Hukum Memakai Benda Magnetis - Kalung atau Gelang Pengobatan

Hukum Memakai Benda Magnetis - Kalung atau Gelang Pengobatan
Hukum Memakai Benda Magnetis - Kalung atau Gelang Pengobatan.

Apakah boleh kita menyimpan ajimat, bertuliskan Arab & di situ di jelaskan khasiatnya untk sgala kebutuhan untk bdagang, jodoh, dsb.

Bagaimana pula hukumnya memakai gelang atau kalung batu giok, kalung/gelang magnet, dsb untuk pengobatan?

JAWAB: Wa'alaikum salam wr wb.

Sebelumnya admin sudah posting Hukum Memakai Jimat/Azimat menurut Islam. Silakan simak juga.

Secara umum, hukum memakai jimat atau azimat itu dilarang karena termasuk syirik.

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang memakai jimat, dia telah melakukan syirik.”
(HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan sanadnya dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Memakai kalung atau gelang dengan alasan meningkatkan kesehatan, imunitas atau sebagai sebab kesembuhan beberapa penyakit sebagaimana disebutkan oleh penanya termasuk dari amalan syirik Ashghar (kecil).

Karena si pemakai meyakini gelang atau kalung tersebut adalah sebab kesembuhan, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak menerangkan hal tersebut sebagai sebab, secara ilmiyah juga tidak terbukti adanya hubungan sebab akibat memakai gelang atau kalung dengan kesembuhan.

Dalam sebuah hadits dikisahkan:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا هَذِهِ . قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْناً انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِىَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَداً

Rasulullah Saw pernah menjumpai seorang memakai gelang dari kuningan di tangannya. Rasul pun menegur: Apa ini? Dia menjawab: “Saya pakai karena tanganku sakit.” Rasul pun bersabda: “Buanglah gelangmu, ia tidak menambah kecuali kelemahan. Sungguh seandainya engkau mati masih dalam keadaan memakainya, engkau tidak akan beruntung selamanya.”  (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Dalam hadits lain rasulullah bersabda: “Barang siapa menggantungkan tamimah (jimat), sungguh dia telah melakukan kesyirikan.”

Ada jenis kalung kesehatan yang terkenal dengan kalung magnetic. Mereka yang memperdagangkannya menyebut sekian manfaat kalung atau gelang maghnetik dengan argumentasi-argumentasi yang ingin menetapkan adanya hubungan sebab akibat yang jelas antara pemakaian gelang atau kalung dengan kesehatan.

Kita katakan, argument tersebut belum jelas, masih sangat samar. Taruhlah seandainya memang ada sisi kebenaran, namun dalam kaedah syareat kita wajib untuk menutup segala pintu yang bisa mengantar kepada kesyirikan, maka tetap hukum memakainya tidak diperbolehkan (haram).

Telah disebutkan bahwa memakai kalung atau gelang dengan keyakinan sebagai sebab kesembuhan termasuk syirik kecil, (maksudnya kecil: tidak mengeluarkan dari islam). Namun demikian Syirik kecil lebih besar di sisi Allah dosanya dari membunuh, berzina, minum Arak, judi dan dosa besar lainnya.

Fakta Ilmiah?


Namun demikian, jika benda-benda berbentuk kalung/gelang dsb itu memiliki kekuatan supranatural yang terbukti secara medis dan ilmiah mengandung obat alamiah, baik karen gelombang elektromagnetiknya, gel listrik, istilah lain yang dipahami ilmu kedokteran modern, maka hukumnya mubah (boleh), meskipun tetap berpotensi menjurus ke arah syirik, karena pemakaianya akan merasa benda-benda tersebut sebagai penyebab kesembuhan.

Padahal, kandungan dalam benda itu merupakan sebab kauniyah saja, bukan penentu utama kesembuhan.
 

Hukum Jimat
 
Meyakini bahwa sebuah benda punya kekuatan, seperti ajimat itu, termasuk perbuatan syirik. Sukses berdagang, jodoh, dsb. didapatkan dengan ikhtiar (kerja keras, strategi bisnis, ulet) dan doa.

Barangsiapa menggantungkan sesuatu benda (dengan keyakinan dapat membawa keberuntungan dan menolak bahaya), maka Allah akan menjadikan diriya selalu bergantung kepada benda tersebut'." (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Hakim).

Rasulullah Saw pernah menindak seseorang yang memakai cincin dari tembaga. Ketika ditanya, dia menjawab bahwa cincin itu adalah untuk pengobat sakit reumatik, maka Rasulullah memerintahkannya untuk melepas cincin itu dan bersabda:  

“Sesungguhnya cincin itu akan menambah penyakitmu dan bila engkau mati dan masih memakainya, niscaya engkau akan rugi.” (HR. Ahmad).

