Pengertian Komunikasi Dakwah

Pengertian Komunikasi Dakwah

Komunikasi dakwah terdiri dari dua kata, komunikasi dan dakwah. Masing-masing memiliki pengertian sendiri.

    Secara ringkas dan praktis, komunikasi adalah proses penyampaian pesan. Dakwah adalah mengajak atau menyeru. Komunikasi dakwah adalah penyampaian pesan berisi ajakan.


    Pesan berupa ajakan dalam komunikasi dakwah adalah seruan ke jalan Tuhan (Allah Swt), yakni syariat Islam. 

    Pesan dalam ceramah, pengajian, atau bentuk dakwah lainnya antara lain peningkatan keimanan dan ketakwaan atau ketaatan ibadah.

    Pengertian Komunikasi

    Komunikasi secara sederhana dapat dimaknai sebagai proses penyampaian informasi atau pesan oleh seorang komunikator kepada komunikan melalui sarana tertentu dengan tujuan dan dampak tertentu pula.

    Secara bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) mengartikan komunikasi sebagai ”pengiriman dan pemerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami”.

    KBBI Daring mengartikan dakwah sebagai penyiaran; propaganda; penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama.

    The Oxford English Dictionary mengartikan komunikasi sebagai “The imparting, conveying, or exchange of ideas, knowledge, information, etc. “ (Pemberian, penyampaian, atau pertukaran ide, pengetahuan, informasi, dsb.)

    Secara etimologis (lughawy), komunikasi berakar kata Latin, ”comunicare”, artinya "to make common" – membuat kesamaan pengertian, kesamaan persepsi. 

     Akar kata Latin lainnya “communis” atau “communicatus” atau “common” dalam bahasa Inggris yang berarti “sama”, kesamaan makna (commonness). Ada juga akar kata Latin ”communico” yang artinya membagi. Maksudnya membagi gagasan, ide, atau pikiran.

    Sebagai istilah, William R. Rivers dkk. (2003) membedakan antara communication (tunggal, tanpa “s”) dan communications (jamak, dengan “s”). 

    Communication adalah proses berkomunikasi. Sedangkan communications adalah perangkat teknis yang digunakan dalam proses komunikasi, e.g. genderang, asap, butir batu, telegram, telepon, materi cetak, siaran, dan film.

    Penjelasan lain dikemukakan Edward Sapir. Menurutnya, communication adalah proses primer, terdiri dari bahasa, gestur/nonverbal, peniruan perilaku, dan pola perilaku sosial. 

    Sedangkan communications adalah teknik-teknik sekunder, instrumen, dan sistem yang mendukung proses komunikasi, seperti kode morse, telegram, terompet, kertas, pulpen, alat cetak, film, serta pemancar siara radio/TV.

    Secara terminologis (ma’nawy, istolah), kita menemukan banyak definisi komunikasi. 

    Para pakar juga berbed-beda redaksional dalam mendefinisikan komunikasi, seperti “pengalihan informasi untuk memperoleh tanggapan” (JL. Aranguren), “koordinasi makna antara seseorang dengan khalayak” (Melvin L DeFleur), dan “saling berbagi informasi, gagasan, atau sikap” (Wilbur Schramm).

    Pengertian komunikasi paling populer datang dari Harold Lasswell, yakni “Who says what in which channel to whom and with what effects”, siapa mengatakan apa melalui saluran mana kepada siapa dan dengan pengaruh apa. 

    Definisi Lasswell dianggap paling lengkap karena sekaligus menggambarkan proses dan elemen komunikasi, yakni komunikator (who), pesan (what), media atau sarana (channel), komunikan (whom), dan pengaruh atau akibat (effect).

    Fungsi dan Jenis Komunikasi

    Secara fungsional, komunikasi dilakukan demi ragam kepentingan atau tujuan, utamanya untuk:

    1. Menyampaikan informasi (to inform).
    2. Mendidik (to educate)
    3. Mengibur (to entertaint)
    4. Memengaruhi (to influence).

    Keempat fungsi itu pula yang diadopsi menjadi fungsi pers atau media massa sebagai sarana komunikasi massa, dengan menambahkan satu fungsi social control (pengawasan sosial).

    Secara teknis, komunikasi juga beragam jenis, seperti:

    1. Verbal Communication (komunikasi lisan, menggunakan bahasa).
    2. Non Verbal Communication (bahasa isyarat, gesture, bahasa tubuh/body language).
    3. Direct Communication (komunikasi langsung).
    4. Face to face communication (komunikasi tatap muka).
    5. Indirect Communication (komunikasi tidak langsung/menggunakan media).
    6. Komunikasi lisan.
    7. Komunikasi tulisan.
    8. Komunikasi Intrapersonal (Intrapersonal Communication),.
    9. Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal Communication).
    10. Komunikasi Kelompok (Group Communication).
    11. Komunkasi Publik (Public Communication).
    12. Komunikasi Massa (Mass Communication).
    13. Komunikasi Politik.
    14. Komunikasi Budaya.
    15. Komunikasi Olahraga.
    16. Komunikasi Pembangunan
    17. Komunikasi Keluarga
    18. Komunikasi Dakwah.

