Keutamaan Bulan Jumadil Akhir: Teladan Abu Bakar, Umar, dan Khalid bin Walid

Jumadil Akhir (Jumadilakhir, Jumada al-Akhira, جمادى الآخرة) atau Jumadits Tsani (جمادى الثاني) adalah bulan keenam dalam penanggalan Hijriyah.


Keutamaan Bulan Jumadil Akhir

Bulan jumadil akhir bisa dikatakan sebagai bulan suksesi kepemimpinan umat Islam (khilafah). Pada bulan inilah, menurut sejarah Islam, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. wafat dan digantikan oleh Umar bin Khattab r.a. Abu Bakar wafat tanggal 22 Jumadil Akhir 13 H dalam usia 63 tahun.

Pada bulan Jumadil Akhir pula terjadi Perang Yarmuk. Saat itu pasukan kaum Muslim dipimpin Khalid bin Walid, bergelar "pedang Allah" (Saifullah), dan dikenal sebagai orang yang ikhlas (mukhlis) berjuang karena Allah SWT semata. 

Teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar adalah pemimpin kaum Muslimin pertama setelah Rasulullah Muhammad SAW wafat. Beliau adalah khalifah pertama dalam Khulafaur Rasyidin.

Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar termasuk orang yang beriman di masa awal atau generasi pertama umat Islam (as-sabiqun al-awwalun). Ia menjadi orang dewasa pertama yang masuk Islam setelah Khadijah (istri Nabi Saw).

Abu Bakar mendapat gelar Ash-Siddiq oleh karena sifat jujur beliau akan kebenaran. Ash-Shiddiiq (الصديق) artinya "orang yang membenarkan", dalam hal ini membenarkan kerasulan Muhammad dan apa pun yang disampaikan Rasul, termasuk membenarkan dengan adanya pristiwa Isra Mi’raj Rasulullah Saw.

Abu Bakar adalah ayah Aisyah ra (istri Rasulullah Saw). Nama Abu Bakar merupakan kunyah (panggilan kehormatan). Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah yang artinya "hamba Ka’bah". 

Setelah Abu Bakar masuk Islam, namanya diganti oleh Rasulullah Saw dengan nama Abdullah yang artinya "hamba Allah Swt."

Ketika Abu Bakar masih kecil, ayahnya membawanya ke Ka'bah, dan meminta Abu Bakar berdoa kepada berhala. Setelah itu ayahnya pergi untuk mengurus urusan bisnis.

Abu Bakar sendirian dengan berhala-berhala tersebut. Abu Bakar lalu berdoa kepada berhala, "Ya Tuhanku, aku sedang membutuhkan pakaian, berikanlah kepadaku pakaian". 

Berhala tersebut tetap acuh tak acuh tidak menanggapi permintaan Abu Bakar. 

Abu Bakar berdoa kepada berhala lainnya dan mengatakan "Ya Tuhanku, berikanlah aku makanan yang lezat, lihatlah aku sangat lapar". 

Berhala itu masih tidak memberikan jawaban apapun dan acuh tak acuh. Melihat permintaannya tidak dikabulkan, kesabaran Abu Bakar habis lalu mengangkat sebuah batu dan berkata kepada berhala tersebut: 

"Di sini saya sedang mengangkat batu dan akan mengarahkannya kepadamu, kalau kamu memang tuhan, maka lindungilah dirimu sendiri". 

Abu Bakar lalu melemparkan batu tersebut ke arah berhala dan meninggalkan Ka'bah. Setelah itu, Abu Bakar tidak pernah lagi datang ke Ka'bah untuk menyembah berhala-berhala di Ka'bah.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan, Laki-laki dewasa yang bukan budak yang pertama kali masuk islam yaitu Abu Bakar.

Wanita yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah. Zaid bin Haritsah adalah budak pertama yang masuk Islam. Ali bin Abi Thalib adalah anak kecil pertama yang masuk Islam.

Ibnu Hisyam dalam kitab Shirah Nabawiyahnya mencatat, Abu Bakar sangat dekat dengan Rasulullah. Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya.

Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi di sebuah gua yang dikenal dengan nama Gua Tsur, di puncak Jabal (bukit) Tsur Kota Makkah, sekitar 7 KM dari Masjidil Haram. 

Nabi dan Abu Bakar sembunyi di Gua Tsur untuk menghindari kejaran kafir Quraisy.

Ketika sampai di mulut gua, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, janganlah Anda masuk ke dalam gua ini sampai aku yang memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu (yang jelek), maka akulah yang mendapatkannya bukan Anda”.