Lembaga Fatwa Saudi, Lajnah Da’imah, berfatwa secara resmi: “Penggantungan jimat-jimat pada manusia atau selainnya, berupa ayat-ayat Al-Qur’an adalah haram menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama. Jika yang digantungkan tersebut dari selain Al-Qur’an, maka pengharamannya lebih keras lagi. Tingkatan-tingkatan hukum orang yang mengantungkan jimat berbeda beda sesuai dengan maksudnya. Terkadang bisa menjadi syirik besar (yaitu syirik yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam), jika dia meyakini bahwasanya jimat tersebut mempunyai pengaruh dari selain Allah. Terkadang juga bisa menjadi syirik kecil (syirik yang tidak mengeluarkan pelakunnya dari Islam), namun ia terhitung sebagai dosa besar. Terkadang menjadi bid’ah (suatu perkara baru yang diada-adakan) atau maksiat yang di bawah dari kesirikan. Jadi bagaimana pun keadaannya, tidak boleh melakukannya atau menggantungkannya. (Fatawa Al-Lajnah No. 2775).

"Para ulama bersepakat tentang haramnya menggunakan jimat dari selain Al-Qur'an. Namun mereka masih berbeda pendapat bila berasal dari Al-Qur'an. Di antara mereka ada yang membolehkannya dan ada juga yang melarangnya.

Namun, pendapat yang melarang itu lebih kuat, berdasarkan keumuman hadits-hadits yang ada, dan demi mencegah terjadinya keharaman" (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daa-imah I : 212).

Kesimpulannya, lakukan pengobatan secara normal saja. Hindari pengobatan yang menjurus ke syirik.

Benda-benda yang dianggap punya khasiat atau kekuatan "magis" yang belakangan marak dipromosikan di tv, potensial mendorong pemakai berlaku syirik. Sebaiknya dihindari. Wallahu a’lam bish-shawabi.*

Pengertian Rasulullah sebagai Teladan Uswatun Hasanah - Tafsir QS Al-Ahzab:21

Rasulullah sebagai Teladan Uswatun Hasanah
Pengertian Rasulullah sebagai Teladan yang Baik (Uswatun Hasanah). Tafsir QS Al-Ahzab:21

AYAT Al-Quran yang menegaskan keteladanan Rasulullah Saw, QS Al-Ahzab:21, dipastikan banyak disampaikan oleh para penceramah, khususnya pada bulan Rabiul Awal (Mulud) yang kita kenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw (Maulid Nabi Saw).

Semoga, para ustadz tidak lupa mengulas atau menunjukkan teladan Rasulullah Saw sesuai dengan ayat Al-Quran, selain mengupas kemuliaaan budi pekerti (akhlak) Rasulullah dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, bermasyarakat, bernegara, dan dalam membela Islam.

Rasulullah Muhammad Saw adalah suri teladan yang baik (uswatun hasnah) bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah SWT dan kedatangan Hari Kiamat serta banyak berdzikir.

Rasulullah Uswah Hasanah

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21).

Sayangnya, para penceramah umumnya hanya membacakan ayatnya, terjemahannya, dan menyampaikan bahwa Rasulullah Saw adalah "uswah hasanah", teladan yang baik. Jarang yang membahas ayat ini secara lebih jelas maksud dan asbabun nuzul-nya. Karena itu, mari kita simak paparan sejumlah mufasir tentang QS. Al-Ahzab:21 ini.

Ayat ini turun semasa Perang Ahzab atau Perang Khandaq. Perang Ahzab (غزوةالاحزاب) atau Perang Khandaq (غزوةالخندق), menurut buku-buku sejarah Islam, terjadi bulan Syawal tahun 5 Hijrah/627 Masihi.

Dinamakan Perang Ahzab karena dalam perang ini kaum musyrik/kafir bersekutu (ahzab) dengan kaum Yahudi untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah.

Rasulullah sebagai Teladan: Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini adalah dasar yang paling utama dalam perintah meneladani Rasulullah Saw, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keadaannya. Oleh karena itu, Allah Ta'ala menyuruh manusia untuk meneladani Rasulallah Saw dalam hal kesabaran, keteguhan, ribath (terikat dengan tugas, komitmen), dan kesungguh-sungguhannya.

Ayat ini turun semasa Perang Ahzab ketika ada anggota pasukan Islam yang yang takut, goncang, dan hilang keberaniannya pada perang Ahzab. Allah menyuruh orang demikian meneladani Nabi Saw dalam kesabaran dan keteguhan membela agama Allah.

Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang tergoncang jiwanya, gelisah, gusar dan bimbang dalam perkara mereka pada hari Ahzaab, laqad kaana lakum fii rasuulillaaHi uswatun hasanatun (“Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”) yaitu, mengapa kalian tidak mencontoh dan mensuritauladani sifat-sifatnya? Untuk itu Allah berfirman: liman kaana yarjullaaHa wal yaumal aakhira wa dzakarallaaHa katsiiraa (“[yaitu] bagi orang-orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”)

Intinya, umat Islam harus meneladani Rasul termasuk dalam keadaan takut atau menghadapi ujian. Ayat di atas terkait dengan QS. Al-Baqarah:214. Ibnu ‘Abbas berkata: “Yang dimaksud adalah firman Allah dalam Surah al-Baqarah:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (al-Baqarah: 214). Yaitu, inilah apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya berupa ujian dan cobaan yang membawa pertolongan yang amat dekat.”