    Pengertian Dakwah

    Secara etimologis, menurut para ahli bahasa, dakwah berakar kata da’a-yad’u-da’watan, artinya ”mengajak” atau ”menyeru”.

    Secara terminologis, dakwah adalah mengajak atau menyeru manusia agar menempuh kehidupan ini di jalan Allah Swt, berdasarkan ayat Al-Qur'an:

    ادْعُ Ø¥ِÙ„َÙ‰ٰ سَبِيلِ رَبِّÙƒَ بِالْØ­ِÙƒْÙ…َØ©ِ ÙˆَالْÙ…َÙˆْعِظَØ©ِ الْØ­َسَÙ†َØ©ِ ۖ ÙˆَجَادِÙ„ْÙ‡ُÙ…ْ بِالَّتِÙŠ Ù‡ِÙŠَ Ø£َØ­ْسَÙ†ُ ۚ 

    "Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik..." (QS. An-Nahl:125).

    Setiap perkataan, pemikiran, atau perbuatan yang secara eksplisit ataupun implisit mengajak orang ke arah kebaikan (dalam perspektif Islam), perbuatan baik, amal saleh, atau menuju kebenaran dalam bingkai ajaran Islam, dapat disebut dakwah.

    Definisi dakwah yang dikemukakan oleh para ahli antara lain:

    1.  Muhammad Natsir (2000)

    Dakwah adalah usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia yang meliputi amar ma'ruf nahi munkar, dengan berbagai macam media dan cara yang diperbolehkan oleh akhlak, dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan perseorangan, berumah-tangga, bermasyarakat, dan bernegara.

    2. Endang S. Anshari (1991).

    Dakwah adalah upaya menyampaikan ajaran Islam kepada manusia, baik dengan lisan maupun dengan tulisan.

    3. Amrullah Ahmad (1999).

    Pengertian dakwah adalah upaya mengajak manusia supaya masuk ke dalam jalan Allah secara menyeluruh (kaffah), baik dengan lisan, tulisan maupun perbuatan sebagai ikhtiar muslim mewujudkan Islam menjadi kenyataan kehidupan pribadi, usrah (kelompok), jama'ah dan ummah. 

    Dakwah memiliki dimensi yang luas. Fuad Amsyari (1993) mengemukakan ada empat aktivitas utama dakwah:

    1. Mengingatkan orang akan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dengan lisan.
    2. Mengomunikasikan prinsip-prinsip Islam melalui karya tulisnya.
    3. Memberi contoh keteladanan akan perilaku/akhlak yang baik.
    4. Bertindak tegas dengan kemampuan fisik, harta, dan jiwanya dalam menegakkan prinsip-prinsip Ilahi.

    Poin 1 lebih populer dengan sebutan da’wah bil lisan, da’wah bil qaul, atau da’wah khithobah. Poin 2 populer disebut da’wah bil qolam atau da’wah bil kitabah

    Poin 3 lebih dikenal dengan sebutan da’wah bil hal dan da’wah bil qudwah. Poin 4 bisa disebut jihad fi sabilillah atau jihad lil i’lai kalimatillah.

    Dakwah bil Lisan yakni dakwah yang disampaikan dalam bentuk komunikasi lisan (verbal), seperti ceramah, pengajian, khutbah, atau penyampaian dan ajakan kebenaran dengan kata-kata (berbicara).

    Dakwah bil Hal dipahami sebagai dakwah yang dilakukan melalui aksi atau tindakan nyata, misalnya melalui program dan aktivitas kelembagaan seperti ormas Islam, lembaga pendidikan Islam, lembaga sosial-ekonomi (BMT dan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah --LAZIS), bakti sosial, dan sebagainya.

    Dakwah bil Qalam yakni dakwah yang disampaikan melalui tulisan yang diterbitkan atau dipublikasikan melaui media massa, buku, buletin, brosur, pamflet, dan sebagainya.

    Da’wah bil Qudwah, yakni dakwah melalui keteladanan sikap atau perilaku yang mencerminkan moralitas/akhlak Islam.

    Dakwah merupakan kewajiban individual umat Islam. Itulah sebabnya Islam disebut ”agama dakwah”. Artinya, agama yang harus disebarkan kepada seluruh umat manusia. Hal itu antara lain diisyaratkan dalam sejumlah ayat Al-Quran.

    "Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik..." (QS. an-Nahl:125).

    ”Demi Masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran” (QS. Al-’Ashr:1-3).