Abu Bakar masuk lalu membersihkan gua tersebut. Abu Bakar tutup lubang-lubang di gua dengan kainnya, karena ia khawatir jika ada hewan yang membahayakan Rasulullah, hingga tersisalah dua lubang, yang nanti bisa ia tutupi dengan kedua kakinya.

Setelah itu, Abu Bakar mempersilakan Rasulullah masuk ke dalam gua. Rasulullah pun masuk dan tertidur di pangkuan Abu Bakar. 

Ketika Rasulullah istirahat, tiba-tiba seekor hewan menggigit kaki Abu Bakar. Ia menahan dirinya untuk tidak bergerak menahan gigitan hewan itu (riwayat lain menyebut seekor ular). 

Abu bakar berusaha sekuat tenaga menahan sakit, karena tidak ingin membangunkan Rasulullah dari istirahatnya.

Namun, Abu Bakar adalah manusia biasa. Rasa sakit akibat sengatan hewan itu membuat air matanya menetes dan terjatuh di wajah Rasulullah. 

Sang kekasih Allah pun terbangun, kemudian bertanya, “Apa yang menimpamu wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku disengat sesuatu”. 

Kemudian Rasulullah mengobatinya. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi mengobati Abu Bakar dengan ludah beliau.

Abu Bakar adalah sahabat terdekat Rasul sekaligus mertua. 

Dari Amr bin Ash, Rasulullah pernah mengutusku dalam Perang Dzatu as-Salasil, saat itu aku menemui Rasulullah dan bertanya kepadanya, “Siapakah orang yang paling Anda cintai?” Rasulullah menjawab, “Aisyah.” Kemudian kutanyakan lagi, “Dari kalangan laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Bapaknya (Abu Bakar).”

Ketika Rasul sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah berkata, “Ketika Nabi Saw sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta izin untuk memulai shalat.

Rasulullah bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. 

Aisyah berkata, ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an."

Nabi tetap berkata: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata, ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’.”

Karena keimanan kuatnya, perjuangannya bersama Nabi Saw, senioritas dalam Islam, dan kedekatannya Rasul, ditambah penunjukkan sebagai imam shalat pengganti Rasul, kaum Muslimin pun bersepakat mengangkat Abu Bakar sebagai pemimpin umat Islam (khalifah) setelah Rasul Saw wafat.

Umar bin Khathab r.a. suatu ketika berceramah di atas mimbar. Beliau berkata, “Ketahuilah, sungguh manusia yang paling utama dari umat ini setelah Nabi SAW adalah Abu Bakar. Barangsiapa mengatakan yang tidak seperti ini, ia adalah pendusta, dan baginya apa yang berlaku bagi pendusta!”

Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Manusia yang paling baik dari umat ini setelah Nabi SAW adalah Abu Bakar dan Umar.” 

Beliau juga mengatakan bahwa orang yang paling besar pahalanya atas keberadaan mushaf Al-Qur’an adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Karena beliaulah orang pertama yang menghimpun naskah-naskah ayat-ayat Al-Qur’an menjadi sebuah mushaf.

Teladan Umar bin Khattab Al-Faruq

Setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khattab menjadi khalifah kedua. 'Umar merupakan salah satu sahabat utama Nabi Saw dan ayah Hafshah, istri Nabi Muhammad.

Umar bin Khattab Al-Faruq

Beberapa hadits menyebutkan Umar sebagai sahabat Nabi paling utama setelah Abu Bakar.

Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti "orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan". 

Pembentukan Baitul Mal menjadi salah satu pembaharuan 'Umar dalam bidang ekonomi umat. 

Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah. 

Sebelum masuk Islam, Umar juga dikenal sebagai seorang pemabuk. Umar mempunyai reputasi sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh.

Umar pula yang memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad. Namun, saat dalam perjalanannya, ia bertemu Nu'aim bin Abdullah, yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam.

Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya. 

Diriwayatkan, Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an surat Thoha ayat 1-8. Ia makin marah dan memukul saudarinya. 

Ketika melihat saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat.

Diriwayatkan, Umar menjadi terguncang oleh apa yang ia baca tersebut, beberapa waktu setelah kejadian itu, Umar menyatakan memeluk Islam.