Rasulullah sebagai Teladan:Tafsir Jalalain

Pada ayat ini Allah SWT memperingatkan orang-orang munafik. bahwa sebenarnya mereka dapat memperoleh teladan yang baik dari Nabi Saw. Rasulullah Saw adalah seorang yang kuat imannya, berani, sabar, tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya dengan sepenuhnya kepada segala ketentuan-ketentuan Allah dan beliaupun mempunyai akhlak yang mulia.

Jika mereka bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, berbahagia hidup di dunia dan di akhirat, tentulah mereka akan mencontoh dan mengikuti Nabi. Tetapi perbuatan dan tingkah laku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan keridaan Allah dan segala macam bentuk kebahagiaan hakiki itu.

Rasulullah sebagai Teladan: Tafsir Al-Azhar (HAMKA)

Dalam Perang Ahzab (Khandaq), kondisinya mencekam. Banyak kaum muslim yang merasa gentar karena besarnya kekuatan musuh.

Ummu Salmah (moga-moga ridha Allah terhadapnya), isteri Rasulullah saw. yang telah banyak pengalamannya sebagai isteri dari Rasulullah saw., yang turut menyaksikan beberapa peperangan yang dihadapi Rasulullah pernah mengatakan tentang hebatnya keadaan Kaum Muslimin ketika peperangan Khandaq itu.

Beliau berkata: "Aku telah menyaksikan di samping Rasulullah saw. beberapa pepe­rangan yang hebat dan ngeri, peperangan di Almuraisiya', Khaibar dan kami pun telah menyaksikan pertemuan dengan musuh di Hudaibiyah, dan saya pun turut ketika menaklukkan Mekkah dan peperangan di Hunain. Tidak ada pada semua peperangan yang saya turut menyaksikan itu yang lebih membuat lelah Rasulullah dan lebih membuat kami-kami jadi takut, melebihi peperangan Khandaq.

Karena kaum Muslimin benar-benar terdesak dan terkepung pada waktu itu, sedang Bani Quraizhah (Yahudi) tidak lagi dipercaya karena sudah belot, sampai Madinah dikawal sejak siang sampai waktu Subuh, sampai kami dengar takbir kaum Muslimin untuk melawan rasa takut mereka. Yang melepaskan kami dari bahaya ialah karena musuh-musuh itu telah diusir sendiri oleh Allah dari tempatnya mengepung itu dengan rasa sangat kesal dan sakit hati, karena maksud mereka tidak tercapai". Demikian riwayat Ummu Salmah.

Namun, di dalam saat-saat yang sangat mendebarkan hati itu, contoh teladan yang patut ditiru, tidak ada lain, melainkan Rasulullah Saw sendiri: "Sesungguhnya adalah bagi kamu pada Rasulullah itu teladan yang baik".

Memang ada orang yang bergoncang fikirannya, berpenyakit jiwanya, pengecut, munafiq, tidak berani bertanggung jawab, berse­dia-sedia hendak lari jadi Badwi kembali ke dusun-dusun, tenggelam dalam ketakutan melihat dari jauh betapa besar jumlah musuh yang akan menyerbu.

Tetapi masih ada lagi orang-orang yang mempunyai pendirian tetap, yang tidak putus harapan, tidak kehilangan akal. Sebab mereka melihat sikap dan tingkah laku pemimpin besar mereka sendiri, Rasulullah Saw.

Mulai saja beliau menerima berita tentang maksud musuh yang besar bilangannya itu, beliau terus bersiap mencari akal buat bertahan mati-matian, jangan sampai musuh sebanyak itu menyerbu ke dalam kota. Karena jika maksud mereka menyerbu Madinah berhasil , hancurlah Islam dalam kandangnya sendiri.

Dia dengar nasehat dari Salman Al-Farisiy agar di tempat yang musuh bisa menerobos di dalam khandaq, atau parit pertahanan. Nasehat Salman itu segera beliau laksanakan. Beliau sendiri yang memimpin menggali parit bersama ­sama dengan shahabat-shahabat yang banyak itu.

Untuk menimbulkan kegembiraan bekerja siang dan malam menggali tanah, menghancurkan batu-batu yang membelintang, beliau turut memikul tanah galian dengan bahunya yang semampai.

Ketika tiba giliran perlu memikul, beliau pun turut memikul, sehingga tanah ­tanah dan pasir telah mengalir bersama keringat beliau di atas rambut beliau yang tebal. Semuanya itu dikerjakan oleh shahabat-shahabatnya dengan gembira dan bersemangat, sebab beliau sendiri kelihatan gembira dan bersemangat.