    “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat” dan “Katakanlah kebenaran itu walaupun rasanya pahit/berat” (H.R. Ibnu Hibban).

    "Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran (kemaksiatan), maka cegahlah hal itu dengan tangannya (kekuasaan); jika tidak mampu, cegahlah dengan lisannya (ucapan); jika (masih) tidak mampu, maka cegahlah dengan hatinya, dan ini selemah-lemahnya iman" (H.R. Muslim).

    “Kalian adalah sebaik-baik umat (khairu ummah), yang mengemban tugas dakwah, yaitu mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran” (QS. 3:110).

    Aktivitas dakwah niscaya menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Kesadaran akan kewajiban beradakwah harus ada pada diri setiap Muslim. Berdakwah sama wajibnya dengan ibadah ritual seperti sholat, zakat, puasa, dan haji.

    Menurut KHM. Isa Anshary (1984), setiap Muslim adalah da'i (jurdakwah). Menjadi seorang Muslim, kata Anshary, otomatis menjadi jurudakwah, menjadi mubalig, bila dan di mana saja, di segala bidang dan ruang.

    "Kedudukan kuadrat yang diberikan Islam kepada pemeluknya ialah menjadi seorang Muslim merangkap menjadi jurudakwah atau mubalig," tulisnya seraya mengutip sabda Nabi Saw, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat”.

    Pengertian Komunikasi Dakwah

    Pengertian Komunikasi Dakwah

    Komunikasi dakwah dapat didefinisikan sebagai ”proses penyampaian dan informasi Islam untuk memengaruhi komunikan (objek dakwah, mad’u) agar mengimani, mengilmui, mengamalkan, menyebarkan, dan membela kebenaran ajaran Islam”.

    Komunikasi dakwah juga dapat didefinisikan sebagai komunikasi yang melibatkan pesan-pesan dakwah dan aktor-aktor dakwah, atau berkaitan dengan ajaran Islam dan pengamalannya dalam berbagai aspek kehidupan.

    Jika dianalogikan dengan pengertian dasar komunikasi politik, yakni komunikasi yang berisikan pesan politik atau pembicaraan tentang politik (Dan Nimmo, 1989), maka komunikasi dakwah dapat diartikan sebagai ”komunikasi yang berisikan pesan Islam atau pembicaraan tentang keislaman”.

    Pengertian komunikasi dakwah sebagai ”pembicaraan tentang Islam” senada dengan pengertian ”retorika dakwah” menurut Yusuf Al-Qaradhawi (2004), yakni ”berbicara soal ajaran Islam”.

    Al-Qaradhawi menyebutkan prinsip-prinsip retorika Islam sebagai berikut:

    1. Dakwah Islam adalah kewajiban setiap Muslim.
    2. Dakwah Rabbaniyah ke Jalan Allah.
    3. Mengajak manusia dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.
    4. Cara hikmah a.l. berbicara kepada seseorang sesuai dengan bahasanya, ramah, memperhatikan tingkatan pekerjaan dan kedudukan, serta gerakan bertahap.

    Secara ideal, masih menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, karakteristik retorika Islam antara lain:

    1. Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan material.
    2. Memikat dengan Idealisme dan Mempedulikan Realita.
    3. Mengajak pada keseriusan dan konsistensi, dan tidak melupakan istirahat dan berhibur.
    4. Berorientasi futuristik dan tidak memungkiri masa lalu.
    5. Memudahkan dalam berfatwa dan menggembirakan dalam berdakwah.
    6. Menolak aksi teror yang terlarang dan mendukung jihad yang disyariatkan.

    Proses komunikasi dakwah

    Proses komunikasi dakwah berlangsung sebagaimana proses komunikasi pada umumnya, mulai dari komunikator (da’i) hingga feedback atau respon komunikan (mad’u, objek dakwah).

    Aktivitas dakwah dimulai dari adanya seorang komunikator (sender, pengirim pesan, da’i). Dalam perspektif Islam, setiap Muslim adalah komunikator dakwah karena dakwah merupakan kewajiban individual setiap Muslim.

    Komunikator dakwah memilih dan memilah ide berupa materi dakwah (encoding) lalu diolah menjadi pesan dakwah (message).

    Pesan itu disampaikan dengan sarana (media) yang tersedia untuk diterima komunikan (receiver, penerima pesan, objek dakwah). Komunikan menerjemahkan atau memahami simbol-simbol pesan dakwah itu (decoding) lalu memberi umpan balik (feedback) atau meresponnya, misalnya berupa pemahaman dan pengamalan pesan dakwah yang diterimanya.

    Dakwah: Komunikasi Persuasif

    Dakwah, apa pun bentuknya, merupakan komunikasi. Jadi, dakwah selalu merupakan bentuk komunikasi. Dakwah berarti komunikasi; namun tidak semua komunikasi berarti dakwah.

