Jasa Membuat Blog


Hukum Takbir dan Malam Takbiran Sebelum Shalat Idul Fitri

Takbir Idul Fitri dimulai sejak Maghrib malam tanggal 1 Syawal sampai selesai Shalat ‘Id. Bagaimana dengan Malam Takbiran?

Hukum Takbir dan Malam Takbiran Sebelum Shalat Idul Fitri
TAKBIRAN atau mengucapkan takbir "Allahu Akbar" merupakan salah satu amalan sunah saat Idul Fitri.

Takbir (اللَّهُ أَكْبَرُ) adalah kalimat "Allahu Akbar" yang berarti "Allah Mahabesar" dan bermaksud mengagungkan Asma Allah SWT.

Kapan takbir dilakukan menjelang Idul Fitri atau Lebaran usai puasa Ramadhan?

Bagaimana hukumnya "Malam Takbiran", yakni bertakbir di malam 1 Syawal atau malam sebelum Shalat Id?

Ada dua pendapat. Pertama, boleh, karena tidak ada larangan. Kedua, tidak boleh karena tidak ada contohnya dari Rasulullah Saw.

An-Nawawi as-Syafii dalam Al Majmu 5/48 mengatakan, “Pendapat mayoritas ulama adalah tidak ada takbiran saat malam Id. Takbiran hanya dilakukan saat berangkat menuju tempat shalat Id”.

Contoh dari Nabi Saw, "takbiran" atau mengucapkan kalimat takbir dilakukan dalam perjalanan menuju tempat shalat Id, bukan malam hari sebelum hari lebaran.

Yang pasti, mengagungkan Asma Allah (takbir) usai Ramadhan diperintahkan dalam Al-Quran:

"Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini menjelaskan, ketika orang sudah selesai menjalankan ibadah puasa Ramadlan, maka disyariatkan untuk mengagungkan Allah dengan bertakbir. Atas dasar ayat tersebut, sebagian ulama membolehkan takbiran di masjid atau "malam takbiran".

Dalam tafsir Al-Jami` Li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi jilid 2 hlm 302 disebutkan, ayat di atas telah menjadi dasar masyru`iyah atas ibadah takbir di malam `Ied, terutama `Iedul Fithri.

"Jumhur ulama berpendapat: disunnahkan bahkan bertakbir dengan nyaring di mana pun, di rumah, di pasar, di jalan-jalan, di masjid ketika menjelang dilaksanakannya salat id." (Fikhul-Islam wa Adillatuh karya Prof. DR. Wahbah Zuhayli).


Takbiran Idul Fitri Zaman Rasulullah Saw



Takbiran pada saat idul fitri dimulai sejak maghrib malam tanggal 1 syawal sampai selesai shalat ‘id.

"Ibn Abi Syaibah meriwayatkan Nabi Saw keluar rumah menuju lapangan, kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir." (HR. Ibn Abi Syaibah).

Dari Nafi: “Dulu Ibn Umar bertakbir pada hari id (ketika keluar rumah) sampai beliau tiba di lapangan. Beliau tetap melanjutkan takbir hingga imam datang.” (HR. Al Faryabi).

Lafadz Takbir

Lafadz Takbir


Ada beberapa riwayat dari beberapa sahabat yang mencontohkan lafadz takbir.

Pertama, Takbir Ibn Mas’ud ra. Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:

أ‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ
ب‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

Lafadz: “Allahu Akbar” pada takbir Ibn Mas’ud boleh dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf.

Kedua, Takbir Ibn Abbas ra:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ
اللَّهُ أَكْبَرُ، عَلَى مَا هَدَانَا

Takbir versi Ibn Abbas diriwayatkan oleh Al Baihaqi.

Ketiga, Takbir Salman Al Farisi ra:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi ra diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman.

Takbir, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw, dilakukan sendiri-sendiri, tidak berjamaah atau bersama-sama di masjid.

Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik, para sahabat ketika bersama nabi pada saat bertakbir, ada yang sedang membaca Allahu Akbar, ada yang sedang membaca laa ilaaha illa Allah, dan satu sama lain tidak saling menyalahkan… (Musnad Imam Syafi’i 909)

Takbir lafadz panjang

الله أكبر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ…

Takbiran dengan lafadz yang panjang di atas tidak ada dalilnya, namun juga tidak ada larangan untuk diucapkan, sehingga hukumnya mubah (boleh).

Demikian ulasan ringkas tentang Hukum Takbir dan Malam Takbiran Sebelum Shalat Idul Fitri. Wallahu a'lam bish-showabi. (Dari berbagai sumber, www.risalahislam.com).*


VIDEO TAKBIRAN - SUARA MERDU DAN SYAHDU TAKBIR

Pengertian Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan. Kapan Waktunya?