Sehingga bekerja, bergotong-royong, menggali tanah, menyekap pasir, memukul batu sambil beryanyi gembira, dengan syair-syair gembira gubahan 'Abdullah bin Ruwahah, dengan bahar rajaz yang mudah dinyanyikan.

"Demi Allah, kalau bukan kehendak Allah, tidaklah kami dapat petunjuk;
Tidaklah kami berzakat, tidaklah kami sembahyang."
"Maka turunkanlah ketenteraman hati kepada kami,
Dan teguhkanlah kaki kami jika kami bertemu musuh. "
"Sesungguhnya mereka itu telah kejam kepada kami,
Kalau mereka mau berbuat ribut, kami tak mau. "

Syair-syair dalam timbangan bahar rajaz ini mudah dilagukan bersama-sama dengan gembira. Maka sambil mengangkat tanah, memikul batu, memecah batu besar dengan linggis, mereka nyanyikan bahar Rajaz gubahan 'Abdullah bin Ruwahah itu bersamar sama.

Rasulullah Saw pun turut mengangkat suara beliau dengan gembira , sehingga semua pun senang , lupa bagaimana beratnya pekerjaan dan bagaimana besarnya musuh yang dihadapi.

Maka janganlah kita samakan Rasulullah saw. yang memimpin penggalian parit khandaq itu dengan beliau-beliau orang-orang besar di zaman kini ketika meletakkan batu pertama hendak mendirikan gedung baru, atau menggunting pita ketika sebuah kantor akan dibuka, atau sembahyang ke masjid dengan upacara.

Beliau Rasulullah Saw betul-betul memimpin. Al-Barra' bin Al-'Azib berkata: "Tanah yang beliau angkat pun jatuh ke atas perut beliau dan lekat pada bulu dada dan perut. Karena bulu dada beliau tebal".

Setelah dikaji peperangan Khandaq ini secara ilmiyah, sebagai yang dilakukan oteh Jenderal Pensiun 'Abdullah Syist Khaththaab di Iraq, memang amat besar bahaya yang mengancam dalam Perang Khandaq itu.

Hari di musim dingin, persediaan makanan di Madinah berkurang-kurang. Kalau terbayang saja agak sedikit rasa kecemasan di wajah beliau, pastilah semangat para pejuang akan meluntur. Namun beliau bersikap seakan-akan bahaya itu kecil saja dan dapat diatasi dengan kegembiraan dan kesungguhan bekerja.

Disiplin keras tetapi penuh kasih sayang, meneladan shifat Allah 'Aziz yang disertai Hakiim. Perkasa disertai Bijaksana.

Dalam peperangan Khandaq itu semua bekerja keras siang malam. Mulanya bekerja menggali parit, sesudah itu berjaga siang dan malam. Besar dan kecil, tua dan muda. Kanak-kanak dan perempuan perempuan dipelihara dalam benteng (Athaam) dan dikawal.

Zaid bin Tsabit, yang kemudian terkenal sebagai salah seorang yang dititahkan oleh Khalifah Rasulillah Abubakar Shiddiq mengumpulkan Al-Qur'an dalam satu mush-haf dan masih sangat muda, turut pula bekerja keras, menggali tanah, memikul pasir, dan memecahkan batu. Rasulullah pernah mengatakan: "Adapun dia itu sesungguhnya adalah anak baik!"

Rupanya oleh karena sangat lelah bekerja dan berjaga, dan hari sangat dingin, dia masuk ke dalam parit itu sampai di sana dia tertidur dan senjatanya terlepas dari tangannya.

Datang seorang pemuda lain bernama 'Ammarah bin Hazem, diambilnya senjata yang telah terjatuh itu dan disimpannya. Setelah dia terbangun dari tidurnya dilihatnya senjatanya tak ada lagi. Dia pucat terkejut dan cemas.

Maka tibalah Rasulullah di tempat itu. Setelah beliau lihat Zaid baru terbangun dari tidurnya, berkatalah beliau: "Hai Abaa Ruqaad! (Hai Pak Penidur), engkau tertidur dan senjatamu terbang!"

Tetapi wajah beliau tidak membayangkan marah sedikit juga, sehingga Zaid bertambah takut disertai malu.
Lalu beliau melihat keliling dan berkata pula: "Siapa yang menolong menyimpan senjatanya?"
'Ammarah menjawab: "Saya yang menyimpannya, ya Rasul Allah!"

Lalu beliau suruh segera kembalikan senjata Zaid dan beliau bernase­hat pula kepada 'Ammarah didengar oleh yang lain: "Saya dibuat seorang Muslim jadi cemas dengan menyembunyikan senjatanya sebagai senda gurau".

Suasana memimpin yang seperti itu adalah teladan yang baik kepada Panglima Perang yang menyerahkan tentaranya ke medan pertempuran. Beliau tahu benar bahwa Zaid itu anak baik. Tertidur karena sudah sangat lelah, bukanlah hal yang dapat dilawannya. Sambil bergurau saja beliau menegur, namun kesannya kepada Zaid besar sekali .

