berbisik lagi: “Ummati, ummati, ummati" (umatku, umatku, umatku).”
Sesaat kemudian, Rasulullah Muhammad Saw pun berpulang ke hadirat Ilahi.

Begitulah gambaran detik-detik akhir menjelang ajal Nabi Saw.

Ada dua wasiat yang disampaikan Nabi kepada Ali menjelang ajalnya dalam ucapan beliau "Ushikum bi al-shalati wa ma malakat aimanukum":
  1. Shalat
  2. Peduli Dhuafa
Shalat dan Peduli Dhuafa (membela atau membantu kaum lemah) merupakan perpaduan hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).

Shalat dan Peduli Dhuafa adalah cermin kesalehan individu dan kesalehan sosial.

Shalat adalah inti ibadah kepada Allah. Shalat merupakan ibadah utama sekaligus kewajiban paling poko umat Islam.

Shalat merupakan amal ibadah yang dihisah terlebih dahulu dan bahkan menjadi barometer penilaian amal seseorang di akhirat.

Namin, shalat saja tidak cukup. Ucapan salam di akhir shalat adalah simbol kewajiban umat Islam menebarkan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan kepada sesama manusia.

Kepedulian sosial, antara lain dengan cara zakat, infak, sedekah, dan kepedulian sosial, merupakan salah satu "follow up" ibadah shalat dalam kehidupan sosial.

Muslim yang baik adalah muslim yang taat beribadah, namun juga memiliki hubungan baik dengan sesama. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Khurafat Bulan Safar sebagai Bulan Sial

Khurafat Bulan Safar sebagai Bulan Sial
Khurafat Bulan Safar sebagai Bulan Sial

Khurafat adalah tahayul, mitos, dongeng, cerita rekaan yang diyakini sebagai kebenaran.

Kamus Bahasa mengartikan khurafat sebagai "dongeng (ajaran dan sebagainya) yang tidak masuk akal; takhayul".

Khurafat adalah salah satu bentuk penyelewengan dalam Akidah dan Risalah Islam.

Salah satu contoh khurafat adalah berkenaan dengan bulan Safar (Shofar, Shafar).

Khurafat Safar Bulan Sial Peninggalan Jahiliyah

Pada zaman Jahiliyah, ada kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Kepercayaan terhadap mitos atau tahayul tersebut langsung dibantah oleh Rasulullah Saw.

Bulan Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalendar Islam (Hijriyah) yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi).

Safar artinya kosong. Dinamakan Safar karena dalam bulan ini orang-orang Arab dulu sering meninggalkan rumah untuk menyerang musuh.

Kepercayaan bahwa Safar bulan sial atau bulan bencana masih saja dipercaya sebagian umat. Padahal, Rasul sudah menegaskan mitos itu tidak benar.

Pesta Mandi Safar

Salah satu amalan khurafat yang pernah muncul ialah “Pesta Mandi Safar”. Jika tiba bulan Safar, umat Islam mengadakan upacara mandi beramai-ramai dengan keyakinan hal itu bisa menghapuskan dosa dan menolak bala.

Biasanya, amalan mandi Safar ini dilakukan pada hari Rabu minggu terakhir dalam bulan Safar yang diyakini merupakan hari penuh bencana.

Amalan mandi Safar untuk tolak bala dan menghapus dosa itu merupakan kepercayaan penganut Hindu melalui ritual “Sangam” yang mengadakan upacara penghapusan dosa melalui pesta mandi di sungai. Umat Islam harus menghormati keyakinan mereka, tapi tidak boleh menirunya.

Hingga kini pun masih ada umat Islam yang tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Safar karena percaya terhadap khurafat tersebut. Sebuah keyakinan yang dapat menjerumuskan kepada jurang kemusyrikan.

Bahkan, sampai ada “amalan khusus”, misalnya hari Rabu membaca syahadat tiga kali, istighfar 300 kali, ayat kursi tujuh kali, surat Al-Fiil tujuh kali, dan sebagaiya. Jelas, itu amalah khurafat dan bid’ah yang tidak bersumber dari ajaran Islam dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat.

Khurafat bulan Safar selengkapnya antara lain:
  • Larangan menikah dan pertunangan
  • Menghalangi bermusafir atau berpergian jauh
  • Rabu minggu terakhir bulan Safar puncak hari sial
  • Upacara ritual menolak bala dan buang sial di pantai, sungai atau rumah (Mandi Safar), 
  • Membaca jampi serapah tertentu untuk menolak bala sepanjang Safar
  • Menjamu makan "makhluk halus" yang dikatakan penyebab sesuatu musibah, menganggap bayi lahir bulan Safar bernasib malang
  • Safar bulan Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. 

Semuanya itu tidak benar dan umat Islam wajib mengingkari khurafat tersebut.
Kesialan, naas, atau bala bencana dapat terjadi kapan saja, tidak hanya bulan Safar, apalagi khusus banyak terjadi pada bulan Safar. Allah Swt menegaskan:

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51 ).

Tidak amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Safar. Amalan bulan Safar adalah sama seperti amalan-amalan pada bulan-bulan lain.

Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada sesuatu hari, bulan dan tempat itu merupakan kepercayaan orang jahiliah sebelum kedatangan Islam.

Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari).Wallahu a’lam. (www.risalahislam.com).*