Pengertian Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan
Pengertian Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan. Kapan Waktunya?

Lailatul Qadar atau Lailah al-Qodr (Arab: لیلة القدر‎) adalah satu malam yang khusus terjadi di bulan Ramadhan.

Malam Lailatul Qodar dikenal juga dengan sebutan "Malam Seribu Bulan", yakni malam yang lebih baik dari seribu bilan.

Malam Kemuliaan yang penuh bekerkahan ini disebut dalam Al-Qur’an dalam surah Al-Qadr sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam turunnya Al-Quran, dan malam turunnya malaikat Jibril dan malaikat lainnya ke bumi untuk menebar keselamatan.

Firman Allah SWT: 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ


"Malam kemuliaan (lailatul qadar) itu lebih dari seribu bulan” (QS: Al-Qadar:3).

Pahala ibadah pada malam qodr dijelaskan dalam hadits:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa yang mendirikan lailatul Qadr karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu.” [HR Bukhari dan Muslim]

Kata qaama (mendirikan) pada hadits di atas dapat diwujudkan dalam bentuk shalat, berdzikir, berdo’a, membaca al-Qur-an dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Pengertian  Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan


Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan
Para ulama berbeda pendapat mengenai maksud “lebih baik dari seribu bulan” dalam ayat ini.

Ibnu Bathal dalam Syarah Shahih al-Bukhari mengatakan “Maksud dari ‘lebih baik dari seribu bulan’ ialah mengerjakan amalan yang diridhai dan disukai Allah SWT di malam tersebut, seperti shalat, do’a, dan sejenisnya, lebih utama dibandingkan beramal selama seribu bulan yang tidak ada lailatul qadhar di dalamnya.”

Al-Mawardi di dalam kitab tafsirnya An-Nukat wal ‘Uyun menyebutkan tafsiran ulama terkait maksud ayat di atas.

Terdapat lima penafsiran populer mengenai maksud “lebih baik dari seribu bulan” sebagai berikut:
  1. Ar-Rabi’ : lailatul qadar lebih baik dari umur seribu bulan.
  2. Mujahid : beramal di lailatul qadar lebih utama dari beramal seribu bulan di selain lailatul qadar.
  3. Qatadah : lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan yang tidak terdapat di dalamnya lailatul qadar.
  4. Ibnu Abi Najih dan Mujahid :, seorang dari Bani Israil pernah mengerjakan shalat malam hingga shubuh. Pada waktu paginya, dia berperang sampai sore. Rutinitas ini dilakukannya selama seribu bulan. Lalu Allah SWT mengabarkan bahwa beribadah pada lailatul qadar lebih baik dari amalan yang dilakukan laki-laki tersebut, meskipun selama seribu bulan.
  5. Beribadah saat lailatul qadar lebih baik dari kekuasan Nabi Sulaiman selama lima ratus bulan dan kekuasaaan Dzul Qarnain selama lima ratus bulan.

Kendati ulama berbeda pendapat, namun pada hakikatnya semuanya sepakat bahwa lailatul qadar adalah malam mulia yang sangat baik digunakan untuk beribadah.

Dalam sebuah tafsiran dikatakan, kata “seribu bulan” dalam ayat di atas sebenarnya mengisyaratkan sepanjang hari. Artinya, sampai kapan pun keutamaan lailatul qadar tidak tergantikan.

Mengapa Dinamakan Lailatul Qodr?


Pada malam lailatul Qadar ini, Allah SWT menetapkan (at-taqdiir) semua rezeki, ajal kematian, dan semua peristiwa untuk setahun ke depan, dan para Malaikat mencatat semua hal itu.

Kemulian (al-Qadr), kehormatan, dan suasana malam ini disebabkan oleh diturunkannya (permulaan) Al-Qur-an, atau pada malam ini para Malaikat turun atau turunnya keberkahan, rahmat dan maghfirah pada malam kemuliaan ini.

Orang yang menghidupkan malam ini akan mendapatkan al-Qadr (kemuliaan) yang besar, yang belum pernah dia miliki sebelumnya. Malam ini akan menambah kemuliaannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah SWT berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” [QS. ad-Dukhaan/44: 3]

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Allah mensifati malam ini dengan keberkahan, karena Dia menurunkan kepada hamba-hamba-Nya berbagai berkah, kebaikan dan pahala pada malam yang mulia ini.”

Maka, lailatul Qadr yang penuh barakah ini mengandung berbagai keutamaan yang agung dan kebaikan-kebaikan yang banyak, di antaranyapada malam mulia Ini dijelaskan semua perkara yang penuh hikmah.