Kelihatan lagi sikap beliau yang patut dicontoh. Yaitu seketika Huzaifah telah selesai dari tugas berat dalam malam kelam picik dan sangat dingin diperintah menyelidiki keadaan musuh, sampai Huzaifah telah dekat kepada Abu Sufyan sendiri, sebagai yang telah diterangkan terlebih dahulu.

Huzaifah pulang dari tugas berat itu dalam keadaan malam sangat dingin dan angin sangat keras. Huzaifah menceriterakan bahwa seketika Huzaifah datang didapatinya beliau saw. tengah sembahyang.
Untuk menangkis dingin yang sangat itu, Rasulullah sembahyang berselimut dengan selimut tebal salah seorang isteri beliau.

Huzaifah datang beliau tahu. Tetapi oleh karena sembahyang beliau masih panjang dan belum selesai, ditariknya Huzaifah ke dekatnya, lalu dise­limutkannya kepada Huzaifah ujung selimut yang beliau pakai sembahyang itu, sehingga Huzaifah terpelihara dari pukulan angin dan dingin.

Sembahyang beliau teruskan, dan di belakang beliau, Huzaifah mengekor menutupi dan memanaskan badannya dengan ujung selimut yang dipakai Nabi sedang sembahyang itu. Setelah selesai barulah dia menoleh kepada Huzaifah meminta berita. Setelah mendengar berita Huzaifah, maka disampaikannyalah khabar gembira kepada Huzaifah bahwa tentara yang menyerbu itu dengan persekutuannya akan gagal.

Dan besoknya setelah matahari naik, mereka melihat ke sebelah timur, jelaslah bahwa tentara besar itu telah pergi dan yang tinggal hanya bekas-bekas dari tentara yang gagal

Maka bersyukurlah Rasulullah saw. kepada Tuhan lalu membaca:
"Tidak ada tuhan, melainkan Allah, yang berdiri sendiri-Nya. Benar janji-Nya, Dia tolong hamba-Nya, Dia muliakan tentara­Nya, dan Dia kalahkan sekutu-sekutu dengan sendiri-Nya. Make tidaklah ada sesuatu jua sesudah-Nya. "

Keteguhan sikap RasuIuIIah saw. itu pun adalah salah satu sebab yang utama maka kemenangan bisa dicapai.

Lanjutan ayat ialah: "Bagi barang siapa yang mengharapkan Allah dan hari Kemudian".

Yaitu sesudah di pangkaI ayat dikatakan bahwa pada diri Rasulullah itu sendiri ada hal yang akan dapat dijadikan contoh teladan bagi kamu. Yaitu bagi kamu yang beriman. Semata ­mata menyebut iman saja tidaklah cukup.

Iman mesti disertai pengharapan, yaitu bahwa inti dari iman itu sendiri. Inti Iman ialah harapan. Harapan akan Ridha Allah dan harapan akan kebahagiaan di hari akhirat.

Kalau tidak ingat akan yang dua itu, atau kalau hidup tidak mempunyai harapan, Iman tidak ada artinya. Maka untuk mernelihara Iman dan Harapan hendaklah banyak mengingat Allah. Sebab itu maka di ujung ayat dikatakan: "Dan yang banyak ingat kepada Allah".

Ini diperingatkan di akhir ayat. Sebab barang yang mudah mengatakan mengikut teladan Rasul dan barang yang mudah mengata­kan beriman. Tetapi adalah meminta latihan bathin yang dalam sekali untuk dapat menjalankannya.

Seumpama orang yang mengambil alasan menuruti Sunnah Rasul yang membolehkan orang beristeri lebih dari satu sampai berempat, tetapi jarang orang yang mengikuti ujung ayat, yaitu meneladan Rasul di dalam berlaku adil kepada isteri­ isteri. Atau umumnya orang yang mengakui ummat Muhammad tetapi tidak mau mengerjakan peraturan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.

Maka bertambah besar harapan kita kepada Tuhan dan keyakinan kita akan Hari Kemudian dan bertambah banyak kita mengingat dan menyebut Allah bertambah ringanlah bagi kita meneladan Rasul Saw.

Demikian makna atau pengertian Rasulullah sebagai Teladan (Uswatun Hasanah) menurut para mufassir. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com, dari berbagai sumber).*

Sembilan dari 10 Pintu Rezeki adalah Berdagang Hadits Lemah (Dhaif)

Sembilan dari 10 Pintu Rezeki adalah Berdagang Hadits Lemah (Dhaif)
Sembilan dari 10 Pintu Rezeki adalah Perdagangan Hadits Lemah (Dhoif).

Ada sebuah hadits yang  tersebar di kalangan orang awam sebagai motivasi untuk berbisnis atau menjadi pedagang: “Sembilan dari Sepuluh Pintu Rezeki Ada dalam Perdagangan".