Setelah masuk Islam, Umar berada di barisan terdepan dalam membela Islam dan kaum Muslim, termasuk membela Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah wafat, Umar berkata: 

"Sesungguhnya beberapa orang munafik menganggap bahwa Nabi Muhammad S.A.W. telah wafat. Sesungguhnya dia tidak wafat, tetapi pergi ke hadapan Tuhannya, seperti dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya. Demi Allah dia benar-benar akan kembali. Barang siapa yang beranggapan bahwa dia wafat, kaki dan tangannya akan kupotong."

Abu Bakar yang mendengar kabar itu, menjumpai Umar dan berkata:

"Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Nabi Muhammad S.A.W, Nabi Muhammad S.A.W sudah meninggal dunia. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati!"

Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasihat Abu Bakar. Setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.

Umar dikenal sederhana. Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun keempat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah. Masa Umar lah ditetapkan sistem kalender Islam Hijriyah.

Teladan Khalid bin Walid Saifullah

Jumadil Akhir juga bulan bersejarah, yaitu bulan terjadinya  perang terbesar dalam sejarah Islam yang dikenal dengan Perang Yarmuk antara umat Islam dengan pasukan Romawi. Pasukan Islam dipimpin panglima Khalid bin Walid.

Khalid bin Walid

Kemasyhuran dan keperkasaan Khalid dalam peperangan ini membuat beliau digelar dengan “Saifullah” (pedang Allah) --Sayf Allāh al-Maslūl (سيف الله المسلول‎; Pedang Allah yang terhunus).

Sebelum masuk Islam, Khalid adalah pemimpin pasukan berkuda kaum Kafir Quraisy yang memukul mundur pasukan Islam dalam Perang Uhud.

Setelah masuk Islam, Khalid menjadi pembela Islam barisan depan. Ia memimpin pasukan Madinah masa Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan Umar Bin Khattab.

Khalid dan pasukannya tidak pernah dikalahkan dalam lebih dari 100 pertempuran melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka.

Pada Pertempuran Yarmuk, bulan Jumadil Akhir, Khalifah Umar bin Khattab memberhentikannya sebagai panglima tertinggi pasukan muslim, karena khawatir terjadi kultus individu dan ketergantungan pasukan Muslim terhadap Khalid. 

Umar mendengar sebagian orang berkata "Tidak ada yang bisa menggantikan Khalid bin Walid, seandainya ia tidak ada maka takkan mungkin kita menang". 

Umar khawatir mereka sesat karenanya, dan Umar berharap mereka tahu bahwa Allah-lah satu-satunya yang berkuasa. 

Aku memberhentikan Khalid bukan kerana tidak suka kepadanya. Juga bukan karena dia tidak jujur. Bahkan aku kagum padanya. Tindakan yang aku ambil hanyalah untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa kemenangan umat Islam selama ini hanyalah karena pertolongan Allah SWT. Bukan karena kehebatan Khalid! Jangan sampai ada anggapan bahwa kemenangan kita selama ini semata-mata karena kehebatan Khalid bin Al-Walid saja…” jelas Khalifah Umar.

Khalid dengan ikhlas meneria keputusan Umar. Ia tetap berada di barisan pasukan Muslim dan berjuag seperti biasanya.

"Tak ada alasan untuk meragukan keputusan yang diambilnya,” kata Khalid. “Aku berjuang bukan karena kepentingan Umar. Aku berjuang semata-mata untuk Allah SWT!” jawab Khalid tegas ketika ditanya anggota pasukannya. Mereka pun terdiam sambil menahan rasa haru dan kagum.

Khalid dikatakan mengikuti sekitar seratus pertempuran, baik pertempuran besar dan pertempuran kecil serta duel tunggal, selama karier militernya ia tetap tak terkalahkan, ia diklaim sebagai salah satu jenderal militer atau panglima perang terbaik dalam sejarah.

Demikian catatan sejarah penting bulan Jumadil Akhir. Setidaknya ada tiga Keutamaan Bulan Jumadil Akhir, yakni wafatnya Abu Bakar, diangkatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah, dan kemenangan umat Islam dalam Perang Yarmuk sekaligus teladan Khalid bin Walid. Wallahu a'lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

You're reading Keutamaan Bulan Jumadil Akhir: Teladan Abu Bakar, Umar, dan Khalid bin Walid. Mari sebarkan kebaikan. Please share...!

Previous
« Prev Post

0 Response to "Keutamaan Bulan Jumadil Akhir: Teladan Abu Bakar, Umar, dan Khalid bin Walid"

Komentar SPAM dan mengandung LINK AKTIF tidak akan muncul.

Contact Form

Name

Email *

Message *