    Komponen dakwah sendiri identik dengan komponen komunikasi yang kita kenal selama ini:
    1. Da’i atau juru dakwah (komunikator, sender, source)
    2. Mad’u (komunikan, receiver, penerima, objek)
    3. Pesan (message, yakni materi keislaman/nilai-nilai atau ajaran Islam)
    4. Channel, yaitu media atau sarana yang digunakan.
    5. Efek atau feedback (dalam dakwah, efek yang diharapkan berupa iman dan amal saleh/takwa).

    Dalam perspektif komunikasi, dakwah termasuk dalam kategori komunikasi persuasif (persuasive communication), yakni komunikasi yang membujuk, mengajak, atau merayu, semakna dengan makna dasar dakwah, yakni mengajak atau menyeru.

    Akar kata persuasif adalah persuasio (Latin), artinya membujuk, mengajak, atau merayu. Secara istilah, ada beberapa definisi komunikasi persusif, namun hakikatnya sama-sama merujuk pada ajakan atau bujukan.

    “Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator” (Wikipedia).

    “Komunikasi persuasif adalah perilaku komunikasi yang bertujuan mengubah, memodifikasi atau membentuk respon (sikap atau perilaku) dari penerima” (R. Bostrom).

    “Komunikasi persuasif sebagai perilaku komunikasi yang mempunyai tujuan mengubah keyakinan, sikap atau perilaku individu atau kelompok lain melalui transmisi beberapa pesan.” (K. Andeerson).

    Tujuan komunikasi persuasif adalah “believe & attitude”, yakni menguatkan keyakinan, mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku seseorang. Tujuan itu identik dengan tujuan utama dakwah, yakni menanamkan believe (keyakinan) dan mengubah attitude (sikap/perilaku).

    Dari segi proses, dakwah tiada lain adalah “komunikasi Islam”, yakni menyampaikan pesan-pesan keislaman. Komunikator (da'i) menyampaikan pesan ajaran Islam melalui lambang-lambang kepada komunikan (mad'u). Mad'u menerima pesan itu, mengolahnya, lalu meresponnya. Dalam proses itu terjadi transmisi pesan oleh da'i dan interpretasi pesan oleh mad'u (objek dakwah).

    Proses transmisi dan interpretasi tersebut tentunya mengharapkan terjadinya dampak (effect) berupa perubahan kepercayaan, sikap dan tingkah-laku mad'u ke arah yang lebih baik sesuai dengan standard nilai Islami.

    Tujuan dakwah utamanya adalah untuk mengubah individu dan masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik. Tujuan dakwah demikian sesuai dengan tujuan komunikasi persuasif, yakni adanya perubahan situasi orang lain atau mengubah atau memengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator.

    Demikian pengertian komunikasi dakwah.Wallahu a'lam bish-shawabi.

    Referensi Komunikasi dan Dakwah
    • Arifin. 1994. Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi. Bumi Aksara, Jakarta.
    • Amrullah Achmad. 1983. Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, Prima Duta, Yogyakarta.
    • Asep Syamsul M. Romli. 2005. Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan dan Kepanulisan, Batic Presss, Bandung.
    • Dan Nimmo, 1982. Komunikasi Politik, Rosdakarya, Bandung.
    • Daud Rasyid. 1998. Islam dalam Berbagai Dimensi, Gema Insani Press, Jakarta
    • Deddy Mulyana. 1999. Nuansa-Nuansa Komunikasi, Rosdakarya Bandung.
    • ___________, 2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.
    • Denis McQuail. 1987. Mass Communication Theory (Teori Komunikasi Massa), Erlangga, Jakarta.
    • Endang Saifuddin Anshari. 1987. Kuliah Al-Islam, Pustaka Bandung.
    • Ensiklopedi Islam. 1993. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta
    • Ibrahim Abu Abbah. 1997. Hak dan Batil dalam Pertentangan, Gema Insasi Press, Jakarta.
    • Onong Effendy, 1994. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya.
    • M. Natsir. 1983. Fiqhud Dakwah: Jejak Risalah dan Dasar-Dasar Dakwah, Media Dakwah, Jakarta.
    • Rusjdi Hamka & Rafiq (ed.). 1989. Islam dan Era Informasi, Pustaka Panjimas, Jakarta.
    • Thahir Luth. 1999. Muhammad Natsir, Dakwah dan Pemikirannya, Gema Insani Press, Jakarta.
    • William R. Rivers at.al. 2003. Media Massa dan Masyarakat Modern, Prenada Media, Jakarta.
    • Yusuf Al-Qaradhawi. 2004. Retorika Islam, Khalifa, Jakarta.


    Post a Comment

    Post a Comment (0)

    Previous Post Next Post