Bahkan, ada sebuah buku dengan judul 9 dari 10 Pintu Rezeki adalah Berdagang dengan mengutip pernyataan KH Didin Hafiduddin bahw hadits itu hadis marfu', yaitu apa-apa yang dinisbatkan atau sandarkan kepada Nabi Saw.

Hadits "Sembilan dari 10 Pintu Rezeki adalah Perdagangan" yang belum diletiti akan keshahihannya ini berbunyi:

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.“

Dalam Al-Istidzkar (8/196), Ibnu ‘Abdil Barr mengisyaratkan bahwa hadits ini dha’if (lemah).

Dalam Al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, Al-‘Iraqi pada hadits no. 1576 membawakan hadits,

عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزقة

“Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.”

Diriwayatkan oleh Ibrahim Al-Harbi dalam Gharib Al-Hadits dari hadits Nu’aim bin ‘Abdirrahman, bahwa para perawinya tsiqah (kredibel). 

Nu’aim di sini dikatakan oleh Ibnu Mandah bahwa dia hidup di zaman sahabat, namun itu tidaklah benar. Abu Hatim Ar-Razi dan Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadits ini memiliki taabi’ (penguat), sehingga haditsnya dapat dikatakan mursal [Hadits mursal adalah hadits yang dikatakan oleh seorang tabi’inlangsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebut sahabat. Hadits mursal adalah di antara hadits dha’if yang sifat sanadnya terputus (munqothi’)].

Dalam Dha’if Al-Jaami’ no. 2434, terdapat hadits di atas. Takrij dari Suyuthi: Dari Nu’aim bin ‘Abdirrahman Al-Azdi dan Yahya bin Jabir Ath-Tha’i, diriwayatkan secara mursal. Syaikh Al-Albani berkomentar hadits tersebut dha’if.

Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Ibnu Abid Dunya dalam Ishlah Al-Maal (hal. 73), dari Nu’aim bin ‘Abdirrahman.[1]

Kesimpulan, Sembilan dari 10 Pintu Rezeki adalah Perdagangan Hadits Lemah (Dhaif) sehingga tidak bisa disandarkan pada Nabi Saw.

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Jibrin menyatakan, “Aku tidak mendapati hadits tersebut dalam kitab-kitab hadits seperti Jaami’ Al-Ushul, Majma’ Az-Zawaid, At-Targhib wa At-Tarhib dan semacamnya." 

Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdirrahman Al-Washabi menyebutkan dalam kitabnya Al-Barakah fis Sa’yil Harakah hlmn 193, hadits tersebut marfu’ (sampai pada Nabi Saw). 

Beliau juga menyebutkan beberapa hadits dha’if, namun beliau tidak melakukan takhrij terhadapnya. 

Sebenarnya hadits tersebut tidak diriwayatkan dalam kitab shahih, kitab sunan, maupun musnad yang masyhur. 

Yang jelas, hadits tersebut adalah hadits dha’if. Mungkin saja hadits tersebut mauquf (sampai pada sahabat), maqthu’ (hanya sampai pada tabi’in) atau hanya perkataan para ahli hikmah

Perkataan tersebut boleh jadi adalah perkataan sebagian orang mengenai keuntungan dari seseorang yang mencari nafkah lewat perdagangan.

Sebenarnya, telah terdapat beberapa hadits dalam masalah berdagang yang menyebutkan keutamaanya dan juga menyebutkan bagaimana adab-adabnya sebagaimana disebutkan dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib, yang disusun oleh Al-Mundziri, juga dalam kitab lainnya. 

Di antara hadits shahih yang memotivasi untuk berdagang adalah 

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang” (Muttafaqun ‘alaih)

أَطْيَبُ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

“Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar, Ath-Thabrani dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar, Rafi’ bin Khudaij, Abu Burdah bin Niyar dan selainnya). 

Karena hadits ini lemah, maka tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah Saw. Hadits lemah juga tidak bisa dijadikan sebagai dalil (argumentasi) untuk menetapkan bahwa berdagang lebih utama dan lebih menghasilkan dibandingkan usaha lainnya.

Cukuplah hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang menjelaskan keutamaan usaha berdagang, sehingga kita tidak perlu menjadikan sandaran hadits lemah di atas. 

10 Pintu Rezeki Apa Saja?

Hadits di atas juga mengandung kejanggalan karena tidak dilengkapi dengan penjelasan apa saja 10 pintu rezeki, minimal satu pintu rezekinya lagi apa?

Jika hadits di atas benar-benar perkataan Rasulullah Saw, tentu ada tambahan keterangan tentang yang satu pintu lagi apa.

Dalam Al-Quran dan Hadits shahih, banyak dijelaskan tentang pintu rezeki, antara lain orang bertakwa dipastikan mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dalam sejumlah ayat dan hadits berikut ini disebutkan, pintu rezeki antara lain takwa, tawakal, silaturahim (silaturahmi), dan membantu sesama.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Qs. Ath-Thalaq: 2-3)

“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung, mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang  di petang hari dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad dan Tirmizi)

"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknya ia menyambung (tali) silaturahim.” (HR. Bukhari).