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” [QS. ad-Dukhaan/44: 4]

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma menyatakan, dicatat dari Ummul Kitab pada Lailatul Qadr segala hal yang terjadi pada setahun ke depan berupa kebaikan, keburukan, rizki, ajal hingga keberangkatan menuju ibadah Haji.


Maksud Malam Diturunkannya Al-Quran


Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur-an) pada malam kemuliaan.” [QS. al-Qadr/97: 1]

Disebutkan, maksud dari ayat tersebut adalah turunnya al-Qur-an secara sekaligus (dari Lauh Mahfuzh ke langit pertama (Baitul ‘Izzah) pada lailatul Qadr, selanjutnya diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad Saw.

Pendapat lain mengatakan, maksud ayat di atas adalah permulaan turunnya al-Qur-an terjadi pada Lailatul Qadr.

Maksud Malaikat Turun ke Bumi


Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Qadr:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ

“Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan.” [al-Qadr/97: 4]

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan: “Banyak Malaikat yang turun pada malam ini, karena banyaknya barakah Lailatul Qadr ini. Para Malaikat turun bersamaan dengan turunnya barakah dan rahmat, sebagaimana halnya ketika mereka hadir di waktu-waktu seperti ketika al-Qur-an dibacakan, mereka mengelilingi majelis-majelis dzikir, dan bahkan pada waktu yang lain mereka meletakkan sayap-sayap mereka kepada penuntut ilmu sebagai sikap penghormatan mereka terhadap sang penuntut ilmu tersebut."

Menurut jumhur ahli tafsir, maksud kata “war-ruuh” adalah Jibril Alaihissallam. Artinya para Malaikat turun bersama Jibril. Dan Jibril dikhususkan penyebutannya sebagai penghormatan dan pemuliaan terhadap dirinya.

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai ter-bit fajar.” [Al-Qadr 5]

Disebutkan berkenaan dengan makna salaamun yaitu, bahwa pada malam ini tidak terjadi munculnya sebuah penyakit, dan tidak ada satu syaitan pun yang dilepas.

Pendapat yang lain menyatakan, makna salaamun adalah kebaikan dan keberkahan. Maka pada sepanjang malam ini yang terdapat hanya kebaikan, tidak ada kejelekan, hingga terbit fajar.

Pendapat yang lain lagi menyebutkan, bahwa maksudnya adalah para Malaikat mendo’akan keselamatan buat mereka yang menghidupkan masjid (ahlul masjid) pada sepanjang lailatul Qadr ini.


KAPAN TERJADINYA LAILATUL QADR?


Jumhur ulama bersepakat bahwa lailatul Qadr ini hanya ada pada bulan Ramadhan dan terjadi di salah satu malam ganjil di 10 terakhir Ramadhan atau antara malam 21 s.d. malam ke-29 Ramadhan.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Carilah lailatul Qadr pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” [HR Bukhari]

Begitu perhatiannya Rasulullah Saw terhadap sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau beri’tikaf di masjid, dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Lailatul Qodar

[Sumber: Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi, Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir/muslim.or.id/islamqa.info].*

Salah Paham tentang Pengertian Takjil dan Imsak

Salah Paham tentang Pengertian Takjil dan Imsak
ISTILAH Takjil (ta'jil) dan imsak sering disalahpahami atau disalahartikan. Takjil artinya "menyegerakan berbuka puasa", bukan makanan-minuman untuk berbuka.

Ada berita "Berbagi Takjil". Maksudnya, berbagi makanan untuk berbuka. Jelas, tidak tepat, karena arti takjil (تعجيل) --dari bahasa Arab 'ajala-ta'jilan-- artinya bersegera, cepat-cepat, buru-buru, yakni bersegera berbuka puasa.

Rasulullah Saw menganjurkan umatnya segera berbuka puasa jika waktunya sudah tiba.

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي حَازِمِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

"Manusia akan tetap berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka" (HR. Malik No.561).

"Senantiasalah umatku berada dalam kebaikan (Puasa) selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Zarr ra).

Silakan ahli bahasa Arab mengupas tuntas istilah Ta'jil ini.

Sayangnya, Kamus Bahasa Indonesia mengartikan takjil dalam dua pengertian, yakni "mempercepat" dan "makanan untuk berbuka puasa".

tak.jil = v Isl mempercepat (dalam berbuka puasa)n; makanan untuk berbuka puasa

Selain ta'jil, istilah imsak juga disalahpahami. Dikiranya, saat waktu imsak, saat itulah puasa dimulai. Padahal, waktu imsak yang hanya ada di Indonesia, yakni 10 menit sebelum waktu sholat Subuh, dimaksudnya untuk kehati-hatian saja, biar "nggak bablas" terus makan-minum saat waktu Sholat Subuh tiba sebagai awal puasa dimulai.

