Pengertian Muraqabah, Merasa Diperhatikan Allah Swt

Pengertian Muraqabah, Merasa Diperhatikan Allah Swt

Muraqabah adalah sikap mental atau kesadaran diri bahwa ia selalu dilihat atau diawasi oleh Allah Swt. Kesadaran demikian menumbuhkan sikap selalu menaati perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya.

Muraqabah adalah keadaan merasakan kehadiran Allah di dalam segala kondisi. Muraqabah adalah sifat atau sikap merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah Swt sehingga tidak berani melakukan keburukan atau selalu taat pada perintah-Nya. 

Secara harfiah, muraqabah berarti kegiatan saling mengawasi.

Muroqobah juga artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini seorang hamba senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Faktanya memang Allah Maha Melihat. Semua gerakan lahir dan batin kita, tak ada satu pun yang tersembunyi di sisi Allah Swt.

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Sesungguhnya Allah itu selalu menjaga dan mengawasi kalian” (QS.An Nisa [4]:1)

أَنْ تَعْبُدَ اللَّه كَأَنَّكَ تَراهُ . فإِنْ لَمْ تَكُنْ تَراهُ فإِنَّهُ يَراكَ

“Hendaknya engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya, dan jikalau engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia itu melihat engkau” (H.R. Muslim, Turmudzi, Abu Daud dan Nasai).

Muraqabah merupakan wujud penghambaan diri kepada Allah Swt. Dalam beberapa hal, muraqabah dilakukan untuk mencapai kondisi spiritual tertinggi, yakni ihsan

Muraqabah dalam Riyadhus Shalihin

Berikut ini ringkasan ulasan tentang muraqabah dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi.

Bab 5. Muraqabah (Merasa diperhatikan Allah)

قَالَ اللَّه تعالى : { الذي يراك حين تقوم وتقلبك في الساجدين }

Allah Ta’ala berfirman: “Dialah yang melihatmu ketika engkau berdiri dan juga gerak tubuhmu di antara orang-orang yang bersujud.” (Asy-Syu’ara’: 218-219)

وقَالَ تعالى : { وهو معكم أينما كنتم } .

Allah Ta’ala berfirman pula: “Dan Dia adalah besertamu di mana saja engkau semua berada.” (Al-Hadid: 4)

وقَالَ تعالى : { إن اللَّه لا يخفى عليه شيء في الأرض ولا في السماء }

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi baik di bumi ataupun di langit.” (Ali-Imran: 5)

وقَالَ تعالى : { إن ربك لبالمرصاد } .

Lagi firmannya Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (al-Fajar: 14)

وقَالَ تعالى : { يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور } .

Juga firmannya Allah Ta’ala: “Dia Maha Mengetahui akan kekhianatan mata -maksudnya pandangan mata kepada sesuatu yang dilarang atau kerlingan mata sebagai ejekan dan lain-lain perbuatan yang tidak baik- dan apa saja yang tersembunyi dalam hati.” (al-Mu’min: 19)

Ayat-ayat yang mengenai bab ini banyak sekali dan kiranya dapat dimaklumi. Adapun Hadis-hadisnya antara lain sebagai berikut:

1. Pengertian Ihsan

Hadits tentang pengertian iman, Islam, dan ihsan.  Ketika menjelaskan pengertian ihsan, Rasulullah saw bersabda:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّه كَأَنَّكَ تَراهُ . فإِنْ لَمْ تَكُنْ تَراهُ فإِنَّهُ يَراكَ

"Hendaklah engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihatNya, tetapi jikalau tidak dapat seolah-olah melihatNya, maka sesungguhnya Allah itu dapat melihatmu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan cara ibadah sebagaimana yang terkandung dalam arti kata Ihsan ini, maka tentu akan khusyuklah kita sewaktu menyembah Allah itu. Kalau dapat seolah-olah tahu pada Allah, ini namanya Mukasyafah (terbuka dari semua tabir yang menutup) dan kalau mengangan-angankan bahwa Allah tetap melihat kita, ini namanya Muraqabah (mengawasinya Allah pada kita).

2. Takwa di mana saja.

الثَّاني : عن أبي ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادةَ ، وأبي عبْدِ الرَّحْمنِ مُعاذِ بْنِ جبل رضيَ اللَّه عنهما ، عنْ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قال : « اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحسنةَ تَمْحُهَا، وخَالقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ » رواهُ التِّرْمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ .

Dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah dan Abu Abdur Rahman yaitu Mu’az bin Jabal radhiallahu ‘anhuma, dari Rasulullah saw, sabdanya: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan ikutilah perbuatan jelek itu dengan perbuatan baik, maka kebaikan itu dapat menghapuskan kejelekan tadi dan bergaullah dengan sesama manusia dengan budi pekerti yang bagus.” (HR Imam Tirmidzi).

Hadis ini mengandung tiga macam unsur, yakni bertaqwa kepada Allah, kebaikan diikutkan sesudah mengerjakan kejelekan, dan perintah bergaul dengan baik antara seluruh umat manusia. 

3. Menjaga Allah Swt.

 احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَل اللَّه ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ 

"Peliharalah Allah --dengan mematuhi perintah-perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya, pasti Allah akan memeliharamu. Peliharalah Allah, pasti engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Jikalau engkau meminta, maka mohonlah kepada Allah dan jikalau engkau meminta pertolongan, maka mohonkanlah pertolongan itu kepada Allah pula." (HR Tirmidzi)

4. Tinggalkan Hal Unfaedah

 مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيهِ 

"Termasuk kebaikan keislaman seseorang ialah ia meninggalkan apa-apa yang tidak memberikan kemanfaatan padanya" (HR Tirmidzi)

Meninggalkan sesuatu yang tidak berfaedah misalnya sesuatu yang memang bukan urusan kita atau sesuatu yang sudah terang salah dan batil, maka tidak berguna kita membela atau menolongnya. 

Demikian pula sesuatu yang bila kita campuri, maka bukan makin baik dan mungkin mencelakakan diri kita sendiri. Semua itu baiklah kita tinggalkan, kalau kita ingin jadi orang Islam yang baik.*

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post