"Bantulah orang-orang lemah, kerana kalian diberi rezeki dan ditolong lantaran orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Muslim dan An-Nasa`i).

Wallahu a’lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com. sumber: pengusahamuslim.com, muslim.or.id, shahihain).*

Kita Hidup di Lima Alam Berbeda, Dua Alam Lagi Kita Jelang

Kita Hidup di Lima Alam Berbeda, Dua Alam Lagi Kita Jelang
Alam kehidupan manusia terdiri dari Alam Ruh, Rahim, Dunia, Barzakh, dan Alam Akhirat.

UMAT manusia atau kita sudah, sedang, dan akan hidup di empat jenis alam kehidupan.

Pertama kali kita (semua umat manusia) hidup di Alam Ruh sebelum kita hidup dalam Alam Rahim (kandungan ibu) dan dilahirkan ke Alam Dunia.

Setelah meninggalkan Alam Dunia, kita akan hidup di dua alam lagi, yakni Alam Barzah dan Alam Akhirat untuk selamanya sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Quran
  1. Alam Ruh (QS 7:172)
  2. Alam Rahim (QS Sajdah:9)
  3. Alam Dunia (QS 43:32)
  4. Alam Barzakh (QS 23:100)
  5. Alam Akhirat (QS 29:64)

Alam Ruh
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS 7:172).

Alam Rahim
“Kemudian dibentukNya (janin dalam rahim) dan ditiupkan ke dalamnya sebagian dari ruhNya” (QS Sajdah:9):

Alam Dunia
"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan" (QS 43:32).

Alam Barzakh
"Agar aku berbuat amal yang shaleh, terhadap (hal-hal) yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan (di bibirnya) saja (bukan dalam hati mereka). Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding yang membatasi hati mereka dari memahami kebenaran) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS.23:100)

Alam Akhirat

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ 

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui" (QS. 29:64)

Alam Ruh

Alam Ruh yaitu alam di mana umat manusia masih berwujud ruh tanpa raga (jasad).  Al-Quran mengisyaratkan, pada waktu itu umat manusia telah secara sepakat bulat mengakui Allah SWT sebagai Tuhan –satu-satunya Tuhan yang akan disembah atau untuk mengabdi.

وَإِذْ أَخَذَ رَ‌بُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِ‌هِمْ ذُرِّ‌يَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَ‌بِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَافِلِينَ 

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu hendak mengembangbiakkan keturunan Adam dari tulang sulbi mereka, lalu diminta-Nya pengakuan mereka atas jiwanya masing-masing: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Benar, kami mengakui Engkau Tuhan kami’. Hal ini kami lakukan agar nanti di hari kiamat kalian tidak mengatakan: ‘Kami dahulu lupa tentang perjanjian ini’. (QS 7:172)

Ayat tersebut pun mengisyaratkan, semua umat manusia dilahirkan keadaan “Muslim”. Hal ini didukung oleh sebuah hadits yang mengatakan, semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan kedua orangtuanyalah yang bisa menjadikan mereka seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Hadits ini tidak menyebut kata Muslim, artinya kata itu sudah inheren dalam kata fitrah.

Alam Dunia

Setelah alam ruh dilalui, manusia menuju dan hidup di Alam Dunia. Alam kehidupan yang kita jalani sekarang.

Setelah kita bersaksi Allah SWT sebagai Tuhan, maka pembuktian atau pengamalannya di alam dunia ini dalam konsep yang disebut ibadah (pengabdian kepada Allah SWT).

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan tidaklah Aku telah menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku"  (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).
 
Alam ini merupakan alam di mana manusia dihadapkan pada berbagai cobaan, untuk menguji apakah manusia benar-benar menjadikan Allah SWT sebagai Tuhannya. Jadi, dunia ini merupakan ajang ujian dari-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah jadikan segala yang ada di bumi ini untuk perhiasan bagi bumi itu sendiri dan penghuninya, untuk menguji siapakah diantara mereka yang paling baik amalnya.” (QS al-Kahfi:7).

Alam dunia merupakan tempat di mana manusia dituntut untuk melaksanakan atau membuktikan pengakuannya ketika di Alam Ruh (mengakui Allah SWT sebagai Tuhan).

Diakuinya Allah SWT sebagai Tuhan, ketika manusia berada di alam ruh, karena pada waktu itu tidak ada hal-hal yang menggoda yang dapat memalingkan manusia dari-Nya.

Di dunia inilah segala godaan itu muncul, dan manusia dituntut keteguhannya menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan (ilah) yang mengendalikan hidupnya, tempat berbaktinya, dan kepada siapa menyembah (beribadah).