Jadi, saat imsak, atau 10 menit sebelum masuk waktu Subuh, masih boleh makan dan minum  atau sahur. Imsak, sekali lagi, hanya untuk "early warning" agar bersiap-siap memulai puasa.

Secara bahasa, Imsak artinya menahan, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hal lain yang membatalkan puasa.

Lagi-lagi, KBBI memberikan pengertian Imsak identik dengan puasa:

im.sak = n Isl saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minumn; Isl berpantang dan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sadik sampai datang waktu berbuka

Al-Quran dengan tegas menyebutkan, batas waktu mulai puasa itu memang sejak terbitnya fajar.

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ


"Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa" (QS Al-Baqarah: 187)

Maka, asalkan belum masuk waktu Shubuh, kita masih boleh makan, minum, dan melakukan hal-hal lainnya. Tidak ada ketentuan kita sudah harus imsak sebelum masuknya waktu Shubuh. Sebab, batas mulai puasa itu bukan sejak ‘imsak’, melainkan sejak masuknya waktu shubuh.

Diriwayatkan Al-Bukhari (Hadits no. 1919) dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Bilal mengumandangkan adzan pada suatu malam. Rasulullah Saw bersabda:

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumdanngakan adzan. Sesungguhnya dia tidaklah mengumdanngakan adzan hingga fajar terbit.”

Bahkan, dalam sebuah hadits disebutkan, saat adzan Subuh mulai dikumandangkan, kita masih boleh minum jika masih memegang gelas berisi air:

Abu Hurairah RA berkata,”Rasulullah SAW bersabda, ’Jika seseorang dari kamu mendengar adzan (Shubuh), sedangkan bejana (air) sedang di tangannya, maka janganlah dia meletakkan bejananya hingga dia menyelesaikan hajatnya darinya [minum].” (HR Abu Dawud no 2350, Ahmad, Daruquthni, dan Al-Hakim).

Demikian ulasan ringkas tentang Salah Paham tentang Pengertian Takjil dan Imsak, sekadar berbagi pengetahuan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-showabi. (www.risalahislam.com).*

Hukum Puasa Orang yang Tidak Shalat

Hukum Puasa bagi Orang yang Malas/Tidak Shalat
Orang yang tidak shalat masuk dalam kategori bukan Muslim, karena ciri utama Muslim adalah shalat. Puasa tanpa shalat tidak diterima di sisi Allah SWT.

TANYA: Ada Muslim yang jarang atau tidak shalat, tapi melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, sahkah puasanya?

JAWAB: Shalat itu tiang agama, ciri utama Muslim, dan pembeda Muslim dengan kafir.

Maka, orang yang tidak shalat masuk kategori kafir, meski ia mengaku Muslim. Puasa orang kafir menjadi sia-sia, tidak diterima Allah SWT, karena shalat yang menjadi tiang pokok ibadahnya tidak ada.

Dalam sebuah hadis disebutkan, shalat ialah amalan pertama yang dilihat (hisab) Allah di hari akhirat kelak (HR: Ibn Majah). 

“Antara hamba (mukmin) dan kafir ialah meninggalkan shalat” (HR: Ibnu Majah). Maksudnya, meninggalkan shalat dapat menjadi perantara seorang untuk menjadi kafir.

Shalat termasuk kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Siapa pun yang sudah memenuhi persyaratan, mesti mengerjakannya dalam keadaan apapun dan sesulit apa pun. 

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin –rahimahullah– pernah ditanya : Apa hukum orang yang berpuasa, namun meninggalkan shalat?

Beliau menjawab, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

”Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At Taubah [9] : 11)

Alasan lain adalah sabda Nabi Saw:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat yang mengatakan bahwa meninggalkan shalat merupakan suatu kekafiran adalah pendapat mayoritas sahabat Nabi bahkan dapat dikatakan pendapat tersebut adalah ijma’ (kesepakatan) para sahabat. 

‘Abdullah bin Syaqiq –rahimahullah– (seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi Saw tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara shalat.” 

[Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari ‘Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy ,seorang tabi’in. Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52, -pen]
Oleh karena itu, apabila seseorang berpuasa namun dia meninggalkan shalat, puasa yang dia lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang dia lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti.

Oleh sebab itu, kami katakan, “Shalatlah kemudian tunaikanlah puasa”. Adapun jika engkau puasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak karena orang kafir (karena sebab meninggalkan shalat) tidak diterima ibadah dari dirinya. [Sumber: Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17/62, Asy Syamilah]. (Sumber).

Demikian ulasan ringkas tentang Hukum Puasa bagi Orang yang Malas/Tidak Shalat. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Back to Top