Alam Dunia merupakan juga tempat persinggahan manusia –sebagai pengelana– menuju tujuan akhir dari hidupnya, yakni Alam Akhirat dengan “alam transit”-nya di Alam Barzakh atau Alam Kubur. Di Alam Dunia inilah manusia harus pandai-pandai mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhiratnya, berupa amal saleh (ibadah).

Imam al-Ghazali mengibaratkan dunia ini sebagai sebuah panggung atau pasar yang disinggahi oleh para musafir di tengah perjalanannya ke tempat lain. Di sinilah mereka membekali diri dengan berbagai pembekalan untuk perjalanan itu.

Untuk menguji pengakuan atau keimanan manusia pada Allah SWT, di alam dunia ini Allah SWT memberikan garis ketentuan yang harus diikuti agar manusia selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Garis ketentuan tersebut tidak lain adalah syariat Islam yang berintikan ajarah tauhid (keesaan Allah SWT).

Untuk memahamkan dan membimbing manusia mengikuti garis ketentuan tersebut, Allah SWT mengangkat diantara manusia sebagai utusan-Nya (Rasul) dengan Rasul terakhirnya Muhammad Saw.

Manusia dalam menjalani hidupnya di dunia ini berstatus sebagai makhluk dan hamba Allah SWT yang harus mengabdi pada-Nya, sebagai khalifah-Nya yang harus mewujudkan sifat-sifat Ilahiyah sebatas kodrat kemanusiaannya, dan sebagai pengemban amanah-Nya yang harus menegakkan ajaran-Nya (QS 51:56, 98:5, 2:21, 33:72, 2:30, 27:62, 35:39).

Setelah Alam Dunia dilalui, manusia akan pergi menuju alam akhirat yang kekal, melalui kematian (ajal), untuk mempertanggungjawabkan segala amal di dunia, baik atau buruk, dan hidup kekal di sana dalam kebahagiaan jika amal kita baik dan menderita jika amal kita buruk. Di alam akhiratlah kebahagiaan dan penderitaan hakiki berada.

Alam Barzakh

Sebagai “alam transit” menuju Alam Akhirat, manusia lebih dulu tinggal di Alam Barzakh atau Alam Kubur, sampai Hari Kebangkitan atau Hari Pembalasan tiba.

“(Orang kafir itu senantiasa tidak ingat akan akibat kejahatannya), sehingga manakala kematian datang pada salah seorang dari mereka, baru dia menyesal, katanya, ‘Ya Tuhanku, hidupkanlah aku kembali, agar aku dapat memperbaiki kembali perbuatanku dalam perkara kebajikan yang kusia-siakan itu!’ Tidak, itu hanya alasan belaka. Di belakang mereka terdapat sebuah ’sekat’ (yang menghalangi mereka untuk kembali ke dunia) hingga menjelang hari pembangkitan nanti.” (QS 23:99-100)

Yang dimaksud ’sekat’ dalam ayat di atas adalah alam barzakh. Alam barzakh, menurut sebagian mufasir, adalah semacam dinding yang menghalangi manusia antara dunia dan akhirat. Orang yang sudah meninggal berada di sana sampai datangnya Hari Berbangkit (kiamat).

Di alam barzakh ini, berdasarkan hadits-hadits Nabi Saw, siksaan bagi pendosa mulai diberlakukan. Demikian juga kebahagiaan bagi pembuat amal saleh mulai dirasakan.

Alam Akhirat

Kehidupan di alam dunia ini hanyalah sementara dan bukan kehidupan manusia yang sesungguhnya. Kehidupan yang sebenarnya dan abadi adalah kehidupan di alam akhirat.

“Kehidupan dunia ini tidak lain hanya sebagai hiburan dan permainan. Kehidupan yang sebenarnya ialah kehidupan akhirat, kalau mereka itu mengerti.” (QS 29:64)

Setelah “transit” di alam barzakh, manusia memasuki alam yang hakiki dan abadi, yakni alam akhirat.

Di Alam Akhirat semua manusia dibangkitkan kembali dan dikumpulkan semuanya. Diperlihatkanlah kepada mereka seluruh amalnya, baik atau buruk, ketika di dunia.

Al-Quran menggambarkan suasana alam akhirat, seperti tercantum dalam QS 23:101-118, antara lain:
  • Masing-masing manusia memikirkan dan mencemaskan nasibnya, sehingga hubungan kekeluargaan tidak ada lagi, juga saling tegur-sapa.
  • Semua amal perbuatan manusia selama hidupnya di dunia ditimbang atau dihitung (dihisab). Siapa yang lebih berat amal kebaikannya, ia beruntung dan masuk surga. Siapa yang ringan timbangan amal baiknya (lebih berat amal buruknya), maka itulah orang merugi dan kekal di dalam neraka. 
Demikianlah lima alam kehidupan yang sudah, sedang, dan akan kita jalani. Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan, kesabaran, dan rahmat-Nya agar mampu menjalanui kehidupan ini dengan baik sehingga bahagia dunia dan akhirat. Amin...! Wallahu a’lam bish-shawab. (www.risalahislam.com).*